Revive Risha


DialoGue

Posted in Happy Family by rishapratiwi on December 25, 2012
Tags: , , , ,

Hampir saja kemarin sore saya berencana ngambek, mogok makan, mengunci diri di kamar, dan melarikan diri ke Bandung. Gara-gara merasa life plan yang saya ajukan tidak sesuai di mata orangtua. Belum apa-apa sudah diwanti-wanti; hati-hati bergaul, jangan lupa pulang kampung, jangan lupa bla-bla-bla. Duh, padahal saya pengen ini-itu, gini-gitu, melanglang Indonesia, melanglang dunia. Pokoknya pilihan yang menurut saya sih, anti mainstream.

Salah saya juga. Kemarin berangkat dari Bandung kesorean, lalu macet di jalan, busnya mogok, dan hujan deras. Untung di Sukabumi bisa bareng sama rombongan Paman yang baru pulang dari Jakarta. Jadi, walaupun baru sampai rumah tepat tengah malam, saya alhamdulillah selamat. Yah, kalau saya nanti jadi Ibu juga saya akan pandai berceramah kalau perilaku anak nanti tergolong mengkhawatirkan begitu. Naasnya, di saat seperti itu saya malah cerita dengan antusias tentang bisnis yang sedang saya dan teman-teman rintis. Lalu, nyesss… Seperti api lilin yang sedang belajar berkobar lalu tersiram api. Intinya, dalam pandangan Ibu saya, dunia bisnis itu adalah dunia yang penuh risiko. Khawatir ini lah, khawatir itu lah. Padahal ya sama saja, kalaupun saya kuliah lagi atau kerja juga tetap tidak akan duduk manis di belakang meja. Pastinya ngelayap cari peluang ke sana ke mari.

Saya bukan tipe anak yang selalu cerita apa saja kepada orangtuanya, nelepon tiap pagi, pulang tiap minggu. Tetapi entah dengan bagaimana caranya, Ibu sama Bapak selalu paham apa yang saya inginkan. “Kalau saya nggak jadi S2, Mamah sama Bapak malu nggak?” pertanyaan konyol terceplos dari mulut saya. Bukan pertanyaan konyol sih sebetulnya, mengingat ekspektasi keluarga besar dan masyarakat sekampung bahwa saya harus lanjut sekolah. “Ngapain malu. Bukan untuk dibanding-bandingkan kok. Orang lain kuliah sampai S3 ya karena maunya jadi dosen. Kalau Teteh mau jadi dosen pun, Mamah orang pertama yang akan memaksa Teteh untuk kuliah sampai S3. Ngapain kalau cuma buat status, nggak bikin hati senang, nggak bikin perut kenyang. Ngapain, kalau cuma untuk bikin hati Mamah tenang, tapi nggak sesuai sama minat Teteh”. Saya manggut-manggut.

Dialog diakhiri karena pakis sudah selesai dipotong-potong dan siap disayur.

Lho, sudah sama-sama sepakat tho. Kirain mau sampai perang nangis-nangisan, hehe. Ternyata resepnya simpel; dialog, kompromi. Semua senang, semua tenang. Kalau belum apa-apa sudah berprasangka tidak akan menemukan titik temu, ya mau bagaimana. Kalau belum apa-apa menuduh orangtua nggak pengertian, ya mau gimana. Apalagi belum apa-apa sudah menyiapkan amunisi kata-kata tegas pedas, duh! Orangtua juga tentu menginginkan yang terbaik untuk anak. Sebagaimana anak ingin memberikan yang terbaik untuk orangtua. Mungkin perbedaan usia, pengalaman hidup, menjadikan cara pandang antara orangtua dengan anak berbeda. Maka berbicaralah dengan bahasa yang mampu dipahami semua makhluk, yaitu bahasa cinta. Bolehlah dicoba😀

Jangan-jangan perbedaan pendapat kita hanya gara-gara sikap begini:

Dialogue art

Sumber gambar: http://animesmusings.blogspot.com/2011/07/writing-wednesday-dialogue.html

 

Apalagi sampai jadi kayak begini, hiyy

dialogue-mains

Sumber gambar: http://pulsionresvie.blogspot.com/2012_06_01_archive.html

 

Kalau begini kan adem, damai ^^

dialog

Sumber gambar: http://www.gymzell.at/uploads/medium/dialog.jpg

 

 

2 Responses to 'DialoGue'

Subscribe to comments with RSS or TrackBack to 'DialoGue'.

  1. ardianfajar said,

    Ciee ica


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: