Revive Risha


Sand between Our Toes

Posted in Jalan-Jalan by rishapratiwi on May 15, 2013

Tanggal 13-14 April 2013 lalu, akhirnya saya kembali lagi menyapa ombak Pantai Pangumbahan, Kabupaten Sukabumi. Kali ini bersama rombongan teman-teman di komunitas alumni muda Salman. Fiuhh, setelah melewati berbagai tantangan yang menguji kesungguhan acara jalan-jalan ini, akhirnya dengan do’a restu segenap pihak, kami berangkat dari Bandung hari Sabtu, 13 April 2013, sekitar pukul 21.30 WIB.

Melewati jalan tol Pasteur, Padalarang, Cianjur, kami sampai Kota Sukabumi hampir tengah malam. Karena mengambil belokan yang salah di daerah Lapangan Merdeka Kota Sukabumi, kami tersesat ke jalur yang memutar. Alhasil, kami menghabiskan waktu sekitar satu jam sampai dapat kembali ke jalur yang semestinya. Agak memalukan memang karena bagi saya itu sama saja dengan tersesat di rumah sendiri. Tapi yaa, mau bagaimana lagi. Saya lebih hafal daerah Bandung dibandingkan dengan Kota Sukabumi. Karena biasanya saya tinggal duduk manis di samping pak supir yang notabene ayah sendiri, dan trereeeeng, sampailah di tempat tujuan.

Sampai di rumah saya di Jampangkulon sekitar pukul 04.00, sesuai dengan yang driver rencanakan.  Setelah check in di kamar masing-masing, berbenah diri, dan shalat subuh, teman-teman langsung terkapar di kamar masing-masing. Wajar sih, bagi yang baru pertama kali berpesiar Bandung-Jampangkulon, dalam kondisi malam yang gelap, menembus hutan, jalanan berkelok, merayapi punggung bebukitan, mungkin akan merasa sedang menempuh perjalanan jauh tak berujung.

Saya, karena merasa sudah cukup pulas tidur di perjalanan, setelah shalat Subuh berbincang-bincang dengan adik di ruang tamu. Teman saya, Amalia yang sholihatinya, yang untuk ketiga kalinya berkunjung ke rumah saya, dengan senang hati menemani ibu menyiapkan sarapan di dapur. Rupanya Mbak Amal ini sudah diterima dengan senang hati sekiranya berminat melamar sebagai calon mantu. Hanya sayangnya, anak laki-laki ibu cuma satu yang mana di mana baru saja menempuh Ujian Nasional SMA. Belum selevel kalau disandingkan sama Sarjana Teknik Elektro ITB macem Mbak Amal, hehe.

Sekitar pukul delapan pagi, dengan konsistensi kecerewetan dari saya dan tentunya Mbak Amal, Mas-Mas yang setadinya terkapar itu akhirnya bisa didudukkan di ruang tengah, dengan mata panda mengelilingi sarapan pagi yang sudah agak dingin. Menu kali ini cukup menarik perhatian. Ibu memasak sayur turubuk, sayuran yang rupanya belum pernah teman-teman saya makan sebelumnya. Keluarnya macem-macem istilah, ada yang bilang rebung, ada yang bilang sosis jampang. Semua salaaah, karena saya sudah googling, saudara-saudara. Turubuk itu nama latinnya Saccharum Spontaneum atau yang dalam Bahasa Inggris disebut Wild Sugarcan.

Ba’da sarapan, bukannya mandi dan gosok gigi, malah pada leyeh-leyeh sambil nonton acara infotainment. Baru setengah sebelasan kami dengan segar bugar keluar rumah. Tujuan pertama adalah SMK Al-Madani. Di sana kami disambut dengan tatapan takjub para guru. Para turis dari mana ini yang berkunjung ke sekolah dengan kaos oblong, celana pendek tiga perempat, dan sandal jepit? Setelah berkeliling sekitar setengah jam, akhirnya rombongan melanjutkan perjalanan. Markigo, mari kita go… ke Curug Cikasooooo!

Memasuki areal Curug Cikaso, kami bayar portal Rp.1000. Setelah memarkir mobil, kami menyewa sebuah perahu. Penduduk lokal menyebut perahu tersebut “sampan”. Kami membayar tiket Rp.65.000 untuk satu perahu plus bayar parkir mobil. Sebetulnya perahu tersebut berkapasitas sekitar 20 orang, tapi rombongan kami hanya terdiri dari tujuh orang plus satu orang pengemudi perahu dan satu orang guide yang nempel-nempel padahal sudah ditolak.

Perahu kami menembus arus sungai Cikaso yang tenang. Tidak sampai sepuluh menit kami sudah sampai di tujuan. Untuk sampai di Curug Cikaso, sebetulnya bisa saja jalan kaki. Tetapi sayang momen aja, masa jauh-jauh dari Bandung nggak naik perahu. Kelewat nanti sesi foto-fotonya, hehe.

IMG_0135

Sampai di Curug Cikaso, ahamdulillah airnya sedang melimpah. Baguuuus. Teman-teman ada yang foto-foto, main air, meniti bebatuan, kepleset, bengong, suka-suka lah. Setelah tiga puluh menit berlalu, kami selesai main dan memutuskan untuk shalat dzuhur dijamak dengan shalat ashar di masjid terdekat.

Dua orang model yang ada di foto itu entah siapa. Maksud hati menayangkan foto ini adalah untuk memberikan gambaran kepada khalayak ramai mengenai ketinggian dan kebesaran Curug Cikaso. Itu saja

Dua orang model yang ada di foto itu entah siapa. Maksud hati menayangkan foto ini adalah untuk memberikan gambaran kepada khalayak ramai mengenai ketinggian dan kebesaran Curug Cikaso. Itu saja

Selesai shalat, di depan masjid ternyata sudah menungga emang-emang penjual kue bandros. Kami yang kelaparan memutuskan beli beberapa potong kue bandros panas. Harganya Rp.2.000 per potong.

Perjalanan dari Cikaso ke Pantai Ujunggenteng memakan waktu sekitar 1 jam. Setibanya di Pantai Ujunggenteng, kami langsung menuju pasar ikan. Amal dengan gaya ibu-ibu (keibuannya) menawar ikan kakap merah dan ikan layur. Setelah mengantongi beberapa kilogram ikan, kami mencari warung terdekat yang menjual jasa memasakkan ikan.

Karena ikan akan matang setelah 1 jam kemudian, kami mengisi waktu dengan bermain-main di pasir Pantai Ujunggenteng. Beberapa bermain bola, kejar-kejaran, ada juga yang merenung sambil melarung lara. Tentu saja tidak lupa foto-foto.

Ceritanya lagi pada usaha menyingkirkan kompetitor

Ceritanya lagi pada usaha menyingkirkan kompetitor

Begitu tiba waktu perkiraan ikan matang, beberapa dari kami menjemput ikan ke warung makan. Pas ternyata sesampai sana ikan sudah siap dibawa. Setelah berhasil mencari sendok plastik, kami segera bertolak menuju tempat teman-teman yang lainnya bermain. Menu makan siang kami saat itu adalah nasi merah yang dibawa dari rumah, lauknya ada sup kakap merah, goreng ikan layur, dan sayur sawi. Alhamdulillah hidangan tandas tuntas meskipun ikan kakapnya tidak sesuai ekspektasi karena masih alot.

Sehabis makan, kami bersegera menuju Pantai Pangumbahan. Nah, apabila Anda akan ke Pantai Pangumbahan, dari Pantai Cibuaya itu belok kiri ya, jangan belok kanan seperti kami. Karena begitu Anda belok kanan, Anda akan menghadapi medan jalanan panjang yang sempit dan berlumpur, mirip-mirip kubangan lah ya. Dengan perjuangan dan kesabaran, Alhamdulillah sampailah kami di area penangkaran penyu Pantai Pangumbahan.

Setelah registrasi dan memberikan uang donasi secukupnya, kami mendapatkan tiket masuk area penangkaran penyu. Perlu dicatat, di Pantai Pangumbahan ini lah kami merasakan sensasi sebenar-benarnya pantai. Pasir yang lembut, ombak yang berdebur keras, dan matahari yang hampir tenggelam berwarna emas cerah. Siapa pula yang tidak tergoda untuk bermain pasir?

IMG_0212

Kami mulai ritual penguburan orang. Waktu itu yang pertama di kubur adalah saya. Rasanya agak menakutkan, terutama jika membayangkan di belakang saya tetiba ada tsunami. Kemudian teman-teman berhambur berlarian, terus saya ditinggalkan, tak berdaya, tersapu ombak, dan ditemukan tinggal nama.

Saat kami akan melakukan ritual penguburan kedua dengan pasir, petugas konservasi memanggil para pengunjung dengan TOA untuk segera berkumpul di sumber suara karena ritual pelepasan tukik ke laut akan segera dimulai. Di bawah sinar senja yang romantis, di bawah guyuran hujan tipis-tipis, anak-anak penyu itu secara dramatis merangkak-rangkak di atas pasir yang hangat. Jika kelak mereka sampai di lautan dan mampu bertahan sampai usia reproduktif, mereka akan kembali ke pantai untuk bertelur.

Seusai pelepasan tukik,matahari semakin seru untuk dinikmati. Ritual penguburan dimulai kembali. Rupanya teman saya lebih tegar dan menikmati sesi dikubur.

Yang ini namanya bersenang-senang di atas penderitaan orang lain (perhatikan itu ada satu orang yang dikubur hidup-hidup)

Ritual penguburan selesai, pelepasan tukik selesai, foto-foto selesai, tiba saatnya meninggalkan pantai karena waktu maghrib sudah menjelang. Setelah bersih-bersih seadanya, kami memutuskan untuk pulang. Dengan pertimbangan satu dan lain hal, kami mengikhlaskan diri untuk tidak mengikuti acara penyu bertelur tengah malam nanti.

Dalam perjalanan pulang, kami menempuh jalur yang berbeda dengan jalur keberangkatan. Kami sudah senang karena ternyata jalurnya lebih singkat. Sampai akhirnya, ngeeeeeng… ngeeeeenng. Mobil yang kami tumpangi ternyata selip di pasir. Para penumpang yang notabene sarjana teknik dan calon sarjana teknik tersebut segera bertindak. Saya dan Amal diminta duduk manis saja di mobil. Entah apa yang mereka lakukan di luar sana, yang jelas mobil masih terjebak selama beberapa waktu yang diperkirakan sekitar dua puluh menitan. Rupanya teori bawaan dari ITB belum mempan. Sampai akhirnya seorang penduduk lokal menemukan kami yang dalam keadaan tak berdaya. Beliau langsung turun tangan dan meminta kami menggali pasir sepanjang jalur roda mobil. Saat starter pertama, mobil langsung maju dan terbebas dari cengkeraman pasir. Alhamdulillah. Di sana kami menemukan suatu kesepahaman, pengalaman kadang lebih jagoan dibandingkan pengetahuan.

Aktivitas berikutnya sangat menarik untuk dikenang tetapi tidak menarik untuk diceritakan. Intinya, kami pulang ke Bandung dengan senang hati, dengan membawa pengalaman dan foto seru-seruan. Daaaan.. ini foto yang didedikasikan khusus untuk temen-temen 3i

IMG_0226

Niat saya ngeposting reportase liburan ini untuk memberikan informasi mengenai biaya yang diperlukan untuk bisa “hidup pantas” di sana. Tapi saya lupa catatannya, hehe. Ya udah, dadah.

Advertisements

Asisten Upik Abu


Tanggal 2 April 2011. Saya baru tahu ternyata mie instan menempati kasta paling hina dalam menu makanan kuliah lapangan di Biologi ITB. Memang kalau diperhatikan dan dirasakan, selama mengikuti kuliah lapangan, para peserta selalu disuplai dengan makanan-makanan yang enak, sehat, dan banyak. Dalam setiap kesempatan makan selalu tersedia menu sayuran dan buah-buahan. Mungkin itu masih biasa. Tetapi apa pernah Anda membayangkan; makan nasi tumpeng saat kuliah lapangan?

Saat ada temanmu yang berulang tahun hari itu, wajar kalau kamu menyiapkan kejutan untuknya. Bisa berupa kue, ucapan, atau hadiah lainnya. Jika kejutan itu adalah sepiramida nasi tumpeng, bagaimana rasanya? Menyenangkan, bukan? Jika kejutan nasi tumpeng itu diberikan saat kamu sedang di tengah rimba raya Papandayan, berpuluh kilometer dari peradaban desa, lantas apa rasanya?

Mungkin kamu akan menangis terharu, atau tertawa-tawa, atau berjingkrak-jingkrak, atau diam saja salah tingkah, atau pingsan sambil berdiri. Kejutan yang terlalu keluar dari kebiasaan!

Para asisten jagoan kami, yang menamakan diri mereka “Asisten Upik Abu”, diam-diam pagi buta sudah sibuk di tenda dapur. Saat jam sarapan tiba, trererereng…!!!! Sepiring nasi tumpeng berbentuk piramida dipersembahkan sebagai hadiah ulang tahun untuk salah seorang teman kami. Tidak habis pikir, kok bisa masak sedemikian hebohnya dengan peralatan memasak yang serba terbatas? Ah memang level mereka sudah juara lapangan, entah dengan sim salabim atau bagaimana, yang jelas nasi tumpeng itu sudah terhidang di depan mata, menunggu disantap.

Selamat milad ya, Caaa ^^

Keterangan : Melissa Harnas (Biologi 2008) sedang menerima ucapan selamat dari Bu Endah (Dosen Ekologi Bentang Alam SITH ITB)

.
Ini dia para tersangka di belakang layar yang sudah memanipulasi menu sarapan pagi itu

Teh Pupi “Puspitaningasih”, peraih beasiswa Erasmus Mundus, S3 ke Belgia gitu ya kalau nggak salah?

.

dan

Teh Nuri “Nuri Nurlaila Setiawan”, peraih beasiswa S3 Erasmus Mundus di Ghent University, Belgia

.

Kami kenyang, kami senang. Four thumbs up lah buat kakak-kakak. Pagi itu hangat bukan hanya karena nasi tumpengnya ^^

Ekspedisi Perempuan; Siap-Siap Jadi Guru


“The educated differ from the uneducated as much as the living differ from the dead.” ― Aristotle

Saat kata “sekolah” disebut, yang ada dalam benak mayoritas kita mungkin adalah gedung-gedung kelas, lapangan upacara, seragam sekolah, bel, atau kantin. Agak sulit dibayangnya jika rumah sederhana di Jalan Pangkur ini disebut-sebut sebagai sebuah sekolah. Sekolah di rumah, seperti sekolah-sekolahankah?

Learning Everywhere by Alex.
http://www.schooliscool.org.nz/entry/auckland-normal-intermediate/year8/learning-everywhere
This picture shows when you learn you can do any thing. in the picture the children are learning about the ocean represented in the book that is shaped like a boat . While they learn about the ocean it is like they are going on an adventure in the ocean learning and discovering new things. At the bottom of the picture on the stones I have written school is cool on some rocks in the ocean.

*****

Destinasi Ekspedisi Perempuan kali ini adalah Homeschooling Grup (HSG) Khoiru Ummah 23 di Jalan Maskumambang. Tujuan ekspedisi ini bukan untuk membandingkan antara sekolah formal dengan homeschooling, tetapi untuk membuka mata bahwa orang tua adalah tokoh utama yang harus mengambil peran paling besar dalam pendidikan anak.

Sebagaimana namanya, kegiatan belajar-mengajar harian di HSG Khoiru Ummah 23 ini diselenggarakan di rumah, yaitu di rumah Bi Ia. Bi Ia, begitu ia akrab dipanggil ada seorang Master Pertanian yang concern terhadap dunia pendidikan, terutama pendidikan dasar. Beliau dan beberapa rekannya mendirikan homeschooling dengan dilatarbelakangi kegelisahan akan kondisi generasi Muslim saat ini yang dikepung oleh kapitalisme, sekulerisme, dan liberalisme. Generasi Muslim mulai kehilangan jati sebagai generasi yang shalih, cerdas, dan mandiri. Atas dasar tanggung jawab dan kepedulian untuk memberikan pendidikan terbaik bagi anak-anaknya, Homeschooling Grup Khoiru Ummah 23 ini pun didirikan.

Kurikulum yang dirumuskan di Homeschooling Grup Khoiru Ummah terdiri dari tiga bagian, yaitu kurikulum dasar, kurikulum inti, dan kurikulum penunjang. Kurikulum dasar meliputi Tahfidz Al-Qur’an dan Bahasa, baik Bahasa Indonesia, Bahasa Arab, dan Bahasa Inggris). Kurikulum inti meliputi Tsaqofah, termasuk di antaranya adalah sejarah, akhlak, fiqih, dan aqidah. Kurikulum penunjang mencakup matematika, sains, dan kegiatan ekstrakurikuler.

Murid lulusan TK di Homeschooling Khoiru Ummah ditargetkan memiliki hafalan Al-Qur’an sebanyak 1 juz, yaitu Juz Amma. Sementara itu, murid lulusan SD dipacu untuk memiliki hafalan sebanyak 6,5 juz. Untuk mencapai hal tersebut, para siswa benar-benar diakrabkan dengan Al-Qur’an dalam kesehariannya. Pagi hari setelah senam, para siswa mengikuti kelas tahfidz, setelah itu baru dilanjutkan dengan pelajaran lain. Di rumah pun, orangtua membimbing siswa untuk mengulang-ulang hafalannya dalam tiga waktu, yaitu ba’da subuh, sebelum maghrib, dan ba’da maghrib. Dengan frekuensi pengulangan sebanyak minimal 15 kali per hari, hafalan Al-Qur’an para siswa melesat dengan pesat. Selanjutnya terbukti, interaksi yang intensif dengan Al-Qur’an ternyata meningkatkan kecerdasan dan kemampuan konsentrasi para siswa saat belajar.

“Didiklah anak-anakmu dengan pengajaran yang baik, sebab ia diciptakan untuk zaman yang berbeda dengan zamanmu.” (perkataan Umar ibn Khatthab ra.)

“The task of the modern educator is not to cut down jungles, but to irrigate deserts.” ― C.S. Lewis

Selain dibekali untuk mumpuni dalam kealqur’anan, para siswa juga dididik untuk memiliki kemampuan berbahasa Indonesia, Arab, dan Inggris yang ahsan (sistematis, indah, dan “bernyawa”), berjiwa pemimpin, percaya diri tinggi, berpikir sistematis, benar, dan serius, semangat menjalankan pola hidup Islami, pola hidup sehat, teratur dan berkah, kompetitif dalam kebaikan, mandiri dan bertanggungjawab, berani melaksanakan amar ma’ruf nahi munkar, kreatif, inovatif, serta mempunyai jiwa riset (sumber: http://www.khoiruummah.sch.id/2011/12/kurikulum-dasar-hsg-sdku-20.html). Dengan demikian, orangtua harus berkomitmen untuk menginvestasikan banyak waktu, dana, dan tenaga untuk terus-menerus memantau perkembangan anak. Rumah harus di-set memiliki frekuensi yang sama dengan sekolah. Orangtua harus rajin mengisi lembar aktivitas harian anak, mulai dari bangun tidur sampai tidur lagi. Dari sini terlihat, tanggung jawab terhadap pendidikan anak diletakkan di tangan orangtua secara penuh.

Dengan kurikulum dan target-target yang “melangit”, apakah masa bermain anak akan “terampas” oleh “obsesi” orangtua? Jawabannya adalah tergantung metode pendidikan yang dianut orangtua. Ali bin Abi Thalib telah memberikan gambaran psikologi perkembangan anak sesuai dengan tingkatan usianya. Pada usia tujuh tahun pertama, jadikan anak sebagai raja. Pada masa ini, anak dibiarkan menikmati masa kanak-kanaknya. Isilah masa ini dengan penanaman karakter (aqidah, akhlak) dalam suasana bermain. Pada usia tujuh tahun kedua, jadikan anak sebagai tawanan. Di usia tersebut, anak diajari dengan disiplin. Pada usia tujuh tahun ketiga, jadikan anak sebagai sahabat. Jadikan dialog dari hati ke hati bersama orangtua sebagai menu harian.

Di samping pemahaman terhadap psikologis usia anak, orangtua juga harus memahami kaidah-kaidah dasar mendidik anak, yaitu:

1. Memanggil bukan memanggul

Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk (An-Nahl : 125)

2. Menyeru bukan menyaru

Kami tidak mengutus seorang rasul pun, melainkan dengan bahasa kaumnya, supaya ia dapat memberi penjelasan dengan terang kepada mereka. Maka Allah menyesatkan siapa yang Dia kehendaki, dan memberi petunjuk kepada siapa yang Dia kehendaki. Dan Dia-lah Tuhan Yang Maha Kuasa lagi Maha Bijaksana (Ibrahim : 4)

3. Mengajak bukan mengejek

Pergilah kamu beserta saudaramu dengan membawa ayat-ayat-Ku, dan janganlah kamu berdua lalai dalam mengingat-Ku; Pergilah kamu berdua kepada Fir’aun, sesungguhnya dia telah melampaui batas; maka berbicaralah kamu berdua kepadanya dengan kata-kata yang lemah lembut, mudah-mudahan ia ingat atau takut” (Thaha : 42-44)
menyampaikan bukan menyimpulkan (Al Ghasyiyah : 21-22, Al Hadid : 4)

4. Mencuci bukan mencaci

Dia-lah yang mengutus kepada kaum yang buta huruf seorang Rasul di antara mereka, yang membacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, menyucikan mereka dan mengajarkan kepada mereka Kitab dan Hikmah (As sunnah). Dan sesungguhnya mereka sebelumnya benar-benar dalam kesesatan yang nyata (Al-Jumu’ah : 2)

5. Mendidik bukan mendadak

Dan mereka mengikuti apa yang dibaca oleh syaitan-syaitan pada masa kerajaan Sulaiman (dan mereka mengatakan bahwa Sulaiman itu mengerjakan sihir), padahal Sulaiman tidak kafir (tidak mengerjakan sihir), hanya syaitan-syaitan itulah yang kafir (mengerjakan sihir). Mereka mengajarkan sihir kepada manusia dan apa yang diturunkan kepada dua orang malaikat di negeri Babil yaitu Harut dan Marut, sedang keduanya tidak mengajarkan (sesuatu) kepada seorang pun sebelum mengatakan: “Sesungguhnya kami hanya cobaan (bagimu), sebab itu janganlah kamu kafir”. Maka mereka mempelajari dari kedua malaikat itu apa yang dengan sihir itu, mereka dapat menceraikan antara seorang (suami) dengan istrinya. Dan mereka itu (ahli sihir) tidak memberi mudarat dengan sihirnya kepada seorang pun kecuali dengan izin Allah. Dan mereka mempelajari sesuatu yang memberi mudarat kepadanya dan tidak memberi manfaat. Demi, sesungguhnya mereka telah meyakini bahwa barang siapa yang menukarnya (kitab Allah) dengan sihir itu, tiadalah baginya keuntungan di akhirat dan amat jahatlah perbuatan mereka menjual dirinya dengan sihir, kalau mereka mengetahui (Al-Baqarah : 102)
Wallahu a’lam bissawab

Terima kasih telah setia menyimak cuap-cuap sotoy orang-yang-jangankan-punya-anak-menikahpun-belum. Tidak harus pernah mati saat berbicara tentang kematian, bukan?

#Kesimpulan Ekspedisi Perempuan: Siap nikah sama dengan siap menjadi ibu. Aheyy..!

Ekspedisi Perempuan; Siap-Siap Jadi Ibu

Posted in Jalan-Jalan by rishapratiwi on June 30, 2012
Tags: , , , ,

Harta yang paling berharga adalah keluarga

Istana yang paling indah adalah keluarga

Puisi yang paling bermakna adalah keluarga

Mutiara tiada tara adalah… keluarga

(OST Keluarga Cemara)

Jika ayah kita hanya punya anak paling banyak belasan orang, Pak Yanto punya lebih dari 130 orang anak. Jika kita hanya punya kakak dan adik paling banyak belasan orang, anak-anak di sini punya lebih dari 130 orang saudara.

Destinasi Ekspedisi Perempuan hari kedua adalah Panti Asuhan Bayi Sehat, Jalan Purnawarman Bandung. “Lain kali sebelum ke BEC, main-main dulu lah ke sini”, seloroh Pak Yanto, “Bapak” dari anak-anak panti ini. Berdasarkan pemaparan beliau, panti ini menampung anak-anak yatim piatu sejak dari bayi merah atau balita.

“Pantangan untuk para pengunjung di sini, jangan pernah bertanya pada anak-anak tentang asal usulnya. Mereka akan bingung,” Pak Yanto mewanti-wanti kami. “Anak-anak di sini haus kasih sayang. Mereka akan mengingat orang-orang yang pernah berkunjung ke panti ini. Kalau Teteh-Teteh ini main sama Emma saja, anak-anak lain akan mundur teratur. Mereka akan beranggapan, ini Tetehnya Emma. Kalau suatu saat Teteh-Teteh ke panti lagi, anak-anak akan berteriak memanggil Emma. Emma, Emma, Teteh Emma datang!”, Pak Yanto tertawa sementara para peserta ekspedisi beberapa sudah mulai mengusap-usap matanya.

I try to find the words when you walk by (walk by)
Words just can’t explain the way I feel (I feel) inside
My friends keep sayin you’re untouchable
And I can’t help feeling invisible

I’d do anything to catch your eye
So you could see me in a different light
Tell me what’s it gonna take cause I wish you would notice me
If you could only give me just one chance
I could be the one and here I am
What’s it gonna take to understand
Wish you would notice me
Notice, notice, notice me
Notice, notice, notice me

(David Archuleta, “Notice Me”)

“Saya selalu nangis saat menceritakan anak-anak ini”, ujar Pak Yanto. Seorang anaknya, mahasiswa ITB, hampir di-drop out. Waktu Pak Yanto ajak bicara, anak tersebut berkata, “percuma Pak, saya kuliah tinggi-tinggi. Saya nggak akan pernah bertemu orangtua kandung saya.” Ada juga kisah seorang anak yang lain. Suatu malam sang gadis remaja berdandan cantik. Saat ditanya Pak Yanto, anak tersebut menjawab dengan berbinar-binar, “Mama sama Papa mau jemput saya!” Padahal, ibunya sudah meninggal belasan tahun yang lalu saat melahirkan, sementara ayahnya.. meninggal sebulan sebelum kelahiran anak tersebut.

Selayaknya seorang bapak, Pak Yanto ini sangat berperan dalam pengasuhan anak-anak. Beliau yang memberi nama pada anak-anak tersebut, tak jarang juga ikut memandikan anak-anak, merawatnya jika ada yang sakit, bahkan menunaikan hak-hak jenazah jika ada anak yang meninggal dunia. Sebagaimana anak-anak pada umumnya, anak-anak di sini juga.. berisik -_-” Bayangkan saja, di lantai pertama ada asrama anak-anak laki-laki, di lantai kedua ada asrama anak-anak perempuan, dan di lantai ketiga ada ruangan bayi dan balita. “Yang namanya berantem, ribut, nangis, wajar. Kalau ada anak-anak yang bandel, saya guyur mereka dengan air dingin,” ujar Pak Yanto. “Jangan pernah mencubit apalagi memukul anak, guyur saja dengan air biar emosi anak-anak mereda”, lanjutnya. Setelah itu, baru Pak Yanto mengajak anak tersebut berdialog.

Silakan kalau Teteh-Teteh mau nengok anak-anak. Kalau ketemu, tolong usap-usap kepalanya, lalu do’akan mereka. Sayangilah mereka, Insya Allah do’a Teteh-Teteh akan terkabul,” saran Pak Yanto sebelum mengakhiri sesi sharing.

Aku dan orang-orang yang mengasuh/menyantuni anak yatim di Surga seperti ini”, Kemudian beliau (Rasulullah) memberi isyarat dengan jari telunjuk dan jari tengah seraya sedikit merenggangkannya (HR. Bukhari). Ibnu Hajar menjelaskan, “isyarat ini cukup untuk menegaskan kedekatan kedudukan pemberi santunan kepada anak yatim dan kedudukan Rasulullah, karena tidak ada jari yang memisahkan jari telunjuk dengan jari tengah.”

Para peserta ekspedisi kemudian beranjak ke asrama anak-anak. Bahkan sejak titian tangga pertama, hati sudah serasa diperas… Di sini ramai, tapi entah kenapa aura sepi mengental di udara.

Di lantai pertama, tampak beberapa anak laki-laki sedang melingkar bermain kartu. Ada pula yang cari-cari perhatian pengunjung dengan berlari-lari dan pura-pura bersembunyi. Lalu datang lagi sambil mengagetkan pengunjung. Ahaha, bocah.. bocah..

Di lantai kedua sepi. Anak-anak mungkin masih di sekolah.

Di lantai ketiga ada ruangan bayi dan balita. Sayangnya, karena sudah memasuki waktu tidur siang untuk anak-anak, pengunjung tidak boleh masuk ruangan. Dari balik jendela kaca, anak-anak usia 2-5 tahun tampak menggemaskan. Benar kata Pak Yanto, anak-anak di panti ini cakep-cakep! Meskipun sudah waktunya bobo siang, anak-anak masih saja aktif. Ada yang memanjat-manjat ranjang bayi, ada yang sempat-sempatnya adu tos sama pengunjung dari jendela yang terbuka,  malah ada yang tiba-tiba keluar ruangan, “awas, awas, aku mau pipis”, teriaknya. Ahaha, para pengunjung tertawa diterobos bocah laki-laki gemuk tanpa celana tersebut.

Anak-anak usia kurang dari 2 tahun dipisahkan di ruangan seberang. Jadwal bobo siangnya rupanya lebih cepat dibandingkan jadwal kakak-kakaknya. Jika anak-anak usia 2-5 tahun baru mau ditidurkan, anak-anak yang lebih muda ini malah sudah pada bangun. Seorang bocah laki-laki, dengan mata yang bulat bersinar, tertawa-tawa sambil menggigit sepotong biskuit. Badan gembilnya melompat-lompat kegirangan sewaktu pengunjung melambai-lambaikan tangan. Seorang balita perempuan, berguling-guling di ranjang bayi sambil memain-mainkan dot. Matanya berputar-putar ingin tahu. Rambutnya ikal sampai telinga. Seorang yang lain, menutupkan selimut ke wajahnya, lalu membukanya lagi, menutupkan lagi, membukanya lagi, bermain cilukba bersama seorang pengunjung.

Melihat anak-anak di sini, dunia isinya hanya canda dan tawa. Sayang mereka tidak boleh dibawa pulang ke kosan, hehe. Setelah sekitar setengah jam menengok anak-anak, para peserta ekspedisi menunaikan shalat dzuhur. Ah, semoga ungkapan syukur dan do’a-do’a terpanjatkan menjadi semakin panjang dan sering setelah ini. Keluarga memang harta yang paling berharga, yang tidak semua orang punya…

Cepatlah tumbuh besar, Dek. Cepat-cepat jadi orang sukses. Cepat-cepat bangun bangsa. Biar tak ada lagi bayi-bayi dari orangtua miskin yang ditinggalkan begitu saja di rumah sakit…

Ekspedisi Perempuan; Siap-Siap Jadi Ratu

Posted in Jalan-Jalan by rishapratiwi on June 29, 2012
Tags: , , , , , , , ,

You educate a man, you educate a man. You educate a woman, you educate a generation

Perempuan, konon katanya, merupakan tiang suatu negara. Bila baik kondisi kaum perempuannya, baik pula kondisi negara tersebut. Sebaliknya, bila bejat kaum perempuannya, bobroklah negara tersebut. Dari segi kuantitas, potensi perempuan tidak patut diremehkan. Data CIA world factbook per Januari 2012 menunjukkan bahwa rasio jumlah perempuan terhadap laki-laki di dunia adalah 0,99 : 1. Artinya, populasi kaum Hawa saat ini sudah mencapai hampir separuh jumlah masyarakat dunia. Dengan jumlah demikian, peran perempuan ternyata mencakup lebih dari separuh ruang lingkup urusan di dunia, baik dia sebagai anak, saudara perempuan, istri, maupun sebagai ibu. Nyatanya, tidak berlebihan pepatah Cina mengungkapkan, “laki-laki adalah kepala keluarga, sementara perempuan adalah leher yang menopang kepala tersebut”.

Ekspedisi Perempuan; program ini bernama asli “Sekolah Perempuan 2012”, warisan yang kelahirannya dibidani oleh para akhawat ITB angkatan 2007. Pada awalnya Sekolah Perempuan 2012 dirancang mengikuti konsep acara kakak pertamanya (Sekolah Perempuan 2011 –red), yaitu berupa talkshow atau seminar yang digelar setiap weekend. Akan tetapi, di tengah maju-mundurnya acara karena kendala perizinan tempat, muncul suatu ide. Ide yang jelas-jelas merusak “tatanan” yang sudah ditentukan tersebut ternyata malah disambut dengan gegap gempita oleh para panitia lainnya. Maka Sekolah Perempuan dimodifikasi menjadi Ekspedisi Perempuan, program yang dirancang sebagai refleksi perjalanan hidup seorang perempuan, mulai dari lahir, kanak-kanak, menikah, berkarir, lanjut usia, dan meninggal. Sesuai dengan namanya, bentuk kegiatan berupa kunjungan ke beberapa tempat yang merepresentasikan fase-fase kehidupan tersebut.

Acara grand opening diselenggarakan di Aula Galenia Mom & Child Center, Jalan Badak Singa. Masih di tempat yang sama, peserta yang berjumlah puluhan orang kemudian mengikuti beauty class yang dipandu oleh instruktur dari Oriflame. Beauty outside, beauty inside. Ruangan menjadi semarak dengan warna-warni polesan eye shadow, blush on, maskara, dan lipstick. Berbicara tentang adab berpenampilan dalam menuntut ilmu, para ulama salaf mendatangi majelis ilmu dengan penampilan terbaik. Imam Malik, jika beliau didatangi seseorang, beliau bertanya dulu apakah sang tamu datang hanya untuk berziarah atau untuk menuntut ilmu hadits? Jika sekadar berziarah, beliau akan menghadapi tamu tersebut dengan seadanya. Namun, jika tamu tersebut berniat untuk menuntut ilmu hadits, beliau masuk ke dalam rumah untuk mandi, berpakaian indah, dan memakai sorban, lalu berkata : “Saya ingin mengagungkan hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan saya tidak mau membacakan hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam keadaan tidak suci/kotor” (Manaqib Al Imam Malik bin Anas oleh Al Qadhi Isa Azzawawi, hal.140-141).

Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat), dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan (Q.S. Al-Hasyr: 18).

Sebagai ustadzah pertama bagi anak-anaknya, perempuan harus berbekal diri dengan ilmu yang memadai. Sesi kedua acara Ekspedisi Perempuan diawali dengan presentasi sekilas tentang Galenia Mom & Child Center. Presentasi dilanjutkan oleh dr. Avianti, yaitu membedah perjalanan hidup perempuan berdasarkan ilmu biologi. Dalam presentasi tersebut dipaparkan mulai dari kesehatan reproduksi perempuan, parameter kesiapan perempuan untuk berumah tangga, proses penciptaan manusia dari setitik ovum, masa kehamilan, sampai proses melahirkan. Pada sesi tersebut diputarkan video proses melahirkan secara normal, operasi Caesar, dan waterbirth.

Para peserta yang umumnya hanya mendapat pelajaran biologi sampai SMA tampak excited menonton langsung berpayah-payahnya seorang ibu yang melahirkan secara normal. “…ibunya telah mengandungnya dengan susah payah, dan melahirkannya dengan susah payah (pula)…” (Q.S. Al-Ahqaf : 15). Dalam Bahasa Sunda, melahirkan disebut ngajuru, yang berasal dari kata juru. Kata juru ini secara bahasa berarti pojok atau sudut. Secara istilah Bahasa Sunda, ngajuru adalah berada di sudut/pojok antara hidup dan mati. Kabar gembiranya, Allah mengganjar aksi heroik para perempuan tersebut dengan imbalan mahal yang membuat laki-laki mana pun iri. Ketika seorang perempuan mengandung, setiap saat ia akan didoakan oleh malaikat dan seluruh makhluk Allah di muka bumi ini. Berdasarkan konten hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad, jika ternyata Sang Ibu ini meninggal saat melahirkan, insya Allah status kematiannya adalah mati syahid.

Sumber gambar: temboktiar.blogspot.com

Dewasa ini terdapat berbagai macam cara melahirkan, di antaranya adalah waterbirth. Secara prosedural, waterbirth atau persalinan dalam air sama dengan persalinan normal konvensional. Sedangkan perbedaannya, pada persalinan normal konvensional ibu melahirkan di atas tempat tidur, pada waterbirth ibu melahirkan dalam kolam berisi air hangat yang suhunya disesuaikan dengan suhu tubuh. Bagi ibu, Waterbirth ini memiliki beberapa kelebihan. Dalam buku 100 Info Penting Persalinan, dr. Sintha Utami, Sp.OG menuliskan bahwa kelebihan waterbirth di antaranya sirkulasi darah uterus lebih baik sehingga rasa sakit berkurang secara signifikan sampai sekitar 80%, air menyebabkan perineum menjadi lebih elastis dan santai, yang akan mengurangi kejadian episiotomi (pengguntingan sekitar vagina untuk mempermudahkan persalinan, air membantu menurunkan tekanan darah tinggi yang disebabkan kecemasan ibu, mengurangi pelepasan hormon stress, dan membuat ibu mengeluarkan hormon endorphin. Bagi bayi, dilahirkan dalam lingkungan yang kurang lebih sama dengan lingkungan di dalam rahim membuat potensi komplikasi pada bayi akibat stress berkurang, air hangat meningkatkan aliran darah sehingga trasnspor oksigen bagi bayi lebih banyak, air hangat menurunkan risiko bayi keracunan ketuban, menurunkan risiko cedera kepala bayi, peredaran darah bayi akan lebih baik setelah dilahirkan, serta mengurangi kemungkinan trauma pada kepala bayi akibat jalan lahir yang sempit.

Acara di Galenia ditutup dengan photo session. Tanpa membuang waktu, peserta dan panitia bersegera melanjutkan ekspedisi ke destinasi selanjutnya; Kantor Urusan Agama Coblong. Di KUA ini peserta mendapatkan pembekalan mengenai pernikahan, baik fiqih pernikahan dari ustadz maupun psikologi pernikahan dini dari Teh Rasti, Teknik Industri ITB angkatan 2007. Teh Rasti ini merupakan “praktisi” pernikahan dini yang menikah saat menjadi mahasiswa tingkat 4 dan sukses fast track. Meskipun hari sudah sore, peserta tetap on fire mengikuti sesi galau terfasilitasi ini, terlihat dari banyaknya pertanyaan dan masih adanya konsultasi pasca acara.

Perempuan bekerja untuk sedekah, bukan untuk mencari nafkah -Rasti, 2012-

Photo session di depan plang KUA pun menutup rangkaian acara Ekspedisi Perempuan hari pertama. Agenda besok insya Allah tidak kalah seru; kunjungan ke Panti Asuhan Bayi Sehat dan tempat Home Schooling di Buah Batu.

Perempuan; tangan kanan mengayun bayi, tangan kiri mengguncang dunia. BERSIAP!!

Melihat Kedua Sisi Kereta Api

Posted in Jalan-Jalan by rishapratiwi on June 15, 2012
Tags: , , , ,

Dasar orang-orang konkret! Saya pikir nggak akan secepat itu kalian membelikan 5 tiket kereta api ^^

Tentu tiada keraguan bagi mereka untuk mengajak saya, orang yang nggak malu-malu menunjukkan minat sejak rencana perjalanan ini digulirkan. Ternyata bukan hanya cinta dan batuk yang tidak bisa disembunyikan. Impian juga, impian saya naik kereta api ke Malang!! Sedikit disayangkan scene-nya belum perfect; tidak ada yang berpura-pura tegar dan melambaikan tangan melepas keberangkatan saya di stasiun, ahaha.

Perjalanan panjang dimulai dengan packing barang secara serabutan. Asal jejal. Amanah-amanah di Bandung tentu tidak turut saya jejalkan. Di simpan sementara dengan rapi pada laci masing-masing di Bandung.

Saya tiba di Stasiun Bandung dengan informasi tentang prosedur perkeretaapian yang tidak memadai. Untung dikawal oleh empat orang teman. Jadi, saya  aman-aman saja mengekor saja di belakang.

Aheyy! Naik kereta api, kriiing kriing kriiing… Lho, kok bunyinya beda? Hoho, itu ternyata panggilan dari Ibu via telepon.

“Halooo, assalaamu’alaykum, Mah. Udah di kereta nih, baru berangkat”

Kresek.. kresek..

“Ih, kalau main mah bisa nyempetin. Kalau pulang ke rumah ngga bisa”

Kresek.. kresek.. tuut.. tuut… tuut.. Call ended. Yah..

Ada yang cemburu rupanya. O_o

“Kalau di kereta biasanya sinyalnya kurang bagus, Ca”, ujar teman saya.

Singkat cerita, sampailah kereta kami di sebuah stasiun. Kereta berhenti cukup lama.

“Yeyeyeye, keretanya maju lagi,” seru saya.

Hahaha. Teman-teman ketawa. Lho lho lho, bagian mana yang lucu?

“Ica, Ica. Coba lihat ke sebelah kanan deh. Kereta kita masih berhenti di stasiun kan? Kamu itu merasa keretanya udah jalan karena kamu cuma lihat ke sebelah kiri. Yang jalan itu kereta lain di sebelah kiri rel kita, makanya seolah-olah kereta kita yang maju,” kata seorang teman saya sambil senyum-senyum.

Hoo.. Melihat ke berbagai sisi. Pelajaran pertama hari itu ^^

Sore yang Manis di Pantai Pangumbahan

Posted in Jalan-Jalan by rishapratiwi on June 10, 2012
Tags: , , , , , , ,

Laut, langit, dan pasir sore itu kompak sekali. Sama abu-abu. Maklum, hari selepas hujan badai. Sekelompok wisatawan mengacaukan keseragaman warna alam dengan pakaian yang semarak. Tawa-tawa yang menghangatkan. Tangan-tangan yang bersiap melepaskan tukik ke lautan.

Tanggal 7 Januari 2012, kalau tidak salah.

Pantai di mana-mana adalah sama. Pasir, ombak, langit, begitu-begitu saja. Sampai akhirnya sepasang kaki ini mencobai pasir Pantai Pangumbahan.. pantai yang menjadi berbeda.

Para wisatawan berteriak-teriak kegirangan. Di tangan kanan kiri, tukik-tukik tengah berdebar-debar, siap mencoba peruntungan di laut bebas yang dikuasai marabahaya. Jika mereka dapat bertahan, suatu saat mereka dapat kembali ke hamparan pasir yang lembut ini, meletakkan telur-telur mereka.

Tukik-tukik dilepas, merayap menuju bibir pantai. Satu per satu merelakan dirinya dilarung ombak ke tengah laut. Sampai jumpa, makhluk kecil. Bertarunglah dengan baik dan kembali ke sini untuk melanjutkan amanah populasimu.

Pantai Pangumbahan.. Saya pikir foto-foto yang beredar tentang keindahannya adalah bisa-bisanya para fotografer yang kreatif, yang mampu mendapatkan sudut dan cahaya yang tepat, ditambah-tambahi efek dramatis dari software foto editor. Ternyata, dari angle manapun, amatir maupun profesional pemotretnya, Pantai Pangumbahan adalah eksotis!

Pantai di mana-mana memang sama. Pasir, ombak, langit, begitu-begitu saja. Yang membuatnya berbeda hanyalah.. dengan siapa kita ke sana. Waktu itu, bersama orangtua, adik, dan teman-teman terbaik, ombak menjadi berirama, lembayung menjadi berwarna, dan pasir menjadi beraroma.

Fotografer: Ari Suryo ME’08

Melarung Resah di Lahan Basah

Posted in Jalan-Jalan by rishapratiwi on January 12, 2012

Jum’at 27 Maret 2011, sekitar pukul 17.30, terlambat dari jadwal semua, rombongan kuliah lapangan Ekologi Pengelolaan Lahan Basah yang terdiri dari 14 orang praktikan, 1 dosen, dan 4 asisten, berangkat dari kampus ITB. Bismillah, siap-siap untuk perjalanan di Bumi Allah.

Dari Bandung menuju Cilegon dengan bus ternyata menghabiskan waktu sekitar enam setengah jam, termasuk waktu istirahat untuk makan dan shalat di perjalanan. Sekitar pukul dua belas malam rombongan tiba di Hotel Sukma Cilegon. Ekspektasi saya semula, ini adalah losmen yang bernama “Hotel Sukma”. Ternyata setelah masuk ke dalamnya, itu memang hotel yang bernama “Sukma”, bukan kelas losmen. Ada AC, ada TV.

***

Sekitar pukul lima pagi, rombongan mulai bergerak menuju dermaga yang akan mengantarkan kami ke Pulau Dua. Ternyata di perjalanan ada kendala teknis. Makanan yang dipesan belum siap sehingga harus menunggu sekitar satu jam lamanya. Pukul delapan pagi rombongan akhirnya sampai juga di dermaga. Kami segera loading barang ke kapal.

Berhubung saya pakai rok, awalnya ragu-ragu untuk melompat ke perahu kayu karena perahunya “menari-nari”. Ternyata aal iz well, alhamdulillah. Alhamdulillah, bobot tubuh saya tidak menggoyah keseimbangan perahu secara signifikan. Setelah para penumpang duduk dengan manis, perahu mulai dikayuh dengan sebilah kayu panjang.

Daratan Pulau Panjang tampak nun di seberang sana. Animo para peserta lapangan mulai menggelombang, “itu ya, Bu pulaunya? Itu bukan? Oh, itu?” Jauh juga, apalagi perahunya dikayuh begini. Sampai kapan? Kapan sampai? O-ow, rupanya ada kendala teknis, mesin perahu tidak mau hidup. Akhirnya perahu kami diderek oleh perahu lain.

Karena belum sempat sarapan, kami makan di perahu. Nasi padang menjadi luar biasa rasanya, berasa mau ke Padang naik perahu. Setelah lelah makan dan ngobrol, sebagian ada yang tertidur. Saya termasuk.

Pukul sembilan pagi kami tiba di dermaga Pulau Panjang. Setelah itu mobilisasi barang ke rumah Pak Kepala Desa. Sepeminuman teh, kami  mobilisisasi ke hutan mangrove dengan perahu kecil. Mangrove merupakan ekosistem yang terdapat di antara daratan dan lautan dan pada kondisi yang sesuai akan membentuk hutan yang ekstensif dan produktif. Tumbuh-tumbuhan khas hutan mangrove di antaranya adalah jenis-jenis Rhizophora, Bruguiera, Ceriops, Avicennia, Xylocarpus dan Acrostichum. Selain itu juga ditemukan jenis-jenis Lumnitzera, Aegiceras, Scyphyphora dan Nypa. *Bukan saya sombong dan sok tahu tentang mangrove, itu di-copy-paste dari laporan Proyek Ekologi semester lima. Yah, simpelnya mah mangrove itu ekosistem yang dihuni bakau-bakauan lah.

Saya lupa bahwa kami akan melakukan analisis vegetasi mangrove. Dikira kami akan cuma duduk cantik di atas perahu sambil mendengarkan penjelasan ibu dosen. Seperti Anda pelesiran ke Taman Safari. Tahunyaa,..

“Kelompok satu buat plot di sini ya.”

Plot?? Di sini??

Baiklah.

Satu per satu turun dari perahu.

“Aww”

“Ooo”

“Waww”

Entah itu pecahan karang atau duri-duri dari bakau yang menusuk-nusuk kaki kami. Yang pakai sepatu boots tidak lebih beruntung, malah airnya masuk ke sepatu dan susah diangkat karena substratnya lumpur. Oh ya, satu kelompok terdiri dari lima orang. Dalam tiap regu hanya ada satu orang mahasiswa yang ditetapkan secara aklamasi sebagai Kepala Suku, lainnya mahasiswi. Jelas lah “Si Kepala Suku” ini menjadi pahlawan. Membuka jalan, merangsek akar bakau dengan heroik. Golok di tangan kanan, seperangkat alat lapangan di tangan kiri. Bersandang tas punggung yang berisi air minum dan makanan ringan. Memang multifungsi beliau-beliau ini, sebagai Kepala Suku, Kuli Panggul, dan Bodyguard.

Berhubung substratnya tidak bisa diajak bekerja sama, akhirnya kami bereksplorasi tidak dengan berjalan di lumpur, tetapi  bergelantungan di akar bakau (*posisi akar bakau ada di atas permukaan substrat). Semua sibuk menyelamatkan diri masing-masing sehingga tidak ada yang berinisiatif untuk potret-potret. Ah, sayang. Bagian penting kuliah lapangan terlewatkan.

Selain melakukan analisis vegetasi mangrove yang meliputi pengukuran diameter pohon, jumlah, serta identifikasi spesies, kami juga mengukur parameter fisika-kimia tanah, seperti pH, dan mikroklimat, seperti temperatur, kelembaban udara, dan intensitas cahaya matahari. Oh ya, kami juga mencuplik makrozoobentos dan mengambil sampel air untuk dianalisis di lab, yang meliputi analisis pH, temperatur air, salinitas, serta kandungan oksigen terlarut. Nah, begitulah gambaran pekerjaan lapangan di Ekologi Lahan Basah.

Dari lima plot yang seharusnya dibuat, setiap kelompok berhasil menyelesaikan dua plot (saja). Waktu sudah menunjukkan pukul 13.30, tetapi kapal mitigasi terlambat datang dari pukul 13.00 yang dijanjikan. Kami keluar dari mangrove dan mulai mencari-cari perhatian para penumpang perahu yang lewat. Berharap tim penjemput yang datang.

Substrat yang kami pijak masih lumpur. Ternyata karena kami diam di tempat beberapa jenak, lumpur itu menelan kaki-kaki kami. Kasihan sekali teman yang bersepatu boots, nyaris harus menanggalkan sepatu dan menyerahkannya pada lumpur. Namun dengan kekuatan keyakinan dan kepenuhan kekuatan (?) sepatu itu akhirnya bisa ditarik dari cengkeraman lumpur. Diam ternyata mematikan.

Tim penjemput akhirnya datang. Rompi pelampung kami yang berwarna norak, orange parah dan kuning gila, berkilau-kilau ditempa sinar matahari. Setelah ketiga regu berhasil diselamatkan, rombongan melaju ke daerah pantai.

Di pantai kami mendarat dan menggelar tikar untuk makan siang. *Maksudnya tentu saja kami bukan makan tikar, tapi kami makan di atas tikar. Menunya sayur asem, ikan teri plus kacang, tempe, dan ikan asin. Lalapannya mentimun. Sedap. Sepertinya ini makan siang termahal yang pernah saya beli. *Untuk mendapatkan fasilitas ini, orangtua saya yang cari biaya sekolah dari TK sampai SMA. Terus harus bayar biaya bimbel SNMPTN, bayar biaya masuk ITB, bayar uang semesteran selama tiga tahun, belum lagi uang kosan, uang buku, uang fotokopian, uang pulsa, uang laporan, dan banyak lagi. Hingga akhirnya saya lulus TPB, lulus tingkat I dan tingkat II, dapat IP lumayan bagus sehingga boleh mengambil matakuliah lebih dari 18 sks. Dan akhirnya memutuskan mengambil mata kuliah Ekologi Lahan Basah.

Selesai makan, kami memburu lautan. Di daerah laut kami turun dari perahu dan snorkeling. Kedalaman air yang lebih dari 153 cm jelas membuat saya tenggelam jika tidak pakai pelampung. Di bawah sana, terumbu karangnya banyak sekali. Dan bagus. Akan tetapi karena ada serangan bulu babi, kami diharuskan pindah ke tempat yang lebih dangkal, yang banyak lamunnya.

Saya yang kelelahan terombang-ambing oleh gelombang laut yang dahsyat, akibat tidak bisa berenang, meminta tugas untuk menjadi titik nol dari transek yang setiap regu buat. Transek merupakan garis pedoman untuk membatasi daerah penelitian. Karena berdiri berdiam diri, saya rasanya akan terhempas angin yang begitu kencang. Diam ternyata mematikan.

Ekosistem lamun didominasi oleh seagrass. Ekosistem ini memiliki fungsi ekologis sebagai habitat biota-biota laut dan membentuk interaksi dengan terumbu karang dan mangrove. Beberapa alga ditemukan di daerah ini. Ditemukan pula beraneka ragam moluska dari kelas Gastropoda (siput) dan Bivalvia (kerang). Di sini kami menghitung kerapatan dan persen penutupan lamun, juga mengidentifikasi nama spesies lamunnya.

Eksplorasi di ekosistem lamun dicukupkan. Setelah rombongan naik ke perahu, kami bertolak menuju daratan Pulau Panjang. Sore itu lembayung menaungi kami, matahari turun perlahan-lahan. Nuansa berubah menjadi melankolis optimis. Bahwa kami akan tiba pada cita-cita kami, seperti perahu ini yang tiba di labuhannya.

Malam hari yang sibuk. Ba’da shalat dan makan malam, orang-orang lalu lalang di dalam rumah Pak Kades. Ada yang packing, ada yang rebutan kamar mandi, ada yang hilir mudik cari charger HP, ada pula yang uring-uringan menghilangkan duri-duri dari kaki. Saya termasuk golongan yang terakhir. Beberapa SMS yang dikirimkan ke teman-teman, meminta saran bagaimana teknik mencabut duri-duri sepanjang kurang dari 1 mm. Harapannya dengan bertanya pada orang-orang dari latar belakang ilmu yang berbeda-beda, saya akan mendapatkan jawaban yang memukau. Aplikasi teori apaaa, gitu. Ternyata saran yang paling dirasa ampuh, teteuuup, dari Ibu Juara Satu : pakai bedak. Lumayan, duri-durinya rontok juga, meninggalkan bentol-bentol merah di sepanjang kaki.

Perkara duri harus secepatnya ditinggalkan, saatnya forum malam bersama Pak Kades. Penjelasan beliau mengenai geografi Pulau Panjang dan budidaya rumput laut, seperti dongeng pengantar tidur bagi saya. Seusai penjelasan sekitar pukul sembilan malam, guna mem”bangun”kan suasana, para asisten mempresentasikan foto-foto yang berhasil ditangkap selama eksplorasi lapangan tadi. Baru lah saya benar-benar melek. Setelah itu dilanjutkan dengan kompilasi data setiap regu. Saya pun terkantuk-kantuk lagi sampai tidak ingat jam acara malam itu berakhir.

***

Pagi-pagi buta, pukul empat dini hari kami mobilisasi ke dermaga. Naik perahu ke pulau-yang-saya-lupa-namanya-karena-waktu-asisten-menjelaskan-saya-masih-ngantuk. Dermaga yang gelap. Angin berhembus jahat.

Ah, beginikah rasanya menjadi istri dalam cerpen “Perempuan yang Memeluk Malam” (lupa nama pengarangnya), yang menunggu suaminya pulang dari pelayaran.

Tersadar dari lamunan, saya naik ke perahu dan duduk merapat bersama teman-teman yang lain. Perahu kami melaju membelah laut.

Ah, beginikan rasanya menjadi anak laki-laki dalam cerita “Lelaki Tua dan Laut” karya Ernest Hemingway?

Matahari mulai terbit dari ufuk timur, kami belum sampai juga di tempat tujuan. Perut mulai keroncongan. Pelampung yang kami pakai ini memang tahan angin dan tahan air, tetapi tidak tahan lapar. Beruntunglah, asisten mengedarkan sebaki pisang goreng. Beberapa saat kemudian perahu berhenti. Rupanya perahu tidak bisa mendarat karena terhalang oleh terumbu karang. Terpaksa kami harus turun dari perahu dan berjalan ke tepi pantai. Sungguh benar-benar lahan basah!

Ah, beginikah rasanya menjadi seorang letnan dalam cerpen “sungai”? Yang harus menyeberang sungai dini hari, dalam rangka geriliya melawan penjajahan oleh Belanda. Yang di dadanya terdekap seorang bayi merah yang baru saja ditinggal meninggal ibunya? Lalu bayi tersebut menangis dan Sang Letnan harus tega mencelupkan bayi itu dalam kegelapan sungai, demi menyelamatkan sebatalyon pasukannya.

Hujan rintik-rintik turut menambah romantisme pagi yang basah. Kami berpencar dan menentukan titik pengamatan masing-masing. Pengamatan burung dimulai. Ponco digelar, tas-tas dibongkar, makanan ringan dibuka, siap-siap selonjoran, berbekal binokuler. Pengamatan burung selalu menjadi momen yang pas untuk curi-curi tidur. Begitulah, hingga akhirnya semua anggota suku saya terlelap di spotnya masing-masing.

Asisten datang menjemput, sesi pengamatan burung selesai. Saatnya sesi yang ditunggu-tunggu, FOTO-FOTO!! Sambil menunggu giliran, beberapa orang tampak takzim membedah bulu babi. Setelah hasrat penelitian terpuaskan, kami meninggalkan bulu babi yang tergeletak tak berdaya di pantai yang sepi ini.

Perahu kami melaju, kembali menuju rumah Pak Kades. Seusai sarapan dan ganti pakaian, kami melaksanakan survey sosial untuk mengetahui pendapat masyarakat sekitar mengenai lahan basah. Sekitar pukul sepuluh pagi, semua anggota pasukan sudah berkumpul di rumah Pak Kades. Tanpa istirahat, kami segera packing . Setelah berpamitan, kami berpulang ke perahu. Menuju Cilegon.

Ombak naik turun tajam mengombang-ambingkan perahu. Saya bertekad untuk tidak tidur selama perjalanan.

Perjalanan laut merupakan momen untuk kontemplasi dan muhasabah diri. Tenaaaaang sekali. Seperti meninggalkan urusan  duniawi. Lupa sudah bahwa besok ujian. Bahwa besok menghadap dosen untuk menyiapkan proposal TA. Hanya ada saya, dan Allah yang ada menjaga di sini. Lama-lama saya terlelap di atas kapal. Tidur siang termahal! Menyiapkan stamina, karena setelah ini harus bangun menuju realita.

Kesimpulan : Pulau Panjang layak dijadikan tempat untuk melarung resah-gelisah dan menggali inspirasi. Asalkan tanpa eksplorasi mangrove (tentunya) 😀

Dialah Yang menjadikan bumi itu mudah bagi kamu, maka berjalanlah di segala penjurunya dan makanlah sebahagian dari rezeki-Nya. Dan hanya kepada-Nya-lah kamu (kembali setelah) dibangkitkan (Q.S. Al-Mulk : 15)