Revive Risha


Ekspedisi Perempuan; Siap-Siap Jadi Guru


“The educated differ from the uneducated as much as the living differ from the dead.” ― Aristotle

Saat kata “sekolah” disebut, yang ada dalam benak mayoritas kita mungkin adalah gedung-gedung kelas, lapangan upacara, seragam sekolah, bel, atau kantin. Agak sulit dibayangnya jika rumah sederhana di Jalan Pangkur ini disebut-sebut sebagai sebuah sekolah. Sekolah di rumah, seperti sekolah-sekolahankah?

Learning Everywhere by Alex.
http://www.schooliscool.org.nz/entry/auckland-normal-intermediate/year8/learning-everywhere
This picture shows when you learn you can do any thing. in the picture the children are learning about the ocean represented in the book that is shaped like a boat . While they learn about the ocean it is like they are going on an adventure in the ocean learning and discovering new things. At the bottom of the picture on the stones I have written school is cool on some rocks in the ocean.

*****

Destinasi Ekspedisi Perempuan kali ini adalah Homeschooling Grup (HSG) Khoiru Ummah 23 di Jalan Maskumambang. Tujuan ekspedisi ini bukan untuk membandingkan antara sekolah formal dengan homeschooling, tetapi untuk membuka mata bahwa orang tua adalah tokoh utama yang harus mengambil peran paling besar dalam pendidikan anak.

Sebagaimana namanya, kegiatan belajar-mengajar harian di HSG Khoiru Ummah 23 ini diselenggarakan di rumah, yaitu di rumah Bi Ia. Bi Ia, begitu ia akrab dipanggil ada seorang Master Pertanian yang concern terhadap dunia pendidikan, terutama pendidikan dasar. Beliau dan beberapa rekannya mendirikan homeschooling dengan dilatarbelakangi kegelisahan akan kondisi generasi Muslim saat ini yang dikepung oleh kapitalisme, sekulerisme, dan liberalisme. Generasi Muslim mulai kehilangan jati sebagai generasi yang shalih, cerdas, dan mandiri. Atas dasar tanggung jawab dan kepedulian untuk memberikan pendidikan terbaik bagi anak-anaknya, Homeschooling Grup Khoiru Ummah 23 ini pun didirikan.

Kurikulum yang dirumuskan di Homeschooling Grup Khoiru Ummah terdiri dari tiga bagian, yaitu kurikulum dasar, kurikulum inti, dan kurikulum penunjang. Kurikulum dasar meliputi Tahfidz Al-Qur’an dan Bahasa, baik Bahasa Indonesia, Bahasa Arab, dan Bahasa Inggris). Kurikulum inti meliputi Tsaqofah, termasuk di antaranya adalah sejarah, akhlak, fiqih, dan aqidah. Kurikulum penunjang mencakup matematika, sains, dan kegiatan ekstrakurikuler.

Murid lulusan TK di Homeschooling Khoiru Ummah ditargetkan memiliki hafalan Al-Qur’an sebanyak 1 juz, yaitu Juz Amma. Sementara itu, murid lulusan SD dipacu untuk memiliki hafalan sebanyak 6,5 juz. Untuk mencapai hal tersebut, para siswa benar-benar diakrabkan dengan Al-Qur’an dalam kesehariannya. Pagi hari setelah senam, para siswa mengikuti kelas tahfidz, setelah itu baru dilanjutkan dengan pelajaran lain. Di rumah pun, orangtua membimbing siswa untuk mengulang-ulang hafalannya dalam tiga waktu, yaitu ba’da subuh, sebelum maghrib, dan ba’da maghrib. Dengan frekuensi pengulangan sebanyak minimal 15 kali per hari, hafalan Al-Qur’an para siswa melesat dengan pesat. Selanjutnya terbukti, interaksi yang intensif dengan Al-Qur’an ternyata meningkatkan kecerdasan dan kemampuan konsentrasi para siswa saat belajar.

“Didiklah anak-anakmu dengan pengajaran yang baik, sebab ia diciptakan untuk zaman yang berbeda dengan zamanmu.” (perkataan Umar ibn Khatthab ra.)

“The task of the modern educator is not to cut down jungles, but to irrigate deserts.” ― C.S. Lewis

Selain dibekali untuk mumpuni dalam kealqur’anan, para siswa juga dididik untuk memiliki kemampuan berbahasa Indonesia, Arab, dan Inggris yang ahsan (sistematis, indah, dan “bernyawa”), berjiwa pemimpin, percaya diri tinggi, berpikir sistematis, benar, dan serius, semangat menjalankan pola hidup Islami, pola hidup sehat, teratur dan berkah, kompetitif dalam kebaikan, mandiri dan bertanggungjawab, berani melaksanakan amar ma’ruf nahi munkar, kreatif, inovatif, serta mempunyai jiwa riset (sumber: http://www.khoiruummah.sch.id/2011/12/kurikulum-dasar-hsg-sdku-20.html). Dengan demikian, orangtua harus berkomitmen untuk menginvestasikan banyak waktu, dana, dan tenaga untuk terus-menerus memantau perkembangan anak. Rumah harus di-set memiliki frekuensi yang sama dengan sekolah. Orangtua harus rajin mengisi lembar aktivitas harian anak, mulai dari bangun tidur sampai tidur lagi. Dari sini terlihat, tanggung jawab terhadap pendidikan anak diletakkan di tangan orangtua secara penuh.

Dengan kurikulum dan target-target yang “melangit”, apakah masa bermain anak akan “terampas” oleh “obsesi” orangtua? Jawabannya adalah tergantung metode pendidikan yang dianut orangtua. Ali bin Abi Thalib telah memberikan gambaran psikologi perkembangan anak sesuai dengan tingkatan usianya. Pada usia tujuh tahun pertama, jadikan anak sebagai raja. Pada masa ini, anak dibiarkan menikmati masa kanak-kanaknya. Isilah masa ini dengan penanaman karakter (aqidah, akhlak) dalam suasana bermain. Pada usia tujuh tahun kedua, jadikan anak sebagai tawanan. Di usia tersebut, anak diajari dengan disiplin. Pada usia tujuh tahun ketiga, jadikan anak sebagai sahabat. Jadikan dialog dari hati ke hati bersama orangtua sebagai menu harian.

Di samping pemahaman terhadap psikologis usia anak, orangtua juga harus memahami kaidah-kaidah dasar mendidik anak, yaitu:

1. Memanggil bukan memanggul

Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk (An-Nahl : 125)

2. Menyeru bukan menyaru

Kami tidak mengutus seorang rasul pun, melainkan dengan bahasa kaumnya, supaya ia dapat memberi penjelasan dengan terang kepada mereka. Maka Allah menyesatkan siapa yang Dia kehendaki, dan memberi petunjuk kepada siapa yang Dia kehendaki. Dan Dia-lah Tuhan Yang Maha Kuasa lagi Maha Bijaksana (Ibrahim : 4)

3. Mengajak bukan mengejek

Pergilah kamu beserta saudaramu dengan membawa ayat-ayat-Ku, dan janganlah kamu berdua lalai dalam mengingat-Ku; Pergilah kamu berdua kepada Fir’aun, sesungguhnya dia telah melampaui batas; maka berbicaralah kamu berdua kepadanya dengan kata-kata yang lemah lembut, mudah-mudahan ia ingat atau takut” (Thaha : 42-44)
menyampaikan bukan menyimpulkan (Al Ghasyiyah : 21-22, Al Hadid : 4)

4. Mencuci bukan mencaci

Dia-lah yang mengutus kepada kaum yang buta huruf seorang Rasul di antara mereka, yang membacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, menyucikan mereka dan mengajarkan kepada mereka Kitab dan Hikmah (As sunnah). Dan sesungguhnya mereka sebelumnya benar-benar dalam kesesatan yang nyata (Al-Jumu’ah : 2)

5. Mendidik bukan mendadak

Dan mereka mengikuti apa yang dibaca oleh syaitan-syaitan pada masa kerajaan Sulaiman (dan mereka mengatakan bahwa Sulaiman itu mengerjakan sihir), padahal Sulaiman tidak kafir (tidak mengerjakan sihir), hanya syaitan-syaitan itulah yang kafir (mengerjakan sihir). Mereka mengajarkan sihir kepada manusia dan apa yang diturunkan kepada dua orang malaikat di negeri Babil yaitu Harut dan Marut, sedang keduanya tidak mengajarkan (sesuatu) kepada seorang pun sebelum mengatakan: “Sesungguhnya kami hanya cobaan (bagimu), sebab itu janganlah kamu kafir”. Maka mereka mempelajari dari kedua malaikat itu apa yang dengan sihir itu, mereka dapat menceraikan antara seorang (suami) dengan istrinya. Dan mereka itu (ahli sihir) tidak memberi mudarat dengan sihirnya kepada seorang pun kecuali dengan izin Allah. Dan mereka mempelajari sesuatu yang memberi mudarat kepadanya dan tidak memberi manfaat. Demi, sesungguhnya mereka telah meyakini bahwa barang siapa yang menukarnya (kitab Allah) dengan sihir itu, tiadalah baginya keuntungan di akhirat dan amat jahatlah perbuatan mereka menjual dirinya dengan sihir, kalau mereka mengetahui (Al-Baqarah : 102)
Wallahu a’lam bissawab

Terima kasih telah setia menyimak cuap-cuap sotoy orang-yang-jangankan-punya-anak-menikahpun-belum. Tidak harus pernah mati saat berbicara tentang kematian, bukan?

#Kesimpulan Ekspedisi Perempuan: Siap nikah sama dengan siap menjadi ibu. Aheyy..!

4 Responses to 'Ekspedisi Perempuan; Siap-Siap Jadi Guru'

Subscribe to comments with RSS or TrackBack to 'Ekspedisi Perempuan; Siap-Siap Jadi Guru'.


  1. mau dong kayak ammah icha…,,,pinter nulis yang bukan hanya sekedar menulis…..Ummi utun dan de utun suka dehhh.. ^_^

    • rishapratiwi said,

      waah, dikunjungi ummi utun. Udah berapa bulan? ^^

  2. Bi Ia said,

    Jazaakillaah Icha, atas review terhadap Home Schooling Group 23 Bandung. Sekarang kita sudah pindah lokasi ke jl Radio Komplek Pos Tel Bandung. Di rumah orangtua yang memuat lebih banyak anak.
    Maaf baru terbaca, ini pun kebetulan ketemu saat mencari blog KU 23.
    Bi Ia😉

  3. umi fasya said,

    Subhanallah….baru itu komentar yg bisa terucap karena membacanya baru sepertiga bagian.insya allah nanti dilanjut lagi.masih pagi masih banyak tugas ibu rumah tangga yang belum terselesaikan.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: