Revive Risha


Panggilan Sayang

Posted in Cermin Diri by rishapratiwi on September 20, 2014

“Say, lagi di Bogor nggak?”

“Geuleuh ah ente”

“Hahahahaha”

Pemirsah, itu bukan dialog antara saya sama si ayang, tapi dialog antara si ayang sama temannya. Iya temannya, si dia yang berambut pendek dan berjanggut. Jadi rupanya, teman-teman si ayang pernah mendengar percakapan kami.

“Ente kan sama istri say-sayan”

“Iyaaaaa, tapi kalau sama ente mah da geuleuh” 

—<<@

Tentang panggilan sayang.

Sesaat setelah menikah, kami memang tidak ada masalah dalam penentuan panggilan. Soalnya kan hampir tidak pernah berjarak lebih dari 20 meter, jadi nggak usah teriak manggil. Padahal sih karena masih canggung, kami menghilangkan panggilan untuk objek dalam percakapan.

“Mau makan apa?” 

“Jalan-jalan yuk”

Masalah muncul ketika jarak di antara kami semakin lebar, dari 5 meter, 10 meter, 20 meter… dan jadi banyak kondisi ketika satu sama lain harus memanggil. Seperti contohnya, kami terpisah di antara barisan ikhwan dan akhawat dalam suatu acara. Udah diehem-ehem, nggak nengok. Yah, terpaksa deh teriak. Say.. Say..! Tuh kan baru nengok.

—<<@

Awal-awal menikah, tadinya mau saling memanggil “Ay”. Tapi kok rasanya kurang sreg. Cinta kami yang begitu besar tak sanggup terwakili dengan hanya dua huruf #halah. Akhirnya ditambah es biar dingin, S jadi “Say”. Baru deh kerasa passs. Kalaupun ada yang ngeledek, paling say…say…sayur, bukan ay…ay…ayam. Heheheh.

Kenapa nggak manggil Aa, Mas, Abang, Abi?

Kenapa yaaa… Nggak kenapa-kenapa sih, masalah muka doang. Saya merasa mukanya nggak belum pantes dipanggil Aa, Mas, Abang, apalagi Abi. Harusnya mungkin ditambah kumis baplang, janggut tebal, sama sorban biar gak imut-imut amat, hihihi.

*****

“Kamu sayang nggak sama aku?”

“Sayang atuuuh”

“Gombalin atuh”

“Kurang apalagi cobaaa, aku udah menyertakan segenap rasa cintah, sayang, dan segalanya dalam setiap panggilanku padamu”

Pacaran Jarak Jauh

Posted in Cermin Diri by rishapratiwi on September 18, 2014

Tidak terasa sudah memasuki pekan keempat saya tinggal di Bandung sendiri, mencari setitik ilmu. Suami, nun jauh di Cileungsi sana sedang berjuang untuk membawa pulang sekeranjang berlian. Yah, sebenarnya dibilang nggak kerasa, kerasa bangeeeet. Gak tiap hari ada yang gendong, gak tiap hari ada yang nyeret mandi, gak tiap hari ada yang merengek kelaparan. Dipikir-pikir kok mau ya menjalani hubungan pernikahan jarak jauh gini. Hahahahay. Ini karena falsafah hidup yang kami gigit erat dengan gigi geraham kami, sebaik-baiknya penjaga adalah Allah subhanahu wa ta’ala #berasa tetiba pakai sorban.

Menjalani pernikahan dengan pertemuan hanya di akhir pakan, rasa-rasanya seperti pacaran. Diapelin pas malam Minggu. Cuma bedanya, kalau orang pacaran malam mingguan nonton ke bioskop, yang udah nikah nontonnya di laptop. Males jalan saaay, angkotnya suka nggak ada kalau udah malem. Kalau orang pacaran makan ditraktir cowok, yang udah nikah makan dibayarin istri. Itu kan duit dari gaji gue saaaay, kok kamu mengklaim sih, demikian jerit dalam hati sang suami. Kalau orang pacaran betah di jalan berlama-lama, yang udah nikah pengen buru-buru pulang. Setelah menikah, rumah lah yang menjadi tempat terindah. Hihihi..

Menjalani pernikahan dengan pertemuan hanya di akhir pekan, rasa-rasanya butuh kerelaan untuk mandiri.

Saaay, cucian udah numpuk nih. Bawa aja ke laundry.

Saaay, aku mual nih pengen muntah. Ya udah muntah aja, ntar kalau aku datang kita jajan bakso.

Saaay, angkotnya ngetem nih. Turun aja say, jalan kaki biar sehat.

Hihihi…

Menjalani pernikahan dengan pertemuan hanya di akhir pekan, rasa-rasanya setiap momen menjadi berkali-kali lipat lebih berbunga, lebih berwarna, lebih beraroma. Meskipun ya nggak gitu-gitu amat seeeh.

Saaaay, banguuun. Katanya mau jalan-jalan. Bobo mulu iiiih.

Saaaay, kok kamu jelek, mandi sana.

Saaay, kok bau?? Kentut ya? #Tatapan tajam memvonis.

Hihihi…

Bagi kami yang sedang bersemangat menikmati keindahan cinta setelah pernikahan, pertemuan hanya di akhir pekan mungkin adalah latihan.

Agar cinta kami yang begitu dalam, tidak malah jadi membuat tenggelam. Bahwa cinta kepada suami atau istri, tidaklah layak ditempatkan di atas cinta Ilahi.

Agar kami yang begitu saling peduli, tidak malah jadi membuat saling memenjarai. Bahwa di luar urusan rumah tangga ini, masih begitu banyak urusan ummat ini.

#Catatan Hati Seorang Istri (yang katanya centil sekali)

Curhat Kemesraan

Posted in Cermin Diri by rishapratiwi on September 18, 2014

Kemarin siang sambil menikmati sekantung kebab sapi, nasi berjamur (nasi isi jamur), dan segelas yoghurt mangga di selasar SITH yang sejuk, saya bercerita sama Ipah. Siapa Ipah? Singkatnya, adek ketemu gede lah ya. Adek kelas waktu SMA, bukan. Adek kelas sejurusan, juga bukan.

Gara-gara Ipah bilang saya sama suami keliatan kayak sepasang pacar, jadi deh cerita-cerita. Masa kata Ipah, saya centil. Godain suami terus, cari-cari perhatian terus, gombalin terus, gelendotan terus gak mau lepas. Sementara suami kalem. Tampak seperti bermain cinta tapi bertepuk sebelah tangan, hahahaha. Tapi, tapi, tapi, sungguh saya sama sekali tidak pernah meragukan kesungguhan cinta si abang tersayang #suitsuiiiw.

Di antara kami berdua memang hampir jarang terumbar kata-kata manis, seperti “aku mencintaimu lebih dari segalanya dari apapun di muka bumi ini“, atau “kamu perempuan terindah yang pernah aku temui di dunia ini“. Karena selain saya nggak percaya kalau saya perempuan paling cantik di dunia ini, kata-kata bersayap tak akan mampu melukiskan betapa besarnya cinta abang kepada saya #tsaaah.

Tapi kalau saya lagi pengen dirayu-rayu, ya saya ga akan gengsi buat bilang.

“Saaaay, gombalin akyu dooongs….”

“Saaaaay, aku cantik nggaaaak? Kok nggak dipuji syiiiih, puji doooongs”

Di Balik Titel Haji Prabowo

Posted in Cermin Diri by rishapratiwi on July 4, 2014

Beberapa hari yang lalu seorang sahabat menulis status di jejaring sosial Facebook bahwa titel “haji” diberikan oleh kolonial Belanda untuk bangsa pribumi yang lantang menyuarakan perlawanan terhadap penjajahan. Lalu saya mencari informasi di internet mengenai fakta menarik tersebut. Dan berikut ini beberapa hasil temuan saya dari sumber ini dan ini.

Gelar “haji” atau “hajah” untuk orang yang sudah menunaikan ibadah haji hanya ditemui di Indonesia. Pada masa Rasulullah dan para sahabat, tidak ada pemberian gelar tersebut kepada yang bersangkutan. Lalu dari manakah asal penahbisan gelar tersebut?

Joko Prihatmoko, peneliti muda Nahdlatul Ulama (NU) di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Wahid Hasyim, Semarang, sekaligus Direktur Eksekutif Lembaga Pengkajian dan Pemberdayaan Indonesia (LPPI) menyatakan bahwa gelar haji merupakan identifikasi dari pemerintah kolonial Belanda. Pada zaman penjajahan Belanda, pergerakan da’wah umat Muslim sangat dibatasi karena dikhawatirkan akan menimbulkan rasa persaudaraan dan persatuan yang pada akhirnya memicu pemberontakan. Oleh karena itu setiap jenis peribadatan dibatasi, termasuk ibadah haji. Apalagi mayoritas orang yang pulang dari berhaji akan melakukan gerakan perubahan. Misalnya, Muhammad Darwis setelah pulang berhaji mendirikan Muhammadiyah, Hasyim Asyari pulang dari berhaji mendirikan Nahdlatul Ulama, Samanhudi yang mendirikan Sarekat Dagang Indonesia, dan Cokroaminoto mendirikan Sarekat Islam. Maka untuk mengawasi aktivitas para ulama ini, Belanda menetapkan Peraturan Pemerintahan Belanda Staatsblad tahun 1903 bahwa setiap orang yang telah kembali ke tanah air dari menunaikan ibadah haji harus diberi gelar “haji” di depan namanya. Dengan demikian, jika terjadi pemberontakan, Pemerintah kolonial akan mudah mencari orang tersebut.

Menyambung dengan momentum Pilpres 2014, kedua kandidat presiden alhamdulillah telah melaksanakan ibadah haji. Bahkan foto salah satu capres saat melaksanakan ibadah haji diunggah dan disebar di internet untuk menangkis isu bahwa capres tersebut nonmuslim.

Memang tidak dapat dipungkiri bahwa bangsa Indonesia merupakan bangsa yang religius. Agama masih menjadi pertimbangan dalam memilih pemimpin. Maka tidak heran dalam mengambil simpati publik, kandidat yang berkompetisi berupaya merangkul simpul-simpul agama.

Kedekatan Prabowo dengan para ulama dalam momentum Pilpres 2014 ini bukan hal yang baru. Prabowo sejak tahun 1998an telah memiliki kedekatan dengan kalangan Islam. Prabowo dikenal memiliki citra sebagai ABRI “hijau”, yaitu kalangan ABRI yang religius. Ia juga kerap menyambangi kediaman tokoh Islam, seperti M. Natsir. Di dalam pertemuan diskusi para cendekiawan politik-ekonomi, Prabowo pernah mengeluarkan pernyataan kontroversial berupa pembelaan terhadap masyarakat muslim Indonesia yang mayoritas namun diperlakukan diskriminatif. Dari sejak saat itu Prabowo dicap sebagai antiminoritas, terutama anti Cina. Akan tetapi cap tersebut dibantah dengan pencalonan Ahok sebagai Wagub DKI dari Partai Gerindra.

Saat Prabowo menerima tuduhan seputar lengsernya Presiden Soeharto dan dicopot dari militer, ia mendapatkan naungan dari para sahabatnya di dunia Islam. Prabowo pergi ke Jordania dan mendapat perlindungan Pangeran Abdullah. Karena keberpihakannya pada Islam, saat pada tokoh Islam memprakarsai pendirian Partai Bulan Bintang tahun 1998, Prabowo mengulurkan bantuan finansial untuk dana awal sosialisasi partai tersebut.

Melihat kedekatan yang dibangun Prabowo dengan para tokoh Islam, tidak heran kalau para ulama besar, salah satunya Aa Gym, pada Pilpres kali ini secara terang menyatakan dukungan kepada salah satu pasangan kandidat, yaitu Prabowo-Hatta. Aa Gym menyatakan bahwa Prabowo terang-terangan membela Islam. Ia perwira militer yang tak rela melihat umat Islam dipinggirkan. Karena alasan tersebut, ia mendukung Prabowo.

http://sejarah.kompasiana.com/2014/07/04/di-balik-titel-haji-prabowo-671569.html 

 

Hal-Hal yang tidak Banyak Diketahui tentang Kuda Prabowo

Posted in Kancing Garuda by rishapratiwi on July 3, 2014
Tags: , ,

Capres 2014 nomor 1, Prabowo Subianto, memiliki hobi yang unik, yaitu memelihara kuda dan hewan ternak lainnya. Kabar yang digembar-gemborkan ke publik adalah asset peternakan kuda tersebut harganya tidak main-main, bahkan ada satu ekor kuda kesayangan Prabowo yang berharga 3 miliar. Untuk kita yang rakyat biasa, barangkali hobi mahal tersebut hanya menghabiskan uang saja. Berikut ini ada beberapa hal yang tidak banyak orang ketahui terkait kuda Prabowo.

1. Tujuan Prabowo kampanye dengan menunggang kuda

Pada kampanye Partai Gerindra, Prabowo pernah memeriksa kesiapan kadernya dengan menunggang kuda. Berbeda dengan ketua umum atau ketua partai menggunakan mobil. Aksi  yang tidak lazim ini cukup menuai kontroversi. Padahal pesan yang sebenarnya ingin disampaikan oleh Prabowo dengan menunggang kuda tersebut adalah mengajak masyarakat untuk memberdayakan peternakan. Memelihara ternak, ternak tersebut akan beranak-pinak dan menghasilkan keuntungan.

Prabowo di komplek kediamannya, Bukit Hambalang, Sentul, Bogor, telah lebih duluan mengembangkan peternakan. Terdapat puluhan kuda serta ratusan sapi dan kambing di peternakan yang memberdayakan masyarakat sekitar tersebut.

2. Kuda Luciano, kuda istimewa

Kuda yang ditunggangi Prabowo dalam kampanye Partai Gerindra ternyata merupakan jenis Luciano. Kuda yang biasa ditampilkan dalam sirkus ini memiliki keistimewaan dibandingkan dengan kuda biasa. Kuda ini dapat melakukan gerakan akrobatik, seperti duduk, memberi hormat, atau melompati palang rintangan. Kuda jenis inilah yang disebut-sebut berharga senilai 3 miliar rupiah.

3. Kuda juara dunia

Kuda Prabowo yang gagah-gagah ternyata bukan cuma buat mainan. Tidak banyak yang tahu dan memang tidak banyak diungkap di media bahwa hobi memelihara kuda Prabowo ini ternyata telah mengharumkan nama bangsa, yaitu dalam turnamen polo kuda bergengsi, All Asia Cup. Dalam turnamen yang digelar 18 Januari 2014 di Bangkok tersebut tim Indonesia yang dibina langsung oleh Prabowo berhasil meraih juara umum, mengalahkan tim Filipina, Kamboja, India, Korea Selatan, Cina, Thailand, dan Brunei.

Cabang olahraga polo kuda ini bukan olahraga asli Indonesia, tetapi dengan tekad yang kuat dan latihan yang sungguh-sungguh ternyata Indonesia mampu mengibarkan benderanya di kancah internasional. Olahraga berkuda ini memang olahraga yang relatif mahal. Konon katanya di negara-negara Eropa sana, olahraga ini mainannya para bangsawan. Lalu, kuda-kuda yang dipakai bertanding di kejuaraan internasional itu dari mana asalnya? Dari peternakan kuda Prabowo, lebh dari 70 ekor kuda yang dipakai untuk berlatih dan bertanding. Tempat latihannya di mana? Di arena berkuda pribadi milik Prabowo, Nusantara Polo Club, di Cibinong, Jawa Barat.

Memang makan piala tidak bikin kenyang rakyat Indonesia. Akan tetapi, pencapaian prestasi tersebut menunjukkan seberapa serius seseorang mengangkat martabat negaranya agar sejajar dengan negara-negara di dunia. Meskipun orang tersebut tidak masuk di dalam pemerintahan.

4. Kuda poni Prabowo lucu-lucu

Selain kuda-kuda yang berpostur gagah, ternyata Prabowo juga memelihara kuda poni yang lucu-lucu. Kuda-kuda poni tersebut biasanya dikeluarkan dari kandangnya setiap hari Minggu untuk dibawa jalan-jalan di lingkungan sekitar. Anak-anak penduduk setempat mengaku pernah menunggangi kuda-kuda tersebut.

Demikian sedikit info mengenai kuda-kuda Prabowo. Bagi yang memelihara kuda juga, tidak perlu mencibir yang memelihara ayam. Bagi yang memelihara kambing atau ayam, juga tidak usah menghujat yang memelihara kuda. Jangan sampai karena hewan peliharaan, para pendukung jadi adu pentung. Salam damai Ramadhan!

Prabowo Paling Banyak Uang, Jokowi Paling Banyak Utang

Posted in Kancing Garuda by rishapratiwi on July 3, 2014
Tags: , , ,

 

 

Komisi Pemilihan Umum (KPU) secara resmi telah mengumumkan laporan harta kekayaan Capres/Cawapres 2014, Selasa (1/7/2014) kemarin di Ruang Sidang Utama Lantai II KPU RI. Berikut ini merupakan rangkuman harta kekayaan dan utang Capres/Cawapres:

Kandidat

Kekayaan

Utang (Rp)

Rupiah

USD

Prabowo Subianto

1.670.392.580.402

7.503.134

28.999.970

Joko Widodo

29.892.946.012

27.633

1.936.939.782

Hatta Rajasa

30.234.920.584

75.092

157.901.040

Jusuf Kalla

465.610.495.057

1.058.564

19.660.000

 

Dari data kekayaan tesebut dapat dilihat bahwa keempat kandidat tidak ada yang miskin. Prabowo memiliki kekayaan dengan jumlah paling banyak, disusul oleh Jusuf Kalla, kemudian Hatta Rajasa, dan Jokowi. Akan tetapi dari jumlah utang, Jokowi memiliki jumlah utang yang paling banyak. Konon katanya, rasio utang Jokowi ini tergolong besar dibandingkan dengan jumlah kekayaannya karena masih tersangkut cicilan mobil dan rumah. Hasil pelaporan harta kekayaan tersebut juga sekaligus menepis isu bahwa Prabowo memiliki hutang sebesar 14 triliun yang belum dibayar dan berpotensi korup untuk melunasi utang-utangnya.

Sebagian orang menganggap bahwa calon pemimpin yang berasal dari kalangan berada tidak akan mampu menyentuh masyarakat. Sebaliknya, calon pemimpin yang berasal dari kalangan ekonomi menengah ke bawah dinilai akan lebih mampu berempati kepada rakyatnya jika terpilih sebagai pemimpin. Rasa-rasanya anggapan seperti ini dapat membunuh karakter anak yang terlahir dari keluarga berada.

Tidak apa memilih pemimpin yang latar belakangnya berada, asalkan harta kekayaan tersebut diperoleh dengan cara halal yang tidak merugikan orang lain. Apalagi jika dengan kekayaannya dapat ikut serta mengangkat kesejahteraan masyarakat sekitar dengan cara menyekolahkan ribuan anak tak mampu, mengirimkan ribuan peneliti untuk disekolahkan ke luar negeri, membangun sekolah, klinik gratis, dan fasilitas kesehatan lainnya. Itu namanya KAYA yang BERDAYA GUNA. Dan yaaa, tidak apa pula ada calon pemimpin yang banyak utang, asalkan juga memiliki kemampuan finansial untuk membayar uang tersebut dari kantongnya sendiri, bukan dari korupsi uang rakyat.

Kaya atau kurang kaya, pakailah bajumu sendiri. Yang kaya tidak perlu berpura-pura sederhana untuk meraih simpati publik. Kalau ternyata lebih efektif pakai helikopter pribadi, tidak apa-apa daripada harus pakai mobil tetapi menimbulkan kemacetan di jalan raya.

Kita ini bukan malaikat pencatat amalan yang tahu persis hati seseorang. Melihat ada orang dengan harta berlimpah, kalau tidak punya data, jangan lantas berburuk sangka bahwa kekayaan tersebut berasal dari usaha haram. Nanti terjebak pada perasaan dengki dan kena sindiran “sirik tanda tak mampu”. Yang kaya tidak usah mengejek yang kurang kaya, yang kurang kaya juga tidak perlu mengata-ngatai yang kaya. Miskin atau kaya toh cuma titipan sementara. Salam damai Ramadhan!

 

http://politik.kompasiana.com/2014/07/02/prabowo-paling-banyak-uang-jokowi-paling-banyak-utang-671090.html

 

Mencari Presiden GANTENG; Prabowo atau Jokowi?

Posted in Kancing Garuda by rishapratiwi on July 3, 2014
Tags: ,

Masa pencoblosan Capres-Cawapres 9 Juli 2014 semakin dekat. Kedua pasang kandidat semakin gencar melakukan upaya-upaya untuk mendulang suara. Ada yang pakai pendekatan terang-terangan; yaitu terang-terangan memaparkan dan mempertajam visi misi, ada pula yang pakai pendekatan gelap-gelapan; yaitu menyebarkan kampanye gelap untuk membunuh karakter kompetitornya. Masyarakat awam yang belum memiliki pilihan mungkin akan mengalami kebingungan dalam menentukan pilihan di tanggal 9 Juli nanti. Padahal seharusnya simpel saja, pilihlah calon presiden yang paling GANTENG.

GAGAH BERANI

Penampilan mungkin bagi sebagian orang tidak penting. Pepatah mengatakan bahwa janganlah menilai buku dari sampulnya. Akan tetapi diakui atau tidak, seringkali para pemilih yang masih galau baru menentukan pilihannya di bilik suara, berdasarkan calon mana yang paling enak dipandang. Di sini saya tidak membandingkan antara capres yang satu dengan capres yang lainnya, karena tim sukses keduanya menciptakan branding masing-masing. Calon yang satu memang dicitrakan sebagai sosok yang gagah dan rapi, sedangkan calon yang satu lagi dicitrakan ndeso, sederhana, dan merakyat. Jadi tergantung selera Anda. Harapan pribadi saya sih presiden yang terpilih nanti adalah sosok yang dari penampilannya dapat merepresentasikan keindahan surgawi alam nusantara Indonesia, alias enak dipandang.

Gagah juga adalah seberapa ksatria seseorang membela kehormatan  bangsanya. Calon yang satu berasal dari kalangan militer yang juga mewarisi darah ksatria sang ayah yang gugur dalam membela kehormatan bangsa di pertempuran Lengkong. Dari rekam jejak masa lalunya, calon yang ini terbiasa terjaga demi melindungi tanah air Indonesia di saat masyarakat biasa pulas dalam tidurnya. Mereka terbiasa menerabas kegelapan hutan di saat masyarakat biasa menikmati kemerdekaan dengan tenang. Adapun calon yang satu lagi terkenal sering blusukan dan dengan gagah tak segan-segan menginspeksi aparat yang kerjanya tidak benar.

AMANAH

Capres yang satu, namanya militer, patuh dalam menjalankan perintah sang atasan, meskipun pada akhirnya sosok ini menjadi pihak yang disalahkan hingga karir militernya yang gilang gemilang harus hancur lebur. Calon yang satu lagi, kita dapat menilai sendiri bagaimana cara beliau menjalankan amanah sebagai walikota dan gubernur. Oh ya, publik juga dengan jelas dapat mengetahui bahwa calon yang satu ini begitu patuh dalam mengemban mandat ketua partai.  

NASIONALIS

Orang dapat memiliki parameter tersendiri mengenai nasionalis. Ada yang mengatakan bahwa nasionalis itu dapat diukur dari mencintai dan membeli produk dalam negeri, menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar, ataupun bangga memakai identitas yang Indonesia banget, seperti batik dan peci. Dalam hal ini definisi nasionalis dari sejarawan Taufik Abdullah dapat menjadi tolak ukur yang bagus. Parameter nasionalisme versi beliau adalah termaktub dalam Pembukaan UUD 1945 alinea ke-4 yang berbunyi “kemudian daripada itu untuk membentuk suatu Pemerintah Negara Indonesia yang melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia dan untuk memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut melaksanakan ketertiban dunia  yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi, dan keadilan sosial”. Ya, manusia Indonesia yang nasionalis adalah yang melakukan tindakan MELINDUNGI segenap bangsa Indonesia, dan seterusnya sesuai alinea tersebut.

Calon yang satu terlahir dan dibesarkan oleh dalam tradisi tokoh-tokoh nasionalis, menolak kapitalisme dan liberalisme, serta menginginkan kebangkitan baru Indonesia menuju peradaban madani; Indonesia yang bermartabat, adil makmur, dan sejahtera. Meskipun sosok ini cukup lama mengenyam pendidikan di luar negeri, akan tetapi tidak mengurangi kecintaannya terhadap Indonesia.

Calon yang satu lagi merupakan “produk lokal” Indonesia, lahir di Indonesia, besar dan dididik oleh sistem di Indonesia. Sosok yang  konon dicitrakan prorakyat ini diklaim telah berjasa dalam mewujudkan kesejahteraan rakyat melalui program-programnya di kota dan provinsi yang pernah dipimpinnya. 

TERBAIK

Prestasi kedua calon memang tidak dapat dibandingkan karena memiliki bidang yang berbeda, yang satu di militer, yang satu di birokrasi. Untuk menilai prestasi masing-masing calon, lihatlah dari seberapa hebat pencapaiannya dalam bidang masing-masing.

Calon yang satu merupakan bintang di bidang militer. Ia memimpin tim Kopasus yang menjadi tim pertama dari Indonesia yang berhasil mencapai Mount Everest, mendahului tim Malaysia yang saat itu juga tengah mendaki. Ia juga terlibat dalam keberhasilan meringkus pimpinan pemberontakan Fratelin dan membebaskan peneliti asing yang disandera di Mapenduma, di saat pasukan yang lain tidak berhasil melakukannya. Ia juga mendapat berbagai penghargaan dari TNI Angkatan Darat RI, di antaranya Bintang Kartika Eka Paksi Nararya, Bintang Yudha Dharma Nararya, Satyalancana Seroja Ulangan-III, Satyalancana Dwija Sistha, Satyalancana Wira karya, Satyalancana Raksaka Dharma, Satyalancana Kesetiaan XVI, serta penghargaan dari Pemerintah Kamboja, yaitu The First Class The Padlin Medal Ops Honor.

Calon yang satu lagi, dari berbagai penghargaan yang diraihnya, mahkota “walikota terbaik dunia” yang paling menonjol. Namun belakangan baru terungkap bahwa situs worldmayor.com sebagai pemberi mahkota diragukan kredibilitasnya. Proses pemilihan kandidat didasarkan pada usulan yang kemudian penentuan pemenangnya melalui akumulasi dukungan dari akun terbanyak yang masuk, mirip dengan sistem polling SMS ajang pencarian bakat di Indonesia. Dapat kita lihat bahwa prestasi sesungguhnya adalah keberhasilannya dan tim untuk mengerahkan dukungan agar memenangkan penghargaan tersebut.

 ELEGAN

Bagi kebanyakan masyarakat Indonesia yang senang beramah-tamah, berbicara to the point dalam waktu yang relatif singkat adalah bukan hal yang mudah. Oleh karena itu, konten yang diungkapkan seseorang jika mendapat kesempatan berbicara secara spontan dalam waktu yang singkat dapat menjadi gambaran siapa dirinya sesungguhnya dan apa yang menjadi prioritas dalam hidupnya.  Pidato spontan dalam waktu 3 menit tidak dapat mengakomodasi pencitraan. Telah banyak tulisan yang mengulas perbedaan gestur dan konten pidato 3 menit kedua capres ini.

Capres yang satu memilih untuk memberikan apresiasi dengan menyebut berbagai pihak, termasuk kepada kompetitor, serta tidak lupa untuk memberikan kesempatan kepada wakilnya untuk turut berbicara. Sedangkan capres yang satu lagi memilih untuk menyapa para senior, membicarakan filosofi keseimbangan angka 2, yang diakhiri dengan meminta dukungan untuk memilih dirinya.

NGERTI MEMIMPIN

Kedua capres yang maju pada umumnya memiliki pengalaman kepemimpinan, meskipun dalam bidang yang berbeda. Calon yang satu merupakan komandan KOPASUS, pasukan elit yang disegani dunia, serta presiden dari beberapa perusahaan. Selain itu ia merupakan salah satu pimpinan partai, yang meskipun relatif baru berdiri tetapi telah menyedot banyak suara. Yang seringkali menjadi ganjalan adalah bahwa kepemimpinan calon yang satu ini belum terbukti di dalam rumah tangga. Tentu kita sebagai orang luar tidak dapat menghakimi bahwa sosok ini bukan kepala rumah tangga yang baik. Perlu dilihat dulu alasan beliau bercerai, hubungan silaturrahimnya dengan mantan istri, serta kondisi anaknya pascaperceraian. Jika alasan bercerai karena sang suami selingkuh, kemudian menimbulkan dendam kesumat antara dua keluarga besar, dan menghasilkan anak yang kurang kasih sayang sehingga melarikan diri pada lembah hitam, boleh lah ya kita bilang itu pemimpin rumah tangga yang gagal total.

Capres yang satu lagi memiliki kehidupan rumah tangga yang dapat dibilang sukses menurut kacamata umum, hubungan yang harmonis dengan istri, dan anak-anak yang tumbuh berkembang dan berprestasi. Lebih dari itu, dalam lingkup wilayah yang pernah dipimpinnya, capres yang satu ini dinilai berhasil menyejahterakan kota dan provinsi yang dipimpinnya. Meskipun belakang ini beredar kampanye negatif bahwa sesungguhnya keberhasilan tersebut adalah palsu. Yaa, kita yang rakyat awam ini tidak tahu mana yang benar. Yang jelas, ada data yang berbicara.

GAK MALU-MALU

Nah, untuk kriteria yang satu ini sebenarnya tergantung selera pribadi. Calon yang satu gak malu-malu menunjukkan ke depan publik keinginannya menjadi presiden. Ia telah mempublikasikan dirinya sejak jauh-jauh hari sebelum masa pencalonan presiden. Sementara calon yang satu lagi terkesan malu-malu. Dulu ditanya tentang kemungkinan pencapresan selalu menjawab “ramikir copras capres”. Eh ternyata sekarang nyalon juga. 

 

http://politik.kompasiana.com/2014/07/02/prabowo-paling-banyak-uang-jokowi-paling-banyak-utang-671090.html

Jokowi Tidak Menang, Prabowo Curang

Posted in Kancing Garuda by rishapratiwi on July 3, 2014
Tags: ,

Beberapa hari lalu di media massa beredar pernyataan kontroversial Jusuf Kalla bahwa dirinya bersama Joko Widodo optimis akan menang dalam Pemilu Presiden 2014. Hal tersebut dengan catatan bahwa pemilu berjalan lancar dan jauh dari kecurangan. “Satu yang sangat penting, insya Allah kita menang apabila pemilu jujur, karena arus bawah ini luar biasa”, demikian ungkap beliau. Dari pernyataan tersebut secara tidak langsung Kalla menunjukkan kepercayaan diri yang luar biasa bahwa TIDAK ADA yang dapat mengalahkan timnya kecuali KECURANGAN tim lawan. Sebaliknya, jika capres sebelah yang menang artinya telah terjadi kecurangan.

Saya jadi teringat masa kecil saat bermain dengan teman-teman. Jika ada yang kalah, ia akan berlari pulang ke ibunya sambil mengadu kalau temannya curang. Yah, maklum namanya anak-anak, masih kekanak-kanakan kalau menghadapi kekalahan.

Jika tim Jusuf Kalla sudah mulai mengendus adanya kecurangan di Pilpres mendatang, mengapa tidak segera melapor kepada pihak yang berwenang. Biar bisa segera diluruskan. Daripada nanti ternyata beneran kalah, terus menggugat, terus minta pemilu ulang kan repot. Lebih jauh lagi apabila isu kecurangan tersebut dihembuskan, akar rumput yang mudah tersulut dapat saja bertindak reaktif. Katanya ini negeri demokrasi, tapi kok ngeri demokrasi.

Jika Prabowo menang, bukan berarti ia curang. Tetapi yang jelas, ia telah memenuhi persyaratan UUD 1945 pasal 6A ayat 3 dan UU nomor 42 tahun 2008 pasal 159 ayat 1, yaitu mendapatkan suara minimal 20% di 17 provinsi. Data berbagai lembaga survey sudah menunjukkan bahwa elaktabilitas Prabowo semakin meroket. Jadi, tanpa melakukan kecurangan, insya Allah Prabowo menang.

http://politik.kompasiana.com/2014/07/03/jokowi-menang-prabowo-curang-671354.html

Muka Gak Penting?

Posted in Celoteh Sahaja by rishapratiwi on June 1, 2014
Tags:

Teringat nasihat uanya Si Abang: “berpakaian itu yg pantas, baju bagus di lemari dipake, jangan disimpen doang, gak akan beranak-pinak. Bukan buat pamer gaya-gayaan, tapi menjaga martabat keluarga”.

 

Waktu itu sih saya cuma iyain. Soalnya untuk poin menjaga penampilan, saya sepakat. Sewaktu masih belum nikah saya pun memang memegang nilai “berpenampilan yang baik berarti menghargai diri sendiri dan orang yang ditemui”. Tentunya berpenampilan baik versi saya sebatas rapi, tidak menyebarkan bau tak enak, serasi warna, sesuai dengan aktivitas dan tempat. Soalnya saya bukan tipe perempuan yang niat banget dandan. Kecuali memang untuk acara-acara khusus seperti wisuda, undangan walimah, atau walimah diri sendiri :p

 

Setelah menikah, saya memang peduli dan sering penasaran tentang pendapat Si Abang tentang penampilan saya, makanya sering nanya, “cantik gak, Say?”, hehe. Meskipun kalau si dia memuji tanpa saya tanya, saya yang malah menganggap dia gombal, hihihi.

 

Saya sampai sekarang memang belum bisa menghayati korelasi antara berpenampilan baik dengan menjaga martabat keluarga. Soalnya belum pernah mengalami pengalaman ekstrem seperti dimaki-maki orang karena penampilan, terus keluarga saya jadi dibawa-bawa, hehe. Tetapi memang saya lebih senang dengan orang yang enak dipandang. Alhamdulillah Allah mengirimkan pendamping hidup yang ganteng, wangi, serta mencintai kebersihan dan kerapian. Pipi manis mana pipi manis? #eaaa

 

Pun dengan pemimpin negeri ini #nah lho kenapa jadi pilpres, saya berharap presiden Indonesia orangnya enak dilihat, berkarisma, gak perlu cakep-cakep amat kayak model juga sih. Paling tidak, jika disandingkan dengan para presiden luar negeri yang gagah-gagah, nggak kebanting lah. Bisa merepresentasikan keindahan nusantara yang katanya tanah surga, mengutip film Deddy Mizwar.

 

Ini hanya tulisan subjektif pengisi waktu luang, tentunya sangat debatable. Tidak pake referensi ilmiah, apalagi dalil agama. Cuma celotehan seorang istri yang menunggu suami gantengnya pulang dari liqo

Life is Choice

Posted in Cermin Diri by rishapratiwi on November 28, 2013
Tags:

Hidup tak semudah memilih sepatu

Image

Sumber gambar: http://alungatristetea.ro/arta-de-a-lua-decizii/make-the-right-choice/

Next Page »