Revive Risha


Dendam Pak Mustar vs Gubernur Antikatabelece

Posted in Kancing Garuda by rishapratiwi on March 12, 2013

Ikal, Arai, dan Jimbron merupakan tiga bujang SMA dari tanah Belitong. Sebetulnya Ikal dan Arai tergolong siswa yang cerdas, tetapi entah mengapa selalu ada-ada saja ulah mereka yang pada akhirnya menyebabkan ketiganya terjatuh ke tangan Pak Mustar, wakil kepala SMA sekaligus sang penjaga kedamaian dan ketertiban sekolah. Pak Mustar, ia menyandang semua julukan seram yang berhubungan dengan aturan-aturan lama penegakan disiplin di sekolah.

Usut punya usut, keseraman Pak Mustar ternyata merupakan “bara dendam” yang tak kunjung padam. Ia yang merupakan perintis berdirinya SMA negeri di pulau terpencil itu harus menelan paradoks pahit. Anak laki-laki kebanggaannya, biji matanya, tertolak masuk SMA tersebut sebab NEM-nya kurang 0,25 dari batas minimal. Menjadi perintis sekolah tidak serta-merta Pak Mustar mendapatkan tiket istimewa. Ia harus menghadapi Sang Kepala Sekolah, Drs. Julian Ichsan Balia yang tak mau dirayu uang. “Angka 0,25 itu berarti segala-galanya, Pak. Angka kecil seperempat itu adalah simbol yang menyatakan lembaga ini sama sekali tidak menoleransi persekongkolan!!”

Dari Pak Mustar di Pulau Belitung yang merupakan kisah dalam novel “Sang Pemimpi” karya Andrea Hirata kita beralih ke kisah nyata di Tanah Pasundan. Di pertengahan 2008, Ahmad Heryawan, pemenang yang baru terpilih dalam Pilgub Jabar 2008 akan dilantik dan diambil sumpah sebagai Gubernur Jabar periode 2008-2013. Saat itu bertepatan dengan masa pendaftaran siswa baru. Netty Prasetiyani, sang istri, mendapatkan kesibukan yang luar biasa. Selain mengurusi kepindahan dari Jakarta ke Bandung, ia harus mengurus perpindahan sekolah putra-putrinya.

Salman, putra kedua dari enam anaknya, hendak Netty daftarkan di SMAN 5 Bandung, sekolah favorit di Jawa Barat. Mempertimbangkan posisi Netty yang sebentar lagi akan menjadi istri orang nomor satu di Jawa Barat, Kepala Dinas Pendidikan Jabar mengutus salah satu stafnya, Iip Hidayat untuk mendampingi Netty. Selama proses pendaftaran siswa baru tersebut, Netty mendapatkan perlakuan yang sama dengan orangtua-orangtua lainnya. Setelah berkas pendaftaran diteliti oleh panitia penerimaan siswa baru, ternyata NEM Salman kurang 0,01 dari batas minimum. “Cuma kurang 0,01. Tapi kekurangan ini tidak menjadi masalah berarti. Salman dipastikan tetap dapat kursi kalau disertakan selembar catatan dan tandatangan Pak Heryawan, walaupun waktu itu belum resmi menjadi Gubernur Jabar”, demikian tawaran dari panitia.

Iip yang kini menjabat sebagai Kepala Bagian Rumah Tangga Pemerintah Provinsi Jawa Barat menjadi saksi bahwa Ahmad Heryawan dan istrinya mengambil keputusan untuk memasukkan Salman ke SMAN 20 Bandung. Tanpa surat sakti katabelece dari sang ayah, Salman kini kuliah di Institut Teknologi Bandung. “Waktu itu, pihak SMA Negeri 5 Bandung dan kami di Dinas Pendidikan sangat bersyukur karena Pak Heryawan tak mau mengeluarkan katabelece. Masalahnya, anak pejabat dan orang kaya di Bandung sudah berbaris di belakang Salman. Kalau dia masuk secara tidak wajar, yang lain pun ikut”, ungkap Iip.

Katabelece berasal dari Bahasa Belanda “kattabelletje” yang terdiri dari “kat” (kucing) dan “bel” (bel/klintingan). Dalam istilah aslinya digambarkan bahwa seekor tikus akan menggigil ketakutan jika mendengar bunyi klintingan kucing. Istilah “kattabelletje” kemudian diserap ke dalam Bahasa Indonesia menjadi “katabelece” yang arti sebenarnya adalah “kata peringatan”. Dalam konteks saat ini, katabelece merupakan surat atau nota dari pejabat kepada bawahannya yang meminta agar apa yang tercantum dalam isi surat tersebut dilaksanakan. Seperti halnya seekor tikus yang ketakutan mendengar klintingan kucing, seorang bawahan yang menerima surat sakti katabelece juga merasa ketakutan sehingga akan melaksanakan permintaan dalam surat tersebut segera.

Komitmen Aher untuk antikatabelece masih teruji setelah satu tahun menjabat sebagai gubernur. Eko Widiono, kerabat dekat Aher saat itu hendak mendaftarkan keponakannya di Universitas Padjajaran (Unpad) Bandung. Dalam masa pendaftaran, ia mendapatkan tawaran bahwa keponakannya akan mendapatkan kursi di Unpad tanpa harus melalui prosedur umum. Hanya perlu surat sakti katabelece gubernur. Untungnya Eko sepaham dengan Aher. Alih-alih menyetujui tawaran katabelece, Eko tetap memilih prosedur penerimaan mahasiswa baru melalui jalur biasa. Salut pisan lah buat Kang Aher dan keluarga!!

 

Sumber berita:

http://www.ahmadheryawan.com/opini-media/opini-media-1/sosial-politik/3709-menjunjung-tinggi-aturan-dan-antikatabelece

 

http://edukasi.kompasiana.com/2013/02/15/dendam-pak-mustar-vs-gubernur-antikatabelece-528795.html

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: