Revive Risha


Si Kujan

Posted in Cerita Pendek by rishapratiwi on December 25, 2012
Tags: , , ,

Seekor kucing kampung, berjenis kelamin jantan, gemuk tapi cekatan, berumur sekitar satu tahun, laku terjual dengan harga Rp75.000. Transaksi antara seorang nenek dengan cucu laki-lakinya yang kelas enam SD tersebut terjadi dengan saksi mata tiga ekor kucing betina. Kucing jantan tersebut dibeli Sang Nenek tidak untuk disayang-sayang, tetapi tiada lain untuk dibuang. Pengennya sih ke negeri antah berantah, biar tidak pernah kembali. Sayangnya, negeri antah berantah berada di tempat yang entah berentah, akhirnya kucing tersebut hanya diungsikan keluar kecamatan.

Motif Sang Nenek membuang kucing adalah karena si kucing disinyalir telah melakukan beberapa kejahatan, antara lain mencuri ikan, mengacak tempat sampah, serta pipis dan pup bukan pada tempatnya, seperti di kursi tamu atau tumpukan baju. Konon, sebenarnya yang diminati Sang Nenek adalah seekor kucing betina yang sedang bunting tua, mengingat potensinya yang cukup tinggi dalam menambah populasi makhluk tak diinginkan di rumah itu. Akan tetapi uang pensiun mendiang suaminya akan terkuras cukup dalam karena kucing betina yang bunting tersebut dikenakan tarif Rp450.000, dengan asumsi bahwa janin yang terkandung di dalamnya ada empat ekor. Perinciannya adalah sebagai berikut; satu anak kucing dipasang harga Rp100.000 (harga cukup mahal karena anak kucing memiliki masa depan yang lebih panjang), dan induk kucing dihargai Rp50.000 (harga turun karena kucing sudah tidak perawan).

Kucing sang cucu laki-laki (mari sebut saja nama anak laki-laki tersebut Cuki) bukanlah kucing yang berasal dari kasta bangsawan yang makanannya diracik oleh chef profesional, yang tiap minggu rambutnya di-creambath, sikat gigi, potong kuku, dan diberi baju layaknya anak perempuan. Kucing-kucing Cuki adalah kucing-kucing bersahaja yang gaya hidupnya menyesuaikan dengan kondisi pemiliknya; jika sedang ada daging, makan tulang. Jika hanya ada ikan asin, makan duri ikan asin, Jika tidak ada makanan di rumah, para kucing biasa menggelandang ke rumah tetangga kanan-kiri untuk mencari sesuap nasi. Maka ketika akad jual beli dengan Sang Nenek dinyatakan sah, Cuki tak perlu khawatir. Baginya, rezeki adalah urusan Yang Maha Kuasa. Hewan melata yang seperti tidak berdaya upaya saja bisa makan, apalagi kucingnya yang tangkas jelita itu. Bertahan, pasti bisa!

Jauh di lubuk hati, sang cucu laki-laki merasa tidak tega berpisah dari si kucing. Kucing yang telah resmi dibeli tersebut semenjak bayi diberi nama panggilan Si Kujan. Bagaimanapun, Cuki telah merawat Si Kujan sejak kucing tersebut masih bayi. Ia yang meminumkan susu formula untuknya –tentu saja yang harga per sachet-nya paling murah. Ia yang mengusap-usapnya jika Si Kujan ingat pemiliknya yang meninggalkannya begitu saja di pintu rumah, tanpa sehelai surat apalagi amplop berisi uang perawatan. Namun jika Si Kujan tetap berada di rumah ini, ia hanya akan mengalami siksaan psikis. Tidak baik untuk masa depannya. Ia seringkali dibangunkan dari tidurnya, agar tidur di luar rumah. Ia seringkali diiming-imingi dengan sepotong tulang, padahal sejatinya agar mau makan di luar rumah.ia tidak diinginkan di rumah ini.

Cuki sadar, perekonomian keluarganya tidak cukup mapan untuk menghidupi Si Kujan dan ketiga betinanya yang sedang butuh banyak nutrisi. Maka dengan harapan, Si Kujan akan ditemukan oleh keluarga kaya raya yang akan dapat mengangkat harkat martabatnya, Cuki menukar Si Kujan dengan uang Rp75.000.

Sang Nenek, tentu saja melalui proses berpikir yang sangat panjang sebelum mengambil keputusan untuk membuang Si Kujan. Bukan tidak sayang cucu, ia hanya tidak mau menjadi makhluk durhaka yang menyiksa hewan kesayangan sang Nabi. Sang Nenek hanya ingin menjalani hari tuanya dengan damai. Tanpa bolak-balik sehari dua kali mencuci sarung-sarung yang kena kencing kucing. Tanpa rengekan kucing-kucing yang doyan kawin. Tanpa sindiran sampai ancaman para tetangga yang terganggu.

Nenek sebetulnya tidak keberatan berbagi sedikit rezeki. Ia pun merasa cukup terbantu, setidaknya Si Kujan giat berburu tikus yang beranak-pinak di para-para. Sekali lagi, hanya masalah hajat kucing yang menyangkut kenyamanan orang banyak. Jika saja kucing-kucing tersebut mau beradab atau Cuki mau sedikit repot bertanggungjawab membersihkan pup yang tercecer….

Singkat cerita, hari demi hari Cuki lewati tanpa keberadaan Si Kujan. Karena kucing betinanya telah beranak, ia menjadi lupa sama sekali pada Si Kujan. Oh ya, kucing betina itu beranak tiga, meleset satu dari perkiraan Cuki. Anak-anaknya lucu-lucu dan lincah-lincah. Pokoknya menggemaskan sekali melihat mereka berlarian di antara tumpukan piring kotor, mencari tulang yang luput terbuang. Prang-prang-meong, begitu bunyinya. Dahi nenek semakin keriput karena terlalu sering pikir-pikir untuk “membeli” kucing lagi.

Si Kujan, ternyata nasib mujur berpihak padanya. Dalam pengembaraannya mencari jalan pulang, ia ditemukan oleh anak perempuan seorang camat. Anak tersebut kadung jatuh cinta pada mata bening Si Kujan yang tak bisa ditolak. Dengan bahagia, Anak perempuan itu membawa Si Kujan pulang ke kediamannya yang mapan. Sang anak perempuan yang terobsesi menjadi Barbie ini tidak dapat membedakan bahwa kucing jantan selamanya tidak akan menjadi kuda putih gagah yang setia mengawal ke mana saja.

Kondisi Si Kujan sejak dirawat anak perempuan camat (mari beri nama Aca) jauh lebih baik. Rambutnya disisir setiap pagi sebelum beraktivitas dan malam menjelang tidur. Makanannya naik level, jika Aca makan daging, Kujan makan daging. Jika Aca makan ikan, Kujan makan ikan. Singkat cerita, kehidupan Si Kujan telah beranjak jauh dari garis kemiskinan.

Sayang seribu sayang, Si Kujan belum mampu menjadi kucing yang diharapkan Aca dan keluarga; kucing yang patuh. Patuh untuk tidak berburu tikus di para-para, patuh untuk tidak mencuri dendeng, dan terutama patuh untuk pipis dan pup di pispot. Si Kujan tetaplah Si Kujan, kucing yang mengejar tikus sampai ke liangnya, mengacak-acak tempat sampah padahal makanannya sudah disajikan di piring, serta pipis dan pup di mana pun ia sedang kebelet. Bu camat lama-lama jadi sering senewen. Terutama karena sikap sosial Si Kujan begitu tinggi; ia seringkali berkunjung ke rumah-rumah tetangga, entah sekadar mencuri dendeng atau numpang pup.

Setelah upaya mendidik Si Kujan menjadi kucing yang beradab tidak membuahkan hasil, terjadilah kompromi antara Bu camat dengan Aca. Perundingan meja bundar di ruang makan tersebut menghasilkan keputusan bahwa Si Kujan dinilai sudah mengganggu ketenangan dan kenyaman hidup keluarga dan sekitarnya sehingga keberadaannya di rumah ini tidak dapat ditoleransi lagi, kecuali jika Aca berkenan membersihkan kotorannya yang berceceran. Sayangnya Sang Putri kecil yang senang belajar dandan tersebut menolak. Maka tanpa ampun, Si Kujan harus keluar dari rumah ini, diasingkan keluar kabupaten. Sebagai kompensasi, Aca mendapat uang ganti rugi seharga handphone baru.

Kujan luntang-lantung dari satu tempat sampah ke tempat sampah lainnya. Ia menjadi kucing yang terbuang, ia merasa tidak diinginkan, dan ia merasa ingin mati. Namun sebuah mobil mewah di rem tepat sebelum ban depannya melindas badan Si Kujan yang pasrah. Seorang anak kecil turun dari mobil dan serta-merta memeluk Si Kujan yang sedang sawan. Si Kujan pun dipungut oleh anak berhati pualam yang ternyata merupakan putra gubernur.

Di rumah Bapak Gubernur, Si Kujan masih berulah. Maklum, ia tidak makan bangku sekolahan. Pipis dan pup di mana pun ia kebelet. Ohya, ia lebih sering sowan ke rumah-rumah tetangga Pak Gubernur yang ramah. Alasannya karena di rumah Pak Gubernur tidak ada tikus dan tidak ada dendeng atau sejenis makanan berkolesterol tinggi lainnya. Maka Kujan pipis dan pup di rumah tetangga, juga mengacak-acak tempat sampah di rumah tetangga. Para tetangga pada awalnya segan, tetapi bagaimana pun membersihkan pup kucing orang lain adalah pekerjaan yang tidak menyenangkan. Akhirnya dengan tidak mengurangi rasa hormat, para tetangga mengadukan kelakuan Si Kujan kepada Pak Gubernur.

Pak Gubernur yang menjunjung tinggi asas demokrasi berbicara empat mata dengan putranya. Awalnya diajukan penawaran, putra Pak Gubernur harus bertanggungjawab membersihkan kotoran Si Kujan. Sayangnya anak tersebut tidak mau. Keluarlah ultimatum di meja bundar ruang makan, kalau dalam sebulan Si Kujan tidak dapat dididik menjadi kucing yang beradab, ia mau tidak mau harus keluar dari rumah ini, di asingkan ke luar propinsi. Putra Pak Gubernur meraung sejadi-jadinya, bagaimana pun hatinya telah tercuri oleh mata bening Si Kujan. Konon, akhirnya ia bisa diam juga setelah Si Kujan ditawar seharga mobil baru.

 

Cerita aneh ini ditulis sebenarnya sebagai bentuk “protes” kepada para pemelihara kucing yang cuma mau lucunya aja. Tapi pup-nya,  pipis-nya, dibiarkan tercecer di ruang publik. Duh, saya tidak benci kucing. Tidak sama sekali. Hanya meminta kepada para pemelihara kucing ataupun hewan peliharaan lain, mbok ya buangan-buangannya diurus juga. Jangan sampai mencederai hak saudaranya, temannya, tetangganya, terhadap estetika. Begitu saja. Terima kasih atas atensinya ^^

 

 

 

 

2 Responses to 'Si Kujan'

Subscribe to comments with RSS or TrackBack to 'Si Kujan'.

  1. sidhanimut said,

    @.@ pengalaman pribadi? atau maksud tersirat cha?

    • rishapratiwi said,

      Hemm, pengalaman pribadi yang direkayasa sih😀


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: