Revive Risha


Apakah Kita, Cinta yang Dituju telah Berbeda?

Posted in Cermin Diri by rishapratiwi on November 5, 2012
Tags: , ,

Bersaudara adalah pekerjaan berat, hanya orang-orang yang punya nilai yang dapat melakoninya. Ia adalah manifestasi dari kelembutan jiwa dan keindahan akhlak. Ia memiliki kewajiban-kewajiban yang harus dipikul, yang seringkali tidak masuk akal manusia yang hanya berpikir tentang dirinya sendiri. Tetapi ganjaran untuk orang-orang yang bersaudara, ah Allah tidak pernah main-main, akan datang di bawah arasy-Nya kelak sekumpulan orang dengan wajah dan jubah bercahaya. Mereka itu orang-orang yang selama di dunia saling mencintai dalam ikatan persaudaraan karena-Nya.

*****

Ingat tidak, berapa lama kita tidak saling bercerita, sambil mengantar matahari pamit ke peraduannya. Sudah berapa purnama yang kita saksikan dari jendela masing-masing. Ya, dari jendela kamar masing-masing. Sudah terlalui berapa jauh perjalanan, ketika kita tidak lagi berjalan bersisian. Meski aku masih yakin kita menjejaki rute yang sama, aku masih mencari-cari sosokmu, apakah aku berjalan terlalu jauh di
depanmu atau terlambat lama di belakangmu? Perpisahan memang suatu keniscayaan. Hanya saja aku khawatir, jauhnya jarak kita disebabkan akibat ruh-ruh kita yang berubah warna. Sebagaimana halnya ruh-ruh yang sama akan berkumpul, sementara ruh-ruh yang berbeda akan saling meninggalkan. Apakah ruh kita masih mencari muara yang sama? Yaitu cinta-Nya.

Apakah aku telah menjadi terlalu berbeda? Engkau yang seringkali mengganjal perutmu dengan nasi lauk seadanya, berjalan kaki ke mana-mana, dan mencuci baju dengan tanganmu sendiri, tetapi uluran tanganmu menjadi yang pertama mengangkat kesusahan orang-orang di sekitarmu. Sementara aku.. levelku masih menempatkanmu sebagai pelayan, yang jika telah terpenuhi kebutuhanku, baru kubantu penuhi kebutuhanmu.

Apakah aku telah menjadi terlalu berbeda? Engkau yang seringkali memberi tanpa diminta. Sementara aku… seringkali merasa rugi, bahkan ketika harus berbagi sedikit saja dari apa yang aku punya. Apakah aku telah menjadi terlalu berbeda? Aku yang tak biasa berbicara cinta, sementara engkau yang menghujaniku dengan kasih sayang, dengan
segala cara yang bisa kau tunjukkan. Baik dengan ucapan perhatian yang melelehkan maupun dengan nasihat yang… harus kuakui, kau sukses menjadi cermin utuh bagiku.

Apakah aku telah menjadi terlalu berbeda? Engkau yang menjadi kuburan bagi rahasia-rahasiaku, penutup bagi aib-aibku, penjaga nama baik dan kehormatanku. Sementara aku, lisan ini begitu licin sehingga
seringkali tersingkap rahasiamu, terbongkar aibmu, dan tercoreng nama baikmu.

Untuk satu hal, aku tak ingin berbeda. Biar rindu ini menjadi peluru, untuk setiap malam mengetuk langit dengan doa diam-diamku untukmu. Karena aku tahu, kau tentu sedang melakukan hal yang sama.. untukku.
****

Sedikit berpikir tentang persaudaraan, disarikan dari Buku “Terampil
Bersahabat dengan Siapa Saja” karya Imam Ghazali.

*Kisah dalam tulisan ini hanya fiktif belaka. Apabila terdapat
kesamaan cerita, anggap saja hanya karangan semata.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: