Tentang Pesan-Pesan yang Luput Saya Balas
4 Februari 2010
21:30
SMS-SMS yang pernah Anda kirimkan itu, kadang saya tidak punya alasan kenapa tidak membalasnya.
Saya tidak meminta dimaklumi dan memaksa dimengerti, tapi dengan sangat…mohon dimaafkan..
>_<
Saat seorang teman SMA mengirim pesan : “Pakabar ni? Ke mana aja atuh, sibuk ya?”, saya kadang masih tak paham bahwa teman tersebut mungkin membawa selaksa kangen dan mengharapkan respon saya, namun saya angkuh mematahkan harapan itu dengan mengabaikannya.
Beberapa hari kemudian SMS itu saya balas..
Krik-krik, tidak ada jawaban. Yasudahlah, topiknya memang sudah tidak asik untuk dibahas.
Sering ada teman yang meminta nomor handphone seseorang, namun saya malas untuk bersegera mengirimnya. Padahal saya tidak tahu, mungkin teman tersebut telah memberikan prasangka baiknya bahwa saya adalah orang yang paling tepat untuk diminta tolong. Padahal saya tidak menyadari betapa mungkin pentingnya nomor handphone itu bagi teman tersebut. Kemudian saya membalasnya berminggu-minggu kemudian, dan tidak salah jika teman saya ngomel-ngomel.
Ketika ada teman yang SMS : “Aku ke kosan kamu ya sekarang” dan saya tidak membalasnya karena berpikir kalau mau datang ya datang aja. Padahal teman tersebut sedang dalam keraguan, apakah dia diperbolehkan datang saat itu? Lalu dia pun tidak jadi datang karena malam sudah larut.
Mungkin saya menganggap kurang penting SMS seorang teman yang menanyakan naik angkot apa ke Ciburial, lalu saya membalasnya beberapa jam kemudian. Saya tidak tahu, teman tersebut sudah nyasar sampai Ciroyom.
Kadang saya mengabaikan SMS teman yang menanyakan kelas kuliah. Saya tidak tahu, mungkin teman tersebut tengah berlari-lari antar GKU Barat dan GKU timur. Ketika teman tersebut sudah sampai di kelas dengan napas ngos-ngosan, saya baru buka inbox HP.
Ada jarkom yang dikirim oleh seseorang yang sangat berharap kita meluangkan waktu untuk konfirmasi dan memenuhi undangannya. Lalu saya dengan sok sibuk malah tak acuh. Saya tidak tahu, betapa laskar konsumsi mereka akan kebingungan menentukan jumlah makanan yang akan dipesan.
Beberapa kali ada undangan rapat dan saya tidak ada merespon. Saya tidak tahu, Sang Ketua menunggu sendirian, sudah berlembar-lembar tilawahnya, tapi stafnya tak ada yang datang dan tak tahu kemana rimbanya.
Sumber gambar: http://mi9.com/wallpaper/love-letters-move-to-trash_57062/
***
Duh..
Saya sendiri pernah merasakan, bahwa diam itu seperti hukuman yang paling menyakitkan.
Tidak bersegera menjawab pesan; saya sibuk atau tidak empati?

on January 10, 2012 on 13:33
keknya ini komen pertama ama disini..