Revive Risha


Jokowi Tidak Menang, Prabowo Curang

Posted in Kancing Garuda by rishapratiwi on July 3, 2014
Tags: ,

Beberapa hari lalu di media massa beredar pernyataan kontroversial Jusuf Kalla bahwa dirinya bersama Joko Widodo optimis akan menang dalam Pemilu Presiden 2014. Hal tersebut dengan catatan bahwa pemilu berjalan lancar dan jauh dari kecurangan. “Satu yang sangat penting, insya Allah kita menang apabila pemilu jujur, karena arus bawah ini luar biasa”, demikian ungkap beliau. Dari pernyataan tersebut secara tidak langsung Kalla menunjukkan kepercayaan diri yang luar biasa bahwa TIDAK ADA yang dapat mengalahkan timnya kecuali KECURANGAN tim lawan. Sebaliknya, jika capres sebelah yang menang artinya telah terjadi kecurangan.

Saya jadi teringat masa kecil saat bermain dengan teman-teman. Jika ada yang kalah, ia akan berlari pulang ke ibunya sambil mengadu kalau temannya curang. Yah, maklum namanya anak-anak, masih kekanak-kanakan kalau menghadapi kekalahan.

Jika tim Jusuf Kalla sudah mulai mengendus adanya kecurangan di Pilpres mendatang, mengapa tidak segera melapor kepada pihak yang berwenang. Biar bisa segera diluruskan. Daripada nanti ternyata beneran kalah, terus menggugat, terus minta pemilu ulang kan repot. Lebih jauh lagi apabila isu kecurangan tersebut dihembuskan, akar rumput yang mudah tersulut dapat saja bertindak reaktif. Katanya ini negeri demokrasi, tapi kok ngeri demokrasi.

Jika Prabowo menang, bukan berarti ia curang. Tetapi yang jelas, ia telah memenuhi persyaratan UUD 1945 pasal 6A ayat 3 dan UU nomor 42 tahun 2008 pasal 159 ayat 1, yaitu mendapatkan suara minimal 20% di 17 provinsi. Data berbagai lembaga survey sudah menunjukkan bahwa elaktabilitas Prabowo semakin meroket. Jadi, tanpa melakukan kecurangan, insya Allah Prabowo menang.

http://politik.kompasiana.com/2014/07/03/jokowi-menang-prabowo-curang-671354.html

Muka Gak Penting?

Posted in Celoteh Sahaja by rishapratiwi on June 1, 2014
Tags:

Teringat nasihat uanya Si Abang: “berpakaian itu yg pantas, baju bagus di lemari dipake, jangan disimpen doang, gak akan beranak-pinak. Bukan buat pamer gaya-gayaan, tapi menjaga martabat keluarga”.

 

Waktu itu sih saya cuma iyain. Soalnya untuk poin menjaga penampilan, saya sepakat. Sewaktu masih belum nikah saya pun memang memegang nilai “berpenampilan yang baik berarti menghargai diri sendiri dan orang yang ditemui”. Tentunya berpenampilan baik versi saya sebatas rapi, tidak menyebarkan bau tak enak, serasi warna, sesuai dengan aktivitas dan tempat. Soalnya saya bukan tipe perempuan yang niat banget dandan. Kecuali memang untuk acara-acara khusus seperti wisuda, undangan walimah, atau walimah diri sendiri :p

 

Setelah menikah, saya memang peduli dan sering penasaran tentang pendapat Si Abang tentang penampilan saya, makanya sering nanya, “cantik gak, Say?”, hehe. Meskipun kalau si dia memuji tanpa saya tanya, saya yang malah menganggap dia gombal, hihihi.

 

Saya sampai sekarang memang belum bisa menghayati korelasi antara berpenampilan baik dengan menjaga martabat keluarga. Soalnya belum pernah mengalami pengalaman ekstrem seperti dimaki-maki orang karena penampilan, terus keluarga saya jadi dibawa-bawa, hehe. Tetapi memang saya lebih senang dengan orang yang enak dipandang. Alhamdulillah Allah mengirimkan pendamping hidup yang ganteng, wangi, serta mencintai kebersihan dan kerapian. Pipi manis mana pipi manis? #eaaa

 

Pun dengan pemimpin negeri ini #nah lho kenapa jadi pilpres, saya berharap presiden Indonesia orangnya enak dilihat, berkarisma, gak perlu cakep-cakep amat kayak model juga sih. Paling tidak, jika disandingkan dengan para presiden luar negeri yang gagah-gagah, nggak kebanting lah. Bisa merepresentasikan keindahan nusantara yang katanya tanah surga, mengutip film Deddy Mizwar.

 

Ini hanya tulisan subjektif pengisi waktu luang, tentunya sangat debatable. Tidak pake referensi ilmiah, apalagi dalil agama. Cuma celotehan seorang istri yang menunggu suami gantengnya pulang dari liqo

Life is Choice

Posted in Cermin Diri by rishapratiwi on November 28, 2013
Tags:

Hidup tak semudah memilih sepatu

Image

Sumber gambar: http://alungatristetea.ro/arta-de-a-lua-decizii/make-the-right-choice/

Losing U

Posted in Celoteh Sahaja by rishapratiwi on November 28, 2013
Tags:

Menghilangkan Rasa Kehilangan

Posted in Cermin Diri by rishapratiwi on November 27, 2013
Tags: ,

Teman, mau saya ceritakan suatu rahasia? Memang agak tidak mengenakkan untuk dikenang. Tetapi kata orang, “time heals all wounds”. Ungkapan yang lebay sih, tetapi mungkin ada benarnya, hehe.

Begini ceritanya…

Saya bukan manusia dengan tipe pemuja gadget. Handphone saya dari dulu ya gitu gitu aja, bisa SMS, bisa nelepon, bisa motret, bisa internet. Cukup. Tetapi, saat komunitas sekitar saya mulai hijrah dari teknologi Facebook ke teknologi Whatsapp, lama-lama saya merasa “tersisihkan” juga. Mengingat kebutuhan saya terhadap komunikasi yang mudah, baik, dan lancar, akhirnya saya memutuskan untuk beli handphone baru. Kriterianya satu, ada Whatsappnya, hehe.

Alhamdulillah akhir Juli 2013 ada rizki. Kalau tidak salah, tanggal 30 Juli 2013 akhirnya saya jadi membeli HP baru. Sekalian beli flip jacket warna hijau muda. Ayeeey, punya mainan baru niiiih ^^ #meskipun masih agak kagok menyentuh layar resistif. Hehe, maklum sebelumnya pake HP touchsreen juga tapi yang layar kapasitif yang perlu tenaga kuda buat neken-nekennya v^^

Tetapi, sayang seribu sayang, jodoh saya sama HP tersebut ternyata tidak lama. Tanggal 24 Agustus 2013, seorang bapak paruh baya mengambilnya dengan sepengetahuan saya, hiks hiks. Waktu itu sekitar pukul 20.00 di angkot Margahayu-Ledeng, dalam perjalanan menuju rumah saudara di Margahayu. Huffftt, sampai saat ini saya masih ingat sosoknya. Biasa, modus operandinya memanfaatkan kesempatan di angkot yang penuh penumpang. Saat saya naik angkot tersebut (cuma tersisa bangku tambahan yang menghadap belakang) tiba-tiba orang itu pindah ke samping saya dengan alasan supaya saya tidak jatuh. Piiiih, sok sok pahlawan padahal mah…. Sepertinya sih mereka bekerja secara berkomplotan. Begitu orang tersebut turun, beberapa orang penumpang laki-laki juga turun. Tepat di saat komplotan itu turun, feeling saya menuntun jari ke saku tempat HP disimpan. Dan ternyata… sudah raib.

Tadinya saya mau turun dan mengejar komplotan itu. Tapi alhamdulillah masih punya akal sehat. Saya mengkalkulasi secara cepat harga HP yang saya kejar dengan kemungkinan biaya rumah sakit, ahahaha. Ya sudah, besok besok beli lagi aja. Kalau tidak salah uang tabungan saya juga masih cukup.

Saat itu saya sudah mau laporan ke Ibu. Tetapi sebelum kata-kata sampai di ujung lidah, harga diri saya bilang untuk nggak usah laporan. Kalau laporan, nanti dikasih uang. Malu doong, udah segede ini masih “netek” sama Ibu. Hihi, dasar gengsian.

Besoknya, 25 Agustus 2013 saya hunting HP baru. Karena udah kadung cinta sama spesifikasi HP yang hilang, akhirnya saya memutuskan untuk membeli merk dan tipe yang sama. Hiks hiks, harga selisih 100ribuan lebih mahal. Jujur, saat itu saya masih tidak rela. Iyalah, baru sebulan getooooh. Ibaratnya, saya masih sayang-sayangnya sama HP itu. Hasil kerja keras saya sebulan habis dikuras sama si kunyuk itu. #eh kasar ya, hehe. Meskipun sebetulnya bukan nilai nominalnya yang bikin saya merasa tidak ikhlas. Apa yaaa, mungkin sebagai orang yang sering mengaku cerdik dan licik, saya merasa dibodohi >,<

Akhirnya, daripada saya kebayang-bayang terus, saya memutuskan untuk pura-pura lupa. Caranya, saya beli flip jacket yang sama, warna hijau muda. Taraaaa, HP baru saya persissss sama dengan HP lama. Secara tampilan sih, kalau isinya ada beberapa kenangan yang ikut hilang bersama HP yang hilang #tsaaah.

Jadi, ya begitu. Tidak banyak orang yang tahu kalau HP saya yang sekarang adalah pengganti HP yang hilang. Saya sendiri pun kalau lihat HP yang sekarang masih merasa kalau itu HP yang lama.

Bukannya saya sok kuat, sok jagoan, saat itu saya cuma berpikir sederhana. Rasa kehilangan itu bukan untuk dikenang.

 

 

Bulan Sabit yang Menjadi Purnama

Posted in Cermin Diri by rishapratiwi on November 12, 2013
Tags: , , ,

Tadi pagi dosen saya bercerita di kelas. Jaman beliau masih kuliah tingkat sarjana, saya lupa tahun 1981 atau 1982, para peneliti belum mampu menemukan keseluruhan reaksi yang terjadi pada Siklus Krebs. Sementara itu, menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, siklus didefinisikan sebagai “putaran yang di dalamnya terdapat rangkaian kejadian yang berulang-ulang secara tetap dan teratur; daur”. Satu siklus artinya satu putaran, satu daur; penuh dan utuh. A ke B, B ke C, C ke D, dan D kembali ke A. Dengan demikian, apabila ditinjau dari segi definisi, penamaan “siklus” pada serangkaian reaksi kimia yang ditemukan oleh Hans Adolf Krebs ini menjadi kurang tepat karena masih ada missing link pada reaksi-reaksi kimiawi tersebut. Tetapi, orang-orang sudah ramai menyebut-nyebut “siklus” di depan kata “Krebs”. Seiring dengan berjalannya waktu dan berlarinya kemajuan teknologi, penemuan reaksi-reaksi kimia Siklus Krebs akhirnya menjadi utuh. Bulan sabit Siklus Krebs pun resmi menjadi purnama.

Saya tidak terlalu tahu sejarah detail penemuan Siklus Krebs ini. Hasil pencarian di Google pun rupanya tidak terlalu memuaskan. Saya belum menemukan keterangan ilmiah yang menyebutkan bahwa pada tahun 1980-an penemuan mengenai keseluruhan Siklus Krebs belum utuh. Lagipula yang menjadi poin utama dalam tulisan ini adalah bukan untuk mempertanyakan sejarah. Hal yang membuat saya tertarik dari cerita dosen tersebut adalah OPTIMISME. Bagaimana orang-orang meyakini bahwa sesuatu yang jauh dari sempurna akan berkembang sehingga lama-lama mendekati sempurna. Tentu saja definisi “sempurna” ini didasarkan pada parameter manusia.

Sudah jauh-jauh hari kita sepakati; saya dan kamu, bukan manusia yang sempurna. Tetapi kita sudah berjanji bukan, untuk sama-sama berusaha, agar bulan sabit kita sempurna menjadi purnama…

Image

Sumber gambar: abstract.desktopnexus.com

Kerendahan Hati

Posted in Cermin Diri by rishapratiwi on October 19, 2013
Tags: , ,

Suatu hari saya menjadi panitia Training for Mentors Bidik Misi ITB. Saat itu seusai shalat dzuhur dan makan siang, para peserta dikumpulkan lagi di aula. MC membuka kembali acara dengan ice breaking. Maklum, siang-siang habis makan pula, para peserta beberapa tampak mengantuk. Saya yang baru sempat makan siang sekilas mengamati kondisi peserta.

Sebenarnya ice breaking-nya nggak baru-baru amat dan saya yakin sebagian besar peserta sudah tahu. Saat itu, para peserta memainkan games semacam “tupai dan pohon”. Mula-mula para peserta tampak canggung, tetapi lama-lama suasana mencair juga dan permainan semakin meriah. Saya cuma ketawa-ketawa, bisa-bisanya para mentor itu bergaya secara all out, nggak jaim-jaiman. Lucu lah pokoknya, apalagi kalau ingat mereka itu senoir-senior di kampus, para petinggi di himpunan dan unit, bahkan ada yang sedang kuliah S2.

Saat menutup ice breaking, tidak disangka MC berkata seperti ini: “Terima kasih atas kerendahan hati teman-teman untuk berpartisipasi dalam permainan ini. Saya bukan siapa-siapa, tetapi kalian, orang-orang penting di kampus ITB, mau-maunya mengikuti instruksi tidak penting dari saya. Karena kerendahan hati teman-teman, insya Allah proses pembelajaran kita selama training ini akan lebih mudah.”

 

Image

Sumber gambar: www.realifeacademy.com

 

Jleb!

Ah, jangan-jangan selama ini saya angkuh, saya bebal. Sampai-sampai menutup mata dan telinga dari hikmah-hikmah yang nyata berserakan di sekitar kita.

Pundung Fi Sabilillah

Posted in Cermin Diri by rishapratiwi on October 19, 2013
Tags: , ,

Belakangan ini ada beberapa kejadian yang cukup marak saya temui; aktivis yang “pundung di jalan da’wah”. Yah, barangkali saya pun tidak jarang menjadi pelakunya, bahkan sangat mungkin saya menjadi si penyebabnya. Dikit-dikit ngambek, dikit-dikit walk out kalau keinginannya tidak dituruti.

Jika dikaitkan dengan konsep ikhlas dalam buku “Risalah Ta’lim” Hasan Al-Banna yang saya baca beberapa minggu yang lalu, rasa-rasanya seharusnya tidak perlu ada istilah “pundung fi sabilillah”, khususnya dalam konteks ruang lingkup aktivitas da’wah. Orang yang ikhlas, amal shalihnya hanyalah untuk Allah. Ia tidak mengharapkan respon, bahkan apresiasi manusia. Pun ia tidak takut dicela oleh manusia. Dengan kemurnian keyakinannya kepada Allah, sekali layar terkembang, pantang ia surut ke belakang. Jika pun tidak ada lagi yang bersedia bersama-sama mengerjakan amal kebaikan. 

Aktivis da’wah yang dikit-dikit pundung apalagi mundur, saat ia tak punya kawan berda’wah, bisa jadi ia masih cupu. Perlu ditanya, orientasi da’wahnya diarahkan kepada siapa? 

Image

Sumber gambar: http://www.blogammar.com/tanda-tanda-lelaki-merajuk-2/

 

#Kalau left group mah tidak terkategorikan sebagai pundung, cuma merajuk pengen diperhatikan. Hihi

 

Buletin Qur’ani Club (Gen_Q) Edisi Oktober 2013

Posted in Cermin Diri by rishapratiwi on October 19, 2013
Tags: , ,

Image

 

Image

 

Image

 

Image

Pengumuman Beasiswa

Posted in Catatan Harian by rishapratiwi on October 7, 2013
Tags: , ,

Capture

« Previous PageNext Page »