Revive Risha


Pacaran Jarak Jauh

Posted in Cermin Diri by rishapratiwi on September 18, 2014

Tidak terasa sudah memasuki pekan keempat saya tinggal di Bandung sendiri, mencari setitik ilmu. Suami, nun jauh di Cileungsi sana sedang berjuang untuk membawa pulang sekeranjang berlian. Yah, sebenarnya dibilang nggak kerasa, kerasa bangeeeet. Gak tiap hari ada yang gendong, gak tiap hari ada yang nyeret mandi, gak tiap hari ada yang merengek kelaparan. Dipikir-pikir kok mau ya menjalani hubungan pernikahan jarak jauh gini. Hahahahay. Ini karena falsafah hidup yang kami gigit erat dengan gigi geraham kami, sebaik-baiknya penjaga adalah Allah subhanahu wa ta’ala #berasa tetiba pakai sorban.

Menjalani pernikahan dengan pertemuan hanya di akhir pakan, rasa-rasanya seperti pacaran. Diapelin pas malam Minggu. Cuma bedanya, kalau orang pacaran malam mingguan nonton ke bioskop, yang udah nikah nontonnya di laptop. Males jalan saaay, angkotnya suka nggak ada kalau udah malem. Kalau orang pacaran makan ditraktir cowok, yang udah nikah makan dibayarin istri. Itu kan duit dari gaji gue saaaay, kok kamu mengklaim sih, demikian jerit dalam hati sang suami. Kalau orang pacaran betah di jalan berlama-lama, yang udah nikah pengen buru-buru pulang. Setelah menikah, rumah lah yang menjadi tempat terindah. Hihihi..

Menjalani pernikahan dengan pertemuan hanya di akhir pekan, rasa-rasanya butuh kerelaan untuk mandiri.

Saaay, cucian udah numpuk nih. Bawa aja ke laundry.

Saaay, aku mual nih pengen muntah. Ya udah muntah aja, ntar kalau aku datang kita jajan bakso.

Saaay, angkotnya ngetem nih. Turun aja say, jalan kaki biar sehat.

Hihihi…

Menjalani pernikahan dengan pertemuan hanya di akhir pekan, rasa-rasanya setiap momen menjadi berkali-kali lipat lebih berbunga, lebih berwarna, lebih beraroma. Meskipun ya nggak gitu-gitu amat seeeh.

Saaaay, banguuun. Katanya mau jalan-jalan. Bobo mulu iiiih.

Saaaay, kok kamu jelek, mandi sana.

Saaay, kok bau?? Kentut ya? #Tatapan tajam memvonis.

Hihihi…

Bagi kami yang sedang bersemangat menikmati keindahan cinta setelah pernikahan, pertemuan hanya di akhir pekan mungkin adalah latihan.

Agar cinta kami yang begitu dalam, tidak malah jadi membuat tenggelam. Bahwa cinta kepada suami atau istri, tidaklah layak ditempatkan di atas cinta Ilahi.

Agar kami yang begitu saling peduli, tidak malah jadi membuat saling memenjarai. Bahwa di luar urusan rumah tangga ini, masih begitu banyak urusan ummat ini.

#Catatan Hati Seorang Istri (yang katanya centil sekali)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: