Revive Risha


Uji Efikasi Fungi Beauveria Bassiana (Balsamo) dan Paecilomyces Sp. terhadap Hama Kubis Plutella Xylostella Linn. (Lepidoptera: Plutellidae) di Laboratorium

Posted in Biologi by rishapratiwi on May 15, 2013
Tags: , , ,

SIDANG HASIL PENELITIAN TUGAS AKHIR

PROGRAM STUDI SARJANA BIOLOGI-SITH ITB

Semester I 2012/2013 (Wisuda I-Oktober 2012)

 

Nama/NIM     : Risha Amilia Pratiwi/10608069

Pembimbing   : Dr. Agus Dana Permana

Skripsi            : Uji Efikasi Fungi Beauveria Bassiana (Balsamo) dan Paecilomyces Sp. terhadap Hama Kubis Plutella Xylostella Linn. (Lepidoptera: Plutellidae) di Laboratorium

ABSTRAK

Kehilangan hasil panen tanaman kubis Brassica oleacrea akibat Plutella xylostella dapat mencapai 90%. Strategi pengendalian hama berbasis pestisida belum dapat mengatasi serangan hama tersebut, bahkan dapat menimbulkan kerugian terutama terjadinya resistensi hama terhadap insektisida. Fungi entomopatogen Beauveria bassiana dan Paecilomyces sp. diharapkan dapat menjadi agen hayati yang mengendalikan hama secara biologis. Tujuan penelitian adalah untuk membandingkan efektivitas fungi entomopatogen B. bassiana dan Paecilomyces  sp. dalam mengendalikan P. xylostella. Penelitian dilakukan di Laboratorium Mikrobiologi Pusat Antar-Universitas ITB dan Laboratorium Entomologi SITH ITB. Uji hayati dilakukan dengan cara menyemprot tubuh larva instar III Plutella xylostella secara langsung dengan suspensi konidia B. bassiana dan Paecilomyces sp. Konsentrasi konidia B. bassiana (konidia/ml) yang digunakan dalam uji hayati yaitu: 7,585×107, 7,585×106, 7,585×105, dan 7,585×104., sedangkan konsentrasi Paecilomyces sp. (konidia/ml) adalah 3,743×107, 3,743×106, 3,743×105, dan 3,743×104. Sebagai kontrol digunakan larutan Tween 80 0,01%.  Hasil penelitian menunjukkan bahwa 72 jam setelah aplikasi, rata-rata mortalitas tertinggi (84,44%) terjadi pada larva P. xylostella yang mendapatkan perlakuan Paecilomyces sp. dengan konsentrasi 3,743 x107 konidia/ml. Secara statistik, mortalitas ini tidak berbeda nyata dengan perlakuan B. bassiana dengan konsentrasi 7,585×107 konidia/ml. Dari hasil analisis probit diketahui bahwa LC50 B. bassiana dan Paecilomyces sp terhadap P. xylostella berturut-turut: 3,263×105 konidia/ml dan 8,837×104 konidia/ml. LC90 B. bassiana dan Paecilomyces sp. terhadap P. xylostella adalah: 1,442×109 konidia/ml dan 2,784×107 konidia/ml. LT50 B. bassiana terhadap P. xylostella adalah 39,85 jam dan 44,08 jam untuk Paecilomyces sp., sedangkan LT90 B. bassiana dan Paecilomyces sp. terhadap P. xylostella  adalah 158,36 jam dan 138,29 jam. Dari hasil pengujian ini dapat disimpulkan terdapat Paecilomyces sp. dengan konsentrasi yang lebih rendah daripada konsentrasi B. bassiana dapat menyebabkan kematian P. xylolstella lebih cepat dari B. bassiana. Kedua entomopatogen ini memiliki potensi untuk digunakan sebagai agen insektisida mikroba.

Kata kunci : Beauveria bassiana, Brassica oleraceae, Paecilomyces sp., Plutella xylostella

Akhirnyaaaa, setelah sekian lama ngepost abstrak skripsi jugaaa #Yihaaa

Advertisements

Resistansi

Posted in Biologi by rishapratiwi on October 1, 2012
Tags: , ,

Ternyata mikoinsektisida (insektisida berbasis spora fungi entomopatogen) dapat menimbulkan resistansi juga pada serangga. Apabila populasi serangga mendapatkan perlakuan mikoinsektisida di bawah konsentrasi letal (konsentrasi yang tidak mematikan), populasi tersebut akan bertahan hidup dan mengembangkan mekanisme resistansi.

Seperti ini ilustrasi mekanismenya:

Aplikasi insektisida (misalnya melalui penyemprotan) pada konsentrasi yang rendah dapat menyebabkan kematian pada sejumlah serangga, tetapi bisa saja tidak menimbulkan kematian pada sejumlah serangga lainnya yang lebih kuat. Serangga yang lebih kuat ini bertahan hidup dan bereproduksi sehingga menghasilkan keturunan yang kuat juga. Dengan demikian penyemprotan pestisida di kemudian hari menjadi tidak efektif karena populasi serangga yang bertahan hidup semakin banyak.

Sumber gambar: grapes.msu.edu

.

Ya ya ya, sedikit paham dengan sandungan-sandungan yang telah dilalui. Anggap saja sedang menjadi serangga yang mendapatkan aplikasi insektisida di bawah konsentrasi letal. Suatu saat, YA, suatu saat.. resistansi terhadap perkara hidup yang lebih besar bisa saja terbangun.

Sumber gambar: http://www.asktheexterminator.com/Pesticide/Pesticide_Resistance.shtml

Gekkophoria

Posted in Biologi by rishapratiwi on January 10, 2012
Tags: , , , ,

Bismillahirrahmaanirrahiim

“dari Geckophobia ke Geckophoria

Terlahir sebagai subordo Sauria, famili Gekkonidae memiliki penampakan yang nyentrik. Struktur kulit bergranula alias berbintil, pupil vertikal (kecuali ada beberapa genus yang memiliki pupil bulat), jari berlamella, dan memiliki kemampuan hebat dalam meregenerasi ekor yang putus.

Sejak zaman batu sampai zaman perunggu, dan sampai kini zaman blackbaru (?), Saya menderita Gekkophobia akut. Mau gekko besar, mau gekko mini, sama-sama horror bagi saya. Entah jijik atau ngeri, rasanya sulit membedakan kedua hal itu. Tersiksa juga sih punya perasaan seperti ini. Sampai akhirnya, berdasarkan saran dari seseorang, saya memutuskan untuk menangkap si gekko besar yang bermukim. Lebih tepatnya menonton adik, sepupu-sepupu, dan paman yang menangkap sih.

Apakah mereka berhasil menangkap gekko? Apakah saya berhasil sembuh dari gekkophobia? Anda penasaran?? Saksikan dalam episode selanjutnya!!!

Entah bagaimana kelanjutan cerita itu, saya tidak tahu dan tidak mau tahu karena begitu mendengar jeritan gekko saya tidak tega dan segera kabur ke rumah nenek.

Ibu sering bilang, “Ica sama tokek gedean mana sih?” Yaah, masalahnya bukan terletak pada perbandingan morfometri kami berdua, pertanyaan yang lebih tepat sih, “Ica sama tokek nyalinya gedean siapa?????”. Tokek aja berani gigit manusia, masa manusia nggak berani gigit tokek!! Hiiyyyy…

Saya berani pegang ular hidup-hidup lho! Saya juga berani handling mencit hidup (dengan keringat, air mata, dan darah yang menetes-tetes di balik jas lab tentunya), saya bahkan berani membedah mencit, cavia, tikus, dan katak. Tapi saya tidak berani bertatapan muka dengan yang namanya gekko.

Kenapa ya? Kalau tokek, mungkin karena ukuran kepala relatif besar terhadap ukuran badan sehingga proporsinya terlihat aneh dan mengerikan, juga kulitnya yang berbintil-bintil dan terlihat rawan. Atau seringainya yang tajam, atau sorot matanya yang kejam. Plis, plis, jangan dibayangkan!! Kalau cicak, kenapa ya? Justru makhluk yang satu itu seharusnya tampak lucu. Dia mungil, lincah, dan belum bisa bicara (emangnya bayi). Mungkin karena warna kulitnya menyerupai warna kulit manusia, lho apa hubungannya? Memang tak ada hubungannya, dan tak ada alasan rasional yang mendukung rasa takut berlebihan ini.

Nah, tanggal 14 Oktober 2009, seperti biasa ada praktikum biosistematik. Kali ini materinya tentang pisces, reptile, dan amfibi. Oke, mari kita ajukan pertanyaan. Kira-kira siapakah delegasi keluarga Gekkonidae? Tentu saja makhluk merayap yang mudah ditangkap, dan jinak. Saya belum siap, saya belum siap, saya belum siap T_T

Kabar buruk, di awal praktikum terdengar beberapa jeritan kecil para wanita yang malu tapi mau mengamati Rana dan Bufo. Si Rana dan Bufo rupanya centil dan cukup atraktif, mereka tidak puas jika hanya berada dalam kantong kresek hitam. Pengen eksislah, jadi mereka meloncat-loncat keluar.
Kabar baiknya, kelompok saya mendapatkan baki berisi sampel-sampel hewan yang harus diidentifikasi, tanpa keluarga gekko. Yeah!!

Selesailah sudah cerita tentang praktikum biosistematik. Selamat menyaksikan acara selanjutnya.
Ya, masih bersama Risha Amilia Pratiwi dalam siaran ulang ujian praktikum biosistematika sistem ketok.
Hari itu, Rabu 21 Oktober 2009, SUNGGUH TIDAK TERBAYANG DAN TIDAK MAU MEMBAYANGKAN SEBELUMNYA KALAU SAYA HARUS BERTEMU LAGI DENGAN PARA GEKKO. Dan kondisinya sekarang lebih mencekam daripada waktu praktikum. Saya harus menghadapi dia seorang diri, dengan tangan gemetar menggenggam pulpen dan lembar jawaban.

Sepertinya itu adalah kursi paling panas yang pernah saya duduki. Dari kursi itu saya harus menjawab ketakutan paling berat dalam hidup ini. Amati ketiga reptil ini dan jelaskan karakteristik yang membedakan ketiganya! Begitu kira-kira isi soalnya. Ada awetan Agamidae (bunglon) dengan gular sac, ada Scincidae (kadal) dengan sisik halus dan pupil mata bulat, dan ada Gekkonidae dengan… dengan apa? Haduh, saya lupa. Apa karakteristik hewan itu? Ayo ingat-ingat, atau kamu harus memelototinya!! Huaaa, saya benar-benar lupa!

Atuuuh, mau nggak mau si gekko dipandangi juga. Tubuh kakunya, jemari kokohnya, rahang kuatnya, bintil-bintil eksotiknya, dan seringai mulutnya yang disumpal kapas putih. Rasanya waktu berjalan merayap dan tersendat. Sumpe deh, pengen lari saat itu juga. gak peduli ujian sedang berlangsung. Ayolah kakak asisten, segera ketok bak cucinya biar saya segera pindah kursi!

Untung cuma harus memelototi, bukan menimang dan membedahnya. Tapi tetep we geuleuh!!
Branggg!!! Huff, akhirnya pindah kursi. Bye-bye, cantik!

Di meja berikutnya, berselang beberapa nomor dari meja reptile, tergeletak pasrah seekor mini gekko. Tubuhnya yang sudah diawetkan tampak begitu lucu dan menggemaskan. Apakah, apakah saya harus berperang lagi? O-oww, asisten yang baik rupanya telah menyediakan senjata untuk saya. Jangka sorong!! Pertanda apa ini?

Berapa TL (tail length) dan SVL (snout-vent length) makhluk ini? Berapa?? Berapa?? Jawablah, wahai cicak yang tergolek tidak berdaya!! Jawab!!! Biar saya tidak perlu menyentuh dan menyakiti kamu!!!!! Namun cicak yang malang itu diam membisu. Mungkin dia sedang tidak enak badan. Akhirnya, dengan kekuatan penuh dan kemampuan akting yang luar biasa, saya pura-pura.. ya pura-pura, mengukur panjang ekornya. Namun cahaya ilmu tiba-tiba bersinar dari balik tubuh cicak itu. Apa yang akan kau dapat dari kepura-puraan ini??? Kapan lagi ada kesempatan untuk menaklukan ketakutan ini??? Satu nomor ini, kamu harus bisa menjawabnya dengan benar!! Atau seumur hidup kamu akan dibayang-bayangi ketakutanmu!!!

Bismillah, satu ujung jangka sorong mulai menyentuh lubang hidung cicak itu, ujung satu lagi menyentuh pangkal ekor. Pandangan saya nanar saat membaca skala jangka sorongnya. Tak percaya, saya berhasil!!! Saatnya untuk mengukur panjang ekor. Oh tidak, ekornya membentuk sudut siku-siku. Apakah untuk mengukurnya saya harus meluruskan ekor dulu? (ekor cicak maksudnya, bukan ekor saya). Halah, nggak usah. Dikira-kira saja. Sip.. akhirnya selesai juga! dan bunyi “gomprang” bak cuci yang dipukul asisten, pertanda pindah meja, menyadarkan saya. Betapa-saya-menikmati-momen-ini. Betapa-saya-menikmati-momen-ini. Betapa-saya-menikmati-momen-ini, di saat saya maju dan berusaha menjadi pahlawan atas diri saya sendiri.

 

Ah lebai.

SELESAI.

Lihatlah Anak-anak Kita Bermetamorfosis Sempurna!!

Posted in Biologi by rishapratiwi on July 20, 2010
Tags: , ,

Drosophila melanogaster nama Latinnya, dikenal dalam nama lokal sebagai lalat buah. Hewan ini bisa dijadikan sebagai alternatif hewan peliharaan. Jika Anda memelihara kucing, kelinci, burung, atau marmut… itu mah biasa. memelihara Drosophila melanogaster, ini luarrr biasa..

Tanggal 7 September 2009, para mahasiswa Biologi ITB angkatan 2008 mendapat oleh-oleh dari laboratorium genetika, berupa seperangkat alat-alat: botol kultur dengan sumbat busa, botol kosong, cawan Petri, kuas, busa, dan botol berpipet untuk wadah eter. Maklum baru pertama mendapat amanah barang-barang pecah belah, kami sangat berhati-hati menjaganya supaya selamat sampai kosan.

Mau tahu isi botol kultur itu? Isinya pisang ambon lumut yang diberi ragi, sejauh ini harumnya masih sesegar pisang. Keesokan harinya di atas medium pisang muncul lapisan kapas berwarna abu-abu kecokelatan yang menyerupai koloni jamur. Sempat khawatir sih “kandang bayi”-nya terkontaminasi jamur, tetapi ternyata lapisan tersebut merupakan hasil fermentasi dari ragi.

Saya agak khawatir, jika menangkap lalat buah sekarang tidak keurus dan kasihan pula kalau mereka ikut pulang kampung, khawatir mati sebelum mereka sempat mendedikasikan diri untuk ilmu pengetahuan. Akhirnya diputuskan untuk menangkap lalat buah di kampung saja, siapa tahu lalat buah di kampung dagingnya lebih pejal ( emangnya ayam kampung).

Pada tanggal 13 September 2009 pukul 11:41 WIB, dua puluh ekor lalat buah ditangkap. Tentu saja saya tidak menangkapnya sendirian.  Saya bersinergi dengan Nenek menjebak lalat buah dengan menggunakan umpan pepaya. Kegiatan ini cukup menegangkan tapi menyenangkan. Dua perempuan beda generasi bersiasat menaklukkan lalat-lalat kecil yang lincah.

Wuooo, saya punya amanah baru nih! Memastikan lalat-lalat parental kawin dan bertelur, merawat anak-anaknya, kemudian melepaskan generasi pertama. Secara singkat, metamorfosis sempurna lalat buah harus melewati fase telur –> larva instar I –>  larva instar II –> larva instar III –> prepupa –>pupa –> imago.

Inilah euforia Drosophila melanogaster rupanya. Saya simpan kultur lalat buah itu di atas lemari di kamar. Saya pandangi setiap saat, saya putar-putar botolnya (berharap segera menemukan telur), saya buka tutupnya dan menghirup segar aroma pisang busuknya (hoeeekk..), saya pamerkan Drosophila saya di facebook, saya perlihatkan botol kultur pada seisi rumah dan meminta mereka turut menjaganya. Saya benar-benar mempersiapkan diri menyambut kelahiran generasi baru pahlawan ilmu pengetahuan.

Pada tanggal 14 September 2009, di atas kertas saring di dalam medium muncul titik-titik yang dicurigai sebagai telur. Tidak yakin, soalnya mirip serat-serat kertas gitu lah. Jadi diputuskan untuk menunggu sampai hari berikutnya untuk mengidentifikasi, apakah benar itu telur atau bukan?

Saya gelisah, khawatir Drosophila-nya mogok bertelur. Tapi saya tetap berharap semoga lalat-lalat betina yang cantik itu menyimpan banyak sperma dalam spermatekanya. Sambil menikmati masa-masa penantian, saya setia mengamati botolnya dan berkonsultasi dengan kawan-kawan peternak yang lain. Jadi berpikir, kegelisahaan perempuan yang tak kunjung dikaruniai anak barangkali lebih menyiksa daripada ini.

Setelah diamati lagi, abdomen lalat buah betina sudah membuncit. Iiihhh… gemezzz, pokoke cuantik tenan. Seperti ibu hamil, auranya memancar sampai membuat orang yang melihat jatuh cinta. Tanggal 15 September 2009, titik-titik yang dicurigai telur sudah berubah, ini rupanya yang dinamakan larva instar I. Ciri-cirinya sesuai dengan referensi, yaitu berukuran sekitar 1 mm, berwarna putih dan mulai aktif bergerak pada dinding botol.

Larva instar I berubah menjadi larva instar II (pengamatan tanggal 16 September 2009). Ciri-cirinya yaitu berwarna putih, berukuran panjang 2 mm dan diameter 0,5 mm, terdapat segmentasi pada tubuh, memiliki spirakel anterior, dan aktif bergerak.

Larva instar III teramati pada tanggal 17 September 2009. Ciri-cirinya adalah tubuh berwarna kekuningan, berukuran panjang 4 mm dan diameter 1 mm, terdapat spirakel anterior, tubuh terlihat bersegmen, dan di ujung posterior ada tonjolan.

Bayangkan, kalian mempunyai banyak larva yang bergerak merayap di dinding botol kaca!! Itu adalah tarian terindah yang pernah saya lihat. Perhatikanlah tubuh-tubuh mungil itu bergerak mendekati sumbat busa (bagian yang kering). Lihatlah mereka menggeliat-geliat masuk ke celah sumbat busa. Tidakkah mereka mengobrol satu sama lain?

Larva-larva tumbuh semakin lincah, bahkan kini sudah bisa merangkak. Jadi sering mendengar pertanyaan, “apa kabar lalatmu, Buuu?”

Setelah kemunculan larva instar III, lapisan hasil fermentasi yang menyerupai kapas menjadi hilang, medium yang awalnya berwarna kuning kecokelatan (warna alami pisang) berubah bagian atasnya menjadi cokelat kehitaman dan di bagian dasarnya terlihat ada bagian yang berwarna oranye. Kadar mediumnya pun menyusut. Selain itu, tampak saluran-saluran dalam medium yang merupakan hasil penggalian larva.

Prepupa teramati sekitar 13 jam kemudian (tanggal 18 September 2009). Tubuhnya memendek, berwarna putih dengan spirakel yang membalik. Bentuknya seperti butir-butir beras, hanya lebih kecil. Prepupa itu rupanya pendiam, mereka anteng tidak bergerak meskipun sudah digelitiki. Ya, prepupa sudah seharusnya diam karena Allah memang menyuruhnya diam. Coba bayangkan jika mereka  membangkang, akankah fase berikutnya bisa dilalui?

Prepupa mulai menjadi pupa, teramati 6 jam kemudian. Pupa ini tubuhnya mengeras berwarna cokelat muda, tidak bergerak, memiliki dua “tanduk” di bagian kepala, dan segmentasi tubuh terlihat sangat jelas. Lama-lama bagian tubuh pupa berubah menjadi cokelat tua. Pupa tidak hanya menempel di kaca botol media, banyak yang masuk ke dalam pori-pori sumbat busa, menumpuk di atas kertas saring, dan ada yang masuk ke dalam medium.

Kalau dilihat dari sudut pandang orang yang tidak sedang jatuh cinta, sejujurnya pupa-pupa itu sangat menjijikan. Sudah seperti ratusan belatung saja mereka. Berkoloni nemplok-nemplok di kertas saring. Cokelat-cokelat seperti wijen. Apalagi medium pisang yang semakin busuk, menguar aroma asem-asem sengak gitu. Tapi jika kalian mengikuti prosesnya dari awal, yang akan kalian lihat adalah keindahan! Mereka sudah sejauh ini, sudah mencapai pupa. Yang membuatnya indah adalah kesabaran penantian, ketidakmengeluhan, keingintahuan, dan tentu saja karena saya menikmati keberadaan mereka.

Nah, setelah teramati adanya pupa yang muncul, lalat-lalat parental dikeluarkan dari botol medium tanggal 18 September 2009. Saat dikeluarkan, jumlah lalat-lalat parental tinggal sekitar 10 ekor. Ternyata banyak lalat yang mati. Selamat jalan! Percayakanlah anak-anak kalian padaku..

Dari pupa menjadi imago ternyata butuh waktu yang cukup lama. Sedang apa ya anak-anak itu dalam pupa mereka? Mungkin mereka sedang bersemedi, merenung untuk mempersiapkan strategi fase kehidupan selanjutnya.

Semakin lama rasanya semakin tumbuh rasa sayang pada mereka. Rasanya selalu ingin bersama mereka, menjaga mereka, memastikan perkembangannya berlangsung normal, menjamin makanan dan tempat tinggal mereka. Bukan hanya kewajiban terhadap penelitian genetika! Apakah setipe perasaan yang dirasakan Ayah Bunda kita? Yang selalu ingin menyayangi tanpa tendensi, memberi tanpa meminta ganti. Masya Allah, perasaan Ayah Bunda kita jauh jauh jauuuuuuuuuuuuh lebih dahsyat daripada ini!!

Pupa-pupa rupanya masih asyik bersemedi. Ayolah segera bangun! Apakah kalian takut dunia ini akan berlaku kejam sehingga kalian merasa lebih aman tinggal dalam pupa?

Pada pengamatan tanggal 21 September 2009, alhamdulillah pupa sudah berubah menjadi imago. Lalat yang muncul bertubuh relatif lebih kecil dibandingkan ukuran parentalnya, panjang sekitar 2 mm. Lalat-lalat itu bertubuh pucat dan belum mampu terbang karena sayapnya masih terlipat. Akan tetapi lalat tersebut terlihat sangat aktif berjalan. Mungkin kalau bayi masih merah kali ya.

Senang rasanya menjadi saksi metamorfosis sempurna Drosophila melanogaster. Fantastik!!

Allah, si kecil lalat buah ternyata juga harus melalui serangkaian proses untuk mencapai maturasinya. Delapan hari, delapan hari yang mereka butuhkan untuk memutar siklus hidupnya (tergantung pada banyak faktor, seperti suhu, kepadatan medium, kepadatan populasi, dan ketersediaan makanan). Relatif singkat ya? Bila dibandingkan dengan siklus hidup kita. Mereka begitu patuh, tanpa keluh, melewati setiap fase yang Engkau tetapkan.

Memelihara lalat, hanya menjadi pekerjaan bodoh jika dilakukan hanya untuk mendapat nilai praktikum. Mana warna yang hendak kau nikmati keindahannya? Perhatikanlah, dengarkan apa hikmah yang hendak mereka sampaikan pada manusia? Mungkin berupa request jundi terhadap khalifahnya.
Pada pengamatan 6 jam kemudian, lalat sudah bisa terbang. Finally, mereka sukses menyambung kelangsungan hidup spesiesnya.

***

Yaah, kisah ini nyaris berakhir dengan indah ketika sebelas menit menjelang pukul sebelas, tanggal 25 September 2009, terjadi kecelakaan yang mengubah segalanya.
Begini ceritanya, pagi itu saya memutuskan untuk membawa lalat-lalat itu jalan-jalan naik motor. silaturrahim ke rumah teman-teman.

Sampailah di rumah seorang teman. Saat mau mengambil sesuatu dari tas, dari tas yang terbuka, terbanglah segerombolan makhluk cute yang sangat saya kenal. Sesaat sempat tertegun sampai akhirnya menyadari bahwa lalat buahku LEPASSSSSS… Setelah dicek, ternyata ada tangan-tangan gaib yang membuka sumbat busanya, mungkin botol itu terguncang-guncang saat dalam perjalanan. Mungkin lalat-lalat itu bersatupadu mendobrak sumbat seperti yang dilakukan Nemo dan ikan-ikan yang terjerat jaring nelayan.

Sedih sekali, sedih rasanya kehilangan kesempatan… kesempatan mengucapkan selamat jalan buat mereka dan melihat mereka mengisyaratkan salam perpisahan…

Padahal sebenarnya toh nanti juga mereka akan dilepas, tapi ya itu tadi. Tidak sempat mengadakan farewell party dengan mereka. hikkssss…

Untung saja kelompok lalat buah ini belum mendapat perlakuan khusus. Bayangkan jika gen-gen mereka sudah direkayasa dan mereka terbang bebas ke sana ke mari.

Adapun lalat-lalat yang kurang beruntung, kurang gesit, mereka masih merangkak-rangkak di dinding botol. Ah kasihan, rupanya kalian adalah golongan yang tertinggal dan tak terbebaskan…

Osmosis

Posted in Biologi by rishapratiwi on July 20, 2010
Tags: , ,

…Tiada sehelai daun pun yang gugur melainkan Allah mengetahuinya. Tidak jatuh sebutir biji pun dalam kegelapan bumi melainkan tertulis dalam Lauhil Mahfudz..
Maka apakah kata “kebetulan” masih berlaku?

Seminar Nasional Al-Quran dan Sains (SNQS)
LDK Al-Hurriyyah Institut Pertanian Bogor
Bogor, 28 Februari 2010

“Maka terangkanlah kepadaku tentang air yang kamu minum.
Kamukah yang menurunkannya dari awan ataukah Kami yang menurunkan?
Kalau Kami kehendaki niscaya Kami jadikan dia asin, maka mengapakah kamu tidak bersyukur?

(Q.S. 56 : 68-70)

Kalau air hujan asin, memangnya kenapa??
Pernah belajar mengenai mekanisme transportasi zat dalam sel? Kalau belum, atau lupa, mari sama-sama belajar kembali, mumpung belum UAS Fisiologi Tumbuhan (lho?).

Suatu fenomena yang familiar di telinga kita : Jika sel diletakkan dalam larutan hipertonik (misalnya larutan garam). Adanya perbedaan konsentrasi zat terlarut menyebabkan pelarut (air) berpindah dari dalam sel ke luar sel, akibatnya tekanan sel terus berkurang.

Pada sel hewan yang tidak memiliki dinding sel, peristiwa osmosis ini menyebabkan terjadinya krenasi atau penyusutan materi sel. Apakah sel yang telah mengalami krenasi masih fungsional??
Bagaimana jika manusia terapung-apung di lautan dalam jangka waktu yang lama? Silakan coba berendamlah dalam bak berisi garam, nanti ceritakan bagaimana kesan pesan Anda 😀

Pada sel tumbuhan, karena terdapat dinding sel yang dapat memperkuat struktur sel, krenasi tidak terjadi. Dampak yang terjadi adalah plasmolisis alias lisis atau lepasnya plasma sel dari dinding sel. Mekanisme serupa terjadi ketika tanaman kekurangan air. Medium tumbuh (tanah) akan memiliki konsentrasi zat terlarut lebih tinggi daripada konsentrasi zat terlarut pada sel tanaman. Akibatnya, air mengalir dari sel tanaman ke luar. Hal tersebut menyebabkan terjadinya plasmolisis. Dapat kita amati, tanaman yang kekurangan air akan layu dan bila kondisi tersebut berlangsung terus menerus, tanaman bisa mati kering.

So, apa yang terjadi jika air di seluruh dunia Allah jadikan asin??

Selaput Ekstraembrio, Implantasi, dan Plasenta

Posted in Biologi by rishapratiwi on July 20, 2010
Tags: , ,

21 April 2010 jam 0:09

Maka Maryam mengandungnya, lalu ia menyisihkan diri dengan kandungannya itu ke tempat yang jauh. Maka rasa sakit akan melahirkan anak memaksa ia (bersandar) pada pangkal pohon kurma, ia berkata: “Aduhai, alangkah baiknya aku mati sebelum ini, dan aku menjadi sesuatu yang tidak berarti, lagi dilupakan”. (Q.S. Maryam : 22-23)

Saya belum pernah melahirkan, tapi saya yakin bahwa melahirkan itu menyakitkan. Apa pasal? Semester ini saya belajar tentang perkembangan hewan. Jadi biarkan saya bercerita, sambil mengenang masa-masa indah UTS II tanggal 13 April 2010 lalu. Meskipun judul tulisan ini sedikit lucu (hah, lucu??), Anda tidak perlu khawatir. Mari kita bicara dengan bahasa manusia.

Anda pernah mendengar istilah “plasenta” bukan? Pada mamalia terdapat modifikasi khusus selaput ekstraembrio (selaput yang terdapat pada embrio) yang dinamakan plasenta, yaitu pertautan antara jaringan embrio dengan jaringan induk/ibu. Untuk membentuk pertautan itu, embrio harus tertanam (terimplantasi) di dalam endometrium (lapisan pada rahim). Kebayang? Nah, plasenta ini memiliki banyak fungsi penting dalam melayani kebutuhan fisiologi janin. Plasenta berperan sebagai paru-paru (respirasi), ginjal (ekskresi), penghantar nutrisi, juga pelindung janin.

Jaringan penyusun plasenta, disebut barrier plasenta, memiliki ketebalan dan susunan komponen yang berbeda-beda. Semakin tipis suatu barrier, pertautan antara janin dengan induk semakin erat. Dampaknya, transport substansi antara janin dengan induk menjadi lebih baik dibandingkan pada barrier yang tebal. Plasenta yang paling tebal tersusun dari 3 lapisan jaringan bagian maternal (pada induk) dan 3 lapisan jaringan pada janin.

Siapkan “pisau dan gunting” Anda,
Mari kita “bedah” plasenta manusia!!!

Seperti yang telah dikemukakan, semakin tipis lapisan barrier, semakin sempurna fungsi plasenta. Pada manusia, plasenta hanya tersusun dari 3 lapisan jaringan pada janin. Tipe  ini merupakan plasenta yang sempurna. Pada plasenta seperti ini, bagian maternal hanya terdiri dari sel-sel darah yang keluar dari pembuluh darah uterus.

Di samping itu, pertautan antara janin dengan induk pada manusia memiliki derajat yang paling tinggi. Penanaman embrio pada uterus manusia termasuk tipe invasif. Embrio terbenam cukup dalam di dalam jaringan ikat maternal. Simpelnya, embrio terkubur pada jaringan ikat uterus (rahim) ibunya. Pertautan yang erat ini akan mengakibatkan jaringan uterus mengelupas saat kelahiran. Bisa bayangin sakitnya ibu kita saat melahirkan?

Dibandingkan dengan manusia, embrio babi dan kuda tidak tertanam dalam pada uterus induknya tetapi kontak antara embrio dengan jaringan ikat induknya hanya terjadi pada permukaan. Saya asumsikan, proses melahirkan pada babi atau kuda tidaklah sesakit proses melahirkan pada manusia.

 

“Dan Kami perintahkan kepada manusia (agar berbuat baik) kepada kedua orangtuanya. Ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam usia dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada kedua orangtuamu. Hanya kepada Aku kembalimu” (Q.S. Lukman : 15).

wallahu a’lam