Revive Risha


Ritual Kembang Melati

Posted in Happy Family by rishapratiwi on January 10, 2012
Tags: , , , ,

Terkadang prioritas yang telah kita tetapkan kalah pamor sama jarkom. Bukan bermaksud protes apalagi mengeluh, hanya ingin meminta. Meminta izin, do’a, dan restu. Saya harus pulang kampung secepatnya.

Sebenarnya tidak ada hal darurat yang mengancam keselamatan nyawa, hanya handphone berdering lebih sering dari biasanya dan message yang lebih intens dari sebelumnya. Intinya, “kapan pulang?” Ada yang kangen…

Jum’at, 11 September 2009 saya memutuskan untuk segera kabur dari keriuhan kampus. Menuju Cibiru, keluarga tante yang ditinggalkan selama berminggu-minggu tanpa ada kabar aku sedang apa dan sedang di mana. Kalau tidak ada aral menghadang, besok paginya baru akan meluncur ke kampung halaman.

Biasanya kalau pulang cuma membawa tas ransel kosong. Enggak deng, paling isinya mushaf, charger handphone, dompet, air minum, apalagi ya? Segitu. Berhubung di liburan sekarang banyak proyek yang harus diselesaikan (laporan biosistematika, genetika, kimia organik, anfiswan, dan esai untuk blog Al-Hayaat) jadi bawa banyak barang. Satu ransel berisi laptop (biar bisa dipangku di bus), satu ransel isinya buku-buku penuntun praktikum, baju, dan pernak-pernik lainnya. Satu lagi sebagai pelengkap berbusana, tas jinjing kecil. Isinya? Botol kultur Drosophila.

Kali ini mengambil jalur perjalanan yang tidak biasa. Alih-alih berangkat dari Terminal Leuwipanjang, saya memilih untuk cari bus jurusan Cianjur dari tol Cileunyi. Berangkat dari rumah pukul 06.15 (telat 15 menit dari rencana karena terpincut baca majalah Kartini yang meliput acara kontes Miss Beautiful Morals di Saudi Arabia), tiba di tol sekitar 15 menit kemudian.

Perjalanan Bandung-Cianjur biasa-biasa saja (tidur terus). Sampai di Terminal Pasirhayam yang kosong melompong pukul delapanan. Setengah jam kemudian bus menuju Sukabumi baru datang. Perjalanan Cianjur-Sukabumi juga biasa-biasa saja karena sepanjang perjalanan tidur juga. Lagi pula deretan bangunan di pinggir jalan tak terlalu istimewa.

Pukul 10an turun di ABC (entahlah nama asli daerah itu apa, yang jelas kondektur bakalan teriak, “ABC.. ABC..!!”). Kenapa tidak turun di terminal? Supaya bisa jalan kaki bernostalgia menikmati suasana kota. Saya jalan kaki sepanjang pertokoan, sampai akhirnya bertemu dengan pasar kaget-yang-mau-tidak-mau-harus-dilewati. Becek, sumpek, bau, terik, gerahhh, bawaan banyak, rawan copet… haus? Sangadhh.. rasanya seperti cucian yang sudah kering dan merana.

Hhh.. kira-kira pukul sebelas, sampai juga di Terminal Lembur Situ. Di sana sudah menunggu seorang kawan, Matematika ITB ’07. Lho, mana busnya?

Ya, di sinilah kami! Dalam suasana yang gerah abizz, bau asem, haus parah, berdesak.. duduk berdempetan di sebuah mini bus yang dalam bahasa lokal disebut elf. Dua orang akhwat dengan bawaan banyak bertumpuk di pangkuannya (laptop, satu tas kripik, dan kandang Drosophila tentunya) asik-asik saja mengobrol tentang kuliah, da’wah, dan…**tiiiiiiit. Kami asyik mengobrol sampai rasanya 20.000 kata terlampaui.

Jika jalanan menuju Jampangkulon dianalogikan sebagai seekor ular, ular itu pastinya ular yang lincah. Meliuk ke kanan ke kiri tanpa peduli seberapa dalam curam-curam yang menganga di tepiannya. Tapi tak dapat dipungkiri, alam liar Pajampangan luar biasa indah! Daerah Sukabumi selatan yang cantik sekaligus belum terlalu terjamah polusi.

Jika kalian ingin melihat hamparan perkebunan teh, kalian bisa menemukannya di sini. Jika kalian senang memandang tanaman-tanaman pisang tumbuh menclok-menclok di padang ilalang, silakan saksikan di sini. Atau kalian ingin melihat pohon-pohon besar menyeramkan menaungi jalan? Atau bunga-bunga liar yang bersembunyi dalam rerimbunan? Atau pohon-pohon karet yang berbaris rapi? Atau conifer yang menjulang? Atau kawanan (kawanan??) singkong di berjejer di pinggir jalan? Atau kumis kucing yang malu-malu? Atau mau lihat rumpun bambu di pinggiran jalan? Jika beruntung, kalian dapat mendengar kicauan burung-burung dan nyanyian serangga hutan, bahkan oa/lutung/apalah itu namanya yang menjerit-jerit menyapa kalian, juga ayam yang bebas berlarian berkejaran.

Dulu, dulu lebih lebih daripada semua itu! Dulu, ada hutan Pasirpiring yang benar-benar hutan belantara eksotik sampai-sampai orang yang baru pertama kali melewatinya tidak menyangka kalau setelah hutan itu akan ada peradaban dengan konsep hidup yang sudah beradab. Tapi manusia-manusia yang kelaparan memakan pohon-pohonnya sampai ke akar.

Ya, lupakan Pasirpiring. Mari kembali ke jalan pulang.

Selamat datang di rumah tanpa pagar! Selamat datang di area bebas macet dan tiada internet!! Ini rumah kami, JAMPANGKULON.

Hmmm, aroma rumah sudah mulai tercium. Kami melewati SMP yang kini pahebring-hebring sama RSUD di seberangnya. Terus melewati alun-alun yang padam dari gemerlap sebuah alun-alun pada umumnya. Dan berhentilah di depan Kantor Polisi. Ada seseorang berhelm merah dengan motornya yang sudah menunggu di sana. Hih, lagi-lagi pakai celana pendek. Dasar bocah!! “Hayu, Teh,” sapanya riang.

Motor kami melaju menembus kenangan yang menjulang di sepanjang jalan. Mengurai satu-satu kisah kocak masa kecil. Sekolah dasarku, pohon campolehku.. satu belokan lagi kami akan sampai. Rumah pelangi tak pernah kurindu untuk memasukinya (karena selalu ada di dalam hati, aihh). Ada Mamah dengan dasternya tersenyum menyambut kami. Dua nenekku (keduanya mantan kembang desa) tergopoh-gopoh menyambutku juga.

Aku belum shalat dzuhur nih! Singkat cerita, aku menemui sujud pertamaku. Hmm.. sajadah wangi. Di tengah kering-kerontangnya kerongkonganku, wangi ini mengingatkanku pada teh melati. Suka deh…

Aroma melati menguap seiring dengan semakin berat kelopak mataku. Akhirnya tidur siang di ruang tengah. Setelah sekian lama melewatkan siang di bangku laboratorium.

Singkat cerita (lagi), adzan isya berkumandang. Mama sudah duluan pergi ke masjid dan aku masih di rumah ribut mencari kunci (penyakit kambuhan ni!!).

Saat sujud pertama, hm… wangi teh melati lagi. Padahal ini bukan sajadah tadi siang. Jangan-jangan saluran respiratoriku kemasukan teh melati tanpa kusadari.. oO-ow, yaiyalah wangi melati. Bunganya ngagunduk gitu di depan hidung (baru menyadari kehadirannya setelah salam).

Kemudian Mamah dengan santainya memindahkan sekuntum melati ke lingkaran pertama pada motif sajadahnya. Setelah dua rakaat selesai, Mamah memindahkan melati di lingkaran pertama ke lingkaran berikutnya. Begitu seterusnya, tiap dua rakaat Mamah memindahkan melati itu sambil senyum-senyum jenaka. Mau coba ngetes ah, “berapa rakaat lagi, Mah?”. “Empat lagi, witir tiga,” jawab Mamah sambil memperhatikan posisi terakhir melati itu.

Kalau diperhatikan, Ramadhan tahun ini Mamah lebih rajin tarawih ke masjid (sebelumnya nggak bertahan sampai bilangan hari keduapuluhan). Rupanya Mamah punya teman tarawih, Bu Ati namanya. Beliaulah supplier melati itu. Mereka berdua, setiap dua rakaat tidak lupa memindahkan melati ke lingkaran berikutnya di sajadah. Ya, pekerjaan yang sangat menyenangkan, membuat lupa akan betapa ngebutnya dua rakaat tadi dan menyemangati agar melati sampai di lingkaran finish.
Jadi semakin rajin tarawih, Ramadhan Mamah akan semakin wangi . . . 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: