Revive Risha


Lost in Bandung

Posted in Catatan Harian by rishapratiwi on July 10, 2012
Tags: , , , , , ,

Saya mendapatkan kabar kelulusan SNMPTN dari teman. “Selamat yaaaa, mahasiswi SITH ITB!!!! Saat itu juga saya nangis. Bukan, bukan karena terharu saking senangnya, tapi bingung, sedih.., campur kecewa, dikiiiit. Dari kelas 1 SMA, saya cuma punya satu rencana hidup: menjadi mahasiswa kedokteran. Itulah sebabnya, waktu SMA saya dengan enteng bisa bilang, “Galau milih universitas, nggak lah yaaw!” Bagi saya saat itu tidak ada yang lebih atas dari tangga kekerenan seorang dokter. Pakai jas putih bersih, bawa-bawa stetoskop, siap dan sigap menyelamatkan nyawa #woaa.. Sssst, sebenarnya alasan terselubungnya adalah.. karena saya pengeeeeen banget bedah-bedah cadaver gitu, menimang-nimang jantung asli, mempreteli bagian-bagian hati, hehe. Maklum, sama biologi mah udah cinta mati.

Apa nak dikata, saya dilemparkan ke jalan yang sama sekali asing bagi saya. Kalau boleh buka kartu, pilihan kedua SNMPTN saya itu Bandung, bukan ITB. Hah, maksudnya? Jadi saya milih ITB karena ITB ada di Bandung. Coba kalau UGM ada di Bandung, bisa jadi saya pilih UGM. Saya cuma tanya ke kakak kelas waktu SMA, “ada jurusan kebiologi-biologian nggak di ITB?” Bahkan waktu itu saya tidak tahu ITB punya 12 fakultas, yang satu di antaranya adalah Sekolah Ilmu dan Teknologi HAYATI -___-“ Buat kalian yang mengidam-idamkan ITB sejak balita #lebay, mohon maafkan kekuperan saya ya. Saya waktu itu pakai kacamata kuda sih. Yang dipantenginnya hanya info-info tentang FK, FK, dan FK.

Sebetulnya, berdasarkan hasil Try Out sebelum SNMPTN (oh ya, setelah Ujian Nasional SMA saya hijrah dari Sukabumi ke Bandung untuk mengikuti bimbingan belajar di suatu bimbel terkemuka), nilai saya memadai lho untuk masuk Fakultas Kedokteran yang saya inginkan. Ah, perih nian hati ini mengenang kesuksesan sesaat itu. Kayaknya gara-gara saya ujub deh.

“Semoga rencana Ananda sesuai dengan rencana Allah,” begitu kata guru SMA saya sewaktu saya memohon do’a menjelang SNMPTN. Deg! Bagaimana kalau di Lauh Mahfudz sana tidak ada frase FAKULTAS KEDOKTERAN di peta hidup saya? Ah, nggak mungkin. Sekali layar terkembang, pantang surut ke belakang! Saya PASTI masuk FK!!

Duh, kalau ingat itu.. malu saya. Bisa-bisanya sok tahu di hadapan Dzat Yang Maha Tahu.

*****

Di sini saya sekarang, menjalani masa-masa tingkat akhir dengan riang gembira.

Mengingat perjalanan saya di ITB, ah.. tidak alasan untuk tidak bersyukur. Kalau ditanya, masih sedih nggak masuk ITB? Saya jawab, saya masih sedih, kok bisa-bisanya dulu sedih ya? Padahal, bisa dibilang saya masuk ITB tanpa merasakan perjuangan yang berdarah-darah. Tidak seperti kisah hebat teman-teman yang lain, yang ikut bimbingan belajar setahun penuh, menego orangtua, berjubel dalam kancah persaingan beasiswa, hijrah dari pulau yang jauh ke Bandung, menyisihkan uang makan sehari-hari untuk tabungan kuliah, daaan.. kisah-kisah heroik lainnya. Saat menjalani hari-hari bimbel, saya memang menjalani pola hidup seperti tawanan, jauh dari orangtua, berangkat pagi pulang sore, tiga kali naik angkot ke tempat bimbel, kadang berjubel di bus kota, menolak tawaran untuk berlibur, makan sesuai waktunya, ber-uzlah di ruang belajar setiap hari.. Terlalu gaya kalau dibilang itu perjuangan. Bagi saya, itu tidak lain hanya PERMAINAN; “PERjuangan Memang AsyIk, NiAN” #maksa.

Menjalani masa-masa TPB, Alhamdulillah saya tidak terpuruk pada kesedihan yang berkesinambungan. Apalagi ternyata saya menemukan orang-orang yang bernasib sama; masuk SITH karena kecelakaan.  Kami saling menggenggam jemari, saling menguatkan, saling meyakinkan; skenario  Allah keren lhoo.

Dan pada sisi Allah-lah kunci-kunci semua yang gaib; tak ada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri, dan Dia mengetahui apa yang di daratan dan di lautan, dan tiada sehelai daun pun yang gugur melainkan Dia mengetahuinya (pula), dan tidak jatuh sebutir biji pun dalam kegelapan bumi dan tidak sesuatu yang basah atau yang kering, melainkan tertulis dalam kitab yang nyata (Lauh mahfudz) (Q.S. 6:59).

*****

Kuliah lapangan ke Cagar Alam Pangandaran, Gunung Tangkuban Perahu, Situ Lembang, Gunung Papandayan, Pulau Panjang, Kepulauan Seribu, Taman Nasional Meru Betiri, Bali, Taman Nasional Gunung Gede-Pangrango, hanyalah beberapa “bonus” yang saya rasakan di ITB ini.

*Kuliah Lapangan Ekologi, Taman Nasional Meru Betiri

*Kuliah Lapangan Ekologi Bentang Alam, Gunung Papandayan

*Kuliah Lapangan Perkembangan Hewan, Balai Besar Pengembangan Budidaya Air Tawar Sukabumi

*Kuliah Lapangan Ekologi Lahan Basah, Pantai Panjang

Dosen-dosen yang inspiratif,

(Sumber gambar: http://www.sith.itb.ac.id/ind/)

kakak-kakak yang penyayang,

*Daurah Pembinaan Pejuang Qur’an, Majelis Ta’lim Salman

sahabat-sahabat yang baik,

*Foto bersama SITH 2008

adik-adik yang lucu,

*Daurah Pembinaan Pejuang Qur’an, Majelis Ta’lim Salman

kehidupan organisasi yang dinamis,

*PROKM ITB

*OASIS Gamais ITB

Masjid Salman yang teduh,

(Sumber gambar: http://www.artisticchocolate.blogspot.com)

*Program Ramadhan Masjid Salman ITB

kantin yang murah,

(Sumber gambar: http://hqjomblo.files.wordpress.com/2008/09/dsc03612.jpg)

dan baaanyak lagi nikmat yang tidak bisa saya sebut dan hitung.

Di sini saya sekarang, ikut menyambut “kelahiran” adik-adik dengan riang gembira ^^ Dan saya akan senang hati bercerita.. tentang gebyar gemerlap kampus tercinta; INSTITUT TEKNOLOGI BANDUNG.

Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan? (Q.S. Ar-Rahmaan)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: