Revive Risha


Melarung Resah di Lahan Basah

Posted in Jalan-Jalan by rishapratiwi on January 12, 2012

Jum’at 27 Maret 2011, sekitar pukul 17.30, terlambat dari jadwal semua, rombongan kuliah lapangan Ekologi Pengelolaan Lahan Basah yang terdiri dari 14 orang praktikan, 1 dosen, dan 4 asisten, berangkat dari kampus ITB. Bismillah, siap-siap untuk perjalanan di Bumi Allah.

Dari Bandung menuju Cilegon dengan bus ternyata menghabiskan waktu sekitar enam setengah jam, termasuk waktu istirahat untuk makan dan shalat di perjalanan. Sekitar pukul dua belas malam rombongan tiba di Hotel Sukma Cilegon. Ekspektasi saya semula, ini adalah losmen yang bernama “Hotel Sukma”. Ternyata setelah masuk ke dalamnya, itu memang hotel yang bernama “Sukma”, bukan kelas losmen. Ada AC, ada TV.

***

Sekitar pukul lima pagi, rombongan mulai bergerak menuju dermaga yang akan mengantarkan kami ke Pulau Dua. Ternyata di perjalanan ada kendala teknis. Makanan yang dipesan belum siap sehingga harus menunggu sekitar satu jam lamanya. Pukul delapan pagi rombongan akhirnya sampai juga di dermaga. Kami segera loading barang ke kapal.

Berhubung saya pakai rok, awalnya ragu-ragu untuk melompat ke perahu kayu karena perahunya “menari-nari”. Ternyata aal iz well, alhamdulillah. Alhamdulillah, bobot tubuh saya tidak menggoyah keseimbangan perahu secara signifikan. Setelah para penumpang duduk dengan manis, perahu mulai dikayuh dengan sebilah kayu panjang.

Daratan Pulau Panjang tampak nun di seberang sana. Animo para peserta lapangan mulai menggelombang, “itu ya, Bu pulaunya? Itu bukan? Oh, itu?” Jauh juga, apalagi perahunya dikayuh begini. Sampai kapan? Kapan sampai? O-ow, rupanya ada kendala teknis, mesin perahu tidak mau hidup. Akhirnya perahu kami diderek oleh perahu lain.

Karena belum sempat sarapan, kami makan di perahu. Nasi padang menjadi luar biasa rasanya, berasa mau ke Padang naik perahu. Setelah lelah makan dan ngobrol, sebagian ada yang tertidur. Saya termasuk.

Pukul sembilan pagi kami tiba di dermaga Pulau Panjang. Setelah itu mobilisasi barang ke rumah Pak Kepala Desa. Sepeminuman teh, kami  mobilisisasi ke hutan mangrove dengan perahu kecil. Mangrove merupakan ekosistem yang terdapat di antara daratan dan lautan dan pada kondisi yang sesuai akan membentuk hutan yang ekstensif dan produktif. Tumbuh-tumbuhan khas hutan mangrove di antaranya adalah jenis-jenis Rhizophora, Bruguiera, Ceriops, Avicennia, Xylocarpus dan Acrostichum. Selain itu juga ditemukan jenis-jenis Lumnitzera, Aegiceras, Scyphyphora dan Nypa. *Bukan saya sombong dan sok tahu tentang mangrove, itu di-copy-paste dari laporan Proyek Ekologi semester lima. Yah, simpelnya mah mangrove itu ekosistem yang dihuni bakau-bakauan lah.

Saya lupa bahwa kami akan melakukan analisis vegetasi mangrove. Dikira kami akan cuma duduk cantik di atas perahu sambil mendengarkan penjelasan ibu dosen. Seperti Anda pelesiran ke Taman Safari. Tahunyaa,..

“Kelompok satu buat plot di sini ya.”

Plot?? Di sini??

Baiklah.

Satu per satu turun dari perahu.

“Aww”

“Ooo”

“Waww”

Entah itu pecahan karang atau duri-duri dari bakau yang menusuk-nusuk kaki kami. Yang pakai sepatu boots tidak lebih beruntung, malah airnya masuk ke sepatu dan susah diangkat karena substratnya lumpur. Oh ya, satu kelompok terdiri dari lima orang. Dalam tiap regu hanya ada satu orang mahasiswa yang ditetapkan secara aklamasi sebagai Kepala Suku, lainnya mahasiswi. Jelas lah “Si Kepala Suku” ini menjadi pahlawan. Membuka jalan, merangsek akar bakau dengan heroik. Golok di tangan kanan, seperangkat alat lapangan di tangan kiri. Bersandang tas punggung yang berisi air minum dan makanan ringan. Memang multifungsi beliau-beliau ini, sebagai Kepala Suku, Kuli Panggul, dan Bodyguard.

Berhubung substratnya tidak bisa diajak bekerja sama, akhirnya kami bereksplorasi tidak dengan berjalan di lumpur, tetapi  bergelantungan di akar bakau (*posisi akar bakau ada di atas permukaan substrat). Semua sibuk menyelamatkan diri masing-masing sehingga tidak ada yang berinisiatif untuk potret-potret. Ah, sayang. Bagian penting kuliah lapangan terlewatkan.

Selain melakukan analisis vegetasi mangrove yang meliputi pengukuran diameter pohon, jumlah, serta identifikasi spesies, kami juga mengukur parameter fisika-kimia tanah, seperti pH, dan mikroklimat, seperti temperatur, kelembaban udara, dan intensitas cahaya matahari. Oh ya, kami juga mencuplik makrozoobentos dan mengambil sampel air untuk dianalisis di lab, yang meliputi analisis pH, temperatur air, salinitas, serta kandungan oksigen terlarut. Nah, begitulah gambaran pekerjaan lapangan di Ekologi Lahan Basah.

Dari lima plot yang seharusnya dibuat, setiap kelompok berhasil menyelesaikan dua plot (saja). Waktu sudah menunjukkan pukul 13.30, tetapi kapal mitigasi terlambat datang dari pukul 13.00 yang dijanjikan. Kami keluar dari mangrove dan mulai mencari-cari perhatian para penumpang perahu yang lewat. Berharap tim penjemput yang datang.

Substrat yang kami pijak masih lumpur. Ternyata karena kami diam di tempat beberapa jenak, lumpur itu menelan kaki-kaki kami. Kasihan sekali teman yang bersepatu boots, nyaris harus menanggalkan sepatu dan menyerahkannya pada lumpur. Namun dengan kekuatan keyakinan dan kepenuhan kekuatan (?) sepatu itu akhirnya bisa ditarik dari cengkeraman lumpur. Diam ternyata mematikan.

Tim penjemput akhirnya datang. Rompi pelampung kami yang berwarna norak, orange parah dan kuning gila, berkilau-kilau ditempa sinar matahari. Setelah ketiga regu berhasil diselamatkan, rombongan melaju ke daerah pantai.

Di pantai kami mendarat dan menggelar tikar untuk makan siang. *Maksudnya tentu saja kami bukan makan tikar, tapi kami makan di atas tikar. Menunya sayur asem, ikan teri plus kacang, tempe, dan ikan asin. Lalapannya mentimun. Sedap. Sepertinya ini makan siang termahal yang pernah saya beli. *Untuk mendapatkan fasilitas ini, orangtua saya yang cari biaya sekolah dari TK sampai SMA. Terus harus bayar biaya bimbel SNMPTN, bayar biaya masuk ITB, bayar uang semesteran selama tiga tahun, belum lagi uang kosan, uang buku, uang fotokopian, uang pulsa, uang laporan, dan banyak lagi. Hingga akhirnya saya lulus TPB, lulus tingkat I dan tingkat II, dapat IP lumayan bagus sehingga boleh mengambil matakuliah lebih dari 18 sks. Dan akhirnya memutuskan mengambil mata kuliah Ekologi Lahan Basah.

Selesai makan, kami memburu lautan. Di daerah laut kami turun dari perahu dan snorkeling. Kedalaman air yang lebih dari 153 cm jelas membuat saya tenggelam jika tidak pakai pelampung. Di bawah sana, terumbu karangnya banyak sekali. Dan bagus. Akan tetapi karena ada serangan bulu babi, kami diharuskan pindah ke tempat yang lebih dangkal, yang banyak lamunnya.

Saya yang kelelahan terombang-ambing oleh gelombang laut yang dahsyat, akibat tidak bisa berenang, meminta tugas untuk menjadi titik nol dari transek yang setiap regu buat. Transek merupakan garis pedoman untuk membatasi daerah penelitian. Karena berdiri berdiam diri, saya rasanya akan terhempas angin yang begitu kencang. Diam ternyata mematikan.

Ekosistem lamun didominasi oleh seagrass. Ekosistem ini memiliki fungsi ekologis sebagai habitat biota-biota laut dan membentuk interaksi dengan terumbu karang dan mangrove. Beberapa alga ditemukan di daerah ini. Ditemukan pula beraneka ragam moluska dari kelas Gastropoda (siput) dan Bivalvia (kerang). Di sini kami menghitung kerapatan dan persen penutupan lamun, juga mengidentifikasi nama spesies lamunnya.

Eksplorasi di ekosistem lamun dicukupkan. Setelah rombongan naik ke perahu, kami bertolak menuju daratan Pulau Panjang. Sore itu lembayung menaungi kami, matahari turun perlahan-lahan. Nuansa berubah menjadi melankolis optimis. Bahwa kami akan tiba pada cita-cita kami, seperti perahu ini yang tiba di labuhannya.

Malam hari yang sibuk. Ba’da shalat dan makan malam, orang-orang lalu lalang di dalam rumah Pak Kades. Ada yang packing, ada yang rebutan kamar mandi, ada yang hilir mudik cari charger HP, ada pula yang uring-uringan menghilangkan duri-duri dari kaki. Saya termasuk golongan yang terakhir. Beberapa SMS yang dikirimkan ke teman-teman, meminta saran bagaimana teknik mencabut duri-duri sepanjang kurang dari 1 mm. Harapannya dengan bertanya pada orang-orang dari latar belakang ilmu yang berbeda-beda, saya akan mendapatkan jawaban yang memukau. Aplikasi teori apaaa, gitu. Ternyata saran yang paling dirasa ampuh, teteuuup, dari Ibu Juara Satu : pakai bedak. Lumayan, duri-durinya rontok juga, meninggalkan bentol-bentol merah di sepanjang kaki.

Perkara duri harus secepatnya ditinggalkan, saatnya forum malam bersama Pak Kades. Penjelasan beliau mengenai geografi Pulau Panjang dan budidaya rumput laut, seperti dongeng pengantar tidur bagi saya. Seusai penjelasan sekitar pukul sembilan malam, guna mem”bangun”kan suasana, para asisten mempresentasikan foto-foto yang berhasil ditangkap selama eksplorasi lapangan tadi. Baru lah saya benar-benar melek. Setelah itu dilanjutkan dengan kompilasi data setiap regu. Saya pun terkantuk-kantuk lagi sampai tidak ingat jam acara malam itu berakhir.

***

Pagi-pagi buta, pukul empat dini hari kami mobilisasi ke dermaga. Naik perahu ke pulau-yang-saya-lupa-namanya-karena-waktu-asisten-menjelaskan-saya-masih-ngantuk. Dermaga yang gelap. Angin berhembus jahat.

Ah, beginikah rasanya menjadi istri dalam cerpen “Perempuan yang Memeluk Malam” (lupa nama pengarangnya), yang menunggu suaminya pulang dari pelayaran.

Tersadar dari lamunan, saya naik ke perahu dan duduk merapat bersama teman-teman yang lain. Perahu kami melaju membelah laut.

Ah, beginikan rasanya menjadi anak laki-laki dalam cerita “Lelaki Tua dan Laut” karya Ernest Hemingway?

Matahari mulai terbit dari ufuk timur, kami belum sampai juga di tempat tujuan. Perut mulai keroncongan. Pelampung yang kami pakai ini memang tahan angin dan tahan air, tetapi tidak tahan lapar. Beruntunglah, asisten mengedarkan sebaki pisang goreng. Beberapa saat kemudian perahu berhenti. Rupanya perahu tidak bisa mendarat karena terhalang oleh terumbu karang. Terpaksa kami harus turun dari perahu dan berjalan ke tepi pantai. Sungguh benar-benar lahan basah!

Ah, beginikah rasanya menjadi seorang letnan dalam cerpen “sungai”? Yang harus menyeberang sungai dini hari, dalam rangka geriliya melawan penjajahan oleh Belanda. Yang di dadanya terdekap seorang bayi merah yang baru saja ditinggal meninggal ibunya? Lalu bayi tersebut menangis dan Sang Letnan harus tega mencelupkan bayi itu dalam kegelapan sungai, demi menyelamatkan sebatalyon pasukannya.

Hujan rintik-rintik turut menambah romantisme pagi yang basah. Kami berpencar dan menentukan titik pengamatan masing-masing. Pengamatan burung dimulai. Ponco digelar, tas-tas dibongkar, makanan ringan dibuka, siap-siap selonjoran, berbekal binokuler. Pengamatan burung selalu menjadi momen yang pas untuk curi-curi tidur. Begitulah, hingga akhirnya semua anggota suku saya terlelap di spotnya masing-masing.

Asisten datang menjemput, sesi pengamatan burung selesai. Saatnya sesi yang ditunggu-tunggu, FOTO-FOTO!! Sambil menunggu giliran, beberapa orang tampak takzim membedah bulu babi. Setelah hasrat penelitian terpuaskan, kami meninggalkan bulu babi yang tergeletak tak berdaya di pantai yang sepi ini.

Perahu kami melaju, kembali menuju rumah Pak Kades. Seusai sarapan dan ganti pakaian, kami melaksanakan survey sosial untuk mengetahui pendapat masyarakat sekitar mengenai lahan basah. Sekitar pukul sepuluh pagi, semua anggota pasukan sudah berkumpul di rumah Pak Kades. Tanpa istirahat, kami segera packing . Setelah berpamitan, kami berpulang ke perahu. Menuju Cilegon.

Ombak naik turun tajam mengombang-ambingkan perahu. Saya bertekad untuk tidak tidur selama perjalanan.

Perjalanan laut merupakan momen untuk kontemplasi dan muhasabah diri. Tenaaaaang sekali. Seperti meninggalkan urusan  duniawi. Lupa sudah bahwa besok ujian. Bahwa besok menghadap dosen untuk menyiapkan proposal TA. Hanya ada saya, dan Allah yang ada menjaga di sini. Lama-lama saya terlelap di atas kapal. Tidur siang termahal! Menyiapkan stamina, karena setelah ini harus bangun menuju realita.

Kesimpulan : Pulau Panjang layak dijadikan tempat untuk melarung resah-gelisah dan menggali inspirasi. Asalkan tanpa eksplorasi mangrove (tentunya)😀

Dialah Yang menjadikan bumi itu mudah bagi kamu, maka berjalanlah di segala penjurunya dan makanlah sebahagian dari rezeki-Nya. Dan hanya kepada-Nya-lah kamu (kembali setelah) dibangkitkan (Q.S. Al-Mulk : 15)

2 Responses to 'Melarung Resah di Lahan Basah'

Subscribe to comments with RSS or TrackBack to 'Melarung Resah di Lahan Basah'.

  1. feriyanto said,

    biar blognya rada eksis,saya komen aja yaa,.
    boong aja,katanya kemampuan narasinya hilang??
    hanya ingin berbagi
    narasi datang dari imajinasi
    dan imajinasi muncul dari inspirasi
    inspirasi hilang=narasi hilang…

    • rishapratiwi said,

      Waktu untuk mengendapkan inspiransinya mungkin yang “hilang”, sok sibuk sih, heu.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: