Revive Risha


Armageddon dan Rasa Kehilangan

Posted in Cermin Diri by rishapratiwi on June 18, 2013
Tags: ,

 

Waktu kelas 2 SMA, saya mengikuti lomba menulis cerita pendek yang diselenggarakan oleh Perpustakaan Daerah Kabupaten Sukabumi. Lombanya terdiri dari dua tahap; tahap penyisihan dan tahap final. Alhamdulillah dalam lomba itu saya menggondol gelar juara pertama. Setelah acara selesai, seorang juri menyapa saya, “cerpen kamu yang di tahapan penyisihan sebetulnya lebih bagus dibandingkan sama yang di tahap final. Untung saja kamu bikin cerpen yang di final itu sad ending, tragis pula, jadinya nggak datar”. Saya cuma cengar-cengir khas anak muda (?), tidak tahu harus jawab apa. Saya “iseng” mengakhiri cerpen yang berjudul “Ada Do’a untuk Dia” itu secara mengenaskan (ceritanya si tokoh utama yang mencuri selembar sajadah merah tewas dikeroyok massa) karena jujur saya bingung bagaimana “memperbaiki” nasib si tokoh yang dari awal sudah menyedihkan, hehe. Setelah itu, karena kalap beli buku-buku baru dari uang hadiah hasil memeras pena #tsaah, saya lupa deh sama komentar juri tersebut.

Sampai bertahun-tahun kemudian, tepatnya pada malam 16 Juni 2013, ketika saya menonton film Armageddon. Setelah 15 tahun dari kelahirannya, saya baru sekali ini nonton film yang waktu SD saya sebut “Armadedon” ini secara utuh. Hadeuh, kemana aja Jeng.

Pada dasarnya, saya nonton film untuk hiburan semata, bukan untuk berpikir ruwet seperti menganalisis musikalitas, akting tokoh, efek, dan komponen-komponen lain yang menjadi pakem dalam review film. Bukan, bukan untuk itu. Saya hanya ingin mengisi waktu senggang, nonton, dan merasa happy. Begitu saja. Makanya, saya cenderung menyukai film yang happy ending, sejenis film-film Barbie lah #pantesan baru nonton Armageddon.

Sepertinya semua orang sudah tahu bahwa film Armageddon ini bercerita tentang huru-hara di bumi akibat “serangan” asteroid. Pemerintah Amerika bersama NASA menyusun misi kemanusiaan untuk menyelamatkan bumi. Geli saya menuliskan klausa “misi kemanusiaan untuk menyelamatkan bumi”. Kedengarannya seperti misi Saras 008 atau Panji Manusia Milenium, tontonan favorit zaman SD. Selain NASA, Departemen Pertahanan, rencana penyelamatan bumi ini melibatkan ahli pengeboran minyak bumi, Harry Stamper dan timnya. Wah, ternyata sejak tahun 1998 para engineer perminyakan itu udah keren ya #oops, salah fokus.

Di film yang seharusnya memicu sekresi adrenalin ini, saya malah terbawa suasana melankolis sejak di awal cerita. Bagi saya, romantika kisah antara ayah dengan anak perempuan itu.. sesuatu sekali. Sesuatu yang dalam, tak terkatakan, macho, tapi lembut. Garing di luar, lembut di dalam #iklan wafer Tango dong. Ceritanya, Harry dan Grace ini sering berantem gegara sang ayah tidak merestui hubungan antara Grace dengan pacarnya yang juga anak buah Harry, A.J. Yang saya tangkap, sosok Harry ini adalah seorang ayah yang protektif, yang masih menganggap Grace sebagai his little girl. Mungkin karena ia harus menjadi single parent setelah ibu Grace pergi meninggalkan mereka berdua.

Di sore yang sendu, menjelang keberangkatan Harry ke luar angkasa, ayah dan anak ini akhirnya saling bicara cinta. “Promise me that you’ll come back…”, pinta Grace. “If it’s not too much trouble, can you please bring my fiancee home with you?” Hadeuuh, masih aja inget sama si A.J.

Singkat cerita, Harry dan kawan-kawan berhasil mendarat di asteroid yang dalam beberapa jam akan menabrak bumi. Tim ini harus mengebor asteroid tersebut, meletakkan bom nuklir, dan meledakannya. Di sini kendala teknis banyak sekali terjadi. Beberapa anggota tim terbunuh. Saya sudah berpikir A.J. pun akan mati. Rasanya greget sekali menonton bagian ini. Ayolah, tinggal ngebor, taruh bom, ledakkan, pulang ke rumah. Selesai, happy ending. Akan tetapi, melihat banyak sekali kendala teknis, mulai dari tangki bahan bakar yang meledak, tumbukan dengan debris asteroid, sampai remote control bom nuklir yang rusak, yang artinya harus ada orang yang stay di asteroid untuk menjadi volunteer peledak bom secara manual, saya tidak yakin film ini berakhir menyenangkan. Kemungkinan misi penyelamatan bumi akan gagal! Ah, tidak.. tidak. Terlalu tragis sepertinya. Kemungkinan yang paling mungkin, Harry sebagai pimpinan tim akan menjadikan dirinya kandidat satu-satunya yang mengisi posisi relawan bom bunuh diri ini. Huhu, saya seperti mengerti bagaimana perasaan Grace #terlalu menghayati.

Tim kemudian mengundi nama orang yang menjadi peledak bom, dan undian jatuh pada nama A.J. Mudah ditebak, Harry dengan paksa menggantikan A.J. Di sini terjadi romantika antara para lelaki yang bikin nangis bombay. Di titik ini, Harry akhirnya menyerahkan kepercayaan kepada A.J. untuk menjaga Grace. Cobaaa kalau momen tersebut berlangsung saat akad nikah aja. Bukan di huru-hara kiamat begini. 

Seperti Saras dan Panji yang selalu menang melawan kejahatan, sesungguhnya di lubuk hati saya tersisa secuil harapan bahwa Harry akan selamat. Remote control bomnya ketemu atau ada makhluk lain yang bisa menekan tombolnya, gajah luar angkasa atau apalah kek. Oke, saya akui saya benci merasa kehilangan, saya benci merasa sedih. Saya tidak suka ditinggalkan, aku merindukanmu lima detik setelah kau pergi #gombal. Ilustrasinya seperti gigi saya tanggal dari gusinya atau jantung ini lepas dari ligamennya, istilahnya, jiwa ini pergi bersama kamu yang pergi #puitis kan gueee.

Misi peledakan asteroid berhasil! Miliaran penduduk bumi berhasil diselamatkan. Saya menduga saat itu Grace galau antara harus bergembira atau bersedih. Malah saya si penonton ini yang ber-negative thinking, semua orang sedunia yang dilanda euforia seperti sedang merayakan kematian Harry. Cuma Grace -dan saya tentunya- yang merasa kehilangan Harry #Elah, pelem doang. Don’t take it seriously.

Well, sebagai penonton, saya sadar pada akhirnya harus rela jika Harry meninggal. Saya harus siap merasa sedih. Ya gimana, sutradara maunya begitu. Ya, dari film Armageddon ini, saya mendapatkan suatu pemikiran bijak #tsaah. Keberhasilan ada maharnya. Bisa jadi mahar itu adalah rasa kehilangan, bahkan kehilangan yang amat dalam. Jika itu yang terrjadi, mari belajar kepada Grace yang secara elegan merelakan kepergian Harry. Live must go on. Toh Sutradara, dalam hal ini Allah Yang Maha Kuasa, maunya begitu.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: