Revive Risha


Man Jodoh Wa Jodoh

Posted in Cermin Diri by rishapratiwi on May 15, 2013
Tags:

562735_2189981326090_1225667844_n(Sumber gambar: googling)

 

Seorang akhawat, kakak kelas yang begitu saya cintai, sebut saja Mawar, suatu hari mengabarkan bahwa beliau akan segera menggenapkan separuh agama. Begitu mendengar berita tersebut saya senang sekali. Bagaimana tidak, beliau adalah sosok muslimah yang taat beragama, sukses dalam akademik semasa di kampus dan profesi pascakampus, amanah, sabar, lembut, penyayang, berfisik menarik, dan senantiasa berpenampilan rapi dan bersih.

Saya membayangkan ikhwan pasangannya adalah seorang pangeran tampan dari negeri antah berantah yang sama sekali belum pernah saya kenal. Ibarat di negeri dongeng, Sang Pangeran datang pada waktu yang tepat, sesaat sebelum Si Penyihir Jahat meminumkan racun pada Sang Putri yang sedang diasingkan di hutan berhunikan makhluk-makhluk buas. Sang Pangeran menikam Si Penyihir dengan tombak ajaib. Kemudian Si Penyihir mati dan seluruh hutan yang tadinya gelap menjadi benderang dengan bunga aneka warna dan kupu-kupu di mana-mana. Sang Putri yang sama sekali belum pernah melihat Sang Pangeran seketika luluh pada pandangan pertama. Lalu mereka pulang ke istana, menikah, dan well.. seperti kebanyakan akhir kisah dongeng… happily ever after.

Lupakan kisah tersebut. Pada kenyataannya, pertama, Kak Mawar tersebut tidak sedang diasingkan di hutan. Kedua, tidak ada tokoh penyihir jahat dalam cerita ini. Ketiga, ikhwan yang melamar beliau bukanlah orang yang sama sekali belum pernah dikenal, melainkan ikhwan yang selama di kampus menjadi sejawat seorganisasinya, teman berantem, bertahun-tahun.

Cukup, itu kisah nyata pertama.

Kisah nyata kedua, seorang akhawat yang begitu saya kagumi, sebut saja Melati, suatu hari mengabarkan bahwa beliau akan segera menggenapkan separuh agama. Seperti Kak Mawar, Kak Melati ini seorang Muslimah yang taat beragama, berwajah menarik, amanah, sabar, lembut, penyayang, dan selalu menjaga penampilan agar enak dilihat tetapi tidak mencolok perhatian. Sang Pangeran yang beliau dapatkan adalah rekan sejawat seorganisasi selama di kampus. Perlu diketahui, mereka berteman bertahun-tahun, tidak hanya dalam organisasi tetapi dalam beberapa penelitian di bidang akademik.

Kak Mawar dan Kak Melati, begitu saya interogasi, keduanya menyatakan tidak menyangka akan mendapatkan pasangan yang sudah mereka kenal dengan baik. Awal-awal mereka juga merasa zonkkkk menerima lamaran tersebut, khawatir mewariskan “beban histori” kepada adik-adik tingkatnya. Catat, meskipun satu organisasi, di antara mereka tidak ada yang namanya cinlok-cinlok-kan, PHP-an, atau HTS-an. Sepengamatan saya, kedua akhawat dan kedua ikhwan tersebut adalah pribadi-pribadi yang sangat menjaga interaksi dengan lawan jenis. Wallahu a’lam.

Man Jodoh Wa Jodoh. Kalimat pelesetan dari man jadda wa jada tersebut saya dapatkan dari teman saya. kalimat tersebut mungkin adalah motto bagi orang yang sedang berjuang mengejar jodohnya. Tetapi dalam postingan ini, saya artikan Man Jodoh Wa Jodoh sebagai: Kalau udah jodoh, yaaa gimana lagi. Semoga tidak terdengar seperti ungkapan pasrah “ya udah lah”. Bagi saya Si Golongan darah B yang kata orang easy going, ungkapan “kalau udah jodoh, yaaa gimana” lagi sebanding dengan: “itu jodoh kamu, mau kamu lari ke mana pun pasti ketemu. Harap disyukuri dan disabari saja”

Di saat saya berpikir bahwa mendapatkan pasangan dari kalangan yang saya kenal dekat, sebut saja sahabat dekat adalah sesuatu yang… apa yaaa.. awkward. Saya sama sekali tidak mencela pasangan yang dari temen jadi demen. Cuma ya itu tadi, sebatas pasang emoticon awkward, seperti ini  -____-“. Susah aja dibayangkan kalau dia yang menjadi imam nanti mungkin adalah saksi saat kamu dengan mulut mangap menangkap kacang yang dilemparkan ke udara. Di mana mungkin dia yang menjadi tulang punggung keluargamu nanti, saat ini adalah samsak ketika kamu menjadi “budak hormon” sindrom pramenstruasi. Di mana mungkin dia yang menjadi ayah dari anak-anakmu nanti, saat ini adalah orang yang komplain saat upil kamu jatuh dengan manis di kemejanya #piih, gadis macam apa. Intinya adalah kamu sudah tidak bisa jaim, sudah tidak bisa bermanis muka di hadapannya, sudah tidak bisa sok lembut, sok tegar, sok mature, sok anggun, sok elegan. Padahal mungkin karena sudah tahu itu, kamu bisa lebih mudah menerima kekurangannya.

Spesial dalam lingkungan orang-orang yang aktif dalam organisasi da’wah, membayangkan dapat pasangan dari rekan sejawat seorganisasi itu mungkin “sesuatu” sekali. Dalam lubuk hati saya yang terdalam, saya pribadi seringkali takjub dengan interaksi pranikah yang “heroik”, dalam artian terjaga.

Sepasang ikhwan dan akhawat, beberapa hari setelah menikah langsung berpisah. Sang akhawat harus pulang ke kampung halamannya karena ada keperluan mendesak. Seselesainya urusan sang akhawat, ikhwan suaminya menjemput di terminal. Setiba di terminal, sang suami yang baru kenalan sama sang istri beberapa saat menjelang pernikahan ini lupa wajah istrinya. Ya sudah, ia pun celingak-celinguk mencari seseorang yang berjubah lebar, berjilbab besar. Itu pasti si umi.

Lucu, ajaib, romantis ^^

Tapi sekiranya si pangeran bermobil putih #oops yang datang menjemputmu itu ternyata Si Akhi yang SERING BANGET kamu mentahkan pendapatnya dalam forum, juga sering kamu cerca karena sering telat? Atau Si Akhi yang sering banget “gangguin” kamu dengan undangan rapatnya tetapi diam-diam kamu kagumi karena militansi dan prestasinya?

Setiap orang boleh punya kriteria, boleh punya rencana. Tetapi, daun yang gugur saja sudah ada catatannya di Lauh Mahfudz sana, apalagi ketentuan yang akan mengubah jalan hidup orang secara signifikan a.k.a jodoh. Jikalau hasil shalat istikharah dan musyawarah dengan orangtua positif, apalagi alasan syar’i yang menghalangimu melenggang menuju pelaminan? Semoga membawa kebaikan untukmu, untuk dirinya, untuk almamater, bangsa, negara, dan tentu saja agama.

Tsaaaah, ngomong apa saya ini. Ya maap, bicara yang begini lidah saya masih gagap ^^

“Jodoh itu rahasia yang indah dari Allah”, demikian quote yang saya baca atau dengar entah di mana. Terimalah ia sebagaimana kamu menerima takdir Allah yang lainnya. Tawakal itu tidak boleh parsial. Tidak hanya dalam menghadapi masa penantian, tetapi juga termasuk menerima orangnya. Kelebihan dan kekurangannya, sepaket dengan keluarga dan budayanya. Termasuk status hubungannya dengan kita saat itu. Dia yang ternyata baru dikenal, atau  sudah agak kenal, bahkan sudah SANGAT dikenal.

Jadi, kalau ada yang bertanya (lagi), kalau nanti pasangan saya adalah orang yang sudah sangat saya kenal? #no mention. Saya hanya akan jawab, man jodoh wa jodoh.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: