Revive Risha


Mencicil Jawa Barat Mandiri, Dinamis, Sejahtera


Gemah ripah repeh rapih; subur, makmur, berkecukupan, rukun, dan aman. Tentu demikianlah gambaran Tatar Sunda yang diidamkan masyarakat maupun Pemerintah Jawa Barat. Pada tahun 2008-2013, visi Pemerintah Jawa Barat adalah “Tercapainya Masyarakat Jawa Barat yang Mandiri, Dinamis, dan Sejahtera”. Di penghujung pemerintahan Gubernur Ahmad Heryawan dan Dede Yusuf ini, sudah sedekat apa Jawa Barat pada cita-citanya?

Keberhasilan pembangunan suatu daerah dapat dinilai berdasarkan indikator yang disusun oleh United Nations Development Programme (UNDP) pada tahun 1990, yaitu Indeks Pembangunan Manusia (IPM). IPM mencerminkan status kemampuan manusia yang diukur dalam tiga dimensi; 1) umur panjang dan sehat yang diukur dengan harapan hidup, 2) pengetahuan dan keterampilan yang diukur dengan angka tingkat melek huruf dan rata-rata lama sekolah, serta 3) akses terhadap sumber daya yang dibutuhkan untuk mencapai standar hidup layak yang diukur indikator rata-rata konsumsi riil (BPS, 2008).

Berdasarkan data dari website resmi Pemerintah Jawa Barat, http://www.jabarprov.go.id/index.php/subMenu/informasi/artikel/detailartikel/44, IPM Jawa Barat pada tahun 2011 telah mencapai 72,82. Menurut UNDP, nilai ini sudah termasuk ke dalam kategori upper medium human development index. Dari aspek pendidikan, angka rata-rata lama sekolah mencapai 8,2 tahun dan angka melek huruf mencapai 96,48%. Dari aspek kesehatan, angka harapan hidup masyarakat telah mencapai 68,40 tahun. Adapun indeks daya beli masyarakat mencapai Rp.635.645,00.

Masih menurut website Pemerintah Jabar, secara riil, upaya peningkatan taraf pendidikan yang telah dilakukan oleh Pemerintah di antaranya penuntasan Wajib Belajar Pendidikan Dasar (Wajar Dikdas), pemberian Bantuan Gubernur Untuk Siswa (BAGUS), pemberian Bantuan Operasional Sekolah (BOS), pembangunan ruang kelas baru, perbaikan gedung sekolah, Bantuan Khusus Siswa Miskin (BKSM) bagi SMA/SMK Swasta se-Jawa Barat, pendidikan Paket B dan C secara massal untuk usia >15 tahun, serta pemberian insentif guru PNS dan honor guru bantu SD dan MI terpencil. Dalam bidang kesehatan, Pemerintah menggalakkan upaya pemenuhan penempatan bidan di pedesaan dan dokter Puskesmas, penyediaan 204 unit Puskesmas Pelayanan Obstetri Neonatalogy Emergency Dasar (PONED), pemberian beasiswa kepada 240 bidan dan program tugas belajar D1 dan D3 kebidanan sebanyak 1.000 orang, serta revitalisasi 37.807 posyandu di 22 Kabupaten/Kota. Adapun peningkatan daya beli masyarakat dilakukan melalui perluasan kesempatan kerja, pemberdayaan UMKM melalui pengembangan skema bantuan modal usaha Kredit Cinta Rakyat (KCR), pengembangan usaha pertanian dan ketahanan pangan, serta pengembangan perekonomian masyarakat perdesaan.

Data-data keberhasilan pembangunan tersebut barangkali belum memuaskan semua pihak. Akan ada pihak yang tetap complain; entah mengenai kasus korupsi maupun kasus kriminal yang masih eksis, pembangunan dan pemeliharaan sarana prasarana publik yang belum optimal, kemacetan, masalah sampah, janji satu juta lapangan pekerjaan yang belum terealisasikan, dan sebagainya. Wajar, mewujudkan Jawa Barat untuk menjadi provinsi termaju di Indonesia bukanlah proyek Sangkuriang. Dalam prosesnya dibutuhkan waktu. Sekarang kita, sebagai warga Jawa Barat, siapkah menjadi partner Pemerintah dalam mempercepat pembangunan daerah?

 

Tulisan ini dapat juga dibaca di http://politik.kompasiana.com/2013/01/07/mencicil-jawa-barat-mandiri-dinamis-sejahtera-517335.html

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: