Revive Risha


Such A Correction Pen

Posted in Cermin Diri by rishapratiwi on July 1, 2012
Tags: , , , , , ,

Plis, Nona.. Harus dengan cara apa kulepaskan kacamata hitammu. Kamu melihatku selalu salah, salah, dan salah. Seperti lagu Radja, “mungkin aku salah di matamu. Mungkin aku lemah di matamu..”  Tapi aku tak selalu salah, Nona. Aku tak selalu lemah.

Hanya karena aku tak sempat mengantarkanmu pulang malam-malam selepas kamu menunaikan tugas di laboratoriummu, kamu bilang aku tak peduli? Apa aku harus membelikan selusin Lamborghini agar setiap saat dapat mengantarjemputmu? Kamu hanya tidak tahu, Nona. Aku sedang terkapar akibat demam yang telah dua malam menyelimutiku.

Hanya karena aku membiarkanmu mengangkat properti untuk kegiatan organisasi kita, kamu bilang aku makhluk paling tidak peka? Plis, jangan katakan itu lagi. Kekasih kita pernah berkata, “Tiadalah cara yang paling baik bagi Hamba-Ku untuk mendekat kepada-Ku melainkan dengan melakukan amal-amal wajib. Dan sungguh apabila Hamba-Ku juga senantiasa mendekat kepada-Ku dengan melakukan amal-amal sunnah (disamping amal-amal wajib tersebut), maka Aku akan mencintainya. Jika Aku telah mencintainya, maka jadilah Aku pendengaran, penglihatan, lisan, tangan, kaki, dan hatinya. Sehingga, ia akan mendengar dengan pendengaran-Ku, melihat dengan penglihatan-Ku, berbicara dengan lisan-Ku, berpikir dengan pikiran-Ku, dan bertindak dengan tindakan-Ku” (Hadits Qudsi). Jika kau bilang aku makhluk tidak peka, bukankah itu sama dengan meragukan amal-amal wajib dan sunnahku, Nona?

Hanya karena aku lalai menjawab pesanmu, kamu bilang aku tidak berempati. Silakan Nona, sesekali bermainlah inbox explorer di handphone-ku. Dan lihatlah betapa banyak urusan yang minta cepat kuselesaikan. Maka kumohon, relakan kesabaranmu, Nona.

Kemarin aku sangat perlu masuk gua beberapa saat, Nona, karena aku butuh bercerita kepada Tuhanku… hanya kepada Tuhanku.. Kamu sudah ribut saja di luar sana. Pliiiis Nona, can you give me just a minute in here alone?? Setelah itu aku janji, aku akan bekerja lebih baik lagi. Yeah, sesuai pesananmu tentu saja.

Aduuuh, Nona. Jangan kamu pundung-pundung begitu. Kita ini dua orang yang berbeda latar belakang, mana pula aku mengerti bahasa hatimu. Seperti lagu Chrisye,

Maafkan aku tak bisa
Memahami maksud amarahmu
Membaca dan mengerti isi hatimu

Maka katakan, Nona. Apa yang kamu mau? Biar aku tahu. Kalau tidak, menangislah yang keras seperti bayi dan jangan salahkan bila kuabai. Lagipula kamu tidak berharap aku semalaman kehujanan menunggu di bawah balkonmu sambil membawa sebuket mawar, hanya untuk meminta maaf atas khilaf yang aku pun tak merasa?

Sudahlah, Nona. Apa aku setiap hari harus berlatih mengejar singa? Agar kamu tahu bahwa aku pun sedang belajar sigap. Kamu lihat, Nona. Tanggungan di pundakku sudah overload. Maka agak wajar aku sedikit lambat. Yah, sebenarnya aku benci membela diri. Jika ingin menolong, mungkin kamu bisa meminjamkan separuh bahumu untuk membantu memikul beban ini sejumput saja. Ah tapi sejujurnya aku tak akan pernah tega, karena menurutku kamu seharusnya menjadi ratu.

By the way, terlepas dari rengekan, ejekan, tudingan, dan cacianmu (ah aku lebay, sesungguhnya kamu tak pernah sejahat itu), tampaknya aku perlu mengucapkan banyak terima kasih. Sedikit banyak aku jadi sering berkaca ^^

Sumber gambar: creationmoments.com

 

#Hanya fiksi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: