Revive Risha


Sand between Our Toes

Posted in Jalan-Jalan by rishapratiwi on May 15, 2013

Tanggal 13-14 April 2013 lalu, akhirnya saya kembali lagi menyapa ombak Pantai Pangumbahan, Kabupaten Sukabumi. Kali ini bersama rombongan teman-teman di komunitas alumni muda Salman. Fiuhh, setelah melewati berbagai tantangan yang menguji kesungguhan acara jalan-jalan ini, akhirnya dengan do’a restu segenap pihak, kami berangkat dari Bandung hari Sabtu, 13 April 2013, sekitar pukul 21.30 WIB.

Melewati jalan tol Pasteur, Padalarang, Cianjur, kami sampai Kota Sukabumi hampir tengah malam. Karena mengambil belokan yang salah di daerah Lapangan Merdeka Kota Sukabumi, kami tersesat ke jalur yang memutar. Alhasil, kami menghabiskan waktu sekitar satu jam sampai dapat kembali ke jalur yang semestinya. Agak memalukan memang karena bagi saya itu sama saja dengan tersesat di rumah sendiri. Tapi yaa, mau bagaimana lagi. Saya lebih hafal daerah Bandung dibandingkan dengan Kota Sukabumi. Karena biasanya saya tinggal duduk manis di samping pak supir yang notabene ayah sendiri, dan trereeeeng, sampailah di tempat tujuan.

Sampai di rumah saya di Jampangkulon sekitar pukul 04.00, sesuai dengan yang driver rencanakan.  Setelah check in di kamar masing-masing, berbenah diri, dan shalat subuh, teman-teman langsung terkapar di kamar masing-masing. Wajar sih, bagi yang baru pertama kali berpesiar Bandung-Jampangkulon, dalam kondisi malam yang gelap, menembus hutan, jalanan berkelok, merayapi punggung bebukitan, mungkin akan merasa sedang menempuh perjalanan jauh tak berujung.

Saya, karena merasa sudah cukup pulas tidur di perjalanan, setelah shalat Subuh berbincang-bincang dengan adik di ruang tamu. Teman saya, Amalia yang sholihatinya, yang untuk ketiga kalinya berkunjung ke rumah saya, dengan senang hati menemani ibu menyiapkan sarapan di dapur. Rupanya Mbak Amal ini sudah diterima dengan senang hati sekiranya berminat melamar sebagai calon mantu. Hanya sayangnya, anak laki-laki ibu cuma satu yang mana di mana baru saja menempuh Ujian Nasional SMA. Belum selevel kalau disandingkan sama Sarjana Teknik Elektro ITB macem Mbak Amal, hehe.

Sekitar pukul delapan pagi, dengan konsistensi kecerewetan dari saya dan tentunya Mbak Amal, Mas-Mas yang setadinya terkapar itu akhirnya bisa didudukkan di ruang tengah, dengan mata panda mengelilingi sarapan pagi yang sudah agak dingin. Menu kali ini cukup menarik perhatian. Ibu memasak sayur turubuk, sayuran yang rupanya belum pernah teman-teman saya makan sebelumnya. Keluarnya macem-macem istilah, ada yang bilang rebung, ada yang bilang sosis jampang. Semua salaaah, karena saya sudah googling, saudara-saudara. Turubuk itu nama latinnya Saccharum Spontaneum atau yang dalam Bahasa Inggris disebut Wild Sugarcan.

Ba’da sarapan, bukannya mandi dan gosok gigi, malah pada leyeh-leyeh sambil nonton acara infotainment. Baru setengah sebelasan kami dengan segar bugar keluar rumah. Tujuan pertama adalah SMK Al-Madani. Di sana kami disambut dengan tatapan takjub para guru. Para turis dari mana ini yang berkunjung ke sekolah dengan kaos oblong, celana pendek tiga perempat, dan sandal jepit? Setelah berkeliling sekitar setengah jam, akhirnya rombongan melanjutkan perjalanan. Markigo, mari kita go… ke Curug Cikasooooo!

Memasuki areal Curug Cikaso, kami bayar portal Rp.1000. Setelah memarkir mobil, kami menyewa sebuah perahu. Penduduk lokal menyebut perahu tersebut “sampan”. Kami membayar tiket Rp.65.000 untuk satu perahu plus bayar parkir mobil. Sebetulnya perahu tersebut berkapasitas sekitar 20 orang, tapi rombongan kami hanya terdiri dari tujuh orang plus satu orang pengemudi perahu dan satu orang guide yang nempel-nempel padahal sudah ditolak.

Perahu kami menembus arus sungai Cikaso yang tenang. Tidak sampai sepuluh menit kami sudah sampai di tujuan. Untuk sampai di Curug Cikaso, sebetulnya bisa saja jalan kaki. Tetapi sayang momen aja, masa jauh-jauh dari Bandung nggak naik perahu. Kelewat nanti sesi foto-fotonya, hehe.

IMG_0135

Sampai di Curug Cikaso, ahamdulillah airnya sedang melimpah. Baguuuus. Teman-teman ada yang foto-foto, main air, meniti bebatuan, kepleset, bengong, suka-suka lah. Setelah tiga puluh menit berlalu, kami selesai main dan memutuskan untuk shalat dzuhur dijamak dengan shalat ashar di masjid terdekat.

Dua orang model yang ada di foto itu entah siapa. Maksud hati menayangkan foto ini adalah untuk memberikan gambaran kepada khalayak ramai mengenai ketinggian dan kebesaran Curug Cikaso. Itu saja

Dua orang model yang ada di foto itu entah siapa. Maksud hati menayangkan foto ini adalah untuk memberikan gambaran kepada khalayak ramai mengenai ketinggian dan kebesaran Curug Cikaso. Itu saja

Selesai shalat, di depan masjid ternyata sudah menungga emang-emang penjual kue bandros. Kami yang kelaparan memutuskan beli beberapa potong kue bandros panas. Harganya Rp.2.000 per potong.

Perjalanan dari Cikaso ke Pantai Ujunggenteng memakan waktu sekitar 1 jam. Setibanya di Pantai Ujunggenteng, kami langsung menuju pasar ikan. Amal dengan gaya ibu-ibu (keibuannya) menawar ikan kakap merah dan ikan layur. Setelah mengantongi beberapa kilogram ikan, kami mencari warung terdekat yang menjual jasa memasakkan ikan.

Karena ikan akan matang setelah 1 jam kemudian, kami mengisi waktu dengan bermain-main di pasir Pantai Ujunggenteng. Beberapa bermain bola, kejar-kejaran, ada juga yang merenung sambil melarung lara. Tentu saja tidak lupa foto-foto.

Ceritanya lagi pada usaha menyingkirkan kompetitor

Ceritanya lagi pada usaha menyingkirkan kompetitor

Begitu tiba waktu perkiraan ikan matang, beberapa dari kami menjemput ikan ke warung makan. Pas ternyata sesampai sana ikan sudah siap dibawa. Setelah berhasil mencari sendok plastik, kami segera bertolak menuju tempat teman-teman yang lainnya bermain. Menu makan siang kami saat itu adalah nasi merah yang dibawa dari rumah, lauknya ada sup kakap merah, goreng ikan layur, dan sayur sawi. Alhamdulillah hidangan tandas tuntas meskipun ikan kakapnya tidak sesuai ekspektasi karena masih alot.

Sehabis makan, kami bersegera menuju Pantai Pangumbahan. Nah, apabila Anda akan ke Pantai Pangumbahan, dari Pantai Cibuaya itu belok kiri ya, jangan belok kanan seperti kami. Karena begitu Anda belok kanan, Anda akan menghadapi medan jalanan panjang yang sempit dan berlumpur, mirip-mirip kubangan lah ya. Dengan perjuangan dan kesabaran, Alhamdulillah sampailah kami di area penangkaran penyu Pantai Pangumbahan.

Setelah registrasi dan memberikan uang donasi secukupnya, kami mendapatkan tiket masuk area penangkaran penyu. Perlu dicatat, di Pantai Pangumbahan ini lah kami merasakan sensasi sebenar-benarnya pantai. Pasir yang lembut, ombak yang berdebur keras, dan matahari yang hampir tenggelam berwarna emas cerah. Siapa pula yang tidak tergoda untuk bermain pasir?

IMG_0212

Kami mulai ritual penguburan orang. Waktu itu yang pertama di kubur adalah saya. Rasanya agak menakutkan, terutama jika membayangkan di belakang saya tetiba ada tsunami. Kemudian teman-teman berhambur berlarian, terus saya ditinggalkan, tak berdaya, tersapu ombak, dan ditemukan tinggal nama.

Saat kami akan melakukan ritual penguburan kedua dengan pasir, petugas konservasi memanggil para pengunjung dengan TOA untuk segera berkumpul di sumber suara karena ritual pelepasan tukik ke laut akan segera dimulai. Di bawah sinar senja yang romantis, di bawah guyuran hujan tipis-tipis, anak-anak penyu itu secara dramatis merangkak-rangkak di atas pasir yang hangat. Jika kelak mereka sampai di lautan dan mampu bertahan sampai usia reproduktif, mereka akan kembali ke pantai untuk bertelur.

Seusai pelepasan tukik,matahari semakin seru untuk dinikmati. Ritual penguburan dimulai kembali. Rupanya teman saya lebih tegar dan menikmati sesi dikubur.

Yang ini namanya bersenang-senang di atas penderitaan orang lain (perhatikan itu ada satu orang yang dikubur hidup-hidup)

Ritual penguburan selesai, pelepasan tukik selesai, foto-foto selesai, tiba saatnya meninggalkan pantai karena waktu maghrib sudah menjelang. Setelah bersih-bersih seadanya, kami memutuskan untuk pulang. Dengan pertimbangan satu dan lain hal, kami mengikhlaskan diri untuk tidak mengikuti acara penyu bertelur tengah malam nanti.

Dalam perjalanan pulang, kami menempuh jalur yang berbeda dengan jalur keberangkatan. Kami sudah senang karena ternyata jalurnya lebih singkat. Sampai akhirnya, ngeeeeeng… ngeeeeenng. Mobil yang kami tumpangi ternyata selip di pasir. Para penumpang yang notabene sarjana teknik dan calon sarjana teknik tersebut segera bertindak. Saya dan Amal diminta duduk manis saja di mobil. Entah apa yang mereka lakukan di luar sana, yang jelas mobil masih terjebak selama beberapa waktu yang diperkirakan sekitar dua puluh menitan. Rupanya teori bawaan dari ITB belum mempan. Sampai akhirnya seorang penduduk lokal menemukan kami yang dalam keadaan tak berdaya. Beliau langsung turun tangan dan meminta kami menggali pasir sepanjang jalur roda mobil. Saat starter pertama, mobil langsung maju dan terbebas dari cengkeraman pasir. Alhamdulillah. Di sana kami menemukan suatu kesepahaman, pengalaman kadang lebih jagoan dibandingkan pengetahuan.

Aktivitas berikutnya sangat menarik untuk dikenang tetapi tidak menarik untuk diceritakan. Intinya, kami pulang ke Bandung dengan senang hati, dengan membawa pengalaman dan foto seru-seruan. Daaaan.. ini foto yang didedikasikan khusus untuk temen-temen 3i

IMG_0226

Niat saya ngeposting reportase liburan ini untuk memberikan informasi mengenai biaya yang diperlukan untuk bisa “hidup pantas” di sana. Tapi saya lupa catatannya, hehe. Ya udah, dadah.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: