Revive Risha


Pengumuman Beasiswa

Posted in Catatan Harian by rishapratiwi on October 7, 2013
Tags: , ,

Capture

Advertisements

Energi Positif dari Hati yang Tertolak

Posted in Catatan Harian by rishapratiwi on May 27, 2013
Tags: , ,

Zaman saya SMA, ada satu mata pelajaran yang menurut saya sangat keren tapi teman-teman saya tidak suka, mata pelajaran seni rupa. Saya suka menggambar, saya suka handicraft. Sayangnya, di suatu hari, guru Seni Rupa memberikan tugas yang.. entah kenapa saya merasa putus asa mengerjakannya. Tugasnya membuat gambar timbul dari lempeng alumunium, apa yah namanya, semacam lempeng plat motor gitu lah. Mungkin karena manajemen kekuatan saya belum baik, tekanan yang saya hasilkan terlalu besar. Alhasil, gambar timbulnya bolong-bolong.

Tiba hari pengumpulan. Tugas saya kumpulkan apa adanya. Selembar alumunium, di bagian tengahnya ada gambar Mickey Mouse, bolong-bolong, pinggiran alumuniumnya tidak saya pedulikan sama sekali. Saat pengumpulan, guru saya mengernyitkan kening. Saya sudah merasakan gelagat kurang baik. Biasanya guru saya tersenyum puas saat menerima hasil karya saya. “Kok gini doang? Perbaiki ya, minggu depan dikumpulkan lagi”, tuuuh kaaan, keluar juga akhirnya. Huftttt…

Saat itu saya mendadak merasa aliran darah naik sampai kepala. Mungkin begini yang namanya naik pitam. Kenapa? Saya capek, putus asa, dan sepertinya saya tersinggung. Okeh! Lihat saja, Pak. Bapak tidak akan pernah lagi bilang, “kok gini doang” dan “perbaiki”!

Beberapa hari setelahnya, energi saya benar-benar tercurah untuk masterpiece yang satu itu. Saya begadang sampai dini hari selama beberapa malam. Hasilnya, alhamdulillah jauh lebih bagus dibandingkan karya sebelumnya. Tidak lupa saya juga belikan bingkai kayu yang bercat kuning cerah dan dilapis kaca. Lumayan, kelasnya menjadi naik beberapa derajat. Setidaknya menurut saya, hehe.

Saat pengumpulan. Guru saya kembali mengernyitkan kening. “Nah, gini dong. Jadinya Bapak terpaksa ngasih nilai 100 nih buat kamu, good!”

Satu hal lagi yang membuat “dendam” saya tuntas terbalaskan, Si Mickey Mouse itu sampai sekarang masih bertengger manis di dinding kelas saya, sudah 4 tahun lebih lho padahal. Terukir dengan mantap nama saya, Risha Amilia Pratiwi ^^

***

Teman saya, ditolak oleh salah satu institut teknologi terpandang di Pulau Jawa saat PMDK (Penelusuran Minat dan Kemampuan). Di SNMPTN (Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri), ia memilih institut yang menolaknya (ITYM) itu pada pilihan kedua. Pilihan pertamanya Institut Teknologi Bandung, tidak tanggung-tanggung, ia membidik fakultas dengan kompetisi terketat pada masanya, STEI. Konyolnya, jika lulus di ITYM, ia akan balas menolak menjadi mahasiswa di institut tersebut. Artinya, jika itu terjadi, entah di mana lagi ia akan berkuliah. Beruntungnya, ia berhasil lulus SNMPTN ke ITB dan 4,5 tahun kemudian lulus sebagai Sarjana Teknik ITB dengan predikat cumlaude mepet :p

***

Jadi begitu, Dek. Jika UNDIP telah menolakmu di SNMPTN undangan, tak perlu galaw tak perlu risaw, seloooww saja. Pintu SBMPTN masih terbuka. Meski quotanya terbilang tragissss. Pintu SIMAK UI, Pintu SMUP Unpad, juga masih ada.

Sakit memang namanya ditolak. Tetapi siapa tahu si sakit hati itu yang akan bertransformasi menjadi “dendam positif”, menjadi energi untuk melompat lebih tinggi kayak Sheila on 7.

Hingga di suatu hari nanti bisa jadi kamu ketawa sendiri, “oooh, begini toh rasanya patah hati”  ^^

Mesin Waktu

Posted in Catatan Harian by rishapratiwi on March 21, 2013

Di rumah saya ada “mesin waktu”, yaitu sebuah laci yang menyimpan barang-barang (yang menurut saya) berharga. Lemari yang melemparkan saya pada kenangan jaman TK, SD, SMP, sampai SMA dulu. Isi lemari tersebut didominasi oleh album-album foto, draft tulisan, gambar-gambar baju, dan segepok surat.

Ya, segepok surat, dari teman-teman lama, kakak kelas, adik kelas, bahkan tetangga. Kalau sekarang mah, ibarat jejaring sosial kali ya. Heu, walaupun pada kenyataannya di dunia nyata kami sering ketemu, tetep aja seneng surat-suratan gitu.

Tidak hanya surat-surat, ada pula sebundel catatan-catatan; macem puisi dan draft cerpen.  Nah, kalau dikumpulkan, tulisan-tulisan itu mungkin udah bisa jadi beberapa buku kali ya. Tapi pada kenyataannya, sampai 22 tahun begini saya baru mencetak satu buku; buku skripsi.

Kalau menulis, memang sudah hobi dari dulu. Tapi menerbitkan buku? Hemm, sampai saat ini belum ada motivasi yang bener-bener kuat. Lagipula saya lebih suka nulis di dunia maya dengan topik semau saya #alesan.

Ngomong-ngomong, setelah membaca ulang tulisan saya dari masa ke masa, satu hal penting yang saya simpulkan. Alhamdulillah, saya yang sekarang ini telah jauh berbeda dengan saya di masa kecil lalu. Tentunya lebih dewasa #ihiy. Meskipun saat baca tulisan-tulisan tersebut, sedikit tidak rela untuk mengakui bahwa dulu saya pernah mengalami masa-masa 4L4Y. Yah, namanya juga anak muda :p

Dungo Dinungo

Posted in Catatan Harian by rishapratiwi on October 6, 2012
Tags: , , , , , ,

Sudah menjadi budaya di kampus, ketika ada seorang mahasiswa yang baru selesai sidang sarjana, teman-temannya akan menyambutnya di depan ruangan sidang sambil membawakan seperangkat hadiah. Ada yang membawakan hadiah yang cenderung konvensional, seperti bunga mawar, kue tart, cokelat batangan, atau balon. Ada pula yang membawakan hadiah-hadiah unik, seperti kacamata Hello Kitty, topi penyihir, mahkota kertas, origami, atau papercraft. Di tengah budaya tersebut, saya mencoba tidak berekspektasi apa-apa saat menjelang sidang sarjana. Cukup maklum, jadwal sidang saya berada pada urutan kedua terakhir, di saat teman-teman satu program studi sudah bergeriliya mempersiapkan persyaratan administrasi wisuda. Ibaratnya, kalau makanan sudah menjelang kadaluarsa. Baik saya maupun teman-teman sudah tidak deg-degan lagi.

Daaan… memang benar. Begitu keluar dari ruangan sidang, saya celingak-celinguk. Mana nih teman-teman? Kok nggak ada yang menyambut yaa? -_____-” Meskipun tidak berekspektasi ada upacara kalung bunga, tapi yaa.. ketika kamu punya kabar gembira (hellooo, nilai gw A lhoo!! Sombong, hehe) dan orang yang akan dipeluk-peluk, dibejek-bejek, ditimpuk-timpuk tidak datang, rasanya gimanaaa gitu. Memang sih saya kelar sidangnya setengah jam dari jadwal seharusnya. Setelah saya SMS, baru deh beberapa orang datang dan mengucapkan selamat. Mana bunga mawarnya? atau rainbow cake, atau balon deh, atau selendang sarjana dari kertas deh. Nggak ada yang bawa, lupa apa yaa, hehe.

Terrus, gw harus nangis bombay sambil koprol? Nggak lah ya. Mungkin saya memang dididik untuk tidak hidup dalam nuansa melankolia yang mendayu-dayu. Tanpa bunga, tanpa cokelat, balon, dan simbolisasi lainnya. Tapi jangan salah, support SMS mengalir derasnya dari sebelum sidang sampai setelah sidang. Dan dengan hal tersebut, saya merasakan kehadiran mereka. Begitu dekat, begitu ramai.

 

Dungo dinungo.

Akhirnya saya tahu istilah yang tepat untuk menggambarkannya. Saling mendo’akan. Ya, mereka membersamai saya dengan do’anya, bukan dengan raganya. Do’a dalam diam-diamnya maupun do’a dalam ucapannya.

 

Dungo dinungo.

Wisuda nanti pun, kedua orang tua saya insya Allah tidak akan bisa mendampingi. Tapi saya tahu, do’a mereka yang akan mewakili, langsung dari Makkah Al-Mukarramah sana 🙂

Mencari Celah Hatimuuu

Posted in Catatan Harian by rishapratiwi on September 26, 2012
Tags: , , ,

Mencoba ‘tuk pahami
Mencari celah hatimu
Bila harus menangis, aku kan menangis
Namun air mata ini telah habis

 

Ada yang kurang wajar dengan lagu D’Masiv yang dinyanyikan mas-mas pengamen itu. Kemampuan organ pendengar saya yang meningkat atau memang volume suara mas-mas itu yang terlalu ngotot ya? Setelah putus asa mencari tombol mute yang tidak diketemukan, akhirnya saya coba berlapang dada menyilakan mas-mas itu menuntaskan performanya.

Lama-lama mas pengamennya semakin aneh. Sambil nyanyi dan nggenjreng gitar, dia melirik-lirik ke teman yang duduk di samping saya, sebut saja namanya “Kembang”. Ada apa ini, ada apa ini? Apakah Kembang terlibat affair dengan mas-mas itu???

Gayung tampaknya tidak bersambut, Kembang asyik menelepon ibunya tanpa mengindahkan si mas-mas sama sekali. Suaranya bersahut-sahutan dengan nyanyian si mas-mas, menciptakan kolaborasi yang sama sekali tidak harmonis. Cukup dua orang saja ternyata sukses untuk menghadirkan suasana hiruk-pikuk pasar malam di angkot sini.

 

Segalanya telah kuberikan
Tapi kau tak pernah ada perhatian
Mungkin kita harus jalani
Cinta memang cukup sampai di sini

 

Semakin kencang nyanyian si mas-mas, semakin kencang pula suara obrolan Kembang dengan ibunya via telepon. Ditimpali dengan volume genjrengan gitar si mas-mas yang makin keras, semakin meriah lah suasana siang yang gerah itu. Akhirnya saya paham, arti tatapan yang makin intensif itu, arti incresing melody itu.. rupanya eksistensi Kembang di angkot tersebut disadari mas-mas pengamen sebagai saingan.

 

Mencoba tuk rasuki
Menyentuh palung jiwamu
Bila harus mengiba, aku kan mengiba
Namun rasa ini telah sampai di ujung lelahku

 

Sayangnya Kembang sama sekali tidak merasa iba. Kompetisi antara Kembang dengan mas-mas pengamen itu semakin sengit. Kami penumpang tidak bersalah ini, yang sedari tadi duduk diam dan mendengarkan, yang menjadi korban. Segeralah kalian tentukan seorang pemenang! Dan kumohon biarkan kami menikmati hidup yang tenang dan syahdu seperti sedia kala.

 

Segalanya telah kuberikan
Tapi kau tak pernah ada perhatian
Mungkin kita harus jalani
Cinta memang cukup sampai di sini

 

Lampu hijau jualah yang pada akhirnya menghentikan kompetisi antara Kembang dan mas-mas pengamen. Sayang sekali, dengan performa yang sudah pol-polan, atensi para penumpang terhadap mas-mas pengamen kurang baik. Entah karena para penumpang sedang menerapkan pola hidup hemat atau kadung muak dengan nyanyian mas-mas itu yang memekakkan telinga. Mas-mas itu pun undur diri dengan patah hati.

 

Begitulah mas, hidup ini penuh kompetisi :p

Sumber gambar: http://blog.badgeville.com/2011/12/16/framing-gamification-choice-and-competition/

Risha Amilia Pratiwi, S.Si

Posted in Catatan Harian by rishapratiwi on September 25, 2012
Tags: , , , ,

Saya sengaja tidak menulis di blog beberapa hari ini. Selain menyibukkan diri dengan persiapan sidang -yah, mahasiswa macam apa yang sibuk berselancar di dunia maya di saat seharusnya ngambell* di dunia nyata- saya memang menunggu momen yang fenomenal untuk dimuat sebagai postingan ke-100. Akhirnya sampai juga usia blog ini pada postingan ke-100. Daann.. kisah yang terjadi hari ini saya pikir sangat layak untuk menyandang gelar kehormatan “postingan ke-100”

 

 

Alhamdulillah, Risha Amilia Pratiwi sudah berpanjang nama. Ada S.Si di ujungnya ^^

Indeks nilai A. Dengan ini, rasa bersalah saya saat membaca buku “Catatan Mahasiswa Ganteng Gila!” Adhitya Mulya padahal gosipnya besok pengumpulan jurnal tugas akhir, sedikit berkurang. Bolehlah memberi sedikit kelonggaran pada diri ini untuk sejenak bercanda dengan hidup -Alahh, dari kemarin-kemarin juga kelebihan jam tidur. Ssssttt..

Biasanya ceracau model begini tidak saya izinkan menjadi konsumsi publik, tapi untuk yang kali ini.. ya sudah deh, perlu sekali-kali membiarkan racauan saya dibaca banyak orang -meskipun di lain kesempatan bisa jadi tulisan ini saya permak habis-habisan-

Sesaat setelah nilai saya diumumkan, rasanya ngengat yang selama ini terbang menari dengan lincahnya di perut saya tiba-tiba diam. Mungkin mereka mengalami mortalitas akibat penetrasi spora dari mikoinsektisida B. bassiana atau Paecilomyces sp. yang merusak struktur organ internalnya. Tetapi satu langkah setelah keluar dari ruangan sidang, sepertinya di perut saya terjadi resurgensi hama. Tiba-tiba terjadi peledakan populasi hama sekunder yang bernama “rencana pascakampus” **

Setelah ini resmi-lah saya menjadi sarjana biologi. Sarjana! Iya, Sarjana!

Bahkan saya semakin merasa hanya menjadi kuah-kuah ikan dalam kuali ilmu hayati.

Saya sarjana? Gelar tersebut membuat kepala saya tidak bisa tegak.

Pembelajaran selama persiapan sidang membuat saya sadar bahwa saya tidak tahu apa-apa.

Yang saya tahu dari ilmu ini hanya sedikit, sedikit sekali.

Yang membuat saya menjadi tahu diri, saya harus banyak belajar lagi.

Yang membuat saya merasa jatuh sayang pada ilmu ini, ilmu yang sedikit ini tidak boleh disia-siakan.

Yang membuat saya bertanya; “wahai sarjana muda, mau di mana kamu menebarkan manfaat?”

 

Keterangan:

*ngambell = mempelajari bukunya Campbell

**Ceritanya penelitian tugas akhir saya tentang pengujian efektivitas mikoinsektisida alias insektisida yang berbahan dasar spora jamur B. bassiana dan Paecilomyces sp. terhadap ulat ngengat Plutella xylostella yang menjadi hama pada tanaman kubis Brassica oleracea. Spora yang menempel pada rangka luar ulat akan berkecambah dan menembus tubuh ulat dan merusak struktur organ internalnya.

Penggunaan pestisida berbahan kimia sintesis dapat menyebabkan resistansi dan resurgensi hama. Resistansi merupakan penurunan sensitivitas hama terhadap pestisida. Sementara resurgensi hama merupakan peledakan jumlah populasi hama sekunder akibat hilangnya populasi hama utama. Misalkan, pestisida A menyebabkan populasi hama X pada suatu tanaman tereliminasi. Akibatnya, populasi Y yang merupakan mangsa dari populasi X akan meningkat pesat. Kemudian, populasi Y ini justru menjadi hama baru bagi tanaman tersebut. Saya menggunakan analogi ini untuk menceritakan bahwa pada awalnya yang berputar-putar dalam pikiran saya adalah “menyelesaikan sidang dengan hasil terbaik”, sebut saja ini hama X. Lalu, setelah benar-benar saya berhasil melewati sidang tersebut dengan nilai sesuai yang saya harapkan, hama X ini berarti dianggap punah. Muncullah bahan pikiran lain, yaitu “rencana pascalulus”, atau yang dianalogikan sebagai hama Y (hama sekunder).

 

Lost in Bandung

Posted in Catatan Harian by rishapratiwi on July 10, 2012
Tags: , , , , , ,

Saya mendapatkan kabar kelulusan SNMPTN dari teman. “Selamat yaaaa, mahasiswi SITH ITB!!!! Saat itu juga saya nangis. Bukan, bukan karena terharu saking senangnya, tapi bingung, sedih.., campur kecewa, dikiiiit. Dari kelas 1 SMA, saya cuma punya satu rencana hidup: menjadi mahasiswa kedokteran. Itulah sebabnya, waktu SMA saya dengan enteng bisa bilang, “Galau milih universitas, nggak lah yaaw!” Bagi saya saat itu tidak ada yang lebih atas dari tangga kekerenan seorang dokter. Pakai jas putih bersih, bawa-bawa stetoskop, siap dan sigap menyelamatkan nyawa #woaa.. Sssst, sebenarnya alasan terselubungnya adalah.. karena saya pengeeeeen banget bedah-bedah cadaver gitu, menimang-nimang jantung asli, mempreteli bagian-bagian hati, hehe. Maklum, sama biologi mah udah cinta mati.

Apa nak dikata, saya dilemparkan ke jalan yang sama sekali asing bagi saya. Kalau boleh buka kartu, pilihan kedua SNMPTN saya itu Bandung, bukan ITB. Hah, maksudnya? Jadi saya milih ITB karena ITB ada di Bandung. Coba kalau UGM ada di Bandung, bisa jadi saya pilih UGM. Saya cuma tanya ke kakak kelas waktu SMA, “ada jurusan kebiologi-biologian nggak di ITB?” Bahkan waktu itu saya tidak tahu ITB punya 12 fakultas, yang satu di antaranya adalah Sekolah Ilmu dan Teknologi HAYATI -___-“ Buat kalian yang mengidam-idamkan ITB sejak balita #lebay, mohon maafkan kekuperan saya ya. Saya waktu itu pakai kacamata kuda sih. Yang dipantenginnya hanya info-info tentang FK, FK, dan FK.

Sebetulnya, berdasarkan hasil Try Out sebelum SNMPTN (oh ya, setelah Ujian Nasional SMA saya hijrah dari Sukabumi ke Bandung untuk mengikuti bimbingan belajar di suatu bimbel terkemuka), nilai saya memadai lho untuk masuk Fakultas Kedokteran yang saya inginkan. Ah, perih nian hati ini mengenang kesuksesan sesaat itu. Kayaknya gara-gara saya ujub deh.

“Semoga rencana Ananda sesuai dengan rencana Allah,” begitu kata guru SMA saya sewaktu saya memohon do’a menjelang SNMPTN. Deg! Bagaimana kalau di Lauh Mahfudz sana tidak ada frase FAKULTAS KEDOKTERAN di peta hidup saya? Ah, nggak mungkin. Sekali layar terkembang, pantang surut ke belakang! Saya PASTI masuk FK!!

Duh, kalau ingat itu.. malu saya. Bisa-bisanya sok tahu di hadapan Dzat Yang Maha Tahu.

*****

Di sini saya sekarang, menjalani masa-masa tingkat akhir dengan riang gembira.

Mengingat perjalanan saya di ITB, ah.. tidak alasan untuk tidak bersyukur. Kalau ditanya, masih sedih nggak masuk ITB? Saya jawab, saya masih sedih, kok bisa-bisanya dulu sedih ya? Padahal, bisa dibilang saya masuk ITB tanpa merasakan perjuangan yang berdarah-darah. Tidak seperti kisah hebat teman-teman yang lain, yang ikut bimbingan belajar setahun penuh, menego orangtua, berjubel dalam kancah persaingan beasiswa, hijrah dari pulau yang jauh ke Bandung, menyisihkan uang makan sehari-hari untuk tabungan kuliah, daaan.. kisah-kisah heroik lainnya. Saat menjalani hari-hari bimbel, saya memang menjalani pola hidup seperti tawanan, jauh dari orangtua, berangkat pagi pulang sore, tiga kali naik angkot ke tempat bimbel, kadang berjubel di bus kota, menolak tawaran untuk berlibur, makan sesuai waktunya, ber-uzlah di ruang belajar setiap hari.. Terlalu gaya kalau dibilang itu perjuangan. Bagi saya, itu tidak lain hanya PERMAINAN; “PERjuangan Memang AsyIk, NiAN” #maksa.

Menjalani masa-masa TPB, Alhamdulillah saya tidak terpuruk pada kesedihan yang berkesinambungan. Apalagi ternyata saya menemukan orang-orang yang bernasib sama; masuk SITH karena kecelakaan.  Kami saling menggenggam jemari, saling menguatkan, saling meyakinkan; skenario  Allah keren lhoo.

Dan pada sisi Allah-lah kunci-kunci semua yang gaib; tak ada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri, dan Dia mengetahui apa yang di daratan dan di lautan, dan tiada sehelai daun pun yang gugur melainkan Dia mengetahuinya (pula), dan tidak jatuh sebutir biji pun dalam kegelapan bumi dan tidak sesuatu yang basah atau yang kering, melainkan tertulis dalam kitab yang nyata (Lauh mahfudz) (Q.S. 6:59).

*****

Kuliah lapangan ke Cagar Alam Pangandaran, Gunung Tangkuban Perahu, Situ Lembang, Gunung Papandayan, Pulau Panjang, Kepulauan Seribu, Taman Nasional Meru Betiri, Bali, Taman Nasional Gunung Gede-Pangrango, hanyalah beberapa “bonus” yang saya rasakan di ITB ini.

*Kuliah Lapangan Ekologi, Taman Nasional Meru Betiri

*Kuliah Lapangan Ekologi Bentang Alam, Gunung Papandayan

*Kuliah Lapangan Perkembangan Hewan, Balai Besar Pengembangan Budidaya Air Tawar Sukabumi

*Kuliah Lapangan Ekologi Lahan Basah, Pantai Panjang

Dosen-dosen yang inspiratif,

(Sumber gambar: http://www.sith.itb.ac.id/ind/)

kakak-kakak yang penyayang,

*Daurah Pembinaan Pejuang Qur’an, Majelis Ta’lim Salman

sahabat-sahabat yang baik,

*Foto bersama SITH 2008

adik-adik yang lucu,

*Daurah Pembinaan Pejuang Qur’an, Majelis Ta’lim Salman

kehidupan organisasi yang dinamis,

*PROKM ITB

*OASIS Gamais ITB

Masjid Salman yang teduh,

(Sumber gambar: http://www.artisticchocolate.blogspot.com)

*Program Ramadhan Masjid Salman ITB

kantin yang murah,

(Sumber gambar: http://hqjomblo.files.wordpress.com/2008/09/dsc03612.jpg)

dan baaanyak lagi nikmat yang tidak bisa saya sebut dan hitung.

Di sini saya sekarang, ikut menyambut “kelahiran” adik-adik dengan riang gembira ^^ Dan saya akan senang hati bercerita.. tentang gebyar gemerlap kampus tercinta; INSTITUT TEKNOLOGI BANDUNG.

Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan? (Q.S. Ar-Rahmaan)

Terlambat Diklat!!

Posted in Catatan Harian by rishapratiwi on January 10, 2012
Tags: , ,

Rekor!!!

Selasa, 21 Juli 2009. Seperti yang sudah dijarkomkan pada malamnya, pukul 06.50 WIB hari itu ada diklat calon panitia lapangan PROKM 2009. Berhubung dua hari sebelumnya saya kurang sehat sehingga mengungsi ke rumah saudara di Cibiru (Cibiru lagi, angkot lagi), saya berangkat dari rumah pukul 05.45 WIB. Biasanya kalau pagi-pagi perjalanan bisa cepat, satu jam juga sampai tempat tujuan.

Alhamdulillah, angkot yang saya pilih ternyata supirnya keren banget. No ngetem, no lelet. Bahagia dong, sebentar lagi Sampai Terminal Cicaheum, terus naik angkot Cicaheum-Ledeng. Paling setengah jam lagi juga sampai di Lapangan Cinta. Saat itu waktu masih menunjukkan pukul 06.15.

Tanpa firasat buruk angkot mulai berlari di jalanan A.H.Nasution. Nah, mulailah petaka itu datang. Laju angkot mulai melambat mengikuti deret geometri, sampai akhirnya BERHENTI. Ternyata di depan sana barisan kuda-kuda besi sudah mengular. O-oww!!

Sejak saat itu angkotku kini bukan lagi kuda yang berlari kencang, tapi siput yang merayap. Kadang berhenti kelelahan, kadang bersemangat nyerobot. Waktu terus berlari sedangkan angkotku malah berhenti T_T..

A.H. Nasution lewat, Ahmad Yani menanti untuk ditapaki. Sama saja, macet makin parah. Akhirnya dengan perjuangan pak supir dan do’a dari segenap penumpang, angkot kami berhasi mencapai Terminal Cicaheum. Namun sayang sekali, jam sudah menunjukkan pukul 06.50. Artinya, TELAT!!

Bergegas saya naik angkot Cicaheum-Ledeng. Kirain kemacetan cukuplah sampai di sini, ternyata sodara-sodara…!!!!! Begitu sampai di Jl. Pahlawan, angkotnya BENAR-BENAR BERHENTI. Lamaaaaa.. seolah jalan adalah pembuluh kapiler yang hanya bisa dilalui eritrosit satu persatu.
Ahh, padahal sudah pukul 07.15. Keterlambatan yang sangat fatal-tal-tal.

Tadinya saya merencanakan untuk nggak ikut diklat sekalian daripada telat dan mencoreng nama baik per-akhwat-an. Mulailah mencari alasan, nggak mau bolos soalnya absennya udah banyak. Yapp, ke BMG aja ah, mumpung lagi batuk nanti minta surat keterangan dokter. Sayang seribu sayang, baru inget KTM-nya masih dipinjam teman.

Baiklah, tidak ada alasan lain dan memang tidak perlu. Lebih baik terlambat daripada tidak datang sama sekali. Ayoooo, berani. Maju!!

Angkot akhirnya sampai di W.R. Supratman. Alhamdulillah, lalu lintas sudah mulai bersahabat. Waktu menunjukkan pukul 07.36. Ckckckc.. bisa-bisa baru sampai tujuan jam 8 nih!! ya udahlah ya, kepalang telat.

Akhirnya sampai juga di Balubur. Waktu menunjukkan pukul 07.41. Hhhh… Ooopss, baru ingat ini angkot Cicaheum-Ledeng nggak lewat gerbang Ganesha. Akhirnya saya turun dan ganti angkot Sadang Serang-Caringin.

Waktu mununjukkan pukul 07.47. Saya berjalan mengendap-endap di selasar ATM. Lihat-lihat kondisi dulu, lalu bisa mempertimbangkan bakalan terus maju atawa kabur. hehehe.. Ternyata yang lain lagi lingkar wacana dan saya tidak melihat tanda-tanda keberadaan danlap yang berjaga. Yuk ah, dengan pede saya melangkah. Biar batuk meradang, aku tetap siap berperang. Majuuu…!!!!

O-oww, saya sudah tidak bisa menghindar ketika danlap tersenyum penuh arti
“Kenapa telat?”
bla-bla-bla-bla
“Ada kecelakaan?”
bla-bla-bla-bla
“Jam berapa berangkat dari rumah?”
bla-bla-bla-bla
“Mau hukuman apa?”

Akhirnya saya memilih sendiri hukumannya. Oh, ya waktu itu ada seorang calon panitia lapangan juga yang telat, cowok. Waktu saya datang, beliau sedang berolahraga dengan didampingi sang danlap. hh..h.. seratus delapan satu.. hh.. hh.. seratus delapan dua..
Widih, saya langsung merasa sakit perut melihat beliau sit-up.

Saya memilih hukuman yang ringan-ringan saja, bending *** kali (jumlahnya rahasia saya dengan danlap, hehe)
tapi patah hatinyaaa.. duhhh. Saya selalu merasa patah hati setiap kali terlambat, meskipun itu “cuma” satu menit.

Pokonya, besok nggak boleh terlambat lagi!!!

Supertum dan Supertem

Posted in Catatan Harian by rishapratiwi on January 10, 2012
Tags: , , ,

18 Maret 2010 jam 10:16
Di suatu pagi yang dingin dalam sebuah rapat…

Niat jahat untuk bolos kuliah pagi ini sengaja saya utarakan pada ibu koordinator akhwat.

“Lhoo, kenapa mau bolos, Dek?”

“Kan kemarin baru beres ujian mata kuliah itu, Teh. Berarti kalau bolos juga materinya belum banyak yang harus dikejar. Cuma satu jam ini. Nggak ada kuis kok. Kan ada jatah bolos, hehe.” (di kepala saya muncul tunas yang akan tumbuh menjadi tanduk).

“Mending jatah bolosnya dipakai buat nanti kalau urgent”

“Jatah bolosnya kan banyak, Teh. Sayang kalau tidak dimanfaatkan” (tuh, tuh, saya sudah mulai bertanduk).

“Eeeeh, ari kamu, Dek.”

“Kan lapar, Teh. Mau sarapan. Kalau lagi flu harus makan banyak dan enak.” (Toeng-toeng??).

Eh, Si Teteh malah senyum. Kayak nggak percaya aja nih saya mau melakukan kejahatan akademik. Padahal kan tadinya pengen ditegur, dimarahi, bahkan diseret sampai kelas (hah, lebay).

Sampai datanglah seorang akhwat, sebut saja “Bunga”.

“Dari mana, Neng? Telat nih, rapatnya mau udahan.”

“Duuuuuh, ceritanya panjang.”

“Kuliah jam berapa, Ca?”

“Hemmm, jam tujuh. Eh, tapi mau kuliah jam sebelas aja deh.”

“Lho? Bolos?”

“Iya, hehe. Kuliah jam berapa?”

“Jam tujuh juga.”

“Di mana?”

“Oktagon.”

“Wah, sama. Lantai berapa?”

“Lantai dua.”

“Wah, sama. Boleh telat?”

“Boleh.”

“Wah, beda. Toleransinya lima belas menit nih. Sekarang jam berapa?”

“Udah jam tujuh.”

“Euleuh! Hayu atuh. Ini mah kumaha engke we. Kalau telat berarti jadi bolos ya. Heheh.”

Ternyata saya datang bertepatan dengan dosen masuk. Namun karena kelas sudah penuh, bangku yang kosong hanya di deretan terdepan. Ya udah sih ya.
“Baik, sekarang kita akan belajar tentang Sistem Akar…..”

Ternyata saya suka materi pagi ini. Asik. Untung ya nggak bolos ^^

Terima kasih Supertem (Superteman), telah menghindarkan saya bolos di mata kuliah Supertum (Struktur dan Perkembangan Tumbuhan).

Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal shaleh dan nasihat menasihati supaya menaati kebenaran dan nasihat menasihati supaya menetapi kesabaran. (Q.S. Al-Ashr)

Halo, Bisa Bicara dengan Pedra?

Posted in Catatan Harian by rishapratiwi on January 10, 2012
Tags: , ,

10 Januari 2010 jam 19:45

Bismillahirrahmaanirrahiim
Sebuah karya lagi, pertanda aku ada

Sesekali waktu, sempatkanlah Anda duduk-duduk di koridor timur Masjid Salman Institut Teknologi Bandung. Seperti yang sedang kami lakukan saat ini, Rabu 6 Januari 2010. Ya, tiga orang mahasiswi yang sedang mengais A untuk Mata Kuliah Anatomi Fisiologi Hewan dan Genetika.

Bukan bahan ujian yang sedikit. Ini adalah UAS, Ujian Agak Serius, bukan UTS, Ujian Tidak Serius (jangan dicontoh). Jadi sedikit wajar kalau kami sudah menekuni buku-buku setebal, ya kira-kira 5 cm lah, dari pagi sampai sesiang ini. Cuma sayangnya, dari pukul 10 pagi sampai kira-kira pukul 15, kami baru bisa menyelesaikan beberapa halaman saja. Biasalah, ketika ada lebih dari dua orang wanita berkumpul dalam suatu forum berkedok “belajar bersama”, dapat dibayangkan kelanjutan ceritanya. Mulai dari membicarakan mencit-mencit sampai.. sampai.. sampai apa ya waktu itu? Hmm, kurang penting makanya saya lupa 😀

Baik, tibalah cerita kita pada kedatangan tokoh utama.
Ba’da rapat laskar acara DP2Q, saya kembali ke shaf para wanita yang sedang mencoba berpikir selayaknya seorang Morgan menemukan teori-teori rekombinasi dan pautan genetik.

Anak laki-laki itu (sebenarnya sudah bukan anak-anak sih) datang dan menyodorkan kue-kue dagangan dengan harga tidak kira-kira. Dari perawakan nampaknya ia berusia sekitar 18 tahun, tapi karena cara bicaranya kami sepakat memanggilnya “Dek”.

Sebenarnya ini pertemuanku dengannya untuk kedua kali. Dulu pernah, Adek itu datang dan menyodorkan dagangan dengan harga selangit juga (ah, lebay). Ia mengaku dari sebuah SLB di Jakarta (tanpa menyebut merek). Dia bilang mau pulang tapi tidak punya ongkos. Aih, ternyata sekarang harus berurusan kembali dengannya…

Seorang teman akhirnya membeli sebuah donat, berwarna pink dan terbungkus plastik yang sudah lecek. Eeh, Si Adek masih nggak mau pergi. Malah jadi mengajak kami ngobrol. Lalu ketika ada handphone saya yang tergeletak, ia meminta izin untuk menelepon temannya. Saya malah iya-iya aja. Lagipula ada bonus pulsa sih di handphone CDMA itu.

Hebat, Si Adek menelepon layaknya itu handphone milik sendiri. Lama dan tidak penting (mungkin bagi dia penting sih). Kami pura-pura tidak peduli meskipun dalam hati berteriak, “seseoraaaaang, angkut dia dari siniiiiii”.

Datanglah Ibu Idar, ibu manajer mukena, dari arah belakang Si Adek. Beliau bertanya tanpa suara, kira-kira beginilah, “siapa itu?”. Dengan isyarat, saya bilang tidak tahu. Sampai kemudian datang pak satpam mengajak Si Adek pergi. Si Adek mau nangis  sambil merengek-rengek, “aaah, saya kan jualan. Masa ngga boleh.. kan hujan, aaahhh…” Cup-cup-cup.

Ya, selesai sudah urusan yang satu itu. Kami membuka kembali lembar-lembar karya tulis Hartwell berjudul Genetics, from Genes to Genomes. Tentunya masih sambil ngobrol. Mengalirlah cerita-cerita itu…(ini fakta, dan telah terjadi di sekitar kita). Mulai dari ibu yang membawa anak laki-laki, yang bertanya-tanya tentang pemurtadan agama. Pada akhirnya dia akan bilang bahwa dia dipaksa murtad karena telah meminjam uang sebanyak sekian. Lalu orang-orang yang mendengarnya akan berempati dan memberi uang. Atau tentang orang yang, katanya sih mau jalan kaki dari Gelap Nyawang ke Jatinangor karena kehabisan ongkos. Lalu tentang bapak-bapak yang meminta uang karena dompetnya hilang, lalu pas mau diantar ke Rumah Amal Salman untuk meminta bantuan malah marah-marah. Juga tentang ibu pengemis yang memaki-maki karena tidak dikasih uang. Atau tentang anak berseragam SMA yang pura-pura kehilangan tas di Salman.
Hening beberapa saat. Handphone CDMA saya terbahak-bahak (berdering maksudnya). Suara hati saya mengatakan bahwa penelepon adalah orang yang memiliki hubungan kekerabatan dengan si Adek. Teman yang tadi ditelepon mungkin. Soalnya nomor handphone CDMA ini memang tidak diketahui banyak orang.

“Assalamu’alaikum”
“Wa’alaikumussalam, bisa bicara dengan Pedra?”
“Hm..??”
“Yang menelepon tadi lho, Mbak.”
“Oh, ini siapa?”
“Saya ibu gurunya, Pedra ada? Tadi dia menelepon temannya di sekolah”
“Wah, Pedra sudah pergi. Saya nggak tahu perginya ke mana.”
“Hmm, kalau boleh tahu ini Mbak ketemu Pedra di mana ya?”
“Di ITB, Bu. Di Masjid Salman.”
“Hah, di Bandung??? Terus selama ini Pedra tinggal sama Mbak?”
“Haeh?! (Enggak lah) Saya baru ketemu dia dua kali di sini”.
“Itu anak pergi sejak lebaran dan belum pulang-pulang”
“Gitu ya? Tapi… dia sehat, Bu?”
“Yaa, secara fisik sehat tapi kalau bicara agak melantur sih. Berarti dia masih di Bandung ternyata. Sudah ya, Mbak. Terima kasih. Wassalamu’alaikum”

********************************************************************

Baik, lupakan Pedra, nggak akan keluar di ujian soalnya. Tapi bagaimanapun, masih kepikiran juga sih. Bagaimana seorang Pedra bisa pergi dari sekolah dan terdampar di Bandung, lalu ibu guru dan orangtuanya mungkin panik mencari-cari.

Belum lagi bayangan Pedra pergi, dari arah utara berjalan sesosok mas-mas. Hemm, keknya kenal dan naga-naganya..

Tuh kan benar, mas-mas itu mendekati sekelompok akhwat dan berjongkok di dekatnya. Saya amati dia dari awal kedatangan sampai ketika diberi selembar uang. Belum cukup bagi dia uang Rp5000 rupanya, dia datang dan berjongkok di hadapan kelompok belajar kami. Sama, intinya sih minta uang. Bagaimanapun, kami tidak merasa harus memberi uang pada dia. Akhirnya mas-mas itu pergi setelah kami beri pisang.

FOKUS ADA PADAKU. Begitu kata buku.

Hari semakin senja, hujan telah terhenti. Kami masih duduk di kortim ketika seorang akhwat berperawakan S2 datang.

“Assalamu’alaikum, Mbak. Mau nanya, kalau mau ikut halaqah di Salman gimana ya? Saya S2 di Unpad, baru datang dari Sumatera. Makanya lagi nyari halaqah, pengennya sih di Salman,” ujar Mbak itu.
“Wa’alaikumussalam. Halaqah?” Hemm, saya mikir dulu. Halaqah yang mana nih, apa halaqah Qur an Mata’, ya bukan lah. Masa iya menghubungi BKM Gamais, kan bukan mahasiswa ITB. Setelah ditanyakan kepada seorang teteh dan teteh tersebut memberikan nomor handphone seorang teteh yang akan menyambungkan si teteh (eh mbak) itu dengan KARIM Salman, Mbak itu pun pergi.
Kami yang tinggal berdua berpandangan, dan tersenyum bersamaan. Sepertinya kami sedang memikirkan hal yang sama…

Hari semakin senja.
Jadi apa kesimpulan belajar hari ini?

  • Gen-gen yang terletak pada kromosom yang berbeda akan disegregasikan secara independen, tetapi gen-gen yang terletak pada jarak yang relatif dekat akan terpaut dan diwariskan bersama-sama kepada filialnya.
  • Kalau mau belajar kelompok, buatlah perjanjian untuk tidak membicarakan hal lain selain materi ujian. Dan jangan lupa siapkan banyak cemilan 😀
  • Duduk-duduklah engkau di kortim Salman, dengan izin Allah engkau dapat bertemu Pedra, mas-mas yang minta uang, mbak yang bertanya tentang halaqah.
  • Kadang tidak perlu sesuatu yang besar untuk kita bisa menarik pelajaran darinya. Kalau kita merasa tidak ada hikmah dari peristiwa itu, ya dicari sampai dapat hikmahnya :-p
  • Jangan takut pada orang asing, kecuali orang itu bertangan empat dan bergigi sepanjang ikan layur yang ditemukan di Tempat Pelelangan Ikan Pangandaran saat kuliah lapangan biosistematika (naoooon siiiih!!!).

********************************************************************

Tulisan ini disusun tanggal 9 Januari 2009, sehari ba’da UAS Genetika dan Anatomi Fisiologi Hewan yang tabu untuk diperbincangkan lagi, dan Alhamdulillah dipublikasi hari ini 10 Januari 2010. Dan saya baru sadar, saya salah saat tanggal 6 Januari itu merasa tidak mendapat pembelajaran apa-apa, padahal ada hal yang sangat penting yang kami dapat.. yaitu mendapatkan tiga kesempatan shalat tepat waktu dan berjama’ah… harta berharga yang mungkin tidak akan didapatkan jika belajar di tempat lain. Penting itu! Wallahu ‘alam.

SEKIAN

Next Page »