Revive Risha


Resume Buku “Allah Subhanahu wa ta’ala”

Posted in Cermin Diri by rishapratiwi on May 3, 2012
Tags: , ,

Resume Buku

Judul     : “Allah Subhanahu wa ta’ala”

Penulis : Said Hawwa

 

Ma’rifatullah merupakan pondasi tempat berdirinya Islam secara keseluruhan. Seperti halnya angka 1 sebelum 0, tanpa ma’rifatullah seluruh amal ibadah menjadi tidak bernilai. Banyak orang yang mengingkari wujud Allah dengan alasan tidak dapat merasakan keberadaan-Nya dengan indera mereka. Padahal, banyak hal yang mereka imani keberadaannya semata-mata karena pengaruhnya, bukan karena mereka menangkap wujud zatnya, misalnya gravitasi dan medan magnet. Rasio, bukan indera, yang memperkenalkan semua itu kepada mereka. Indera hanyalah alat yang memberikan perangkat-perangkat penilaian kepada rasio. Tanpa keberadaan rasio, penilaian tetap tidak dapat dihasilkan. Faktanya, indera sering memberi gambaran keliru yang dengan rasio kita baru mengetahui fakta sebenarnya. Misalkan sebatang pensil yang dicelupkan ke dalam air akan tampak bengkok, dan banyak lagi ilusi indera lainnya.

Sebelum alat pendeteksi keberadaan beberapa wujud yang kasat mata ditemukan, apakah artinya wujud tersebut belum ada? Persepsi yang salah mengenai ma’rifatullah ini banyak mengantarkan manusia pada kesesatan. Sejarah yang tercatat dalam Al-Qur’an menyebutkan bahwa orang-orang kafir mensyaratkan keimanan kepada Allah dengan jalan pendengaran dan penglihatan. Faktor-faktor yang mendorong permintaan syarat tersebut adalah kejahilan, kesombongan, kesesatan, dan kezaliman.

 

1.   Kejahilan

Dan orang-orang yang tidak mengetahui berkata: “Mengapa Allah tidak (langsung) berbicara dengan kami atau datang tanda-tanda kekuasaan-Nya kepada kami?” Demikian pula orang-orang yang sebelum mereka telah mengatakan seperti ucapan mereka itu; hati mereka serupa. Sesungguhnya Kami telah menjelaskan tanda-tanda kekuasaan Kami kepada kaum yang yakin (Al-Baqarah: 118)

Syarat yang diajukan oleh orang kafir, yaitu meminta Allah berbicara langsung dengan mereka, adalah syarat yang dikemukakan oleh orang bodoh yang merupakan buah dari kegelapan hati. Pada akhir ayat tersebut Allah menjawab bahwa jalan menuju-Nya adalah dengan memperhatikan tanda-tanda kekuasaan-Nya yang dengan hal tersebut menunjukkan keberadaan-Nya.

 

2.   Kesombongan

Berkatalah orang-orang yang tidak menanti-nanti pertemuan (nya) dengan Kami: “Mengapakah tidak diturunkan kepada kita malaikat atau (mengapa) kita (tidak) melihat Tuhan kita?” Sesungguhnya mereka memandang besar tentang diri mereka dan mereka benar-benar telah melampaui batas (dalam melakukan) kedzaliman. Pada hari mereka melihat malaikat di hari itu tidak ada kabar gembira bagi orang-orang yang berdosa dan mereka berkata: “Hijraan mahjuuraa (Al-Furqaan : 21-22)

Siapakah orang sombong yang ingin melihat Allah dengan mata kepalanya? Mereka itulah orang yang berpersepsi bahwa kehidupan dunia adalah segala hal, sedangkan selan itu tidak ada apa-apanya.

 

3.   Kesesatan

Dan berkatalah Fir’aun: “Hai Haman, buatkanlah bagiku sebuah bangunan yang tinggi supaya aku sampai ke pintu-pintu, (yaitu) pintu-pintu langit, supaya aku dapat melihat Tuhan Musa dan sesungguhnya aku memandangnya seorang pendusta”. Demikianlah dijadikan Fir’aun memandang baik perbuatan yang buruk itu, dan dia dihalangi dari jalan (yang benar); dan tipu daya Fir’aun itu tidak lain hanyalah membawa kerugian. (Al-Mukmin : 36-37)

Dalam ayat tersebut keinginan Fir’aun dibantah dengan kalimat “dia dihalangi dari jalan (yang benar), karena jalan yang dinilai Fir’aun sebagai jalan yang tepat untuk mengenal Allah ternyata adalah jalan yang salah.

 

4.   Kezaliman

Ahli Kitab meminta kepadamu agar kamu menurunkan kepada mereka sebuah Kitab dari langit. Maka sesungguhnya mereka telah meminta kepada Musa yang lebih besar dari itu. Mereka berkata: “Perlihatkanlah Allah kepada kami dengan nyata”. Maka mereka disambar petir karena kedzalimannya, dan mereka menyembah anak sapi, sesudah datang kepada mereka bukti-bukti yang nyata, lalu Kami maafkan (mereka) dari yang demikian. Dan telah Kami berikan kepada Musa keterangan yang nyata. (An-Nisaa’: 153)

Ayat tersebut menegaskan bahwa bukan keadilan yang mendorong mereka untuk mengajukan permintaan tersebut, melainkan kezalimannya terhadap kebenaran. Diri mereka telah mengetahuinya tetapi mengingkari dengan sengaja.

 

(bersambung)

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: