Revive Risha


Aku Merindukanmu Lima Detik Setelah Kau Pergi

Posted in Happy Family by rishapratiwi on June 23, 2013
Tags: , , ,

Zaman masih kecil dulu, saat sekolah hanya sampai pukul satu siang, saya seringkali tidak tenang kalau ibu pergi ke luar kota walaupun cuma setengah hari. Apalagi jika hari sudah gelap tetapi ibu belum juga pulang, dapat dipastikan saya akan mondar-mandir antara ruang tamu dan jalan di depan rumah. Bahkan dibandingkan adik yang usianya terpaut lebih muda empat tahun dari saya, saya lebih rewel. Untung saat itu kami belum mempunyai handphone, karena saya mungkin akan menelepon ibu setiap sepuluh menit. Mungkin kalau bahasa orang dewasa sekarang, saya “galau”. Satu-satunya cara agar saya dapat duduk dengan tenang adalah mendengarkan dongeng-dongeng kakek (almarhum) sampai ibu datang.

Sebetulnya saya tidak memiliki ketergantungan yang berlebihan terhadap seseorang. Saya juga tidak punya trauma ditinggalkan. Ibu bekerja sebagai guru TK, kemudian bertahap menjadi kepala sekolah, sampai sekarang menjadi pengawas TK. Waktu saya masih kecil dan beliau masih menjadi guru TK, jam kerjanya antara pukul 08.00 sampai sekitar dzuhur. Jadi, kalau saya tidak dapat melihat Ibu dari pagi sampai sore, yang artinya hanya ditambah sekitar tiga atau empat jam dari biasanya (dalam kasus ini ibu pergi ke luar kota dan pulang sore) rasanya saya tidak perlu senewen* begitu.

Jika bersama ibu, sebetulnya kami “hidup masing-masing”. Artinya, saya tidak lantas nempelin ibu ke mana-mana. Saya asyik dengan aktivitas saya, ibu juga asyik dengan aktivitasnya. Bahkan seringkali saat ibu di rumah, saya dengan tenang melenggang pergi ke rumah teman atau ke sekolah. Beda halnya kalau ibu yang pergi ke rumah tetangga saja, saya sampai nyusul. Ternyata sedari kecil saya sudah punya bibit posesif, haha.

Sudah tahu rasanya ditinggalkan itu bikin galau, eh saya malah tidak tahu diri. Sekarang, saat saya sudah berani pergi ke mana-mana sendiri, sudah mampu mandiri, apalagi sudah punya uang yang cukup, saya malah dengan teganya nggak betah di rumah. Karena alasan kesibukan, saya malah sudah kuat bertahan beberapa bulan tidak pulang ke rumah. Meskipun komunikasi tetap terjalin via telepon atau SMS.

Hidup jauh dari orangtua, tidak bertemu dengan keluarga minimal dalam tempo satu bulan, rasanya menjadi biasa-biasa saja. Memang rasa kangen sering muncul, tapi tentunya saya tidak senewen seperti masih kanak-kanak dulu. Mungkin karena faktor kedewasaan saya yang semakin berkembang #tsaah, sudah menjadi terbiasa hidup jauh dari orangtua, ada aktivitas yang mengalihkan perhatian saya sehingga tidak terus-menerus memikirkan orang-orang di rumah, dan tentu saja karena di tempat ini saya sudah mendapatkan lingkungan yang nyaman.

Tetapi satu hal yang saya heran. Saat orangtua mengabarkan akan mengunjungi saya di Bandung, jika menjelang malam mereka belum tiba, secara tidak sadar saya akan teruuuus memikirkan mereka dan berharap angin malam berhembus lebih cepat dan mengantarkan mereka sesegera mungkin di hadapan saya #puitis kan gue. Demikian pula, beberapa saat setelah mereka pulang, saya seharian itu akan memikirkan mereka. Mengingat lambaian tangannya, mengestimasi jam tiba mereka di rumah, sampai-sampai pernah terlintas pikiran buruk. Astaghfirullah…

Sepertinya ada perbedaan antara “meninggalkan” dan “ditinggalkan”. Jika saya yang pergi atau dengan kata lain saya yang meninggalkan, saya punya wewenang untuk memilih kapan saya akan kembali, saya tahu kapan saya akan pulang. Tetapi jika saya yang ditinggalkan, saya hanya mampu berharap dia yang pergi akan menepati janjinya untuk segera kembali #tsaaah.

 

Mawar: X kemana sih, kok perginya lama banget?

Melati: Ya ampun, belum juga lima menit dia pergi 😡

 

*Senewen ternyata merupakan kata resmi yang tercantum dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia. Se·ne·wen /senéwen/ a cak 1 gugup; bingung; hilang akal; 2 agak gila

Kalong

Posted in Happy Family by rishapratiwi on December 26, 2012
Tags: , ,

Beginilah asyiknya kalau liburan di rumah; bisa makan buah banyak-banyak 😀

Selama dalam masa pertumbuhan, selama dalam pengawasan orangtua di rumah dulu, lemari es kami selalu terisi buah-buahan. Setiap hari Ibu yang rajin isi ulang lemari es. Seisi rumah sudah pada tahu kalau saya doyan buah-buahan, kayak kalong, hehe. Terlepas dari fakta bahwa buah menyehatkan, saya bisa menghabiskan sekilo apel dalam waktu setengah hari, sendirian. Apalagi kalau manggis, kalau cuma sekilo dua kilo doang mah bisa habis sepeminuman teh, saat itu juga. Sampai gigi ngilu, sampai perut cenat-cenut, saya nggak akan berhenti ngemil buah, kecuali buahnya habis. Efeknya, entah saya kecanduan buah atau gimana #ada ya? sehari tanpa makan buah, badan rasanya lemas. Lagipula itu seperti kompensasi, soalnya saya sangat tidak suka makan sayur-sayuran.

Dulu sih saya merasa baik-baik saja dengan kebiasaan ngalong tersebut. Kan ada supplier tetapnya. Keluarga juga tak bermasalah. Mereka sudah paham kalau saya pasti menghabiskan cadangan buah. Jadi, kalau mau buah, ya ayo berkompetisi 😀 Lagipula kan masih wajar, saya cuma makan belimbing, nggak makan beling.

Setelah disapih alias kost di Bandung, konsumsi buah menurun drastis. Soalnya kalau beli buah tiap hari bisa bangkrut, hehe. Beli buah jadinya seingatnya aja. Saya juga mulai bisa makan sayur-sayuran. Untungnya dalam tempo sesaat mekanisme fisiologi tubuh saya bisa menyesuaikan. Nah, kalau sekarang sayur-sayuran malah sudah jadi menu wajib. Alasannya, karena sehat dan yang paling penting gampang dimasak.

Sedang menyebut-nyebut nikmat yang didapat kalau lagi pulang ke rumah. Habisnya saya susah banget kalau disuruh pulang, kalau pulang pun gak betah lama-lama di rumah. Padahal di rumah kan banyak buah. Maaf ya, Mom  –__-

buah

Sumber gambar: http://smilinggreenmom.com/2010/07/green-your-weekend-tip-5/

Ayah Suka Mematikan Lampu

Posted in Happy Family by rishapratiwi on December 25, 2012
Tags: , ,

Ayah suka sekali mematikan lampu. Hemat energi katanya. Jika lewat kamar mandi, lampu kamar mandi dimatikannya. Lalu Putri, gadis kecilnya yang sedang di dalam akan teriak, ia ketakutan akan gelap. “Hoho, Ayah kira tidak ada orang,” dengan santai Ayah menyalakan lampu. Jika lewat ruang keluarga, televisi dimatikannya. Putri kecilnya tergopoh-gopoh datang dari dapur, pipi tumpahnya merengut. “Hoho, Ayah kira tidak ada yang nonton”, dengan santai Ayah menyalakan televisi.

Ayah suka sekali mematikan lampu dan televisi, bahkan sampai Putri kecilnya tumbuh jadi remaja. Mungkin sudah jadi kebiasaan. Lalu Putri SMP yang masih ketakutan akan gelap itu tidak hanya akan teriak, tapi sudah pandai mengomel. Ayah? Seperti biasa, beliau menanggapinya dengan tertawa santai sambil buru-buru menekan tombol “power“.

Ayah juga suka menyetel radio keras-keras, padahal Putri nggak suka acara siaran berita nasional.

Ayah juga suka meletakkan kunci motornya sembarangan, pasti Putri yang repo mencari-cari.

Ayah juga suka meletakkan cangkir kopi sampai dikerubungi semut, padahal apa susahnya taruh di wastafel.

 

Ayah kalau menelepon suaranya keras sekali, Putri jadi merasa malu.

Ayah juga senang memakai kemeja berwarna cerah, menurut Putri itu nggak cool.

Ayah juga suka nimbrung kalau Putri lagi telepon-teleponan sama teman sebangkunya di sekolah.

Ayah juga suka mencium pipi Putri di depan teman-temannya, Putri merasa ia diperlakukan seperti anak kecil.

 

Sudah dua hari Putri ngambek. Bicara seadanya jika ditanya Ayah. Pasalnya, saat ia sedang di kamar mandi, Ayah mematikan lampu. Saat itu ia diam saja. Ketika selesai menuntaskan urusannya di kamar mandi, ia mendapati televisi sudah dimatikan. Padahal konser musik sedang seru-serunya. “Yaaah, Ayah! Ayah kebiasaan deh. Aku kan sedang nonton, kok televisinya dimatikan,” teriak Putri dengan gagah berani. “Maaf deeh, sini Ayah nyalain lagi,” lagi-lagi Ayah menanggapi dengan santai. “Gitu aja kok ngambek”, ini nih pernyataan Ayah yang membuat Putri meradang.

Bagi Putri, selain sikap Ayah yang sering terasa mengganggu, lebih dari itu Ayah dianggap sudah mengintervensi ruang privasinya. Ayah selalu menelepon jika ia belum tiba di rumah pukul 6 sore. Parahnya, Ayah dengan vespa-nya akan menyusul ke sekolah. Bila perlu, beliau akan berkeliling ke rumah teman-teman Putri. “Makanya beliin aku HP dong, Yah”, protes sang anak. Ayah hanya tertawa santai, “kamu belum butuh”.

Putri ingin sekali Ayah mengerti, bahwa ia sudah besar. Sudah tidak bisa lagi diatur-atur, sudah tidak bisa lagi dilarang-larang. Putri minta dibelikan HP dan sepeda motor, agar bisa bepergian tanpa harus diantar-jemput Ayah. Tapi lagi-lagi Ayah bilang, “kamu belum butuh”.

***

Putri bangun saat matahari sudah cukup terik. Untung sekolah libur. Tadi malam ia menonton televisi sampai lepas dini hari. Tidak ada Ayah yang melarangnya, beliau sedang bertugas ke luar kota selama tiga hari. Putri menyesal, ia kelewat Shalat Subuh. Tidak ada Ayah yang membangunkannya.

Perut yang lapar menuntun Putri ke meja makan. Kosong.  Biasanya Ayah yang menyiapkan sarapannya. Putri merasa pagi ini rumah sangat sepi. Biasanya Ayah di meja makan akan berceloteh panjang tentang pekerjaannya, bertanya tentang pelajaran sekolah Putri, teman-teman Putri, dan aktivitas Putri seharian. Oh ya baru ingat, pukul 11 nanti Putri harus ke sekolah, latihan drama untuk pesta kenaikan kelas. Putri harus naik angkot. Biasanya Ayah yang antarjemput.

Putri termangu. Jika ia bermain ke sebuah taman bunga, yang dilihatnya adalah bunga-bunga yang cantik dan kupu-kupu yang lincah. Bukan lumpur yang kotor dan cacing yang menggelikan. Tapi mengapa dari kebun bunga Ayah, yang ia lihat lebih dulu adalah cacing dan duri?

 

Father-and-Daughter

Sumber gambar: http://jettolano.com/story-of-my-day/like-father-like-daughter

DialoGue

Posted in Happy Family by rishapratiwi on December 25, 2012
Tags: , , , ,

Hampir saja kemarin sore saya berencana ngambek, mogok makan, mengunci diri di kamar, dan melarikan diri ke Bandung. Gara-gara merasa life plan yang saya ajukan tidak sesuai di mata orangtua. Belum apa-apa sudah diwanti-wanti; hati-hati bergaul, jangan lupa pulang kampung, jangan lupa bla-bla-bla. Duh, padahal saya pengen ini-itu, gini-gitu, melanglang Indonesia, melanglang dunia. Pokoknya pilihan yang menurut saya sih, anti mainstream.

Salah saya juga. Kemarin berangkat dari Bandung kesorean, lalu macet di jalan, busnya mogok, dan hujan deras. Untung di Sukabumi bisa bareng sama rombongan Paman yang baru pulang dari Jakarta. Jadi, walaupun baru sampai rumah tepat tengah malam, saya alhamdulillah selamat. Yah, kalau saya nanti jadi Ibu juga saya akan pandai berceramah kalau perilaku anak nanti tergolong mengkhawatirkan begitu. Naasnya, di saat seperti itu saya malah cerita dengan antusias tentang bisnis yang sedang saya dan teman-teman rintis. Lalu, nyesss… Seperti api lilin yang sedang belajar berkobar lalu tersiram api. Intinya, dalam pandangan Ibu saya, dunia bisnis itu adalah dunia yang penuh risiko. Khawatir ini lah, khawatir itu lah. Padahal ya sama saja, kalaupun saya kuliah lagi atau kerja juga tetap tidak akan duduk manis di belakang meja. Pastinya ngelayap cari peluang ke sana ke mari.

Saya bukan tipe anak yang selalu cerita apa saja kepada orangtuanya, nelepon tiap pagi, pulang tiap minggu. Tetapi entah dengan bagaimana caranya, Ibu sama Bapak selalu paham apa yang saya inginkan. “Kalau saya nggak jadi S2, Mamah sama Bapak malu nggak?” pertanyaan konyol terceplos dari mulut saya. Bukan pertanyaan konyol sih sebetulnya, mengingat ekspektasi keluarga besar dan masyarakat sekampung bahwa saya harus lanjut sekolah. “Ngapain malu. Bukan untuk dibanding-bandingkan kok. Orang lain kuliah sampai S3 ya karena maunya jadi dosen. Kalau Teteh mau jadi dosen pun, Mamah orang pertama yang akan memaksa Teteh untuk kuliah sampai S3. Ngapain kalau cuma buat status, nggak bikin hati senang, nggak bikin perut kenyang. Ngapain, kalau cuma untuk bikin hati Mamah tenang, tapi nggak sesuai sama minat Teteh”. Saya manggut-manggut.

Dialog diakhiri karena pakis sudah selesai dipotong-potong dan siap disayur.

Lho, sudah sama-sama sepakat tho. Kirain mau sampai perang nangis-nangisan, hehe. Ternyata resepnya simpel; dialog, kompromi. Semua senang, semua tenang. Kalau belum apa-apa sudah berprasangka tidak akan menemukan titik temu, ya mau bagaimana. Kalau belum apa-apa menuduh orangtua nggak pengertian, ya mau gimana. Apalagi belum apa-apa sudah menyiapkan amunisi kata-kata tegas pedas, duh! Orangtua juga tentu menginginkan yang terbaik untuk anak. Sebagaimana anak ingin memberikan yang terbaik untuk orangtua. Mungkin perbedaan usia, pengalaman hidup, menjadikan cara pandang antara orangtua dengan anak berbeda. Maka berbicaralah dengan bahasa yang mampu dipahami semua makhluk, yaitu bahasa cinta. Bolehlah dicoba 😀

Jangan-jangan perbedaan pendapat kita hanya gara-gara sikap begini:

Dialogue art

Sumber gambar: http://animesmusings.blogspot.com/2011/07/writing-wednesday-dialogue.html

 

Apalagi sampai jadi kayak begini, hiyy

dialogue-mains

Sumber gambar: http://pulsionresvie.blogspot.com/2012_06_01_archive.html

 

Kalau begini kan adem, damai ^^

dialog

Sumber gambar: http://www.gymzell.at/uploads/medium/dialog.jpg

 

 

Ritual Kembang Melati

Posted in Happy Family by rishapratiwi on January 10, 2012
Tags: , , , ,

Terkadang prioritas yang telah kita tetapkan kalah pamor sama jarkom. Bukan bermaksud protes apalagi mengeluh, hanya ingin meminta. Meminta izin, do’a, dan restu. Saya harus pulang kampung secepatnya.

Sebenarnya tidak ada hal darurat yang mengancam keselamatan nyawa, hanya handphone berdering lebih sering dari biasanya dan message yang lebih intens dari sebelumnya. Intinya, “kapan pulang?” Ada yang kangen…

Jum’at, 11 September 2009 saya memutuskan untuk segera kabur dari keriuhan kampus. Menuju Cibiru, keluarga tante yang ditinggalkan selama berminggu-minggu tanpa ada kabar aku sedang apa dan sedang di mana. Kalau tidak ada aral menghadang, besok paginya baru akan meluncur ke kampung halaman.

Biasanya kalau pulang cuma membawa tas ransel kosong. Enggak deng, paling isinya mushaf, charger handphone, dompet, air minum, apalagi ya? Segitu. Berhubung di liburan sekarang banyak proyek yang harus diselesaikan (laporan biosistematika, genetika, kimia organik, anfiswan, dan esai untuk blog Al-Hayaat) jadi bawa banyak barang. Satu ransel berisi laptop (biar bisa dipangku di bus), satu ransel isinya buku-buku penuntun praktikum, baju, dan pernak-pernik lainnya. Satu lagi sebagai pelengkap berbusana, tas jinjing kecil. Isinya? Botol kultur Drosophila.

Kali ini mengambil jalur perjalanan yang tidak biasa. Alih-alih berangkat dari Terminal Leuwipanjang, saya memilih untuk cari bus jurusan Cianjur dari tol Cileunyi. Berangkat dari rumah pukul 06.15 (telat 15 menit dari rencana karena terpincut baca majalah Kartini yang meliput acara kontes Miss Beautiful Morals di Saudi Arabia), tiba di tol sekitar 15 menit kemudian.

Perjalanan Bandung-Cianjur biasa-biasa saja (tidur terus). Sampai di Terminal Pasirhayam yang kosong melompong pukul delapanan. Setengah jam kemudian bus menuju Sukabumi baru datang. Perjalanan Cianjur-Sukabumi juga biasa-biasa saja karena sepanjang perjalanan tidur juga. Lagi pula deretan bangunan di pinggir jalan tak terlalu istimewa.

Pukul 10an turun di ABC (entahlah nama asli daerah itu apa, yang jelas kondektur bakalan teriak, “ABC.. ABC..!!”). Kenapa tidak turun di terminal? Supaya bisa jalan kaki bernostalgia menikmati suasana kota. Saya jalan kaki sepanjang pertokoan, sampai akhirnya bertemu dengan pasar kaget-yang-mau-tidak-mau-harus-dilewati. Becek, sumpek, bau, terik, gerahhh, bawaan banyak, rawan copet… haus? Sangadhh.. rasanya seperti cucian yang sudah kering dan merana.

Hhh.. kira-kira pukul sebelas, sampai juga di Terminal Lembur Situ. Di sana sudah menunggu seorang kawan, Matematika ITB ’07. Lho, mana busnya?

Ya, di sinilah kami! Dalam suasana yang gerah abizz, bau asem, haus parah, berdesak.. duduk berdempetan di sebuah mini bus yang dalam bahasa lokal disebut elf. Dua orang akhwat dengan bawaan banyak bertumpuk di pangkuannya (laptop, satu tas kripik, dan kandang Drosophila tentunya) asik-asik saja mengobrol tentang kuliah, da’wah, dan…**tiiiiiiit. Kami asyik mengobrol sampai rasanya 20.000 kata terlampaui.

Jika jalanan menuju Jampangkulon dianalogikan sebagai seekor ular, ular itu pastinya ular yang lincah. Meliuk ke kanan ke kiri tanpa peduli seberapa dalam curam-curam yang menganga di tepiannya. Tapi tak dapat dipungkiri, alam liar Pajampangan luar biasa indah! Daerah Sukabumi selatan yang cantik sekaligus belum terlalu terjamah polusi.

Jika kalian ingin melihat hamparan perkebunan teh, kalian bisa menemukannya di sini. Jika kalian senang memandang tanaman-tanaman pisang tumbuh menclok-menclok di padang ilalang, silakan saksikan di sini. Atau kalian ingin melihat pohon-pohon besar menyeramkan menaungi jalan? Atau bunga-bunga liar yang bersembunyi dalam rerimbunan? Atau pohon-pohon karet yang berbaris rapi? Atau conifer yang menjulang? Atau kawanan (kawanan??) singkong di berjejer di pinggir jalan? Atau kumis kucing yang malu-malu? Atau mau lihat rumpun bambu di pinggiran jalan? Jika beruntung, kalian dapat mendengar kicauan burung-burung dan nyanyian serangga hutan, bahkan oa/lutung/apalah itu namanya yang menjerit-jerit menyapa kalian, juga ayam yang bebas berlarian berkejaran.

Dulu, dulu lebih lebih daripada semua itu! Dulu, ada hutan Pasirpiring yang benar-benar hutan belantara eksotik sampai-sampai orang yang baru pertama kali melewatinya tidak menyangka kalau setelah hutan itu akan ada peradaban dengan konsep hidup yang sudah beradab. Tapi manusia-manusia yang kelaparan memakan pohon-pohonnya sampai ke akar.

Ya, lupakan Pasirpiring. Mari kembali ke jalan pulang.

Selamat datang di rumah tanpa pagar! Selamat datang di area bebas macet dan tiada internet!! Ini rumah kami, JAMPANGKULON.

Hmmm, aroma rumah sudah mulai tercium. Kami melewati SMP yang kini pahebring-hebring sama RSUD di seberangnya. Terus melewati alun-alun yang padam dari gemerlap sebuah alun-alun pada umumnya. Dan berhentilah di depan Kantor Polisi. Ada seseorang berhelm merah dengan motornya yang sudah menunggu di sana. Hih, lagi-lagi pakai celana pendek. Dasar bocah!! “Hayu, Teh,” sapanya riang.

Motor kami melaju menembus kenangan yang menjulang di sepanjang jalan. Mengurai satu-satu kisah kocak masa kecil. Sekolah dasarku, pohon campolehku.. satu belokan lagi kami akan sampai. Rumah pelangi tak pernah kurindu untuk memasukinya (karena selalu ada di dalam hati, aihh). Ada Mamah dengan dasternya tersenyum menyambut kami. Dua nenekku (keduanya mantan kembang desa) tergopoh-gopoh menyambutku juga.

Aku belum shalat dzuhur nih! Singkat cerita, aku menemui sujud pertamaku. Hmm.. sajadah wangi. Di tengah kering-kerontangnya kerongkonganku, wangi ini mengingatkanku pada teh melati. Suka deh…

Aroma melati menguap seiring dengan semakin berat kelopak mataku. Akhirnya tidur siang di ruang tengah. Setelah sekian lama melewatkan siang di bangku laboratorium.

Singkat cerita (lagi), adzan isya berkumandang. Mama sudah duluan pergi ke masjid dan aku masih di rumah ribut mencari kunci (penyakit kambuhan ni!!).

Saat sujud pertama, hm… wangi teh melati lagi. Padahal ini bukan sajadah tadi siang. Jangan-jangan saluran respiratoriku kemasukan teh melati tanpa kusadari.. oO-ow, yaiyalah wangi melati. Bunganya ngagunduk gitu di depan hidung (baru menyadari kehadirannya setelah salam).

Kemudian Mamah dengan santainya memindahkan sekuntum melati ke lingkaran pertama pada motif sajadahnya. Setelah dua rakaat selesai, Mamah memindahkan melati di lingkaran pertama ke lingkaran berikutnya. Begitu seterusnya, tiap dua rakaat Mamah memindahkan melati itu sambil senyum-senyum jenaka. Mau coba ngetes ah, “berapa rakaat lagi, Mah?”. “Empat lagi, witir tiga,” jawab Mamah sambil memperhatikan posisi terakhir melati itu.

Kalau diperhatikan, Ramadhan tahun ini Mamah lebih rajin tarawih ke masjid (sebelumnya nggak bertahan sampai bilangan hari keduapuluhan). Rupanya Mamah punya teman tarawih, Bu Ati namanya. Beliaulah supplier melati itu. Mereka berdua, setiap dua rakaat tidak lupa memindahkan melati ke lingkaran berikutnya di sajadah. Ya, pekerjaan yang sangat menyenangkan, membuat lupa akan betapa ngebutnya dua rakaat tadi dan menyemangati agar melati sampai di lingkaran finish.
Jadi semakin rajin tarawih, Ramadhan Mamah akan semakin wangi . . . 🙂

Ikhwan Muda di Rumah Saya

Posted in Happy Family by rishapratiwi on January 10, 2012
Tags: ,

Tanggal 12 September 2009 ini saya membuka usaha “jasa penyetrikaan” di rumah. Nah, pendek cerita, saya menemukan selembar baju koko yang dicurigai bukan milik anggota keluarga ini. Soalnya ukurannya seperti baju anak SD, keciiill sekali badannya.

“Maaah, ini baju siapa?”. Mamah menengok sebentar, “baju Dede.” Hah, masa sih sekecil ini? Terus baju itu dibalik. Ternyata di bagian dalam baru ketahuan kalau baju itu dikecilin dan jahitannya sungguh tidak rapi. “kok dikecilin, Mah?” lalu Mamah menjawab, “dikecilin sama Dede tuh. Kan Mamah nggak mau ngecilin, terus Dede malah minta diajarin pakai mesin jahit. Eh bisaeun geuning.”

Adikku ikhwan, kelas IX SMP. Ceritanya pengen kelihatan gagah dan sigap (namanya juga anak pramuka). Baju seragamnya (dan baju apapun) dikecilin sendiri biar pas badan dan nggak gogolombrangan alias  kedodoran). Ya, dia memang sudah bisa menjahit pakai mesin jahit sejak kelas VII, walaupun hasilnya nggak bagus-bagus amat. Paling nggak adikku nggak perlu minta bantuan Mamah jika ingin mengecilkan baju atau menjahit benda-benda kecil.

Bapak juga bisa menjahit. Kadang-kadang bikin lap juga. Jadi di keluarga saya semua orang sudah bisa menjahit

\(^o^)/

Itu memang skill sederhana, tapi nggak ada salahnya untuk dipelajari dan dikembangkan. Anda tertarik belajar menjahit?