Revive Risha


Sebagai Urang Sunda, Saya Cemburu Sama Bahasa Jawa

Posted in Kancing Garuda by rishapratiwi on March 12, 2013

Pekan lalu saya menghadiri undangan pernikahan seorang kawan di Jogja. Mumpung dalam kondisi liburan, sekalian saja saya memanfaatkan momen tersebut untuk jalan-jalan di daerah Jogja-Solo. Selama lima hari berada di Jogja-Solo, saya merasa takjub dengan budaya masyarakatnya dalam berbahasa. Di kendaraan umum, mulai dari sopir, kondektur, dan penumpang berbahasa Jawa. Sampai-sampai pengamen pun menyanyikan lagu dalam Bahasa Jawa. Di pasar, di stasiun, di terminal, di tempat wisata, di rumah teman yang saya tumpangi, di mana-mana orang-orang saling berbicara dalam Bahasa Jawa. Jangan-jangan anak kecil yang baru belajar ngomong saja sudah jago Bahasa Jawa.

Sesampainya di Bandung yang notabene merupakan ibukota “kerajaan” Jawa Barat, di kampus saya (Institut Teknologi Bandung) teman-teman mahasiswa yang berasal dari Suku Jawa dengan akrabnya bercakap-cakap dalam bahasa daerah mereka. Saya yang merupakan urang Sunda pituin seringkali “cemburu” sambil harus pasang telinga dengan cermat untuk menyimak obrolan. Heu, ini tanah Sunda, gitu loh.

Dari semenjak kecil sampai SMA saya tinggal di daerah Sukabumi yang terbiasa berbahasa Sunda halus. Begitu sampai di Bandung, ternyata saya malah jarang berkesempatan untuk berdialog dalam Bahasa Sunda dengan sesama teman mahasiswa. Maklum, ITB konon katanya perguruan tinggi yang merupakan miniatur Indonesia, yang mahasiswanya berasal dari berbagai penjuru daerah di Indonesia. Tetapi tampaknya kalau saya perhatikan dan rasakan, mahasiswa-mahasiswa yang berasal dari tanah Sunda pun jarang menggunakan bahasa daerahnya. Bisa jadi pada awalnya karena urang Sunda itu terkenal dengan sifat someah hade ka semah (ramah dan menghormati tamu), jadi sebisa mungkin berbicara dengan bahasa yang dimengerti oleh orang yang diajak bicara. Sayangnya, sifat toleransi ini sering jadi bumerang. Lama-lama jadi keenakan berbahasa Indonesia, lupalah sudah sama lidah Sundanya. Bahkan seolah menjadi tidak mengapa jika urang Sunda palahak-polohok (tidak tahu) dengan bahasa daerahnya sendiri.

Sebagai bagian dari kebudayaan, bahasa bukan hanya sebagai alat berkomunikasi. William H. Haviland, seorang antropolog Amerika, menyatakan bahwa di dalam bahasa terkandung norma dan falsafah hidup yang dimiliki bersama oleh para anggota masyarakat. Bahasa sebagai elemen kebudayaan juga mengandung nilai-nilai positif dalam membangun karakter bangsa yang berkualitas. Di dalam penggunaan Bahasa Sunda terdapat undak-usuk basa, maksudnya pemilihan kata dalam berbicara dengan orang yang lebih tua atau dihormati berbeda dengan menghadapi orang yang lebih muda atau sebaya. Dengan adanya undak-usuk basa tersebut, bahasa Sunda sedang mengajarkan etika sopan-santun dalam pergaulan.

Terkait dengan bahasa daerah, saya teringat pada pemberitaan beberapa waktu yang lalu mengenai kebijakan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan yang tidak mencantumkan bahasa daerah secara eksplisit dalam kurikulum pendidikan 2013. Padahal dengan mengajarkan bahasa daerah, berarti mengajarkan para siswa untuk merawat identitas kita sebagai bangsa yang kaya dengan budaya. Sesuai dengan semboyan “Bhinneka Tunggal Ika”, perbedaan bahasa dan budaya tidak perlu ditakutkan akan menyebabkan perpecahan sosial.

Berbagai protes muncul ke permukaan menanggapi kebijakan kurikulum bahasa daerah. Mulai dari para mahasiswa, para guru, seniman, sampai Pemerintah Provinsi. Bersama dengan delapan provinsi lainnya, Pemerintah Jawa Barat meminta Menteri Pendidikan untuk memasukkan program bahasa daerah secara eksplisit di dalam kurikulum pendidikan. Dalam surat yang dilayangkan oleh Gubernur Jawa Barat, Ahmad Heryawan, diusulkan bahwa Bahasa Sunda atau bahasa daerah lainnya dipisah dari mata pelajaran lain. Sebagai dukungan terhadap pelestarian Bahasa Sunda, gubernur yang akrab disapa “Kang Aher” ini menyalurkan bantuan khusus sebesar Rp.1,3 miliar bagi kalangan guru yang fokus mengupayakan pengembangan Bahasa Sunda. Bantuan yang diambil dari anggaran 2013 tersebut merupakan pertama kalinya dialokasikan oleh Pemprov Jawa Barat. Secara struktural, upaya ngamumule (memelihara) Bahasa Sunda juga ditempuh Pemprov Jabar melalui Surat Keputusan (SK) untuk memasukkan Bahasa Sunda sebagai mata pelajaran di SD, SMP, maupun SMA di Jabar.

Ngomong-ngomong tentang upaya-upaya pelestarian Bahasa Sunda, Dosen Ilmu Sejarah Fakultas Ilmu Budaya Universitas Padjajaran (Unpad), Reiza D. Dienaputra, punya usulan yang menarik. Menjelang pemilihan Gubernur-Wakil Gubernur Jawa Barat 24 Ferbruari mendatang, beliau mengusulkan adanya debat cagub-cawagub dalam Bahasa Sunda. Hal itu untuk mengukur sejauh mana cintanya terhadap budaya Sunda.

Ngomong-ngomong lagi, Ahmad Heryawan sebagai calon incumbent yang selama menjabat sebagai gubernur cukup concern terhadap pelestarian budaya Sunda, selain fasih berbahasa Arab apakah juga fasih berbahasa Sunda? Jika menengok profilnya, beliau yang lahir di Sukabumi, bersekolah di SD Selaawi I Sukaraja, SMP Sukaraja, dan SMAN 3 Sukabumi, masa iya sih tidak bisa berbahasa Sunda? Teu kenging ngisinkeun warga Sukabumi nya, Pak 🙂

 

 

Sumber :

http://www.epaper.tribunjabar.co.id/ edisi 4632 tahun XIII, Harri Aditya Pratama, S.Sos ( Staff Kebudayaan Disparbud Prov. Jabar )
http://ahmadheryawan.com

http://bahasa.kompasiana.com/2013/02/07/sebagai-urang-sunda-saya-cemburu-sama-bahasa-jawa-526493.html

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: