Revive Risha


Cemburu; Syahdu apa Peluru?

Posted in Cermin Diri by rishapratiwi on May 17, 2013
Tags: , ,

Suatu hari saya mendapatkan notifikasi di jejaring sosial bahwa seorang sahabat yang baru beberapa bulan lalu menikah menambahkan saya ke dalam friend list-nya di jejaring sosial tersebut. Dengan polos saya bertanya, “lho memangnya sebelumnya, dari dulu belum temenan?” Pertanyaan tersebut terkubur tanpa jawaban sampai waktu kemudian menjawabnya. Istri dari ikhwan tersebut menayangkan klarifikasi bahwa beliaulah yang me-remove nama-nama akhawat dalam friend list suaminya dan meng-add lagi. Lho kenapa? Dengan “jantan” Sang Nyonya mengakui bahwa latar belakang tindakan tersebut adalah karena cemburu. Wew!! Melalui tulisan tersebut juga sang istri meminta maaf kepada teman-teman akhawat suaminya dan menjelaskan bahwa tidak ada prasangka buruk baik kepada suaminya maupun kepada akhawat-akhawat tersebut.

Perlu waktu dua hari bagi saya untuk menerima kenyataan tersebut. Terus terang saya merasa harga diri saya sedikit terusik. Mentang-mentang saya single yaaa. Tenang aja Mbak, saya nggak akan gangguin suami orang kok. Meskipun saya ini berpenampilan menarik, lulus dengan predikat cumlaude dari institusi pendidikan bergengsi, mandiri, dan tentu saja single and available, PLISSS tidak usah menempatkan saya sebagai kompetitor. Saya juga nggak mau cari pasangan yang sudah berpasangan. Nah kan, nah kaaan, keluar tuh arogansinya.  Astaghfirullah, astaghfirullah #menenggak air putih banyak-banyak.

Eh, sebentar! Gangguin suami orang? G-a-n-g-g-u-i-n—s-u-a-m-i—o-r-a-n-g-????? Bolak-balik saya baca kembali tulisan Si Mbak tesebut. Bagian mana dari tulisan itu yang secara tersurat maupun tersirat menyatakan tuduhan “mengganggu suami orang”?? Tidak ada, saya tidak menemukannya. Tuh kaan, lagi-lagi saya harus istighfar dalam-dalam. Sudah mah tadi berpikir arogan, su’udzan kalau orang lain su’udzan sama saya pula. Astaghfirullah, astaghfirullah…

Oke lah, sampai di titik ini saya memaksa diri untuk memaklumi. Si makhluk bernama Cemburu, pada beberapa contoh kasus, menjadi jawaban “karena” atas pertanyaan mengapa seorang suami tega membunuh istrinya?#ngeriiii, mengapa seorang istri mendadak menjadi badan inteligen yang ke mana-mana membuntuti gerak langkah suami?, mengapa seorang istri paranoid ketika suaminya sisiran dengan rapi saat berangkat ke kantor?, dan banyak “mengapa” yang lain, termasuk mengapa Asma Nadia menulis buku yang berjudul Catatan Hati yang Cemburu #promosi, buku ini recommended ^^b Tetapi dalam kasus teman saya tersebut, cemburu mungkin bukan hanya perkara “takut ada yang merebut”, “takut berpaling ke lain hati”, “takut tidak lagi diperhatikan”.  Cemburu ya cemburu. That’s it. Tidak perlu setiap “kenapa” memiliki jawaban “karena”.

Ngomong-ngomong tentang cemburu, Sang Ummahatul Mukmin Aisyah Binti Abu Bakar menjadi sosok yang menegaskan bahwa cemburu adalah perasaan manusiawi yang menjadi bumbu-bumbu dalam suatu hubungan pernikahan. Ingatkah ketika Aisyah berkata, “Aku tidak pernah cemburu kepada seorang pun dari istri Rasulullah seperti cemburuku kepada Khadijah, karena Rasulullah banyak menyebut dan menyanjungnya” (HR Bukhari Muslim).  Aisyah berkata: “Seakan-akan di dunia ini tidak ada wanita kecuali Khadijah?”. Nabi menjawab, “Dia beriman kepadaku ketika semua manusia mengkufuriku, dia membenarkan aku ketika semua manusia mendustakanku, dia mendukungku dengan hartanya ketika manusia menahannya dariku, dan Allah memberi rizqi kepadaku berupa anak darinya ketika aku tidak mendapatkan anak dari istri-istriku yang lain” (HR Ahmad). Aisyah berkata, “Allah telah menggantikan untukmu wanita yang lebih baik darinya”.  Rasulullah hanya menjawab, “Allah  tidak pernah menggantikan untukku wanita yang lebih baik darinya”.

Dari Aisyah pula, ia berkata, pernah suatu malam Rasulullah ada bersamaku dan beliau pada saat itu mengira aku telah tertidur. Maka beliau keluar dan aku pun mengikuti jejak langkah beliau. Sungguh aku mengira bahwa beliau pergi untuk menemui istrinya yang lain, hingga beliau sampai pada suatu tempat pemakaman. Lalu beliau pun berbelok dan aku pun mengikutinya. Beliau mempercepat langkahnya dan aku pun mempercepat langkahku. Kemudian beliau bergegas kembali ke rumah dan aku pun berlari agar dapat mendahuluinya menuju rumah. Setelah beliau memasuki rumah, beliau bertanya mengapa nafasku terengah-engah seperti orang yang menderita asma sedang mendaki suatu bukit. Aku pun menceritakan kejadian yang sebenarnya kepada beliau, bahwa tadi aku mengikuti ke mana beliau pergi. Beliau pun bertanya, “apakah engkau mengira bahwa Allah dan Rasul-Nya akan tega menyakiti dirimu?’ (HR. Muslim)

Menurut Relationship Dynamics Hitman System, cemburu muncul pada tiga keadaan, pertama karena takut kehilangan (cemburu tingkat dasar). Kedua, karena takut tersaingi (harga diri terlampaui). Ketiga, karena ada permasalahan yang tidak terpecahkan. Kekhawatiran seseorang pada cemburu tingkat dasar memiliki objek yang jelas dan terlihat secara kasat mata. Objek yang menjadi pusat cemburu adalah sesuatu yang sangat berguna dan berharga dalam kehidupan seseorang, sehingga berkembang rasa ketakutan akan kehilangan. Dengan kata lain, cemburu adalah manifestasi dari ketakutan akan kerugian energi, waktu, dan biaya yang sudah diinvestasikan. Perempuan menjadi sosok yang lebih mudah “takut kehilangan” dibandingkan laki-laki, secara “ongkos reproduksi” yang dikeluarkan perempuan lebih mahal dibandingkan laki-laki. Dari sini akan muncul dua respon, yaitu menerima kenyataan (respon positif) atau menolak (respon negatif).

Seseorang yang merespon cemburu secara positif akan menerima kenyataan sekaligus berusaha berbuat yang terbaik untuk mengamankan objek yang merupakan pusat cemburu agar dapat “dimiliki sepenuhnya”. Sebaliknya, orang yang merespon cemburu secara negatif akan menolak kenyataan, menyalahkan pihak luar yang menjadi stimulus cemburu, bahkan mungkin melakukan agresi. Respon negatif inilah yang mengantarkan cemburu menjadi suatu kosa-kata yang cenderung negatif. Sikap cemburu seorang perempuan dicap sebagai sikap yang tercela.

Masih menurut Relationship Dynamics Hitman System, dalam kondisi bahaya, otak dan tubuh manusia secara otomatis masuk dalam kondisi fight of flight, bertahan atau berlari. Katanya, dalam suatu hubungan yang dianggap sangat bernilai, normalnya pencemburu alih-alih memilih flight alias memutuskan hubungan, malah masuk dalam kondisi fight. Dalam kondisi tersebut, seluruh energi difokuskan untuk memproteksi diri dari kemungkinan merugi dan sakit hati. Ini fase pertama cemburu, yaitu menutup diri. Tidak heran jika orang yang cemburu akan memendam perasaannya dibandingkan mengakui jika ia sedang cemburu. Dalam tahapan ini orang yang cemburu berada pada status WASPADA. Ia akan sulit diajak santai atau bercanda, serta sibuk menginvestigasi, menilai kondisi, dan mengumpulkan data untuk meneguhkan rasa ketakutannya. Jika ia menemukan data yang memperkuat kecurigaan, level cemburu meningkat dari menutup diri menjadi menutup asset. Pada fase kedua, si pencemburu mempresentasikan dan mengonfirmasi data hasil investigasi kepada pasangannya. Di fase ini biasanya banyak dialog yang cenderung menyudutkan. Lagu Kangen Band Yolanda biasanya terdengar cukup sering, kamu di mana, dengan siapa, semalam berbuat apa. Sesuai hukum Investasi dalam Relationship Dynamics Hitman System, emosi yang diolah akan terus berbuah. Cemburu fase terakhir adalah fase yang paling berbahaya, yaitu mengeliminasi pihak yang dianggap ancaman.

Dalam Islam sendiri, wajib hukumnya cemburu hadir di tengah-tengah rumah tangga. Sabda Rasulullah, “Tiga golongan yang tidak akan masuk surga dan Allah tidak akan melihat pada mereka di hari kiamat, yaitu orang yang durhaka kepada kedua orang tuanya, wanita yang menyerupai pria, dan dayyuts.” (HR. Nasa’i, Hakim, Baihaqi dan Ahmad). 

Dayyuts adalah suami yang tidak memiliki rasa cemburu terhadap istrinya. Dalam konteks rumah tangga Islami, cemburu seorang suami kepada istrinya atau istri kepada suaminya merupakan satpam yang menjaga dan melindungi harga diri keluarga dari tindakan yang keluar dari koridur syar’i. Suami macam apa yang tidak merasa sensi jika istrinya keluar rumah dengan pakaian yang tidak menutup aurat, mau-mau saja digoda oleh pria lain yang bukan mahramnya? Atas nama perikehidupan modern, suami “mengizinkan” istrinya berselingkuh dengan laki-laki lain. Hiiy, ngeri.

Hemm, bab cemburu ini memang menarik perhatian saya. Bagaimanapun, ia adalah perasaan lumrah yang seringkali melanda kaum wanita pada umumnya. Pun saya, insya Allah nanti akan menjadi seorang istri. Jika nanti saya cemburu, saya ingin kecemburuan saya terkategorikan dalam cemburu level normal, sopan, dan elegan ^^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: