Revive Risha


Mencari Presiden GANTENG; Prabowo atau Jokowi?

Posted in Kancing Garuda by rishapratiwi on July 3, 2014
Tags: ,

Masa pencoblosan Capres-Cawapres 9 Juli 2014 semakin dekat. Kedua pasang kandidat semakin gencar melakukan upaya-upaya untuk mendulang suara. Ada yang pakai pendekatan terang-terangan; yaitu terang-terangan memaparkan dan mempertajam visi misi, ada pula yang pakai pendekatan gelap-gelapan; yaitu menyebarkan kampanye gelap untuk membunuh karakter kompetitornya. Masyarakat awam yang belum memiliki pilihan mungkin akan mengalami kebingungan dalam menentukan pilihan di tanggal 9 Juli nanti. Padahal seharusnya simpel saja, pilihlah calon presiden yang paling GANTENG.

GAGAH BERANI

Penampilan mungkin bagi sebagian orang tidak penting. Pepatah mengatakan bahwa janganlah menilai buku dari sampulnya. Akan tetapi diakui atau tidak, seringkali para pemilih yang masih galau baru menentukan pilihannya di bilik suara, berdasarkan calon mana yang paling enak dipandang. Di sini saya tidak membandingkan antara capres yang satu dengan capres yang lainnya, karena tim sukses keduanya menciptakan branding masing-masing. Calon yang satu memang dicitrakan sebagai sosok yang gagah dan rapi, sedangkan calon yang satu lagi dicitrakan ndeso, sederhana, dan merakyat. Jadi tergantung selera Anda. Harapan pribadi saya sih presiden yang terpilih nanti adalah sosok yang dari penampilannya dapat merepresentasikan keindahan surgawi alam nusantara Indonesia, alias enak dipandang.

Gagah juga adalah seberapa ksatria seseorang membela kehormatan  bangsanya. Calon yang satu berasal dari kalangan militer yang juga mewarisi darah ksatria sang ayah yang gugur dalam membela kehormatan bangsa di pertempuran Lengkong. Dari rekam jejak masa lalunya, calon yang ini terbiasa terjaga demi melindungi tanah air Indonesia di saat masyarakat biasa pulas dalam tidurnya. Mereka terbiasa menerabas kegelapan hutan di saat masyarakat biasa menikmati kemerdekaan dengan tenang. Adapun calon yang satu lagi terkenal sering blusukan dan dengan gagah tak segan-segan menginspeksi aparat yang kerjanya tidak benar.

AMANAH

Capres yang satu, namanya militer, patuh dalam menjalankan perintah sang atasan, meskipun pada akhirnya sosok ini menjadi pihak yang disalahkan hingga karir militernya yang gilang gemilang harus hancur lebur. Calon yang satu lagi, kita dapat menilai sendiri bagaimana cara beliau menjalankan amanah sebagai walikota dan gubernur. Oh ya, publik juga dengan jelas dapat mengetahui bahwa calon yang satu ini begitu patuh dalam mengemban mandat ketua partai.  

NASIONALIS

Orang dapat memiliki parameter tersendiri mengenai nasionalis. Ada yang mengatakan bahwa nasionalis itu dapat diukur dari mencintai dan membeli produk dalam negeri, menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar, ataupun bangga memakai identitas yang Indonesia banget, seperti batik dan peci. Dalam hal ini definisi nasionalis dari sejarawan Taufik Abdullah dapat menjadi tolak ukur yang bagus. Parameter nasionalisme versi beliau adalah termaktub dalam Pembukaan UUD 1945 alinea ke-4 yang berbunyi “kemudian daripada itu untuk membentuk suatu Pemerintah Negara Indonesia yang melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia dan untuk memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut melaksanakan ketertiban dunia  yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi, dan keadilan sosial”. Ya, manusia Indonesia yang nasionalis adalah yang melakukan tindakan MELINDUNGI segenap bangsa Indonesia, dan seterusnya sesuai alinea tersebut.

Calon yang satu terlahir dan dibesarkan oleh dalam tradisi tokoh-tokoh nasionalis, menolak kapitalisme dan liberalisme, serta menginginkan kebangkitan baru Indonesia menuju peradaban madani; Indonesia yang bermartabat, adil makmur, dan sejahtera. Meskipun sosok ini cukup lama mengenyam pendidikan di luar negeri, akan tetapi tidak mengurangi kecintaannya terhadap Indonesia.

Calon yang satu lagi merupakan “produk lokal” Indonesia, lahir di Indonesia, besar dan dididik oleh sistem di Indonesia. Sosok yang  konon dicitrakan prorakyat ini diklaim telah berjasa dalam mewujudkan kesejahteraan rakyat melalui program-programnya di kota dan provinsi yang pernah dipimpinnya. 

TERBAIK

Prestasi kedua calon memang tidak dapat dibandingkan karena memiliki bidang yang berbeda, yang satu di militer, yang satu di birokrasi. Untuk menilai prestasi masing-masing calon, lihatlah dari seberapa hebat pencapaiannya dalam bidang masing-masing.

Calon yang satu merupakan bintang di bidang militer. Ia memimpin tim Kopasus yang menjadi tim pertama dari Indonesia yang berhasil mencapai Mount Everest, mendahului tim Malaysia yang saat itu juga tengah mendaki. Ia juga terlibat dalam keberhasilan meringkus pimpinan pemberontakan Fratelin dan membebaskan peneliti asing yang disandera di Mapenduma, di saat pasukan yang lain tidak berhasil melakukannya. Ia juga mendapat berbagai penghargaan dari TNI Angkatan Darat RI, di antaranya Bintang Kartika Eka Paksi Nararya, Bintang Yudha Dharma Nararya, Satyalancana Seroja Ulangan-III, Satyalancana Dwija Sistha, Satyalancana Wira karya, Satyalancana Raksaka Dharma, Satyalancana Kesetiaan XVI, serta penghargaan dari Pemerintah Kamboja, yaitu The First Class The Padlin Medal Ops Honor.

Calon yang satu lagi, dari berbagai penghargaan yang diraihnya, mahkota “walikota terbaik dunia” yang paling menonjol. Namun belakangan baru terungkap bahwa situs worldmayor.com sebagai pemberi mahkota diragukan kredibilitasnya. Proses pemilihan kandidat didasarkan pada usulan yang kemudian penentuan pemenangnya melalui akumulasi dukungan dari akun terbanyak yang masuk, mirip dengan sistem polling SMS ajang pencarian bakat di Indonesia. Dapat kita lihat bahwa prestasi sesungguhnya adalah keberhasilannya dan tim untuk mengerahkan dukungan agar memenangkan penghargaan tersebut.

 ELEGAN

Bagi kebanyakan masyarakat Indonesia yang senang beramah-tamah, berbicara to the point dalam waktu yang relatif singkat adalah bukan hal yang mudah. Oleh karena itu, konten yang diungkapkan seseorang jika mendapat kesempatan berbicara secara spontan dalam waktu yang singkat dapat menjadi gambaran siapa dirinya sesungguhnya dan apa yang menjadi prioritas dalam hidupnya.  Pidato spontan dalam waktu 3 menit tidak dapat mengakomodasi pencitraan. Telah banyak tulisan yang mengulas perbedaan gestur dan konten pidato 3 menit kedua capres ini.

Capres yang satu memilih untuk memberikan apresiasi dengan menyebut berbagai pihak, termasuk kepada kompetitor, serta tidak lupa untuk memberikan kesempatan kepada wakilnya untuk turut berbicara. Sedangkan capres yang satu lagi memilih untuk menyapa para senior, membicarakan filosofi keseimbangan angka 2, yang diakhiri dengan meminta dukungan untuk memilih dirinya.

NGERTI MEMIMPIN

Kedua capres yang maju pada umumnya memiliki pengalaman kepemimpinan, meskipun dalam bidang yang berbeda. Calon yang satu merupakan komandan KOPASUS, pasukan elit yang disegani dunia, serta presiden dari beberapa perusahaan. Selain itu ia merupakan salah satu pimpinan partai, yang meskipun relatif baru berdiri tetapi telah menyedot banyak suara. Yang seringkali menjadi ganjalan adalah bahwa kepemimpinan calon yang satu ini belum terbukti di dalam rumah tangga. Tentu kita sebagai orang luar tidak dapat menghakimi bahwa sosok ini bukan kepala rumah tangga yang baik. Perlu dilihat dulu alasan beliau bercerai, hubungan silaturrahimnya dengan mantan istri, serta kondisi anaknya pascaperceraian. Jika alasan bercerai karena sang suami selingkuh, kemudian menimbulkan dendam kesumat antara dua keluarga besar, dan menghasilkan anak yang kurang kasih sayang sehingga melarikan diri pada lembah hitam, boleh lah ya kita bilang itu pemimpin rumah tangga yang gagal total.

Capres yang satu lagi memiliki kehidupan rumah tangga yang dapat dibilang sukses menurut kacamata umum, hubungan yang harmonis dengan istri, dan anak-anak yang tumbuh berkembang dan berprestasi. Lebih dari itu, dalam lingkup wilayah yang pernah dipimpinnya, capres yang satu ini dinilai berhasil menyejahterakan kota dan provinsi yang dipimpinnya. Meskipun belakang ini beredar kampanye negatif bahwa sesungguhnya keberhasilan tersebut adalah palsu. Yaa, kita yang rakyat awam ini tidak tahu mana yang benar. Yang jelas, ada data yang berbicara.

GAK MALU-MALU

Nah, untuk kriteria yang satu ini sebenarnya tergantung selera pribadi. Calon yang satu gak malu-malu menunjukkan ke depan publik keinginannya menjadi presiden. Ia telah mempublikasikan dirinya sejak jauh-jauh hari sebelum masa pencalonan presiden. Sementara calon yang satu lagi terkesan malu-malu. Dulu ditanya tentang kemungkinan pencapresan selalu menjawab “ramikir copras capres”. Eh ternyata sekarang nyalon juga. 

 

http://politik.kompasiana.com/2014/07/02/prabowo-paling-banyak-uang-jokowi-paling-banyak-utang-671090.html

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: