Revive Risha


Tenggelam

Posted in Cermin Diri by rishapratiwi on July 5, 2012
Tags: , , , ,

Langit pagi warna-warni sekali hari ini. Merah, biru, ungu, hijau, abu-abu, kuning.. Oops, mungkin itu tempias dari baju-baju murid-muridku ^_^

Setelah beriefing dan pemanasan, aku mempersilakan murid-muridku berloncatan ke kolam renang. Kolam yang dalamnya hanya setengah meter. Aku mengawasi anak-anak di kolam bagian utara, sementara Eva -anak teman ibuku, teman sejak kecilku, sebangku dari TK sampai kelas Universitas, mengawasi anak-anak di kolam bagian selatan.

Suasana di kolam renang villa keluarga Eva ini sepi. Maklum, villa ini hanya dikunjungi satu lebaran sekali. Meskipun begitu, villa ini terawat dengan baik oleh Pak Acep.

Seorang anak, Nindi namanya, mencipratkan air ke bajuku. “Bu Gulu, Bu Gulu, ayo tulun ke kolam. Hayoo, Bu Gulu takut ail yaaa..!!” Iih, gemes aku lihat Nindi terkekeh jahil begitu. Awas yaa, aku segera turun ke kolam dan mencipratkan air ke wajah Nindi. “Tolong, tolong, aku diselang Bu Guyu..,” eh itu anak malah teriak-teriak. Tentu saja balad-baladnya berdatangan. Chibi, Ayu, Dede, Nana, dan Irin dengan semangat 45 menyerbuku dengan guyuran air. Bahkan, Nabil yang konon katanya penggemar berat Nindi ikut menghujaniku dengan bola-bola plastik.

“Aw, aw, ampun.. ampun..”, jeritku. Eva yang mengamati dari ujung sana terkikik-kikik sambil memegang perutnya.

“Bu Gulu, Bu Gulu, bolanya masuk kolam yang dalam!” seru Chibi. Telunjuknya yang bulat menunjuk-nunjuk ke kolam yang terletak sekitar 7 meter dari kolam kecil kami.

“Waduh, Ibu ambilin deh,” aku beranjak ke kolam tersebut.

Karena tidak ada galah untuk menjangkau bola terdampar ke kolam yang bukan habitatnya tersebut, aku memberanikan diri untuk turun ke dalam kolam. Di tempatku berdiri, air masih setinggi dada. Kalau kutaksir, kedalaman air pada sisi terdalam sekitar 2 meter. Sssstt, sebenarnya aku tidak bisa berenang lho. Tapi insya Allah nggak apa-apa, aku bisa berpegangan pada tembok pinggiran kolam. Bismillah.., langkahku mantap menapaki dasar kolam.

Sayangnya aku lupa, kolam renang memiliki gradien menurun. Demikian pula kolam ini. Permukaan air semakin tinggi, semakin tinggi, sudah mencapai leher. Bola plastiknya tinggal sejangkauan tangan. Oow, gerakanku justru menimbulkan riak-riak yang menjauhkan bola itu. Sebelah tanganku masih berpegangan kuat pada tembok pinggiran kolam, sementara tangan satunya lagi menggapai-gapai. Tanganku tidak terbuat dari karet, tetapi aku terus mengulurnya. Sampai di titik tertentu..

Byur..!!

Aku sendiri kaget dengan bunyi itu. Seperti ada suatu benda besar yang tercemplung ke dalam air. Oh itu diriku.. Ya Rabb, aku tenggelam!!

Tanganku menggapai-gapai sementara napasku timbul tenggelam. Aku mencari pijakan. Tapi tinggi badanku yang 155 cm itu tak cukup menopangku. Hidungku perih kemasukan air, pun mataku. Mencoba mencari udara lewat mulutku, malah air yang deras terminum.Paru-paruku sudah sesakk..

Seperti ada yang mengomando, di darat sana anak-anak berteriak panik. Diam anak-anak, Ibu sedang baik-baik saja..

Byur..!!

Dalam kondisi panik begini, aku masih bisa mengira-ngira. Siapa orang yang menceburkan dirinya untuk menolongku. Tidak mungkin Pak Acep, karena tadi sudah kuwanti-wanti untuk tidak dekat-dekat kolam selama kami berenang. Yang jelas juga bukan Eva, dia tak bisa ber…

Baju merah muda itu.. ah, Eva!!

Sekonyong-konyong tangan Eva menarik bajuku. Aku pikir penderitaanku akan segera berakhir. TERIMA KASIH, Eva!

Tapi aku semakin dalam terjerembab ke dasar kolam. Saat hendak bangkit pun, kekuatan yang besar mendorongku untuk tetap di bawah. Kekuatan yang bersumber dari ketakutan, kekuatan untuk mempertahankan hidup. PLIS EVA, stop bermain-main!! Nafasku tinggal di ujung, kau mau aku mati??

Eva tidak sedang bermain-main, dia sedang berjuang juga untuk menyelamatkan hidupnya. Badan Eva tidak lebih tinggi dariku. Berhenti Eva! Berhentilah menjadikan kepalaku sebagai pijakanmu! AKU AKAN MATI SEBENTAR LAGI, Eva!!

Ya Rabb, kalau boleh menawar, aku tak mau mati di kolam ini. Kasihan anak-anak, mereka mungkin akan tumbuh sebagai bonsai-bonsai yang trauma pada air. Dan Eva, kasihan dia.. mungkin seumur hidupnya dia akan dihantui rasa bersalah. Yeah, kalau dia selamat. Tentu saja kasihan nenekku. Di atas kursi goyangnya, beliau mungkin akan duduk tepekur, menerima telepon yang mengabarkan kematianku. Lalu namaku yang tercetak besar-besar di koran lokal -Seorang Guru Taman Kanak-Kanak, Susanti (23 th), tewas tenggelam- Ah, nenekku akan membaca tulisan itu dengan matanya yang berkabut.

Tolong, Ya Rabb!

Sungguh, nafasku tinggal tetes-tetes terakhir. Kesadaranku sudah menurun. Seharusnya anak-anak sudah kehabisan suara dari tadi. Tapi kenapa mereka tak berhenti berteriak? Oh, mungkin mereka sedang melihat Izrail.

Aku tak peduli lagi pada Eva. Hidup adalah untuk berkompetisi, mari berkompetisi untuk hidup. Dengan gerakan lemah, tanganku berhasil menggapai kepala Eva. Tapi waktuku memang mungkin sudah akan berakhir. Aku tidak bisa lagi merasakan apa-apa…

*****

Sepertinya ini di surga. Langit biru berkilauan..

“Hu..hu..hu.. Bu Gulu.. Bu Gulu..”

Lho, kenapa anak-anak ikut sampai ke sini? Apa mereka satu persatu terjun ke air, ingin menyelamatkanku.. seperti Eva. Eva! Di mana Eva??

Suara yang kukenal! Menangis sesenggukan. Aku menoleh. Hidungku mimisan. Eva juga terkapar, di sebelahku.

*****

“Aku pikir aku sudah membunuhmu, San,” lirih Eva.

“Aku juga malah berpikir, aku telah akan membunuhmu,” jawabku pelan.

Kami bersisian di ruang perawatan.

Nyatanya, Eva yang punya persediaan nafas lebih panjang berhasil menarikku. Kami berdua akhirnya sampai di tepi.

Dan tidak ada seorang teman akrab pun menanyakan temannya, (Q.S. 70:10)

Teman-teman akrab pada hari itu sebagiannya menjadi musuh bagi sebagian yang lain kecuali orang-orang yang bertakwa. (Q.S. 43: 67)

Kami berpandangan.

Kita masih di dunia, Eva!

*Bersumber dari kisah nyata, dengan beberapa penyesuaian yang tidak mengubah esensi cerita

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: