Revive Risha


Derek Tol; Otoritas yang Hilang

Posted in Cermin Diri by rishapratiwi on July 26, 2012
Tags: , , , ,

Area Salman sudah penuh oleh aktivis-aktivis muda. Tampaknya, kami yang matang-matang ini merasa sudah tidak punya teritorial lagi. Setelah melewati prosedur analisis historis singkat, dipilihlah Yayasan Pupuk Kujang sebagai ladang jajahan baru yang dinilai prospektif untuk menanam benih-benih kebaikan.

Dalam rangka menjalin kesepakatan untuk menghelat Pesantren Kilat Sains Ramadhan, kami bertujuh berkunjung ke Cikampek. Sedang diuji kesungguhan mungkin, mobil yang kami tunggangi mendadak mogok di jalan tol. Alhamdulillah masih sempat menepi ke bahu jalan.

Para pria keluar dari mobil dan mulai mengerubungi kap. Setelah riuh-rendah memberikan rekomendasi tombol pembuka otomatis kap tentunya (jadi ketahuan ini mobil pinjaman -,-). Kedua princess, ya tentu saja tetap berada di dalam mobil. Kami bantu dengan kesungguhan do’a, heu..

Beberapa waktu berlalu, belum ada tanda-tanda mobil akan melaju. Ada apa in, ada apa ini? Para pria itu, -satu sarjana teknik kimia, satu calon sarjana oseanografi, satu calon sarjana matematika, satu calon sarjana teknik lingkungan, dan satu calon sarjana teknik tenaga listrik, semua ITB- rupanya tidak ada yang mumpuni tentang mesin mobil. Baiklah, karena tidak ada di antara mereka yang berkuliah di program studi teknik mesin, aib tersebut bolehlah agak diampuni.

***

Mobil-mobil melaju kencang, melewati mobil kami yang diam tak berguncang.

Di belakang, tampak mobil patroli jalan tol mendekat. Setelah was-wis-wus yang entah apa, –urusan para laki-laki– mobil akan diderek sampai keluar tol terdekat. Wah, diderek? Terdengar menarik, tampaknya akan menjadi pengalaman pertama dalam seumur hidup.

Beberapa menit kemudian, mobil penderek datang. Setelah prosesi pemasangan alat-alat derek selesai, mobil kami dapat melaju lagi.

***

Tetapi rasanya berbeda.

Mobil sama-sama melaju, tetapi rasanya berbeda.

Sebut saja “seperti kehilangan otoritas”, semoga istilah ini cukup keren untuk dipinjam. Kehilangan otoritas, bagi kami-kami yang masih berusia dan berjiwa muda ini, kondisi tersebut rasanya asing. Aneh, meskipun hidup rasanya menjadi ringan. Lalu kami bertujuh tertawa-tawa mereka-reka sensasi asing tersebut.

***

Padahal baru beberapa saat berlalu, kami dengan suka-suka memutuskan,

akan ngebut atau perlahan

akan maju, berhenti, atau mundur

akan menyalip atau membuntut

***

Mungkin suatu saat, entah tiga puluh, dua puluh, sepuluh tahun, seratus hari, tiga puluh hari, atau sedetik lagi, otoritas hidup kita akan diambil Pemiliknya.

Mungkin dengan peringatan, mungkin dengan kejutan

Mungkin saat kita siap, mungkin saat kita sedang tidak bersiap

Yang jelas, akan datang suatu saat

Ketika otoritas ini dipinjamkan pada juru kafan, para pelayat, dan para para penggali kubur

Sumber gambar: emily-esmeralda.blogspot.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: