Revive Risha


Mengatasi Baby Blues #kulwapceria

Posted in Cermin Diri by rishapratiwi on February 28, 2017

Wahai para mamah muda, sesungguhnya kita pun pernah menjadi bayi yang merepotkan orangtua. Sing sehat, kuat, ikhlas, sabaaaar. Semoga Allah memampukan kita menjadi ibu yang shalihah. Aamiin

#pojokilmuceria

#inspirasiceria

#karyaceria

IMG_20170301_032018.JPG

 

 

Manajemen Keuangan #kulwapceria

Posted in Cermin Diri by rishapratiwi on February 28, 2017

IMG_20170301_030225.JPG

 

#inspirasiceria

#pojokilmuceria

#kelasceria

Ada Doa untuk Dia

Posted in Cermin Diri by rishapratiwi on January 27, 2017

#karyaceria

20170127_195349

Panggilan Sayang

Posted in Cermin Diri by rishapratiwi on September 20, 2014

“Say, lagi di Bogor nggak?”

“Geuleuh ah ente”

“Hahahahaha”

Pemirsah, itu bukan dialog antara saya sama si ayang, tapi dialog antara si ayang sama temannya. Iya temannya, si dia yang berambut pendek dan berjanggut. Jadi rupanya, teman-teman si ayang pernah mendengar percakapan kami.

“Ente kan sama istri say-sayan”

“Iyaaaaa, tapi kalau sama ente mah da geuleuh” 

—<<@

Tentang panggilan sayang.

Sesaat setelah menikah, kami memang tidak ada masalah dalam penentuan panggilan. Soalnya kan hampir tidak pernah berjarak lebih dari 20 meter, jadi nggak usah teriak manggil. Padahal sih karena masih canggung, kami menghilangkan panggilan untuk objek dalam percakapan.

“Mau makan apa?” 

“Jalan-jalan yuk”

Masalah muncul ketika jarak di antara kami semakin lebar, dari 5 meter, 10 meter, 20 meter… dan jadi banyak kondisi ketika satu sama lain harus memanggil. Seperti contohnya, kami terpisah di antara barisan ikhwan dan akhawat dalam suatu acara. Udah diehem-ehem, nggak nengok. Yah, terpaksa deh teriak. Say.. Say..! Tuh kan baru nengok.

—<<@

Awal-awal menikah, tadinya mau saling memanggil “Ay”. Tapi kok rasanya kurang sreg. Cinta kami yang begitu besar tak sanggup terwakili dengan hanya dua huruf #halah. Akhirnya ditambah es biar dingin, S jadi “Say”. Baru deh kerasa passs. Kalaupun ada yang ngeledek, paling say…say…sayur, bukan ay…ay…ayam. Heheheh.

Kenapa nggak manggil Aa, Mas, Abang, Abi?

Kenapa yaaa… Nggak kenapa-kenapa sih, masalah muka doang. Saya merasa mukanya nggak belum pantes dipanggil Aa, Mas, Abang, apalagi Abi. Harusnya mungkin ditambah kumis baplang, janggut tebal, sama sorban biar gak imut-imut amat, hihihi.

*****

“Kamu sayang nggak sama aku?”

“Sayang atuuuh”

“Gombalin atuh”

“Kurang apalagi cobaaa, aku udah menyertakan segenap rasa cintah, sayang, dan segalanya dalam setiap panggilanku padamu”

Pacaran Jarak Jauh

Posted in Cermin Diri by rishapratiwi on September 18, 2014

Tidak terasa sudah memasuki pekan keempat saya tinggal di Bandung sendiri, mencari setitik ilmu. Suami, nun jauh di Cileungsi sana sedang berjuang untuk membawa pulang sekeranjang berlian. Yah, sebenarnya dibilang nggak kerasa, kerasa bangeeeet. Gak tiap hari ada yang gendong, gak tiap hari ada yang nyeret mandi, gak tiap hari ada yang merengek kelaparan. Dipikir-pikir kok mau ya menjalani hubungan pernikahan jarak jauh gini. Hahahahay. Ini karena falsafah hidup yang kami gigit erat dengan gigi geraham kami, sebaik-baiknya penjaga adalah Allah subhanahu wa ta’ala #berasa tetiba pakai sorban.

Menjalani pernikahan dengan pertemuan hanya di akhir pakan, rasa-rasanya seperti pacaran. Diapelin pas malam Minggu. Cuma bedanya, kalau orang pacaran malam mingguan nonton ke bioskop, yang udah nikah nontonnya di laptop. Males jalan saaay, angkotnya suka nggak ada kalau udah malem. Kalau orang pacaran makan ditraktir cowok, yang udah nikah makan dibayarin istri. Itu kan duit dari gaji gue saaaay, kok kamu mengklaim sih, demikian jerit dalam hati sang suami. Kalau orang pacaran betah di jalan berlama-lama, yang udah nikah pengen buru-buru pulang. Setelah menikah, rumah lah yang menjadi tempat terindah. Hihihi..

Menjalani pernikahan dengan pertemuan hanya di akhir pekan, rasa-rasanya butuh kerelaan untuk mandiri.

Saaay, cucian udah numpuk nih. Bawa aja ke laundry.

Saaay, aku mual nih pengen muntah. Ya udah muntah aja, ntar kalau aku datang kita jajan bakso.

Saaay, angkotnya ngetem nih. Turun aja say, jalan kaki biar sehat.

Hihihi…

Menjalani pernikahan dengan pertemuan hanya di akhir pekan, rasa-rasanya setiap momen menjadi berkali-kali lipat lebih berbunga, lebih berwarna, lebih beraroma. Meskipun ya nggak gitu-gitu amat seeeh.

Saaaay, banguuun. Katanya mau jalan-jalan. Bobo mulu iiiih.

Saaaay, kok kamu jelek, mandi sana.

Saaay, kok bau?? Kentut ya? #Tatapan tajam memvonis.

Hihihi…

Bagi kami yang sedang bersemangat menikmati keindahan cinta setelah pernikahan, pertemuan hanya di akhir pekan mungkin adalah latihan.

Agar cinta kami yang begitu dalam, tidak malah jadi membuat tenggelam. Bahwa cinta kepada suami atau istri, tidaklah layak ditempatkan di atas cinta Ilahi.

Agar kami yang begitu saling peduli, tidak malah jadi membuat saling memenjarai. Bahwa di luar urusan rumah tangga ini, masih begitu banyak urusan ummat ini.

#Catatan Hati Seorang Istri (yang katanya centil sekali)

Curhat Kemesraan

Posted in Cermin Diri by rishapratiwi on September 18, 2014

Kemarin siang sambil menikmati sekantung kebab sapi, nasi berjamur (nasi isi jamur), dan segelas yoghurt mangga di selasar SITH yang sejuk, saya bercerita sama Ipah. Siapa Ipah? Singkatnya, adek ketemu gede lah ya. Adek kelas waktu SMA, bukan. Adek kelas sejurusan, juga bukan.

Gara-gara Ipah bilang saya sama suami keliatan kayak sepasang pacar, jadi deh cerita-cerita. Masa kata Ipah, saya centil. Godain suami terus, cari-cari perhatian terus, gombalin terus, gelendotan terus gak mau lepas. Sementara suami kalem. Tampak seperti bermain cinta tapi bertepuk sebelah tangan, hahahaha. Tapi, tapi, tapi, sungguh saya sama sekali tidak pernah meragukan kesungguhan cinta si abang tersayang #suitsuiiiw.

Di antara kami berdua memang hampir jarang terumbar kata-kata manis, seperti “aku mencintaimu lebih dari segalanya dari apapun di muka bumi ini“, atau “kamu perempuan terindah yang pernah aku temui di dunia ini“. Karena selain saya nggak percaya kalau saya perempuan paling cantik di dunia ini, kata-kata bersayap tak akan mampu melukiskan betapa besarnya cinta abang kepada saya #tsaaah.

Tapi kalau saya lagi pengen dirayu-rayu, ya saya ga akan gengsi buat bilang.

“Saaaay, gombalin akyu dooongs….”

“Saaaaay, aku cantik nggaaaak? Kok nggak dipuji syiiiih, puji doooongs”

Di Balik Titel Haji Prabowo

Posted in Cermin Diri by rishapratiwi on July 4, 2014

Beberapa hari yang lalu seorang sahabat menulis status di jejaring sosial Facebook bahwa titel “haji” diberikan oleh kolonial Belanda untuk bangsa pribumi yang lantang menyuarakan perlawanan terhadap penjajahan. Lalu saya mencari informasi di internet mengenai fakta menarik tersebut. Dan berikut ini beberapa hasil temuan saya dari sumber ini dan ini.

Gelar “haji” atau “hajah” untuk orang yang sudah menunaikan ibadah haji hanya ditemui di Indonesia. Pada masa Rasulullah dan para sahabat, tidak ada pemberian gelar tersebut kepada yang bersangkutan. Lalu dari manakah asal penahbisan gelar tersebut?

Joko Prihatmoko, peneliti muda Nahdlatul Ulama (NU) di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Wahid Hasyim, Semarang, sekaligus Direktur Eksekutif Lembaga Pengkajian dan Pemberdayaan Indonesia (LPPI) menyatakan bahwa gelar haji merupakan identifikasi dari pemerintah kolonial Belanda. Pada zaman penjajahan Belanda, pergerakan da’wah umat Muslim sangat dibatasi karena dikhawatirkan akan menimbulkan rasa persaudaraan dan persatuan yang pada akhirnya memicu pemberontakan. Oleh karena itu setiap jenis peribadatan dibatasi, termasuk ibadah haji. Apalagi mayoritas orang yang pulang dari berhaji akan melakukan gerakan perubahan. Misalnya, Muhammad Darwis setelah pulang berhaji mendirikan Muhammadiyah, Hasyim Asyari pulang dari berhaji mendirikan Nahdlatul Ulama, Samanhudi yang mendirikan Sarekat Dagang Indonesia, dan Cokroaminoto mendirikan Sarekat Islam. Maka untuk mengawasi aktivitas para ulama ini, Belanda menetapkan Peraturan Pemerintahan Belanda Staatsblad tahun 1903 bahwa setiap orang yang telah kembali ke tanah air dari menunaikan ibadah haji harus diberi gelar “haji” di depan namanya. Dengan demikian, jika terjadi pemberontakan, Pemerintah kolonial akan mudah mencari orang tersebut.

Menyambung dengan momentum Pilpres 2014, kedua kandidat presiden alhamdulillah telah melaksanakan ibadah haji. Bahkan foto salah satu capres saat melaksanakan ibadah haji diunggah dan disebar di internet untuk menangkis isu bahwa capres tersebut nonmuslim.

Memang tidak dapat dipungkiri bahwa bangsa Indonesia merupakan bangsa yang religius. Agama masih menjadi pertimbangan dalam memilih pemimpin. Maka tidak heran dalam mengambil simpati publik, kandidat yang berkompetisi berupaya merangkul simpul-simpul agama.

Kedekatan Prabowo dengan para ulama dalam momentum Pilpres 2014 ini bukan hal yang baru. Prabowo sejak tahun 1998an telah memiliki kedekatan dengan kalangan Islam. Prabowo dikenal memiliki citra sebagai ABRI “hijau”, yaitu kalangan ABRI yang religius. Ia juga kerap menyambangi kediaman tokoh Islam, seperti M. Natsir. Di dalam pertemuan diskusi para cendekiawan politik-ekonomi, Prabowo pernah mengeluarkan pernyataan kontroversial berupa pembelaan terhadap masyarakat muslim Indonesia yang mayoritas namun diperlakukan diskriminatif. Dari sejak saat itu Prabowo dicap sebagai antiminoritas, terutama anti Cina. Akan tetapi cap tersebut dibantah dengan pencalonan Ahok sebagai Wagub DKI dari Partai Gerindra.

Saat Prabowo menerima tuduhan seputar lengsernya Presiden Soeharto dan dicopot dari militer, ia mendapatkan naungan dari para sahabatnya di dunia Islam. Prabowo pergi ke Jordania dan mendapat perlindungan Pangeran Abdullah. Karena keberpihakannya pada Islam, saat pada tokoh Islam memprakarsai pendirian Partai Bulan Bintang tahun 1998, Prabowo mengulurkan bantuan finansial untuk dana awal sosialisasi partai tersebut.

Melihat kedekatan yang dibangun Prabowo dengan para tokoh Islam, tidak heran kalau para ulama besar, salah satunya Aa Gym, pada Pilpres kali ini secara terang menyatakan dukungan kepada salah satu pasangan kandidat, yaitu Prabowo-Hatta. Aa Gym menyatakan bahwa Prabowo terang-terangan membela Islam. Ia perwira militer yang tak rela melihat umat Islam dipinggirkan. Karena alasan tersebut, ia mendukung Prabowo.

http://sejarah.kompasiana.com/2014/07/04/di-balik-titel-haji-prabowo-671569.html 

 

Life is Choice

Posted in Cermin Diri by rishapratiwi on November 28, 2013
Tags:

Hidup tak semudah memilih sepatu

Image

Sumber gambar: http://alungatristetea.ro/arta-de-a-lua-decizii/make-the-right-choice/

Menghilangkan Rasa Kehilangan

Posted in Cermin Diri by rishapratiwi on November 27, 2013
Tags: ,

Teman, mau saya ceritakan suatu rahasia? Memang agak tidak mengenakkan untuk dikenang. Tetapi kata orang, “time heals all wounds”. Ungkapan yang lebay sih, tetapi mungkin ada benarnya, hehe.

Begini ceritanya…

Saya bukan manusia dengan tipe pemuja gadget. Handphone saya dari dulu ya gitu gitu aja, bisa SMS, bisa nelepon, bisa motret, bisa internet. Cukup. Tetapi, saat komunitas sekitar saya mulai hijrah dari teknologi Facebook ke teknologi Whatsapp, lama-lama saya merasa “tersisihkan” juga. Mengingat kebutuhan saya terhadap komunikasi yang mudah, baik, dan lancar, akhirnya saya memutuskan untuk beli handphone baru. Kriterianya satu, ada Whatsappnya, hehe.

Alhamdulillah akhir Juli 2013 ada rizki. Kalau tidak salah, tanggal 30 Juli 2013 akhirnya saya jadi membeli HP baru. Sekalian beli flip jacket warna hijau muda. Ayeeey, punya mainan baru niiiih ^^ #meskipun masih agak kagok menyentuh layar resistif. Hehe, maklum sebelumnya pake HP touchsreen juga tapi yang layar kapasitif yang perlu tenaga kuda buat neken-nekennya v^^

Tetapi, sayang seribu sayang, jodoh saya sama HP tersebut ternyata tidak lama. Tanggal 24 Agustus 2013, seorang bapak paruh baya mengambilnya dengan sepengetahuan saya, hiks hiks. Waktu itu sekitar pukul 20.00 di angkot Margahayu-Ledeng, dalam perjalanan menuju rumah saudara di Margahayu. Huffftt, sampai saat ini saya masih ingat sosoknya. Biasa, modus operandinya memanfaatkan kesempatan di angkot yang penuh penumpang. Saat saya naik angkot tersebut (cuma tersisa bangku tambahan yang menghadap belakang) tiba-tiba orang itu pindah ke samping saya dengan alasan supaya saya tidak jatuh. Piiiih, sok sok pahlawan padahal mah…. Sepertinya sih mereka bekerja secara berkomplotan. Begitu orang tersebut turun, beberapa orang penumpang laki-laki juga turun. Tepat di saat komplotan itu turun, feeling saya menuntun jari ke saku tempat HP disimpan. Dan ternyata… sudah raib.

Tadinya saya mau turun dan mengejar komplotan itu. Tapi alhamdulillah masih punya akal sehat. Saya mengkalkulasi secara cepat harga HP yang saya kejar dengan kemungkinan biaya rumah sakit, ahahaha. Ya sudah, besok besok beli lagi aja. Kalau tidak salah uang tabungan saya juga masih cukup.

Saat itu saya sudah mau laporan ke Ibu. Tetapi sebelum kata-kata sampai di ujung lidah, harga diri saya bilang untuk nggak usah laporan. Kalau laporan, nanti dikasih uang. Malu doong, udah segede ini masih “netek” sama Ibu. Hihi, dasar gengsian.

Besoknya, 25 Agustus 2013 saya hunting HP baru. Karena udah kadung cinta sama spesifikasi HP yang hilang, akhirnya saya memutuskan untuk membeli merk dan tipe yang sama. Hiks hiks, harga selisih 100ribuan lebih mahal. Jujur, saat itu saya masih tidak rela. Iyalah, baru sebulan getooooh. Ibaratnya, saya masih sayang-sayangnya sama HP itu. Hasil kerja keras saya sebulan habis dikuras sama si kunyuk itu. #eh kasar ya, hehe. Meskipun sebetulnya bukan nilai nominalnya yang bikin saya merasa tidak ikhlas. Apa yaaa, mungkin sebagai orang yang sering mengaku cerdik dan licik, saya merasa dibodohi >,<

Akhirnya, daripada saya kebayang-bayang terus, saya memutuskan untuk pura-pura lupa. Caranya, saya beli flip jacket yang sama, warna hijau muda. Taraaaa, HP baru saya persissss sama dengan HP lama. Secara tampilan sih, kalau isinya ada beberapa kenangan yang ikut hilang bersama HP yang hilang #tsaaah.

Jadi, ya begitu. Tidak banyak orang yang tahu kalau HP saya yang sekarang adalah pengganti HP yang hilang. Saya sendiri pun kalau lihat HP yang sekarang masih merasa kalau itu HP yang lama.

Bukannya saya sok kuat, sok jagoan, saat itu saya cuma berpikir sederhana. Rasa kehilangan itu bukan untuk dikenang.

 

 

Bulan Sabit yang Menjadi Purnama

Posted in Cermin Diri by rishapratiwi on November 12, 2013
Tags: , , ,

Tadi pagi dosen saya bercerita di kelas. Jaman beliau masih kuliah tingkat sarjana, saya lupa tahun 1981 atau 1982, para peneliti belum mampu menemukan keseluruhan reaksi yang terjadi pada Siklus Krebs. Sementara itu, menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, siklus didefinisikan sebagai “putaran yang di dalamnya terdapat rangkaian kejadian yang berulang-ulang secara tetap dan teratur; daur”. Satu siklus artinya satu putaran, satu daur; penuh dan utuh. A ke B, B ke C, C ke D, dan D kembali ke A. Dengan demikian, apabila ditinjau dari segi definisi, penamaan “siklus” pada serangkaian reaksi kimia yang ditemukan oleh Hans Adolf Krebs ini menjadi kurang tepat karena masih ada missing link pada reaksi-reaksi kimiawi tersebut. Tetapi, orang-orang sudah ramai menyebut-nyebut “siklus” di depan kata “Krebs”. Seiring dengan berjalannya waktu dan berlarinya kemajuan teknologi, penemuan reaksi-reaksi kimia Siklus Krebs akhirnya menjadi utuh. Bulan sabit Siklus Krebs pun resmi menjadi purnama.

Saya tidak terlalu tahu sejarah detail penemuan Siklus Krebs ini. Hasil pencarian di Google pun rupanya tidak terlalu memuaskan. Saya belum menemukan keterangan ilmiah yang menyebutkan bahwa pada tahun 1980-an penemuan mengenai keseluruhan Siklus Krebs belum utuh. Lagipula yang menjadi poin utama dalam tulisan ini adalah bukan untuk mempertanyakan sejarah. Hal yang membuat saya tertarik dari cerita dosen tersebut adalah OPTIMISME. Bagaimana orang-orang meyakini bahwa sesuatu yang jauh dari sempurna akan berkembang sehingga lama-lama mendekati sempurna. Tentu saja definisi “sempurna” ini didasarkan pada parameter manusia.

Sudah jauh-jauh hari kita sepakati; saya dan kamu, bukan manusia yang sempurna. Tetapi kita sudah berjanji bukan, untuk sama-sama berusaha, agar bulan sabit kita sempurna menjadi purnama…

Image

Sumber gambar: abstract.desktopnexus.com

Next Page »