Revive Risha


Sepatu Dahlan, Sepatu JK, dan Sepatu Aher

Posted in Kancing Garuda by rishapratiwi on March 12, 2013

Berbicara mengenai Sepatu Dahlan, kita akan serta merta teringat kepada judul sebuah novel trilogi yang menceritakan kisah hidup Dahlan Iskan. Tokoh yang baru-baru ini tersandung oleh kasus kecelakaan mobil listrik Tucuxi ini diceritakan berasal dari keluarga miskin di kampung kecil bernama Kebon Dalem. Ia kecil sangat mendambakan sepatu dan sepeda, tidak usah baru, bekas juga tidak apa-apa. Bukan untuk gaya-gayaan, bukan untuk pamer-pameran. Dahlan kecil harus menempuh jarak sekitar enam kilometer setiap hari untuk sampai di sekolahnya di Takeran. Bisa dibayangkan, perjalanan yang ditempuh jalan kaki membuat kaki Dahlan lecet-lecet.

Perjalanan panjang dan perjuangan keras mengantarkan Dahlan menjadi tokoh yang dikenal di Indonesia seperti sekarang ini. Kemunculannya yang kontroversial dengan penampilan yang santai membuat orang mudah teringat kepadanya. Siapa pejabat yang ke mana-mana, di acara resmi sekalipun, selalu memakai sepatu kets? Dahlan Iskan orangnya. Saking lekatnya sepatu kets dengan image Dahlan Iskan, Khrisna Pabichara memberikan judul Sepatu Dahlan untuk novel biografi Menteri BUMN ini. Sejak peluncuran novel Sepatu Dahlan, 27 Mei 2012 silam, Dahlan Iskan memproklamasikan bahwa dirinya akan selalu memakai sepatu produksi dalam negeri. Dalam kesempatan tersebut, Dahlan sekaligus memperkenalkan merk sepatu “DI 19”. Merk tersebut merupakan singkatan dari “Demi Indonesia”. Adapun angka 19 diambil dari jumlah huruf bismillah dalam Bahasa Arab.

Sebelum Dahlan Iskan, mantan wakil presiden RI Jusuf Kalla sudah duluan memiliki merk sepatu sendiri, yaitu JK Collection Shoes. Berbeda dengan Dahlan Iskan yang menamai sepatunya sendiri, nama JK Collection Shoes dijadikan merk sepatu sebagai ungkapan terima kasih para pengrajin sepatu Cibaduyut kepada Jusuf Kalla atas perhatiannya terhadap para pengusaha lokal. Jusuf Kalla bahkan pernah menginspeksi merk sepatu pejabat yang hadir dalam rapat Wapres. Seperti yang dilansir Republika, 10 Januari 2009, dalam inspeksi tersebut beliau menegaskan bahwa sepatu bukan sekadar simbol nasionalisme. Sepatu merupakan “kekuatan” yang dapat mengangkat perekonomian bangsa dari krisis.

Mirip-mirip dengan Jusuf Kalla, Gubernur Jawa Barat Ahmad Heryawan juga memiliki “merk” sepatu sendiri, meskipun belum menjadi merk komersial. Dalam kunjungannya ke sentra pengrajin sepatu Cibaduyut, 15 Januari 2012, Gubernur yang datang dengan mengendarai motor ojek ini meminta pekerja untuk memberikan cap “Aher” pada sepatunya. Ngomong-ngomong soal Cibaduyut, ternyata Gubernur yang satu ini memiliki kenangan yang mendalam. Pada tahun 1988-1990, beliau rutin ke Cibaduyut untuk membeli sepatu kemudian dijualnya di Jakarta. Dari hasil penjualan sepatu tersebut, Aher dapat membiayai kuliahnya.

Aher menginginkan produk sepatu Cibaduyut bergaung kembali seperti beberapa tahun silam. Beliau juga berkomitmen untuk mendukung sepatu CIbaduyut menjadi trend persepatuan nasional. Dalam kunjungannya, Aher memberikan bantuan berupa delapan paket produksi senilai masing-masing dua puluh juta rupiah. Pemprov Jabar juga akan membantu agar sepatu Cibaduyut mendapatkan Standardisasi Nasional Indonesia (SNI), memberikan pelatihan, dan menyediakan tenaga ahli untuk meningkatkan daya saing. Pada tahun 2011, Aher pernah mengampanyekan sepatu Cibaduyut di kalangan Pegawai Negeri Sipil (PNS) Jawa Barat. Kampanye tersebut diperbarui lagi dengan mengimbau para PNS di kawasan Bandung Raya untuk memakai sepatu buatan Cibaduyut atau sentra sepatu di kab/kota lain, seperti Ciomas, Bogor, Tasikmalaya, atau Garut.

Tidak hanya sebagai bukti nasionalisme, penggunaan produk dalam negeri dapat menjadi solusi perekonomian negara. Pada triwulan III tahun 2011, Neraca Pembayaran Pemerintah Indonesia mengalami deficit 4 miliar. Di antara penyebabnya adalah lebih besarnya import yang masuk dibandingkan dengan eksport. Defisit ini dapat dicegah dengan meningkatkan import dan mengurangi eksport produk luar negeri. Tentu saja hal ini hanya dapat dilakukan apabila ada upaya sinergi dari Pemerintah, perusahaan, maupun konsumen. Pemerintah mendorong perusahaan dalam negeri untuk menghasilkan produk yang dapat bersaing dengan produk luar negeri serta menyadarkan masyarakat akan pentingnya mencintai produk dalam negeri. Masyarakat juga harus menjadi konsumen yang bijak, jangan terbawa trend penggunaan produk luar negeri. Perusahaan harus berupaya meningkatkan kualitas produknya. Tanpa kualitas produk yang bermutu dan harga yang terjangkau, kampanye cinta produk dalam negeri bisa dibilang tak ada gunanya.

 

 

 

Referensi:

http://ahmadheryawan.com/lintas-jabar/lintas-jawa-barat/ekonomi-a-bisnis/3648-pns-diimbau-pakai-sepatu-cibaduyut

http://www.tempo.co/read/news/2012/05/27/219406409/Apa-Arti-Merek-Sepatu-DI-19-Dahlan-Iskan

http://www.republika.co.id/berita/senggang/unik/09/01/10/25259-pemeriksaan-sepatu-di-rapat-wapres

http://ekonomi.kompasiana.com/bisnis/2013/01/17/sepatu-dahlan-sepatu-jk-dan-sepatu-aher-520429.html

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: