Revive Risha


Dungo Dinungo

Posted in Catatan Harian by rishapratiwi on October 6, 2012
Tags: , , , , , ,

Sudah menjadi budaya di kampus, ketika ada seorang mahasiswa yang baru selesai sidang sarjana, teman-temannya akan menyambutnya di depan ruangan sidang sambil membawakan seperangkat hadiah. Ada yang membawakan hadiah yang cenderung konvensional, seperti bunga mawar, kue tart, cokelat batangan, atau balon. Ada pula yang membawakan hadiah-hadiah unik, seperti kacamata Hello Kitty, topi penyihir, mahkota kertas, origami, atau papercraft. Di tengah budaya tersebut, saya mencoba tidak berekspektasi apa-apa saat menjelang sidang sarjana. Cukup maklum, jadwal sidang saya berada pada urutan kedua terakhir, di saat teman-teman satu program studi sudah bergeriliya mempersiapkan persyaratan administrasi wisuda. Ibaratnya, kalau makanan sudah menjelang kadaluarsa. Baik saya maupun teman-teman sudah tidak deg-degan lagi.

Daaan… memang benar. Begitu keluar dari ruangan sidang, saya celingak-celinguk. Mana nih teman-teman? Kok nggak ada yang menyambut yaa? -_____-” Meskipun tidak berekspektasi ada upacara kalung bunga, tapi yaa.. ketika kamu punya kabar gembira (hellooo, nilai gw A lhoo!! Sombong, hehe) dan orang yang akan dipeluk-peluk, dibejek-bejek, ditimpuk-timpuk tidak datang, rasanya gimanaaa gitu. Memang sih saya kelar sidangnya setengah jam dari jadwal seharusnya. Setelah saya SMS, baru deh beberapa orang datang dan mengucapkan selamat. Mana bunga mawarnya? atau rainbow cake, atau balon deh, atau selendang sarjana dari kertas deh. Nggak ada yang bawa, lupa apa yaa, hehe.

Terrus, gw harus nangis bombay sambil koprol? Nggak lah ya. Mungkin saya memang dididik untuk tidak hidup dalam nuansa melankolia yang mendayu-dayu. Tanpa bunga, tanpa cokelat, balon, dan simbolisasi lainnya. Tapi jangan salah, support SMS mengalir derasnya dari sebelum sidang sampai setelah sidang. Dan dengan hal tersebut, saya merasakan kehadiran mereka. Begitu dekat, begitu ramai.

 

Dungo dinungo.

Akhirnya saya tahu istilah yang tepat untuk menggambarkannya. Saling mendo’akan. Ya, mereka membersamai saya dengan do’anya, bukan dengan raganya. Do’a dalam diam-diamnya maupun do’a dalam ucapannya.

 

Dungo dinungo.

Wisuda nanti pun, kedua orang tua saya insya Allah tidak akan bisa mendampingi. Tapi saya tahu, do’a mereka yang akan mewakili, langsung dari Makkah Al-Mukarramah sana🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: