Revive Risha


Ekspedisi Perempuan; Siap-Siap Jadi Ibu

Posted in Jalan-Jalan by rishapratiwi on June 30, 2012
Tags: , , , ,

Harta yang paling berharga adalah keluarga

Istana yang paling indah adalah keluarga

Puisi yang paling bermakna adalah keluarga

Mutiara tiada tara adalah… keluarga

(OST Keluarga Cemara)

Jika ayah kita hanya punya anak paling banyak belasan orang, Pak Yanto punya lebih dari 130 orang anak. Jika kita hanya punya kakak dan adik paling banyak belasan orang, anak-anak di sini punya lebih dari 130 orang saudara.

Destinasi Ekspedisi Perempuan hari kedua adalah Panti Asuhan Bayi Sehat, Jalan Purnawarman Bandung. “Lain kali sebelum ke BEC, main-main dulu lah ke sini”, seloroh Pak Yanto, “Bapak” dari anak-anak panti ini. Berdasarkan pemaparan beliau, panti ini menampung anak-anak yatim piatu sejak dari bayi merah atau balita.

“Pantangan untuk para pengunjung di sini, jangan pernah bertanya pada anak-anak tentang asal usulnya. Mereka akan bingung,” Pak Yanto mewanti-wanti kami. “Anak-anak di sini haus kasih sayang. Mereka akan mengingat orang-orang yang pernah berkunjung ke panti ini. Kalau Teteh-Teteh ini main sama Emma saja, anak-anak lain akan mundur teratur. Mereka akan beranggapan, ini Tetehnya Emma. Kalau suatu saat Teteh-Teteh ke panti lagi, anak-anak akan berteriak memanggil Emma. Emma, Emma, Teteh Emma datang!”, Pak Yanto tertawa sementara para peserta ekspedisi beberapa sudah mulai mengusap-usap matanya.

I try to find the words when you walk by (walk by)
Words just can’t explain the way I feel (I feel) inside
My friends keep sayin you’re untouchable
And I can’t help feeling invisible

I’d do anything to catch your eye
So you could see me in a different light
Tell me what’s it gonna take cause I wish you would notice me
If you could only give me just one chance
I could be the one and here I am
What’s it gonna take to understand
Wish you would notice me
Notice, notice, notice me
Notice, notice, notice me

(David Archuleta, “Notice Me”)

“Saya selalu nangis saat menceritakan anak-anak ini”, ujar Pak Yanto. Seorang anaknya, mahasiswa ITB, hampir di-drop out. Waktu Pak Yanto ajak bicara, anak tersebut berkata, “percuma Pak, saya kuliah tinggi-tinggi. Saya nggak akan pernah bertemu orangtua kandung saya.” Ada juga kisah seorang anak yang lain. Suatu malam sang gadis remaja berdandan cantik. Saat ditanya Pak Yanto, anak tersebut menjawab dengan berbinar-binar, “Mama sama Papa mau jemput saya!” Padahal, ibunya sudah meninggal belasan tahun yang lalu saat melahirkan, sementara ayahnya.. meninggal sebulan sebelum kelahiran anak tersebut.

Selayaknya seorang bapak, Pak Yanto ini sangat berperan dalam pengasuhan anak-anak. Beliau yang memberi nama pada anak-anak tersebut, tak jarang juga ikut memandikan anak-anak, merawatnya jika ada yang sakit, bahkan menunaikan hak-hak jenazah jika ada anak yang meninggal dunia. Sebagaimana anak-anak pada umumnya, anak-anak di sini juga.. berisik -_-” Bayangkan saja, di lantai pertama ada asrama anak-anak laki-laki, di lantai kedua ada asrama anak-anak perempuan, dan di lantai ketiga ada ruangan bayi dan balita. “Yang namanya berantem, ribut, nangis, wajar. Kalau ada anak-anak yang bandel, saya guyur mereka dengan air dingin,” ujar Pak Yanto. “Jangan pernah mencubit apalagi memukul anak, guyur saja dengan air biar emosi anak-anak mereda”, lanjutnya. Setelah itu, baru Pak Yanto mengajak anak tersebut berdialog.

Silakan kalau Teteh-Teteh mau nengok anak-anak. Kalau ketemu, tolong usap-usap kepalanya, lalu do’akan mereka. Sayangilah mereka, Insya Allah do’a Teteh-Teteh akan terkabul,” saran Pak Yanto sebelum mengakhiri sesi sharing.

Aku dan orang-orang yang mengasuh/menyantuni anak yatim di Surga seperti ini”, Kemudian beliau (Rasulullah) memberi isyarat dengan jari telunjuk dan jari tengah seraya sedikit merenggangkannya (HR. Bukhari). Ibnu Hajar menjelaskan, “isyarat ini cukup untuk menegaskan kedekatan kedudukan pemberi santunan kepada anak yatim dan kedudukan Rasulullah, karena tidak ada jari yang memisahkan jari telunjuk dengan jari tengah.”

Para peserta ekspedisi kemudian beranjak ke asrama anak-anak. Bahkan sejak titian tangga pertama, hati sudah serasa diperas… Di sini ramai, tapi entah kenapa aura sepi mengental di udara.

Di lantai pertama, tampak beberapa anak laki-laki sedang melingkar bermain kartu. Ada pula yang cari-cari perhatian pengunjung dengan berlari-lari dan pura-pura bersembunyi. Lalu datang lagi sambil mengagetkan pengunjung. Ahaha, bocah.. bocah..

Di lantai kedua sepi. Anak-anak mungkin masih di sekolah.

Di lantai ketiga ada ruangan bayi dan balita. Sayangnya, karena sudah memasuki waktu tidur siang untuk anak-anak, pengunjung tidak boleh masuk ruangan. Dari balik jendela kaca, anak-anak usia 2-5 tahun tampak menggemaskan. Benar kata Pak Yanto, anak-anak di panti ini cakep-cakep! Meskipun sudah waktunya bobo siang, anak-anak masih saja aktif. Ada yang memanjat-manjat ranjang bayi, ada yang sempat-sempatnya adu tos sama pengunjung dari jendela yang terbuka,  malah ada yang tiba-tiba keluar ruangan, “awas, awas, aku mau pipis”, teriaknya. Ahaha, para pengunjung tertawa diterobos bocah laki-laki gemuk tanpa celana tersebut.

Anak-anak usia kurang dari 2 tahun dipisahkan di ruangan seberang. Jadwal bobo siangnya rupanya lebih cepat dibandingkan jadwal kakak-kakaknya. Jika anak-anak usia 2-5 tahun baru mau ditidurkan, anak-anak yang lebih muda ini malah sudah pada bangun. Seorang bocah laki-laki, dengan mata yang bulat bersinar, tertawa-tawa sambil menggigit sepotong biskuit. Badan gembilnya melompat-lompat kegirangan sewaktu pengunjung melambai-lambaikan tangan. Seorang balita perempuan, berguling-guling di ranjang bayi sambil memain-mainkan dot. Matanya berputar-putar ingin tahu. Rambutnya ikal sampai telinga. Seorang yang lain, menutupkan selimut ke wajahnya, lalu membukanya lagi, menutupkan lagi, membukanya lagi, bermain cilukba bersama seorang pengunjung.

Melihat anak-anak di sini, dunia isinya hanya canda dan tawa. Sayang mereka tidak boleh dibawa pulang ke kosan, hehe. Setelah sekitar setengah jam menengok anak-anak, para peserta ekspedisi menunaikan shalat dzuhur. Ah, semoga ungkapan syukur dan do’a-do’a terpanjatkan menjadi semakin panjang dan sering setelah ini. Keluarga memang harta yang paling berharga, yang tidak semua orang punya…

Cepatlah tumbuh besar, Dek. Cepat-cepat jadi orang sukses. Cepat-cepat bangun bangsa. Biar tak ada lagi bayi-bayi dari orangtua miskin yang ditinggalkan begitu saja di rumah sakit…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: