Revive Risha


Kampanye Anticerai

Posted in Kancing Garuda by rishapratiwi on March 12, 2013

Sabtu, 16 Februari 2013 lalu Ahmad Heryawan mengisi masa kampanye di Kota Bogor dengan ceramah agama. Calon gubernur yang memiliki kapasitas sebagai ustadz ini menyampaikan ceramah pada acara silaturrahim dan maulid Nabi Muhammad di Majelis Ta’lim Cilendek Barat. Yang menarik, dalam ceramah tersebut Aher menghimbau masyakarat untuk menjauhkan diri dari perbuatan yang dihalalkan tetapi dibenci Allah, yaitu perceraian.

Di Indonesia, angka perceraian pasangan suami istri tergolong tinggi. Dari Republika dikutip data bahwa Badan Urusan Peradilan Agama (Balidag) Mahkamah Agung (MA) mencatat selama periode 2005-2010 terjadi peningkatan perceraian sampai 70%. Pada tahun 2010 terjadi 285.184 perceraian di seluruh Indonesia karena berbagai sebab, paling tinggi karena faktor ketidakharmonisan sebanyak 91.841 kasus, tidak ada tanggung jawab sebanyak 78.407 kasus, serta masalah ekonomi sebanyak 67.891 kasus.

Melihat data tersebut, kita patut merasa miris. Seperti dikutip dari Kompas, menurut Nancy Pina, seorang relationship coach, perceraian orangtua memberikan pengaruh negatif terhadap anak. setidaknya ada empat kecenderungan perilaku anak terkait hubungan berpasangan.

Pertama, tidak mau menikah. Perceraian orangtua memberikan trauma kepada anak sehingga ia cenderung menghindari komitmen dalam hubungan berpasangan. Kedua, tidak percaya cinta. Individu ini mau menerima dan mau berkomitmen dalam membangun pernikahan, tetapi baginya hubungan pernikahan hanya terjadi karena ketertarikan fisik, bukan karena cinta. Ketiga, upaya sabotase hubungan. Pada awalnya, ia akan mampu menemukan cinta, memulai hubungan berpasangan, sampai berpotensi melanjutkan hubungan jangka panjang yang serius. Namun di tengah jalan, ia menyabotase hubungan ini karena meyakini bahwa aka nada sesuatu yang buruk terhadap hubungannya. Keempat, cinta yang tak realistis. Saat dewasa, anak akan mampu menemukan cinta dan menjalin hubungan berpasangan. Tetapi ada kecenderungan untuk memproteksi dirinya sendiri dari mencintai pasangannya. Ia merasa ketakutan akan kesendirian atau ditinggalkan seperti orangtuanya saat bercerai.

Nah, untuk menghindari perceraian ini Aher menganjurkan kepada para suami untuk memperlakukan istrinya sebagaimana Rasulullah memperlakukan Aisyah. So sweet ya. Sebelum berani bicara kepada orang lain, ternyata Aher sudah mempraktikkan upaya-upaya menjadi suami dan ayah yang romantis lho. Mau tahu? Berikut ini penuturan dari sang istri, Netty Heryawan:

Pernikahan yang kami bangun berdiri di atas visi bahwa pernikahan yang dilakukan berdimensi dunia dan akhirat. Artinya, pasangan (suami/istri) di dunia harus menjadi pasangan (suami/istri) di akhirat/kehidupan setelah kematian kelak. Dengan prinsip itu, kami berpikir bahwa tidak boleh ada masalah besar apalagi masalah kecil yang mampu memporakporandakan keluarga kami. Apakah tidak pernah ada masalah? Pasti ada, hanya kita punya kesepakatan bahwa satu sama lain harus berusaha menyelesaikan masalah. Caranya, apapun masalahnya serta siapapun yang memulai, masing-masing harus proaktif mengakhiri dengan cara saling berlomba menyapa lebih dulu. Jadi, tidak ada yang pernah kuat berlama-lama mendiamkan/bermusuhan apalagi dituntaskan sampai 3 hari sebagaimana yang dibolehkan.

Suami saya berprinsip bahwa menikah bukan untuk membuat istri sengsara, sedih, tertekan, dan sebagainya. Justru berniat ingin membahagiakan. Akhirnya, pola relasi yang dibangun adalah kemitraan atau ta’awun (prinsip saling tolong-menolong) sebagaimana yang disebut di dalam Al-Quran. Oleh karena itu, kelancaran komunikasi selalu dibangun. Tidak boleh ada hambatan berkomunikasi antara suami-istri. Ehem, makanya tidak pernah berlalu satu haripun, kecuali ungkapan “I love you” dari mulut masing-masing baik dari saya maupun suami.

Ada fleksibilitas dalam membagi peran di rumah. Tatkala tidak ada yang membantu saya mengerjakan pekerjaan RT, suami turun tangan. Setiap pulang beraktivitas/mengajar malam hari, suami mencucikan pakaian kami sekeluarga. Esok hari, saya tinggal menjemurnya. Ketika saya sakit atau sibuk menyiapkan keperluan anak-anak bersekolah, suami langsung mengantri bersama ibu-ibu di tukang sayur untuk berbelanja. Suami juga terbiasa memandikan dan menyuapi anak-anak di pagi hari. Anak-anak suka disuapi bapaknya karena potongan lauknya besar.

Setiap kali saya melahirkan, suami saya dengan setia mendampingi di sisi, baik mengusap saat kontraksi atau membesarkan hati. Suami berpendapat bahwa mendampingi istri saat mlahirkan akan menambah rasa cinta dan hormat kepada istri dan kaum perempuan lainnya. Termasuk dalam mengasuh dan membesarkan anak, saya dan suami biasa berbagi tugas. Jika saya sibuk, suami yang kontak dan memantau anak-anak.

Sebagai bapak, suami punya prinsip yang sangat melegakan bahwa anak terus tumbuh dan berkembang. Jangan pernah underestimate terhadap anak. Anak-anak tak pernah dibebani dengan prestasi akademis lewat urutan ranking. Jika ambil rapor yang ditanya bagaimana akhlak anak di sekolah. Prinsip kami dalam membesarkan dan mendidik anak dengan 3 pendekatan: otoritatif, demokratis, dan edukatif. Otoritatif: sesekali kami gunakan otoritas sebagai orang tua tapi tidak semua urusan harus diselesaikan dengan gaya atasan-bawahan. Demokratis: sesekali kami berikan kebebasan kepada anak untuk menentukan pilihan-pilihannya secara sadar dan bertanggungjawab. Tapi perlu juga pendekatan edukatif; kami harus memberikan penjelasan, pengertian, dan alasan mengapa ini boleh, itu tdk boleh, dan lain-lain. Jadi, tradisi berdiskusi, berdialog, sudah terbangun diantara anggota keluarga, suami, istri, orang tua dan anak sejak dini. Sebagai contoh, si sulung memutuskan masuk IPS (waktu SMA), bapaknya tidak setuju, ia menjelaskan dengan detil alasannya, akhirnya kami menerima.

Dengan nilai-nilai (agama) yang ditanamkan, anak-anak pun tumbuh menjadi anak-anak yang sederhana, mandiri, dan terlibat dalam kegiatan orang tuanya. Saya dan suami belajar dari karakter anak-anak yang satu sama lain berbeda, yang laki dan perempuan, yang sulung, tengah, dan bungsu. Anak-anak tidak pernah memaksa untuk dibelikan sesuatu karena tuntutan status atau lingkungan pergaulan. Mereka menerima uang saku sesuai kesepakatan. Jika diberikan lebih, mereka menolak. Setiap kali diberi tambahan oleh si bapak, anak-anak bertanya apakah asal uang tersebut halal?

Suami sangat mendukung aktualisasi diri untuk saya, istrinya sehingga sampai hari ini saya didorong untuk menyelesaikan studi S3. Saya dan suami saling belajar, suami tak sungkan bertanya dan meminta pendapat karena yang terpenting satu sama lain saling menghormati. Begitulah selama ini perjalanan keluarga kami, tak ada yang istimewa namun semua kami jalani dengan satu harapan terindah. Yaitu, berkumpulnya kembali saya, suami, dan anak-anak sebagai satu keluarga utuh di akhirat kelak. Masih banyak sebenarnya sisi-sisi lain dari bangunan keluarga kami, insya Allah akan saya sambung dengan topik yang berbeda. Sebagai introduksi saja, si sulung sekarang menimba ilmu di Fisip UI jurusan Ilmu Politik, yang kedua di ITB Jurusan SBM, adiknya di SMA 3. Yang lainnya, di SMP dan SD Mutiara Bunda. Hatur nuhun sudah menyimak. Mohon nasihat dan masukan untuk keharmonisan yang lebih indah. Masih banyak pasangan/ortu yang senior/sepuh, harmonis, dan berhasil mendidik anak, kami masih harus terus belajar. Terima kasih.

Masyarakat patut berharap keharmonisan tersebut tidak hanya dirasakan oleh Pak Aher, Ibu Netty, dan keenam putra-putrinya saja, tetapi menular dan menyebar secara luas ke seluruh pelosok Jawa Barat.

 

http://unik.kompasiana.com/2013/02/18/kampanye-anticerai-ala-aher-529718.html

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: