Revive Risha


Lihatlah Anak-anak Kita Bermetamorfosis Sempurna!!

Posted in Biologi by rishapratiwi on July 20, 2010
Tags: , ,

Drosophila melanogaster nama Latinnya, dikenal dalam nama lokal sebagai lalat buah. Hewan ini bisa dijadikan sebagai alternatif hewan peliharaan. Jika Anda memelihara kucing, kelinci, burung, atau marmut… itu mah biasa. memelihara Drosophila melanogaster, ini luarrr biasa..

Tanggal 7 September 2009, para mahasiswa Biologi ITB angkatan 2008 mendapat oleh-oleh dari laboratorium genetika, berupa seperangkat alat-alat: botol kultur dengan sumbat busa, botol kosong, cawan Petri, kuas, busa, dan botol berpipet untuk wadah eter. Maklum baru pertama mendapat amanah barang-barang pecah belah, kami sangat berhati-hati menjaganya supaya selamat sampai kosan.

Mau tahu isi botol kultur itu? Isinya pisang ambon lumut yang diberi ragi, sejauh ini harumnya masih sesegar pisang. Keesokan harinya di atas medium pisang muncul lapisan kapas berwarna abu-abu kecokelatan yang menyerupai koloni jamur. Sempat khawatir sih “kandang bayi”-nya terkontaminasi jamur, tetapi ternyata lapisan tersebut merupakan hasil fermentasi dari ragi.

Saya agak khawatir, jika menangkap lalat buah sekarang tidak keurus dan kasihan pula kalau mereka ikut pulang kampung, khawatir mati sebelum mereka sempat mendedikasikan diri untuk ilmu pengetahuan. Akhirnya diputuskan untuk menangkap lalat buah di kampung saja, siapa tahu lalat buah di kampung dagingnya lebih pejal ( emangnya ayam kampung).

Pada tanggal 13 September 2009 pukul 11:41 WIB, dua puluh ekor lalat buah ditangkap. Tentu saja saya tidak menangkapnya sendirian.  Saya bersinergi dengan Nenek menjebak lalat buah dengan menggunakan umpan pepaya. Kegiatan ini cukup menegangkan tapi menyenangkan. Dua perempuan beda generasi bersiasat menaklukkan lalat-lalat kecil yang lincah.

Wuooo, saya punya amanah baru nih! Memastikan lalat-lalat parental kawin dan bertelur, merawat anak-anaknya, kemudian melepaskan generasi pertama. Secara singkat, metamorfosis sempurna lalat buah harus melewati fase telur –> larva instar I –>  larva instar II –> larva instar III –> prepupa –>pupa –> imago.

Inilah euforia Drosophila melanogaster rupanya. Saya simpan kultur lalat buah itu di atas lemari di kamar. Saya pandangi setiap saat, saya putar-putar botolnya (berharap segera menemukan telur), saya buka tutupnya dan menghirup segar aroma pisang busuknya (hoeeekk..), saya pamerkan Drosophila saya di facebook, saya perlihatkan botol kultur pada seisi rumah dan meminta mereka turut menjaganya. Saya benar-benar mempersiapkan diri menyambut kelahiran generasi baru pahlawan ilmu pengetahuan.

Pada tanggal 14 September 2009, di atas kertas saring di dalam medium muncul titik-titik yang dicurigai sebagai telur. Tidak yakin, soalnya mirip serat-serat kertas gitu lah. Jadi diputuskan untuk menunggu sampai hari berikutnya untuk mengidentifikasi, apakah benar itu telur atau bukan?

Saya gelisah, khawatir Drosophila-nya mogok bertelur. Tapi saya tetap berharap semoga lalat-lalat betina yang cantik itu menyimpan banyak sperma dalam spermatekanya. Sambil menikmati masa-masa penantian, saya setia mengamati botolnya dan berkonsultasi dengan kawan-kawan peternak yang lain. Jadi berpikir, kegelisahaan perempuan yang tak kunjung dikaruniai anak barangkali lebih menyiksa daripada ini.

Setelah diamati lagi, abdomen lalat buah betina sudah membuncit. Iiihhh… gemezzz, pokoke cuantik tenan. Seperti ibu hamil, auranya memancar sampai membuat orang yang melihat jatuh cinta. Tanggal 15 September 2009, titik-titik yang dicurigai telur sudah berubah, ini rupanya yang dinamakan larva instar I. Ciri-cirinya sesuai dengan referensi, yaitu berukuran sekitar 1 mm, berwarna putih dan mulai aktif bergerak pada dinding botol.

Larva instar I berubah menjadi larva instar II (pengamatan tanggal 16 September 2009). Ciri-cirinya yaitu berwarna putih, berukuran panjang 2 mm dan diameter 0,5 mm, terdapat segmentasi pada tubuh, memiliki spirakel anterior, dan aktif bergerak.

Larva instar III teramati pada tanggal 17 September 2009. Ciri-cirinya adalah tubuh berwarna kekuningan, berukuran panjang 4 mm dan diameter 1 mm, terdapat spirakel anterior, tubuh terlihat bersegmen, dan di ujung posterior ada tonjolan.

Bayangkan, kalian mempunyai banyak larva yang bergerak merayap di dinding botol kaca!! Itu adalah tarian terindah yang pernah saya lihat. Perhatikanlah tubuh-tubuh mungil itu bergerak mendekati sumbat busa (bagian yang kering). Lihatlah mereka menggeliat-geliat masuk ke celah sumbat busa. Tidakkah mereka mengobrol satu sama lain?

Larva-larva tumbuh semakin lincah, bahkan kini sudah bisa merangkak. Jadi sering mendengar pertanyaan, “apa kabar lalatmu, Buuu?”

Setelah kemunculan larva instar III, lapisan hasil fermentasi yang menyerupai kapas menjadi hilang, medium yang awalnya berwarna kuning kecokelatan (warna alami pisang) berubah bagian atasnya menjadi cokelat kehitaman dan di bagian dasarnya terlihat ada bagian yang berwarna oranye. Kadar mediumnya pun menyusut. Selain itu, tampak saluran-saluran dalam medium yang merupakan hasil penggalian larva.

Prepupa teramati sekitar 13 jam kemudian (tanggal 18 September 2009). Tubuhnya memendek, berwarna putih dengan spirakel yang membalik. Bentuknya seperti butir-butir beras, hanya lebih kecil. Prepupa itu rupanya pendiam, mereka anteng tidak bergerak meskipun sudah digelitiki. Ya, prepupa sudah seharusnya diam karena Allah memang menyuruhnya diam. Coba bayangkan jika mereka  membangkang, akankah fase berikutnya bisa dilalui?

Prepupa mulai menjadi pupa, teramati 6 jam kemudian. Pupa ini tubuhnya mengeras berwarna cokelat muda, tidak bergerak, memiliki dua “tanduk” di bagian kepala, dan segmentasi tubuh terlihat sangat jelas. Lama-lama bagian tubuh pupa berubah menjadi cokelat tua. Pupa tidak hanya menempel di kaca botol media, banyak yang masuk ke dalam pori-pori sumbat busa, menumpuk di atas kertas saring, dan ada yang masuk ke dalam medium.

Kalau dilihat dari sudut pandang orang yang tidak sedang jatuh cinta, sejujurnya pupa-pupa itu sangat menjijikan. Sudah seperti ratusan belatung saja mereka. Berkoloni nemplok-nemplok di kertas saring. Cokelat-cokelat seperti wijen. Apalagi medium pisang yang semakin busuk, menguar aroma asem-asem sengak gitu. Tapi jika kalian mengikuti prosesnya dari awal, yang akan kalian lihat adalah keindahan! Mereka sudah sejauh ini, sudah mencapai pupa. Yang membuatnya indah adalah kesabaran penantian, ketidakmengeluhan, keingintahuan, dan tentu saja karena saya menikmati keberadaan mereka.

Nah, setelah teramati adanya pupa yang muncul, lalat-lalat parental dikeluarkan dari botol medium tanggal 18 September 2009. Saat dikeluarkan, jumlah lalat-lalat parental tinggal sekitar 10 ekor. Ternyata banyak lalat yang mati. Selamat jalan! Percayakanlah anak-anak kalian padaku..

Dari pupa menjadi imago ternyata butuh waktu yang cukup lama. Sedang apa ya anak-anak itu dalam pupa mereka? Mungkin mereka sedang bersemedi, merenung untuk mempersiapkan strategi fase kehidupan selanjutnya.

Semakin lama rasanya semakin tumbuh rasa sayang pada mereka. Rasanya selalu ingin bersama mereka, menjaga mereka, memastikan perkembangannya berlangsung normal, menjamin makanan dan tempat tinggal mereka. Bukan hanya kewajiban terhadap penelitian genetika! Apakah setipe perasaan yang dirasakan Ayah Bunda kita? Yang selalu ingin menyayangi tanpa tendensi, memberi tanpa meminta ganti. Masya Allah, perasaan Ayah Bunda kita jauh jauh jauuuuuuuuuuuuh lebih dahsyat daripada ini!!

Pupa-pupa rupanya masih asyik bersemedi. Ayolah segera bangun! Apakah kalian takut dunia ini akan berlaku kejam sehingga kalian merasa lebih aman tinggal dalam pupa?

Pada pengamatan tanggal 21 September 2009, alhamdulillah pupa sudah berubah menjadi imago. Lalat yang muncul bertubuh relatif lebih kecil dibandingkan ukuran parentalnya, panjang sekitar 2 mm. Lalat-lalat itu bertubuh pucat dan belum mampu terbang karena sayapnya masih terlipat. Akan tetapi lalat tersebut terlihat sangat aktif berjalan. Mungkin kalau bayi masih merah kali ya.

Senang rasanya menjadi saksi metamorfosis sempurna Drosophila melanogaster. Fantastik!!

Allah, si kecil lalat buah ternyata juga harus melalui serangkaian proses untuk mencapai maturasinya. Delapan hari, delapan hari yang mereka butuhkan untuk memutar siklus hidupnya (tergantung pada banyak faktor, seperti suhu, kepadatan medium, kepadatan populasi, dan ketersediaan makanan). Relatif singkat ya? Bila dibandingkan dengan siklus hidup kita. Mereka begitu patuh, tanpa keluh, melewati setiap fase yang Engkau tetapkan.

Memelihara lalat, hanya menjadi pekerjaan bodoh jika dilakukan hanya untuk mendapat nilai praktikum. Mana warna yang hendak kau nikmati keindahannya? Perhatikanlah, dengarkan apa hikmah yang hendak mereka sampaikan pada manusia? Mungkin berupa request jundi terhadap khalifahnya.
Pada pengamatan 6 jam kemudian, lalat sudah bisa terbang. Finally, mereka sukses menyambung kelangsungan hidup spesiesnya.

***

Yaah, kisah ini nyaris berakhir dengan indah ketika sebelas menit menjelang pukul sebelas, tanggal 25 September 2009, terjadi kecelakaan yang mengubah segalanya.
Begini ceritanya, pagi itu saya memutuskan untuk membawa lalat-lalat itu jalan-jalan naik motor. silaturrahim ke rumah teman-teman.

Sampailah di rumah seorang teman. Saat mau mengambil sesuatu dari tas, dari tas yang terbuka, terbanglah segerombolan makhluk cute yang sangat saya kenal. Sesaat sempat tertegun sampai akhirnya menyadari bahwa lalat buahku LEPASSSSSS… Setelah dicek, ternyata ada tangan-tangan gaib yang membuka sumbat busanya, mungkin botol itu terguncang-guncang saat dalam perjalanan. Mungkin lalat-lalat itu bersatupadu mendobrak sumbat seperti yang dilakukan Nemo dan ikan-ikan yang terjerat jaring nelayan.

Sedih sekali, sedih rasanya kehilangan kesempatan… kesempatan mengucapkan selamat jalan buat mereka dan melihat mereka mengisyaratkan salam perpisahan…

Padahal sebenarnya toh nanti juga mereka akan dilepas, tapi ya itu tadi. Tidak sempat mengadakan farewell party dengan mereka. hikkssss…

Untung saja kelompok lalat buah ini belum mendapat perlakuan khusus. Bayangkan jika gen-gen mereka sudah direkayasa dan mereka terbang bebas ke sana ke mari.

Adapun lalat-lalat yang kurang beruntung, kurang gesit, mereka masih merangkak-rangkak di dinding botol. Ah kasihan, rupanya kalian adalah golongan yang tertinggal dan tak terbebaskan…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: