Revive Risha


Mereka Bersila dalam Satu Lingkaran

Posted in Cermin Diri by rishapratiwi on July 27, 2012
Tags: , , , , ,

Mereka bersila dalam satu lingkaran, bercengkerama dengan diri masing-masing.

Arbi, komandan kaderisasi lembaga da’wah di kampusnya. Mahasiswa tingkat akhir yang memiliki kepribadian yang menenangkan. Separuh wajahnya adalah keramahan, dan separuhnya lagi adalah pancaran ketegasan. Bicaranya jarang-jarang, tetapi sekali bertitah, puluhan prajuritnya mengaminkan dan bergegas melaksanakan. Integritas da’wahnya terejawantahkan dalam konsistensi pembinaan yang ia suplai ke puluhan adik-adik binaannya setiap pekan.

Setiap ba’da subuh, Arbi harus mengejar setoran hafalan Al-Qur’an. Oh ya, Arbi ini salah satu santri di sebuah pondok pesantren mahasiswa. Pukul 6 pagi, ia harus sudah duduk bersila di masjid kampus. Jam dinasnya sudah dimulai sepagi ini, empat kali dalam satu pekan. Pagi pertama, ia harus memimpin pembahasan evaluasi keberjalanan kaderisasi sepekan lalu. Pagi kedua, ia harus melaporkan keberjalanan kaderisasi pekan lalu ke atasannya. Pagi ketiga, ia harus mempersiapkan cetak biru kaderisasi satu tahun ke depan. Pagi keempat, jadwalnya ia mengolaborasikan konsep dan keberjalanan program kaderisasi dengan sayap-sayap da’wah lain.

Tak jarang, tiga kali seminggu Arbi bolak-balik mengisi pulsa telepon selulernya. Maklum, banyak sekali orang yang harus ia hubungi. Padahal Arbi bukan anak yang berasal dari kalangan kaya raya. Uang bulanan kiriman orangtuanya seringkali habis bahkan sebelum hitungan hari dalam sebulan habis. Saat itulah, Arbi dengan sukarela mengencangkan ikat pinggang. Berjalan kaki ke mana-mana. Makan dengan menu seadanya. Terkadang harus menyantap rasa lapar dalam shaum Daudnya.

Pukul 7 pagi, saatnya sarapan bagi Arbi dan para partner rapatnya. Terkadang pembahasan dalam rapat ikut terbawa di meja sarapan. Pukul 8 pagi, jam kuliah sudah dimulai. Dosen sudah mempresentasikan pelajaran. Tetapi sering kali Arbi masih khusyuk menunaikan 12 rakaat shalat dhuha di mushola kampusnya. Arbi memang me-“wajibkan” dirinya untuk melaksanakan amalan-amalan harian dengan target yang tidak bisa dibilang ringan.

Di kelas, Arbi adalah mahasiswa bertipe pendengar setia. Meskipun sudah berusaha mendengarkan dengan seksama, seringkali ia merasa jalan pikirannya tidak sinkron dengan materi yang sedang dipaparkan dosen. Kadang ia minder sendiri dengan teman-temannya yang berada di garda bangku terdepan, mereka aktif melontarkan ide-ide brilian yang menuai pujian. Mereka mungkin para makhluk masa depan yang tersesat di masa kini. Atau justru dirinya makhluk purba yang melewati lorong waktu dan terdampar sampai duduk di universitas pada masa ini.

Ah, telah baca apa ia tadi malam? Buku yang ia baca adalah buku-buku yang relevan dengan materi ta’lim yang harus ia sampaikan untuk jam istirahat siang ini. Demikianlah, undangan untuk menjadi pengisi materi ta’lim deras berdatangan. Dari satu program studi ke program studi lainnya.

Dari sore sampai maghrib, Arbi menjadwalkan diri untuk mengikuti kajian hadits, fiqih, sejarah hidup Rasulullah, perkembangan Islam kontemporer, tata cara membaca Al-Qur’an, Bahasa Arab, sampai persiapan munakahat. Kadang pula ia harus memimpin rapat lanjutan yang di-pending tadi pagi. Jam kerja Arbi 15 jam dalam sehari, terkadang memuai sampai 17-18 jam per hari. Ba’da isya, Arbi mengisi halaqah. Malam kesatu, jadwal membina 7 orang mahasiswa fakultas sastra. Malam kedua, kelompok yang harus dibina beranggota 8 orang mahasiswa fakultas matematika dan ilmu pengetahuan alam. Malam ketiga, ia harus membina kelompok tahsin, anggotanya berasal dari berbagai fakultas. Malam keempat, ia mengisi materi Bahasa Arab untuk kelas ikhwan. Malam kelima, jadwalnya ia sendiri yang mendapat pembinaan. Malam keenam dan ketujuh, jadwal mengisi pengajian anak-anak muda di masjid dekat kosannya. Jika dalam seminggu ada malam kedelapan dan kesembilan, Arbi akan dengan senang hati menginfakkannya untuk membina (lagi).

Hari itu, kabar dari situs akademik kampus membuat keningnya sedikit ciut. Raport semesterannya, 4 mata kuliah diganjar dengan rantai karbon; C, C, C, dan C. Selebihnya, 3 mata kuliah lagi, memintanya untuk dipelajari ulang semester depan. Ya, 3 mata kuliah dengan bobot 9 SKS harus ia ulang semester depan. Padahal semester lalu pun, ia meninggalkan utang mengulang 6 SKS.

Sekilas Arbi melirik ke arah Ilman. Ikhwan yang dalam pandangannya adalah sosok bermasa depan gilang gemilang. Tampan, berasal dari kalangan ekonomi atas, putra sang profesor kebanggaan institusinya, dan tentu saja.. cerdas. Indeks prestasi setiap semesternya bulat empat. Baru-baru ini Ilman meraih penghargaan sebagai peneliti muda terbaik nasional. Bulan lalu ia baru saja berkunjung ke Negeri Sakura, mempresentasikan hasil penelitiannya di hadapan dewan ilmuan dunia. Adapun di dalam lembaga da’wah kampus, posisi Ilman tidak main-main. Ia adalah pengepak sayap akademi dan keprofesian bagi seluruh aktivis da’wah di kampusnya.

Wajar, ia memang diamanahkan di tempat itu… bisik hati Arbi. Ia sedang berusaha menenangkan demonstrasi dalam pikirannya. Kalaupun ane ditempatkan pada amanah itu, ane juga berpotensi bisa menjadi mahasiswa yang berprestasi dalam akademik. Tidak seperti sekarang mungkin.. Enak sih jadi Ilman, bisa berda’wah sambil membangun jaminan masa depan yang cerah. Sekali merengkuh dayung, dua tiga pulau terlampaui. Membawa nama baik institusi, sekaligus membawa nama baik diri sendiri.

Ah, terbayang lagi rantai karbon itu membelit lehernya. Mengulang lagi, mengulang lagi, apa kata orangtua ane? Kapan bisa lulus? Apa ane meminta pindah amanah saja ya? Haha, mana bisa ane yang berpredikat mahasiswa dua koma ini dipercaya memegang amanah di sayap akpro..

Ilman, ketua bidang akademik dan keprofesian di lembaga da’wah kampusnya. Peraih gelar mahasiswa terbaik. Cahaya matanya adalah bintang ilmu pengetahuan. Tutur katanya adalah dalil yang dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah. Ilman, ensiklopedia berjalan yang digadang-gadangkan akan menjadi dosen di institusi terhormat ini.

Setiap pagi ia bangun pukul 3. Setelah menegakkan shalat malam secukupnya, ia membuka file-file proyek penelitiannya di laptop. Menambahkan yang kurang, mengurangi yang berlebih, atau sekadar membaca berulang-ulang deretan kalimat yang ia tulis sebelumnya. Begitu sampai subuh.

Rajin dan tepat waktu. Begitu sosok Ilman. Ia yang berada pada bangku paling dekat dengan dosen, seperti hendak mencuri seluruhnya ilmu yang ditransfer dosen. Kegilaannya pada diskusi membuat dosen-dosen dengan royal mengapresiasi.

Ilman, ah Ilman. Tak susah menemukan ia karena daya jelajahnya sebatas di laboratorium-laboratorium, dari pagi sampai sore, bahkan malam. Jika ada orang yang mencarinya, tinggal temukan ia sedang bereksperimen dalam laboratoium yang sudah seperti kamar pribadinya.

Tak hanya pintar sendiri, Ilman bersama para mahasiswa dewa akademik lainnya sedang membangun komunitas pengembangan masyarakat berbasis sains dan teknologi. Program ini didukung penuh oleh para pejabat kampus. Bulan lalu pembukaan program ini dihelat di desa binaan mereka, berlokasi sekitar 30 kilometer dari pusat kota. Tujuh bulan setelahnya, desa tersebut menampakkan kemajuan yang luar biasa. Tingkat kesejahteraan masyarakat melesat pesat. Kabar gembira itupun segera bergaung ke seantero negeri, disiarkan oleh media massa-media massa terkemuka. Ilman dan komunitasnya didaulat untuk menangani proyek pengembangan masyarakat dalam skala yang lebih besar.

Sayang, di puncak popularitasnya, Ilman merasakan ada kejenuhan yang melanda. Awalnya hanya bisikan-bisikan lirih, lama-lama menjadi dengungan yang menggedam kepalanya. Ia membayangkan Sias, orang yang sekarang duduk di sebelahnya, sedang berorasi di depan gedung dewan perwakilan rakyat. Dengan jas almamater yang lengannya digulung sampai siku, gagah memimpin gema mars perjuangan mahasiswa.

Memang aktivis jempolan dia.  Saya bahkan baru sempat keluar lab setelah dua hari ini, keluhnya dalam hati. Sepertinya enak menjadi mahasiswa aktivis seperti Sias, berkesempatan menjalin relasi dengan orang-orang penting di pemerintahan negeri ini, dicintai masyarakat kecil… sementara saya, relasinya hanya dengan tabung-tabung reaksi ini, laminar, mikroorganisme…

Sepertinya menyenangkan bisa membaca buku-buku politik tiap hari, menyimak nasional tiap pagi, berdebat tentang isu-isu pemerintahan terhangat… sementara saya… bangun dengan mata panda. Menjadi orang yang paling tidak tahu dengan berita nasional terbaru. Sias bisa dengan enteng bolos kuliah pula, hehe. Tidak seperti saya, pindah satu bangku pun dosen-dosen menyadarinya. Kapan saya bisa ikut merasakan aura heroik saat berpanas-panasan demonstrasi memperjuangkan hak rakyat kecil jika terus-menerus berada di dalam belaian AC laboratorium???  

Sias, ikhwan yang duduk di sebelah Ilman, memang singa kampus, negosiator ulung. Sang presiden kabinet mahasiswa yang dilahirkan untuk pergerakan mahasiswa. Semua event kampus berjaya di tangannya. Secara eksternal, ia yang menggalang massa kampus untuk dengan lantang menyuarakan hak-hak rakyat tertindas.

Setiap hari ia pulang saat jarum pendek jam melewati angka 12. Seringnya pukul 3 pagi. Ada saja yang harus diurus, entah kaderisasi kemahasiswaan, perpolitikan kampus, gejolak media kampus maupun luar kampus, sampai ngumpul-ngumpul informal bersama para menteri dan staf-stafnya. Setelah tidur sejenak, ia bangun untuk shalat subuh. Setelah membekali hatinya dengan tilawah Al-Quran beberapa juz, ia bersiap berolahraga pagi. Aktivitasnya yang gila-gilaan membuatnya fisiknya harus senantiasa prima. Ia pun sangat memperhatikan asupan gizi makanannya. Setelah tuntutan ruhani dan jasmaninya terpenuhi, ia berpatut diri. Namanya juga orang penting di kampus, sosoknya hidup di bawah lampu sorot. Setiap orang melihatnya, setiap orang memerhatikannya. Maka ia harus tampil elegan, rapi dan sederhana.

Telepon selulernya adalah lalu lintas yang tidak pernah sepi dari hilir-mudik panggilan. Panggilan rapat, panggilan syuro, panggilan ta’lim, panggilan keluarga, dan sejenisnya dan sejenisnya. Bahkan dalam proses perkuliahan, seringkali ia harus pamit keluar kelas untuk menjawab telepon atau diam-diam membaca dan membalas SMS.

Haduh, kapan gue bisa ngaji dengan tenang kalau dihujani SMS model begini, keluh Sias dalam hati. Di sebelahnya, Arbi tampak khusyuk tilawah.

Enak ya jadi dia, bisa tilawah sepuasnya, mengkaji Islam di seluruh waktunya. Sementara gue, harus berda’wah di lingkungan yang kering kerontang, padahal amunisi gue mulai menipis. Qiyamulail harus curi-curi waktu. Shalat dhuha tergantung dari pintar-pintarnya gue menyelinap. Tilawah gue tambal sulam. Ruhiyah gue sering kehausan. Bandingkan sama Si Arbi, udah nambah berapa juz hafalan Qur’annya? Udah tamat berapa kitab bacaannya? Sementara gue, setiap pagi wajib baca koran nasional, menyimak siaran berita di televisi, yang juga menayangkan kebobrokan-kebobrokan negeri ini. Sakit kepala gue, perih hati gue.

Da’wahnya Arbi, romantis… Pergerakannya underground, tetapi benih-benih yang dia semai tumbuh subur. Orang-orang nggak perlu mengenal dia, tapi orang-orang melihat hasilnya. Populasi orang-orang sholeh di kampus ini makin banyak. Kerjaannya siapa? Siapa lagi kalau bukan dia yang namanya dirahasiakan, popularitasnya disamarkan.

Ah, enak ya jadi dia, bisa tampil apa adanya. Gue? Harus tampil perlente setiap hari, yang akibatnya adalah dikejar cewek-cewek. Dari selentingan kabar yang mampir ke telinga gue, di kampus ini ada yang namanya fans club gue. Astaghfirullah… Memangnya gue menikmati kondisi begitu? Nggak sama sekali. Gue aslinya nggak suka popularitas. Gue nggak suka disanjung puji. Bahkan dari sejak awal didapuk jadi presiden pun, gue masih aja ketakutan sama yang namanya ketenaran. Dan jujur, gue sering kebat-kebit begitu mendeteksi adanya titik-titik ujub dalam hati gue.. Astaghfirullah…

Arbi menghentikan tilawahnya, jemarinya mengetik pada keypad handphone.

Pasti lagi membalas SMS-SMS binaannya. Ah, enak jadi Arbi, dibanjiri doa banyak binaannya, sementara gue ditimpuki hujatan mahasiswa-mahasiswa yang nggak puas dengan kebijakan gue. Belum lagi gugatan sesama aktivis da’wah yang gregetan melihat pergerakan gue. Ya Allah ya Rabbi, andai mereka tahu betapa siang malam pundak gue pegal menanggung amanah ini.. andai mereka tahu betapa kaki gue sebelah menjejak surga sementara sebelah lagi menapak di neraka..

Apa gue mengajukan pensiun dini aja ya? Ahaha, apa kata dunia?

***

Sebelum halaqahnya dimulai, duduknya dirapikan ya. Ayo merapat, merapat, biar ukhuwahnya terasa semakin hangat, akhirnya ustadz telah datang.

Mereka bersila dalam satu lingkaran. Saling menyambung lutut dengan lutut, merapatkan celah yang sempat putus.

 

 

 

“Ya Tuhanku berilah aku ilham untuk tetap mensyukuri nikmat Mu yang telahEngkau anugerahkan kepadaku dan kepada dua orang ibu bapakku dan untukmengerjakan amal saleh yang Engkau ridhai; dan masukkanlah aku denganrahmat-Mu ke dalam golongan hamba-hamba-Mu yang saleh”. (Q.S. An-Naml :19)

 

 

 

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: