Revive Risha


Qaulan Layyina

Posted in Cermin Diri by rishapratiwi on July 28, 2012
Tags: , , , , ,

Diam itu emas, sedangkan berkata – kata yang baik adalah permata.

.

Firaun, nama yang dicatat sejarah dengan tinta merah. Betapa tidak, maharaja Mesir Kuno ini dengan kekuasaannya hendak menyaingi Tuhan. Lalu Musa, sang anak pungut yang membawa misi Ilahi untuk mengajak Firaun menyembah Allah dan memintanya membebaskan Bani Israil dari perbudakan. Dua misi yang dalam kalkulasi manusiawi adalah hal yang mustahil. Firaun adalah penguasa otoriter yang bahkan memproklamasikan dirinya sebagai tuhan, dan Bani Israil adalah asset utamanya untuk menegakkan tulang punggung ekonomi kerajaan Mesir Kuno, buruh yang tak perlu dibayar. Tak akan semudah itu Firaun bebaskan.

Terlepas dari hitung-hitungan manusia, nyatanya misi Musa berhasil, setidaknya dalam tiga hal.

Pertama, Musa dibiarkan tetap hidup setelah menyampaikan misinya kepada Firaun, meskipun Musa sendiri mengkhawatir keselamatan dirinya. Fragmen tersebut terekam dalam Al-Qur’an Surat Thaha ayat 45,

.

Berkatalah mereka berdua: “Ya Tuhan kami, sesungguhnya kami khawatir bahwa ia segera menyiksa kami atau akan bertambah melampaui batas”.

.

Keberhasilan kedua, walaupun Firaun tidak berhasil diajak beriman kepada Allah, beberapa orang kaki tangannya berhasil diajak untuk mengikuti ajaran Musa, terbukti dalam Surat Thaha ayat 70-73 berikut,

.

Lalu tukang-tukang sihir itu tersungkur dengan bersujud, seraya berkata: “Kami telah percaya kepada Tuhan Harun dan Musa“.

Berkata Fir’aun: “Apakah kamu telah beriman kepadanya (Musa) sebelum aku memberi izin kepadamu sekalian. Sesungguhnya ia adalah pemimpinmu yang mengajarkan sihir kepadamu sekalian. Maka sesungguhnya aku akan memotong tangan dan kaki kamu sekalian dengan bersilang secara bertimbal balik, dan sesungguhnya aku akan menyalib kamu sekalian pada pangkal pohon kurma dan sesungguhnya kamu akan mengetahui siapa di antara kita yang lebih pedih dan lebih kekal siksanya”.

Mereka berkata: “Kami sekali-kali tidak akan mengutamakan kamu daripada bukti-bukti yang nyata (mukjizat), yang telah datang kepada kami dan daripada Tuhan yang telah menciptakan kami; maka putuskanlah apa yang hendak kamu putuskan. Sesungguhnya kamu hanya akan dapat memutuskan pada kehidupan di dunia ini saja. Sesungguhnya kami telah beriman kepada Tuhan kami, agar Dia mengampuni kesalahan-kesalahan kami dan sihir yang telah kamu paksakan kepada kami melakukannya. Dan Allah lebih baik (pahala-Nya) dan lebih kekal (adzab-Nya)”.

.

Keberhasilan ketiga, Bani Israil dapat dibebaskan.

.

Maka tidak ada yang beriman kepada Musa, melainkan pemuda-pemuda dari kaumnya (Musa) dalam keadaan takut  bahwa Firaun dan pemuka-pemuka kaumnya akan menyiksa mereka. Sesungguhnya Firaun itu berbuat sewenang-wenang di muka bumi. Dan sesungguhnya dia termasuk orang-orang melampaui batas.

Berkata Musa:` Hai kaumku, jika kamu beriman kepada Allah, maka bertakwalah kepada-Nya saja, jika kamu benar-benar orang yang berserah diri.

Lalu mereka berkata:` Kepada Allah-lah kami bertawakkal! Ya Tuhan kami, janganlah Engkau jadikan kami sasaran fitnah bagi kaum yang zalim, dan selamatkanlah kami dengan rahmat Engkau dari (tipu daya) orang-orang yang kafir.

(Surat Yunus ayat 81-86)

.

Dan pada sisi Allah-lah kunci-kunci semua yang gaib; tak ada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri, dan Dia mengetahui apa yang di daratan dan di lautan, dan tiada sehelai daun pun yang gugur melainkan Dia mengetahuinya (pula), dan tidak jatuh sebutir biji pun dalam kegelapan bumi dan tidak sesuatu yang basah atau yang kering, melainkan tertulis dalam kitab yang nyata (Lohmahfuz) (Surat Al-An’am ayat 59).

.

Allah tentu tidak berlepas campur dari kemenangan misi tersebut. Di luar hal itu, tentu ada ikhtiar manusia yang menjadi perantara keberhasilan. Salah satu faktor kunci adalah kelihaian Musa dalam berdiplomasi. Tentu kemampuan ini pada hakikatnya adalah buah dari panduan wahyu Allah.

Perintah Allah kepada Musa:

.

“Pergilah kamu berdua kepada Fir’aun, sesungguhnya dia telah melampaui batas; maka berbicaralah kamu berdua kepadanya dengan kata-kata yang lemah lembut, mudah-mudahan ia ingat atau takut” (Surat Thaha ayat 43 dan 44).

.

Qaulan Layyina, kata-kata yang lemah lembut. Bahkan kepada manusia sombong yang mengaku dirinya tuhan..

Ditafsirkan oleh Al-Maraghi (1943: 156),  Allah mengajarkan kepada Musa untuk berkata lemah lembut dengan harapan Firaun tersentuh hatinya sehingga dapat menerima da’wah Musa. Ibnu Katsir (2000:243) menyebut qaulan layyina sebagai ucapan yang lemah lembut. Selaras dengan tafsir tersebut, Assiddiqi (1968: 829) memaknai ungkapan qaulan layyina sebagai perkataan yang lemah lembut yang di dalamnya terdapat harapan agar orang yang diajak bicara menjadi teringat pada kewajibannya atau takut meninggalkan kewajibannya. At-Tabari (1988: 169) menambahkan arti baik dan lembut pada kata layyina.

Dapat disimpulkan bahwa makna qaulan layyina adalah ucapan baik yang dilakukan dengan lemah lembut sehingga dapat menyentuh hati orang yang diajak bicara. Ucapan yang lemah lembut merupakan cerminan hati yang tulus, perwujudan cinta terhadap saudara yang diajak bicara. Dengan demikan, pembicaraan yang terbangun bukan lagi perkataan dari lidah ke lidah, tetapi percakapan dari hati ke hati.

Lalu Musa pergi kepada Firaun untuk menyampaikan misinya,

.

‘‘Sungguh, kami berdua adalah utusan Tuhanmu, maka lepaskan Bani Israil bersama kami dan janganlah engkau menyiksa mereka. Sungguh, kami datang kepadamu dengan membawa bukti (atas kerasulan kami) dari Tuhanmu. Dan keselamatan itu dilimpahkan kepada orang yang mengikuti petunjuk,

Sungguh, telah diwahyukan kepada kami bahwa siksa itu (dilimpahkan)
pada siapa pun yang mendustakan (ajaran yang kami bawa) dan
berpaling (tidak mempedulikannya)”

(Surat Thaha ayat 47 dan 48)

.

Misi Musa dengan jelas dan tegas mengandung kabar gembira dan ancaman (ayat 47-48). Pada ayat 47 ditegaskan bahwa Musa memiliki kedudukan sebagai Rasul Allah. Dalam konteks ini, makna kedudukan sebagai rasul tersebut mencoreng wajah sombong Firaun secara sopan tetapi menusuk dalam. Di hadapan orang yang mengaku dirinya sebagai tuhan, redaksi “utusan Tuhanmu” berbicara bahwa, “Kamu ini bukan tuhan, wahai Firaun. Ini kami berdua (Musa dan Harun) justru diutus oleh Tuhanmu untuk menyembah-Nya”.

.

Dia (Fir’aun) berkata, “Siapakah Tuhanmu berdua, wahai Musa”

(Surat Thaha ayat 49)

.

Pada ayat 49 Firaun juga menggunakan redaksi “tuhanmu”. Hal tersebut menyiratkan kepenasaran Firaun terhadap Dzat yang mengutus Musa sekaligus yang harus diakuinya sebagai tuhan.

Dijawab Musa pada ayat berikutnya dengan ungkapan “Tuhan kami“, dengan deskripsi yang sangat meyakinkan,

.

Dia (Musa) menjawab, “Tuhan kami ialah (Tuhan) yang telah memberikan
bentuk kejadian kepada segala sesuatu, kemudian memberinya petunjuk”

(Surat Thaha ayat 50)

.

Dari penggalan kalimat itu seolah-olah ingin ditekankan, “Tuhan kami adalah pencipta segala sesuatu termasuk engkau, wahai Fir’aun, kerajaanmu, dan segala seuatu dalam kerajaannmu”.

Dalam lanjutan dialognya, Firaun mencoba mengumpan Musa dengan sesuatu yang diperkirakan tidak akan dikuasai Musa,

.

Dia (Fir’aun) berkata, “Jadi bagaimana keadaan umat-umat terdahulu?”

(Surat Thaha ayat  52)

.

Yang dengan elegan Musa jawab,

.

Dia (Musa) menjawab, “Pengetahuan tentang itu ada pada Tuhanku,
di dalam Kitab (Lauh Mahfuz), Tuhanku tidak akan salah atau pun lupa

(Surat Thaha ayat  52)

.

.

Referensi:

Dialog Musa-Firaun, http://uzairsuhaimi.wordpress.com

Pendekatan Semantik Frasa Qaulan Sadida, http://file.upi.edu/Direktori/FPBS/JUR._PEND._BAHASA_ARAB/195604201983011-SOFYAN_SAURI/jurnal2/PENDEKATAN_SEMANTIK__FRASE__QAULAN_SADIDA.pdf

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: