Revive Risha


Gekkophoria

Posted in Biologi by rishapratiwi on January 10, 2012
Tags: , , , ,

Bismillahirrahmaanirrahiim

“dari Geckophobia ke Geckophoria

Terlahir sebagai subordo Sauria, famili Gekkonidae memiliki penampakan yang nyentrik. Struktur kulit bergranula alias berbintil, pupil vertikal (kecuali ada beberapa genus yang memiliki pupil bulat), jari berlamella, dan memiliki kemampuan hebat dalam meregenerasi ekor yang putus.

Sejak zaman batu sampai zaman perunggu, dan sampai kini zaman blackbaru (?), Saya menderita Gekkophobia akut. Mau gekko besar, mau gekko mini, sama-sama horror bagi saya. Entah jijik atau ngeri, rasanya sulit membedakan kedua hal itu. Tersiksa juga sih punya perasaan seperti ini. Sampai akhirnya, berdasarkan saran dari seseorang, saya memutuskan untuk menangkap si gekko besar yang bermukim. Lebih tepatnya menonton adik, sepupu-sepupu, dan paman yang menangkap sih.

Apakah mereka berhasil menangkap gekko? Apakah saya berhasil sembuh dari gekkophobia? Anda penasaran?? Saksikan dalam episode selanjutnya!!!

Entah bagaimana kelanjutan cerita itu, saya tidak tahu dan tidak mau tahu karena begitu mendengar jeritan gekko saya tidak tega dan segera kabur ke rumah nenek.

Ibu sering bilang, “Ica sama tokek gedean mana sih?” Yaah, masalahnya bukan terletak pada perbandingan morfometri kami berdua, pertanyaan yang lebih tepat sih, “Ica sama tokek nyalinya gedean siapa?????”. Tokek aja berani gigit manusia, masa manusia nggak berani gigit tokek!! Hiiyyyy…

Saya berani pegang ular hidup-hidup lho! Saya juga berani handling mencit hidup (dengan keringat, air mata, dan darah yang menetes-tetes di balik jas lab tentunya), saya bahkan berani membedah mencit, cavia, tikus, dan katak. Tapi saya tidak berani bertatapan muka dengan yang namanya gekko.

Kenapa ya? Kalau tokek, mungkin karena ukuran kepala relatif besar terhadap ukuran badan sehingga proporsinya terlihat aneh dan mengerikan, juga kulitnya yang berbintil-bintil dan terlihat rawan. Atau seringainya yang tajam, atau sorot matanya yang kejam. Plis, plis, jangan dibayangkan!! Kalau cicak, kenapa ya? Justru makhluk yang satu itu seharusnya tampak lucu. Dia mungil, lincah, dan belum bisa bicara (emangnya bayi). Mungkin karena warna kulitnya menyerupai warna kulit manusia, lho apa hubungannya? Memang tak ada hubungannya, dan tak ada alasan rasional yang mendukung rasa takut berlebihan ini.

Nah, tanggal 14 Oktober 2009, seperti biasa ada praktikum biosistematik. Kali ini materinya tentang pisces, reptile, dan amfibi. Oke, mari kita ajukan pertanyaan. Kira-kira siapakah delegasi keluarga Gekkonidae? Tentu saja makhluk merayap yang mudah ditangkap, dan jinak. Saya belum siap, saya belum siap, saya belum siap T_T

Kabar buruk, di awal praktikum terdengar beberapa jeritan kecil para wanita yang malu tapi mau mengamati Rana dan Bufo. Si Rana dan Bufo rupanya centil dan cukup atraktif, mereka tidak puas jika hanya berada dalam kantong kresek hitam. Pengen eksislah, jadi mereka meloncat-loncat keluar.
Kabar baiknya, kelompok saya mendapatkan baki berisi sampel-sampel hewan yang harus diidentifikasi, tanpa keluarga gekko. Yeah!!

Selesailah sudah cerita tentang praktikum biosistematik. Selamat menyaksikan acara selanjutnya.
Ya, masih bersama Risha Amilia Pratiwi dalam siaran ulang ujian praktikum biosistematika sistem ketok.
Hari itu, Rabu 21 Oktober 2009, SUNGGUH TIDAK TERBAYANG DAN TIDAK MAU MEMBAYANGKAN SEBELUMNYA KALAU SAYA HARUS BERTEMU LAGI DENGAN PARA GEKKO. Dan kondisinya sekarang lebih mencekam daripada waktu praktikum. Saya harus menghadapi dia seorang diri, dengan tangan gemetar menggenggam pulpen dan lembar jawaban.

Sepertinya itu adalah kursi paling panas yang pernah saya duduki. Dari kursi itu saya harus menjawab ketakutan paling berat dalam hidup ini. Amati ketiga reptil ini dan jelaskan karakteristik yang membedakan ketiganya! Begitu kira-kira isi soalnya. Ada awetan Agamidae (bunglon) dengan gular sac, ada Scincidae (kadal) dengan sisik halus dan pupil mata bulat, dan ada Gekkonidae dengan… dengan apa? Haduh, saya lupa. Apa karakteristik hewan itu? Ayo ingat-ingat, atau kamu harus memelototinya!! Huaaa, saya benar-benar lupa!

Atuuuh, mau nggak mau si gekko dipandangi juga. Tubuh kakunya, jemari kokohnya, rahang kuatnya, bintil-bintil eksotiknya, dan seringai mulutnya yang disumpal kapas putih. Rasanya waktu berjalan merayap dan tersendat. Sumpe deh, pengen lari saat itu juga. gak peduli ujian sedang berlangsung. Ayolah kakak asisten, segera ketok bak cucinya biar saya segera pindah kursi!

Untung cuma harus memelototi, bukan menimang dan membedahnya. Tapi tetep we geuleuh!!
Branggg!!! Huff, akhirnya pindah kursi. Bye-bye, cantik!

Di meja berikutnya, berselang beberapa nomor dari meja reptile, tergeletak pasrah seekor mini gekko. Tubuhnya yang sudah diawetkan tampak begitu lucu dan menggemaskan. Apakah, apakah saya harus berperang lagi? O-oww, asisten yang baik rupanya telah menyediakan senjata untuk saya. Jangka sorong!! Pertanda apa ini?

Berapa TL (tail length) dan SVL (snout-vent length) makhluk ini? Berapa?? Berapa?? Jawablah, wahai cicak yang tergolek tidak berdaya!! Jawab!!! Biar saya tidak perlu menyentuh dan menyakiti kamu!!!!! Namun cicak yang malang itu diam membisu. Mungkin dia sedang tidak enak badan. Akhirnya, dengan kekuatan penuh dan kemampuan akting yang luar biasa, saya pura-pura.. ya pura-pura, mengukur panjang ekornya. Namun cahaya ilmu tiba-tiba bersinar dari balik tubuh cicak itu. Apa yang akan kau dapat dari kepura-puraan ini??? Kapan lagi ada kesempatan untuk menaklukan ketakutan ini??? Satu nomor ini, kamu harus bisa menjawabnya dengan benar!! Atau seumur hidup kamu akan dibayang-bayangi ketakutanmu!!!

Bismillah, satu ujung jangka sorong mulai menyentuh lubang hidung cicak itu, ujung satu lagi menyentuh pangkal ekor. Pandangan saya nanar saat membaca skala jangka sorongnya. Tak percaya, saya berhasil!!! Saatnya untuk mengukur panjang ekor. Oh tidak, ekornya membentuk sudut siku-siku. Apakah untuk mengukurnya saya harus meluruskan ekor dulu? (ekor cicak maksudnya, bukan ekor saya). Halah, nggak usah. Dikira-kira saja. Sip.. akhirnya selesai juga! dan bunyi “gomprang” bak cuci yang dipukul asisten, pertanda pindah meja, menyadarkan saya. Betapa-saya-menikmati-momen-ini. Betapa-saya-menikmati-momen-ini. Betapa-saya-menikmati-momen-ini, di saat saya maju dan berusaha menjadi pahlawan atas diri saya sendiri.

 

Ah lebai.

SELESAI.

3 Responses to 'Gekkophoria'

Subscribe to comments with RSS or TrackBack to 'Gekkophoria'.

  1. Prib said,

    borongan postingan dalam satu hari, ckckck..

    rasanya banyak postingan yg pernah saya baca, kayanya dari notes di FB mungkin?!

    iseng mampir karena nge-search nama sendiri di gugel

  2. rishapratiwi said,

    Yap. Ini lagi benah-benah “rumah”, biar tulisan-tulisannya ndak berserakan, makanya mau dikumpulkan di satu “rumah”


  3. These are truly great ideas in concerning blogging.
    You have touched some nice things
    here. Any way keep up wrinting.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: